September 28, 2016

Upgrade Specialist in Another World – Book 1 / Chapter 11

 

First Encounter With Bandits

“Apa?” Mendengar perkataan pria besar itu, kepala desa terkejut. Para penduduk di belakangnya pun menunjukkan ekspresi marah.

“Oh? Jadi, kalian tidak mau? Humph! Ku kira kalian cukup mengerti untuk mematuhi perkataanku, tapi ternyata aku masih harus melakukannya sendiri.”

Suara tidak sabar pria besar dengan mata yang seperti ikan mati itu terdengar. Kepala desa akhirnya berbalik dan berkata dengan suara bergetar: “Tuan… kami, kami akan mendengarkan anda dengan memberikan seluruh makanan dan uang kami pada anda. Mohon ampunilah kami…”

“Omong Kosong! Apa aku sedang bernegosiasi dengan mu? Karena kalian tidak mau memanggil mereka keluar, aku akan pergi dan mencari mereka sendiri!” Dengan ekspresi kejam dan keji, pria besar tersebut mengayunkan cambuk kuda di tangan nya pada kepala desa. Sebuah bunyi keras terdengar bersamaan dengan cambukan pada kepala desa. Beberapa penduduk segera menangkapnya dan melihat bekas cambukan semerah darah yang membekas di dadanya, kulitnya robek dan dagingnya menganga.

Pria besar itu turun dari kudanya. Mengangkat large sabernya, dia berjalan menuju rumah sebuah keluarga. Orang-orang di belakangnya menyebar, ingin memasuki rumah dan mengeledah. Empat atau lima bandit tidak bergerak. Mereka menatap kejam pada penduduk, senjata di tangannya bersinar di bawah cahaya matahari yang terbenam.

Melihat bandit-bandit itu memasuki rumah, beberapa penduduk segera melawan, namun mereka dapat dikalahkan dengan mudah. Dua dari mereka bahkan terkena senjata dan terjatuh berlumuran darah.

Pria besar tersebut berjalan menuju rumah. Tiba-tiba, seorang pemuda bergegas keluar dari kerumunan penduduk. Langkahnya terlihat tidak seimbang. Sepertinya, karena dia terlalu takut, dia terjatuh ke tanah ketika dia mendekati pria besar itu. Tanpa bersusah payah, dia mencengkeram salah satu kaki pria tersebut dan memohon dengan suara bergetar: “Ku mohon… lepaskan mereka… Jangan masuk, aku mohon…”

Pemuda itu tidak lain adalah Xiao Feng. Dia berada di balik kerumunan cukup lama, meskipun dia sangat ketakutan, dia tetap keluar — karena, Ling’er bersembunyi di rumah tersebut.

Melihatnya seperti itu, pria besar tersebut tertegun beberapa saat. Lalu dia tertawa menakutkan: “Apa? Ada sesuatu yang penting bagimu di rumah itu? Ha ha, kalau begitu, buka matamu dan lihat aku akan mengambilnya!” Kemudian, dia mengangkat kakinya dan langsung melayangkan tendangan pada Xiao Feng.

Xiao Feng menyemburkan darah saat dia masih di udara. Sepertinya tulang rusuknya patah karena tendangan tadi. Setelah jatuh ke tanah, dia berusaha bangun, namun seorang bandit menginjak punggungnya, mencegahnya bangun.

Tidak lama setelah pria besar memasuki rumah, jeritan ketakutan seorang gadis muda terdengar dari dalam. Pria besar itu tertawa terbahak-bahak karena kejutan menyenangkan dan kepuasan: “ Ha ha! Aku tidak menduga desa kumuh ini memiliki seorang gadis yang menarik! Bajingan di luar itu ingin melindungimu, kan? Apa bagusnya lemah seperti itu? Kemari dan aku akan mencintaimu dengan benar….”

Xiao Feng terus berjuang untuk berdiri, namun dia tidak dapat melepaskan diri dari kaki yang menginjak punggungnya. Dengan putus asa dia mengulurkan tangannya ke arah rumah di depannya, matanya hampir semerah darah: “Ling’er… Jangan takut, Ling’er. Aku akan datang dang menyelamatkanmu segera… Secepatnya…”

Saat kekasihnya hampir diperkosa, ketakutan yang mendalam berubah menjadi kebencian yang luar biasa. Dia membenci surga yang berlaku tidak adil, membenci bandit-bandit yang tidak manusiawi, dan membenci dirinya sendiri yang lemah…

Sebuah kekuatan tumbuh dipikirannya dan membangunkan jiwanya. Pemuda tersebut menyemburkan darah lagi. Tangannya menekan tanah, pembuluh darah berwarna biru bermunculan. Tubuhnya terangkat sedikit demi sedikit, namun kesadarannya melemah secara bertahap..

Bandit yang meninjak punggung pemuda tersebut tiba-tiba merasakan perlawanan dari bawah kakinya yang semakin lama semakin kuat, bahkan rasanya tidak bisa menahannya. Matanya menyorotkan kekejaman. Dia mengangkat large saber di tangannya dan siap untuk memenggal.

Tepat saat itu, dia mendengar beberapa orang berteriak dari belakang. Sebelum dia berbalik, dia merasa sebuah kekuatan besar memukul belakang kepalanya. Lalu tubuh bandit tersebut terbang beberapa meter dan jatuh ke tanah. Tanpa berkata bahkan menggeram, dia kehilangan kesadarannya.

Tanpa henti, sebuah bayangan bergegas masuk kerumah dimana tangisan minta tolong seseorang berasal.

Bayangan itu tidak lain adalah Bai Yunfei!!

Saat dia mencapai pintu masuk desa, dia melihat sebuah kekacauan di desa. Beberapa orang jatuh berlumuran darah dan yang lainnya diancam. Beberapa penjahat bersenjata menghalangi jalan para penduduk. Lalu, Di depan sebuah rumah kecil, seorang pemuda sedang diinjak oleh seorang pria yang mengangkat senjata di tangannya, siap untuk memenggal

“Bandit!” Hanya dalam sekejap mata, Bai Yunfei dapat menebak identitas orang-orang ini dengan benar. Tanpa berpikir panjang, dia mengalirkan soulforce pada lengannya dan bergegas. Setelah melayangkan sebuah tendangan, dia bergegas menuju ruangan di depannya.

Segera setelah memasuki ruangan, dia melihat seorang pria besar mendorong seorang wanita muda ke lantai, tangan kirinya menyengkeram leher gadis itu dan tangan kanannya merobek pakaian dari tubuhnya. Bekas telapak tangan terlihat di wajah gadis itu. Air mata terus mengalir dari matanya sambil meronta dan memohon tanpa henti. Sebuah potongan baju di bahu kanannya robek, memperlihatkan kulit seputih saljunya.

Pria besar itu jelas harus di waspadai. Dia menyadarinya setelah Bai Yunfei memasuki ruangan. Dia tiba-tiba berbalik dan, pada waktu yang bersamaan, meraih Large saber yang ada di sisi sebelah tangan kanannya.

Dia cepat, namun Bai Yunfei lebih cepat!. Hampir pada waktu yang bersamaan saat pria tersebut berbalik, dia telah berada di sisi lainnya dengan cepat. Kemudian, pria besar itu berteriak kesakitan. Ternyata tangan yang mencoba meraih large saber itu telah di injak-injak oleh Bai Yunfei. Suara retakan pun terdengar. Suara itu berasal dari tulang-tulang tangan yang hancur.

Dengan tatapan serius di matanya, Bai Yunfei tidak peduli dengan tangisan kesakitan pria besar tersebut. Dia mengangkat kaki dan suara tulang retak pun terdengar kembali dari dada pria besar itu. Tubuh besarnya di terbangkan ke langit. Hanya setelah tiga sampai empat meter dari ruangan dia jatuh ke tanah.

Setelah pria besar tersebut di terbangkan, orang-orang di luar terjebak dalam keheningan yang aneh. Semua orang, baik bandit maupun pernduduk, menatap pria yang tergeletak menyemburkan darah tanpa henti dengan heran.

Hanya ketika Bai Yunfei keluar dari ruangan, bandit-bandit itu bereaksi dan berlari menuju pria besar itu sambil menangis. Bahkan beberapa bandit yang berada di rumah yang lain berlarian keluar setelah mendengar suara itu.

Situasi ketika bandit-bandit tersebut akan meneriakkan sebuah pertanyaan: “Dari mana kamu berasal, Kak…? Dan Bai Yunfei akan menjawab dengan tak peduli: “Kalian tidak beruntung bertemu dengan ku. Atas nama bulan, aku akan menghancurkanmu….” Tidak terjadi

Setelah berjalan keluar ruangan, Bai Yunfei menyapu pandangan ke arah sebelas orang bandit yang masih berdiri. Tanpa memberi mereka waktu untuk bergerak, dia langsung menyerang bandit yang paling dekat dengannya

Pria itu ketakutan. Dia segera mengangkat large saber di tangannya dan mengayunkannya ke arah Bai Yunfei. Bai Yunfei mengelak sedikit demi sedikit, menghindari pedang tersebut. Lalu dia meraih tangan kirinya, menyengkeram pergelangan tangan pria itu dan meremasnya. Pria tersebut berteriak kesakitan. Large saber tergelincir dari tanganya. Bai Yunfei menangkapnya dan melemparnya ke belakang lalu memberi pukulan pada wajahnya. Pria tersebut langsung jatuh dan pingsan.

Setelah Bai Yunfei mengalahkannya bandit lain yang masih tersisa bereaksi. Mengacungkan senjata mereka, mereka mengepungnya.

Bai Yunfei menyambar pria yang baru saja terjatuh di kakinya, memutarnya membentuk lingkaran sebelum melemparnya, menghantamkannya ke arah tiga orang lain. Dia bergegas keluar dari kepungan dan berjalan menggelilingi bandit-bandit itu, menyambar senjata mereka dan menghancurkannya dengan tinjunya.

Tak lama, senjata-senjata tersebut telah menjadi tumpukan dan sepuluh bandit tergeletak di tanah. Banyak dari mereka telah dikalahkan. Beberapa orang masih tersadar dan meratap, memegangi pergelangan tangan atau perut mereka.

Bai Yunfei hanya membutukan beberapa menit. Dia menatap bandit-bandit yang tergeletak di tanah. Bahkan terlihat ekspresi tidak puas di wajahnya – dia adalah seorang soul cultivator. Meskipun dia masih dalam tahap awal Soul Apprentice, dia bukanlah lawan bagi orang biasa.

Tepat saat itu, Bai Yunfei mendengar suara derap langkah kuda dari belakang. Di berbalik untuk melihat. Sepertinya masih ada bandit yang lolos tanpa hukuman. Dia diam-diam menunggangi kuda dan melarikan diri seperti orang gila menuju jalan yang mereka ambil untuk mencapai tempat ini.

Bai Yunfei sebenarnya tak bisa membiarkannya pergi. Beberapa langkah, dia mencoba mengejar. Karena dia tidak mengetahui cara menunggang kuda, dia tidak punya pilihan lain selain berlari seperti orang gila.

Pria itu berpikir dia telah terhindar dari bencana dan senang telah melarikan diri secepat mungkin. Hanya beberapa belokan di depan dan dia akan melihat puncak gunung dimana hallmaster dan yang lainnya beristirahat. Lalu, jika dia dan saudara-saudaranya pergi bersama, mereka pasti akan bisa membunuh pria itu!

Ketika bisa menghela napas lega, tiba-tiba dia merasa ada sesuatu yang tidak biasa berada di sebelahnya. Dia melirik dan terkejut hingga hampir terjatuh dari kuda.

Berlari dengan sekuat tenaga, Bai Yunfei akhirnya dapat menyusul orang itu. Dengan tatapan mengerikan dari matanya, dia menyengkeram salah satu kakinya yang meremas perut kuda, dan menariknya ke tanah sekuat tenaga. Pria tersebut terjatuh dari kuda berkecepatan tinggi dan jatuh dengan wajah yang menyentuh tanah, dia berguling-guling, dia mengeluarkan nafas lebih banyak dari pada menghirup udara.

Saat Bai Yunfei membawa pria yang melarikan diri dengannya itu, menuju pintu masuk desa, dia tiba-tiba mendengar suara tangisan kesedihan di desa. Jantungnya berdetak kencang: “Mungkinkah bandit-bandit itu tersadar? Tidak mungkin, aku menghajar mereka cukup keras…”

Dia segera berjalan menuju desa. Namun ketika dia melihat keadaan di desa, dia berdiri seakan telah tersambar petir dan melihat sebuah tempat berwarna merah di depannya dengan terkejut.

Para penduduk baik-baik saja, namun mereka melihat tengah desa dengan ekspresi ketakutan.

Tempat luas di tengah desa sekarang telah sepenuhnya tertutup darah. Ini adalah darah para bandit tadi!

Seorang pemuda dengan tubuh penuh darah mengangkat large saber sepanjang satu meter, mencincang tanpa henti tubuh di depannya. Tubuh itu samar-samar masih dapat dikenali dan itu tidak lain adalah pemimpin bertubuh besar dengan mata yang seperti ikan mati.

Sepuluh bandit yang ada di sekitarnya sekarang semuanya telah mati, dengan dada dan leher penuh luka yang cukup dalam karena tebasan large saber. Darah masih mengalir tanpa henti dari beberapa luka.

Di tengah tumpukan mayat, pemuda yang di panggil Xiao Feng itu, matanya merah dan sepertinya tanpa fokus, memotong-motong jasad di depannya lagi dan lagi menggunakan saber sambil mengeram seperti binatang.

“Mati… Mati! Semua bandit harus mati! Untuk membayar kematian orang tua ku! Untuk kematian kakakku! Ku bunuh kau! Ku bunuh kau! Aku kan melindungi Ling’er! Tak ku ijinkan kau menyakiti Ling’er ku…”

Bai Yunfei tertegun melihat pemuda tersebut. Melihat keputusasaan dan kebencian di matanya serta mendengar ucapannya, entah mengapa dirinya merasakan kesedihan yang tak dapat di gambarkan dan merasa dirinya berada dalam perahu yang sama..

Pada saat di Coliseum itu, dimana bangsawan dan orang kaya mencari kesenangan dan dimana nyawa manusia tak lagi berharga, ada juga seorang pemuda dengan air mata darah yang mengalir dari kedua matanya mengacungkan batu di tangannya dan memukulkannya pada tubuh Direwolf lagi dan lagi…

“Kak Xiao Feng!”

Sebuah suara indah membangunkan Bai Yunfei karena terkaget. Seorang gadis muda dengan baju yang rusak berlari kerluar dari rumah kecil itu. Meskipun dia berlumuran darah dan dengan ekspresi gilanya, dia memeluk pinggangnya dan berkata dengan cemas sambil menangis: “ Xiao Feng! Apa yang terjadi padamu? Jangan menakutiku… Xiao Feng….”

Saat gadis muda itu mulai bicara, pemuda tersebut menghentikan gerakannya dan menoleh tanpa sadar untuk melihat. Sekarang, saat dia dipeluk olehnya dan mendengar kecemasan dan ucapannnya, tubuhnya berhenti gemetar. Saber di tangannya terjatuh ke tanah. Matanya perlahan membening dan jernih kembali.

“Ling… Ling’er! Kau baik –baik saja… Kau baik –baik saja! Bagus, sangat bagus…”

Mereka berdua menangis saling berpelukan di tempat yang dipenuhi darah, di kelilingi puluhan mayat bandit. Keadaan ini terlihat sedikit aneh untuk dilihat, namun ketulusan mereka menghangatkan perasaan Bai Yunfei. Entah bagaimana, diam-diam dia merasa bahagia untuk pemuda yang dipanggil Xio Feng itu.

Dia tidak ingin melihat kesedihan, ekspresi keputusasaan pemuda itu lagi.

Mungkin, ini karena ada perasaan yang hampir sama…

 

Translator / Creator: andra