May 15, 2017

Terror Infinity – Volume 8 / Chapter 8.2

 

Zheng menyuruh semuanya untuk menghentikan latihan, film berikutnya lebih penting dari apapun baginya. Karena kebahagiaan yang telah dia cari begitu lama akan hilang jika ia gagal. Dia tidak ingin atau berharap itu terjadi. Sehingga dia tidak boleh gagal tidak peduli apapun yang harus ia lakukan!

Dia telah berlatih tahap ketiga ini beberapa hari terakhir dan mulai memahami beberapa hal. Seperti itu hanya mensimulasi kemampuan terbaik dari target, dan memiliki durasi yang terbatas. Menggunakan ini terlalu lama akan menyebabkan sakit kepala, yang akan merugikan selama pertempuran. Sehingga memahami batas durasi itu adalah pencapaian paling berharga beberapa hari ini.

Mengenai persiapan, Heng lebih keras dari yang lainnya. Dia memiliki bakat memanah dari awal dan sekarang dia telah membuka tahap pertama, ia bisa menembak hingga tiga panah dengan Burst Shot. Kecepatan dan daya rusaknya meningkat ke sebuah level yang jauh lebih tinggi. Namun, kelemahan yang menyertainya adalah penurunan akurasi dibandingkan dengan menembak dengan dua panah. Meskipun ia berhasil menggunakan Burst Shot dengan tiga anak panah pada hari kedelapan, tembakan itu mengenai tanah di samping target.

Heng membelai panah +3 yang memiliki cahaya samar. Ada kata-kata rune dan karakter kuno yang diukir pada panah. Dia masih belum menguji kekuatan panah itu karena harganya.

“Aku harus menguji ini setidaknya sekali. Atau tidak, jika terjadi sesuatu yang tak terduga, monster-monster itu akan mengoyak saya.”

Heng menggigil saat membayangkan alien mendekatinya. Dia menarik tiga panah +3 tapi kemudian mengembalikan satu kembali setelah ia berpikir sejenak. Dia menarik busur ke bentuk setengah bulan, membidik sebuah batu.

Dia memusatkan perhatiannya dan menggunakan teknik yang luar biasa dengan dua panah, Burst Shot.

Lalu ia menatap dari kejauhan dengan terkejut. Meskipun sejauh seribu meter, ia masih bisa melihat dengan jelas. Bagaimanapun, kemampuan ini sngat hebat. Ia mengambil panah lainnya dengan hati-hati dan mempelajarinya dengan teliti.

“Dengan kekuatan ini…satu tembakan akan cukup! Aku tidak akan membiarkan satupun alien mendekati saya!”

Latihan Yinkong tampak lebih santai tapi juga lebih aneh dibandingkan dengan Heng. Dia duduk di tanah datar dengan mata tertutup. Itu sama gelapnya dengan ruang bawah tanah di ruangannya. Banyak pilar kayu yang mengelilingi sebuah pilar logam di tengah. Dia menghadap pilar dengan mata tertutup sambil memegang kawat memori.

Setelah beberapa waktu berlalu, Yinkong membuka matanya dan berjalan ke depan. Dia berdiri di luar pilar kayu dan mengayunkan lengannya dengan kuat ke pilar logam kemudian berdiri di tempat. Beberapa detik kemudian, pilar logam itu terpotong setengah dari tengah pilar kemudian meluncur jatuh. Potongan itu sehalus sebuah cermin.

Dia menghembuskan napas kemudian menarik kembali kawat memori yang melilit pilar. Kemudian berbalik ke tangga.

Semua orang berbeda sebelum masuk dalam film. Selain berlatih scan jiwa, Lan sering melamun dengan jari-jari di bibirnya dan sebuah senyuman, meskipun senyuman itu akan cepat berubah menjadi senyuman pahit. Ekspresinya terus berputar antara melamun dan tersenyum. Dia menghela napas kemudian mengambil buku hariannya.

“Dia menciumku untuk menyelamatkan saya. Saya tidak akan memiliki perasaan khusus jika hanya itu tetapi saya bisa merasakan bahwa dia tergoda pada saat terakhir itu. Saya yakin.”

“Tapi apa yang bisa saya lakukan? Mengapa dia dan Lori harus begitu kejam padaku? Bukankah lebih baik untuk membuat saya putus asa sekaligus? Mengapa harapan itu selalu muncul lalu menjadi kekecewaan saat saya hampir menggapainya? Saya tidak ingin terus seperti ini.”

“Mungkin jika dia meninggal…aku jijik pada diriku sendiri karena memiliki pikiran-pikiran ini. Apakah saya benar-benar seorang wanita jahat? Tidak, saya tidak ingin dia mati. Lori adalah gadis yang baik, yang satu-satunya yang Zheng suka, dan dia juga menyukainya. Mereka harus bersama-sama. Hal baik harus terjadi pada orang baik, mereka harus bersama-sama!”

Air mata menetes pada kertas putih setetes demi setetes dengan setiap kata yang ia tulis.

Sebaliknya, ruang Honglu itu jauh lebih buram. Dia memaksa Ran untuk memakai cheongsam yang ia rancang. Sebagian kakinya terlihat. Dan cheongsam itu jelas terlalu kecil satu ukuran. Ini membungkus tubuhnya begitu ketat hingga menampilkan semua lekuk tubuhnya. Dia berdiri di depan Honglu dengan wajah tersipu dan mengatakan dengan tidak nyaman. “Bisakah kau biarkan aku pakai pakaian dalam saya? Adikku.”

Honglu tersenyum. “Tidak, saya membuat cheongsam ini setelah mengukurmu dengan teliti. Tidakkah kau merasa bahwa itu cocok untukmu? Hehe, jangan khawatir, kau hanya akan memakai ini saat tidak ada orang lain di sekitar. Jika tidak, saya tidak akan mengijinkanmu untuk memakainya. Ambil ini. Apakah liontin giok ini terlihat bagus?”

Meskipun wajahnya masih merah, dia mengambil liontin itu dari tangan Honglu dan melihatnya dengan hati-hati. “Iya. Sangat indah. Apakah ini untukku?”

Honglu menggaruk kepalanya dan berkata. “Iya. Saya tidak pernah memberikanmu hadiah apapun. Hoho, itu bukan batu giok kualitas terbaik tapi saya pasti akan menukarnya dengan aksesori yang lebih baik untukmu di masa depan.”

Ran memeluknya dengan penuh semangat kemudian menciumnya saat ia terkejut. Honglu mundur setelah beberapa saat, memerah. “Apa yang kau lakukan, aku tidak bisa bernapas. Ingatlah untuk terus selalu dekat dengan giok itu setiap saat. Sebenarnya tidak, saya ingin melihatmu memakainya di lehermu sekarang. Hehe, cepat.”

Dia menatap ke Honglu kemudian membuka kancing cheongsam bagian atas saat wajahnya semakin memerah. Dia menarik cheongsam sedikit dan memasang liontin itu.

Zheng memeriksa semua yang ada di cincinnya dengan teliti. Senjata peleleh, baterai fisi, semprotan hemostasis, perban, beberapa peluru magic, senapan mesin, sebuah pisau militer untuk menggantikan pisau progresifnya yang hilang pada film terakhir. Ketajamannya sangat jauh lebih rendah daripada pisau progresif tapi itu dibuat dari bahan anti korosi. Itulah sebabnya Zheng memilih itu.

Sepuluh batang emas jika terjadi sesuatu yang tidak terduga, beberapa jimat untuk menghadapi makhluk spiritual yang memungkinkan, Kitab Orang Mati dan kuncinya, dan perisai defensif.

Setelah memeriksa barangnya, Zheng berpaling kepada Lori dan berkata dengan nada serius. “Apakah kau masih ingat apa yang saya katakan? Ulangi sekali lagi atau saya akan memukul pantatmu.”

Lori tersipu dan menggigit bibirnya. “Ya saya ingat. Tetap sadar jadi perisai dapat terus aktif, karena itu akan kehilangan efeknya setelah saya pingsan atau kehilangan kesadaran. Kemudian terus dekat denganmu, paling jauh tiga meter. Jangan menyentuh atau mendekati apa pun yang mungkin berbahaya. Jangan membantu karakter film. Benar kan?”

Zheng mengangguk serius. “Iya. Kau harus melakukan semua ini! Jika tidak, kalau tidak aku…Tolong, jangan tinggalkan aku sendirian lagi. Aku berjanji, aku akan terus hidup jadi giliranmu yang berjanji padaku. Tetap hidup. Kita akan terus hidup tidak peduli apapun yang terjadi. Kita akan hidup bersama-sama. Ok?” Dia kemudian memeluk Lori.

Lori mengelus rambutnya dengan lembut dan berkata dengan suara pelan. “Ya, kita akan terus hidup. Aku ingin kau menggenggam tanganku dan berjalan-jalan bersama ketika kita tua. Kita akan terus hidup bersama.”

(Kita pasti, kita harus terus hidup.)

Semua orang berdiri di platform keesokan harinya. Meskipun Jie dan Nana sudah tiada, itu masih tujuh orang yang masuk saat ini, dan dengan dua wanita yang tidak bisa bertarung.

“Masuk ke dalam cahaya dalam waktu tiga puluh detik. Target terkunci. Alien: Resurrection. Mulai transportasi.”

 

Translator / Creator: isshh