April 28, 2017

Terror Infinity – Volume 8 / Chapter 5.1

 

Zheng melompat dari mobil. Dia menegangkan tubuhnya selama melompat. Dia tidak akan meremehkan kekuatan tembakan Heng setelah tertembak sebelumnya. Tembakan itu setara dengan senapan sniper normal dalam hal kekuatan dan kecepatan. Zheng tidak memiliki kekuatan untuk menahannya saat ini.

Hal baiknya adalah Heng tidak terus membidik dia sesudahnya. Tidak ada perasaan bahaya ketika ia melompat keluar dari mobil. Zheng melihat sekeliling dan hanya melihat beberapa karyawan berdiri syok dan seorang wanita berteriak melalui telepon. Seluruh tempat itu dalam kekacauan. Orang-orang ini antara menatapnya atau berlari tanpa arah.

Zheng mengambil napas dalam-dalam. Dia membawa keluar pistol dari cincinnya, senapan mesin ringan di tangan kirinya dan pisau progresif di sebelah kanan. Lalu ia berlari ke arah pintu keluar emergensi.

Lift bukan pilihan karena itu hanya akan memancing kematian datang. Sebaliknya, tangga adalah pilihan yang jauh lebih baik karena ia memiliki stamina yang lebih tinggi daripada orang normal dan teknik gerakan. Ditambah ia percaya kematian tidak bisa berbuat banyak di tempat ini karena hampir tidak ada orang lain di sini.

Jumlah Qi Zheng tidak begitu tinggi dibandingkan dengan jumlah energi darah karena Qi nya masih pada tingkat menengah. Itu cukup untuk mempertahankan penggunaan cincin Na tapi ia merasa kurang sejak ia belajar teknik gerakan. Dia akan kehabisan Qi dalam beberapa menit penggunaan yang dapat menyebabkan kesalahan dalam pertarungan. Musuhnya tidak akan memberinya kesempatan apapun selama pertarungan hidup dan mati.

Zheng menaiki tangga dengan teknik gerakan. Kakinya bahkan nyaris tidak menyentuh lantai karena kecepatannya. Dia pada dasarnya berjalan di dinding. Tubuhnya terasa ringan seperti bulu dalam keadaan ini. Dia menaiki tangga hanya dalam waktu di bawah satu detik. Bangunan dua puluh lantai ini akan memakan waktu kurang dari satu menit.

Zheng merasa tidak nyaman saat ia berlari, seperti sedang dibidik. Perasaan bahaya ini mengikutinya tidak peduli bagaimanapun ia bergerak. Saat ia melihat ke depan, tangga lantai ini dilapisi dengan serangkaian kaca. Dia mengikuti kaca itu dan melihat Heng mengeluarkan busurnya dari tangga di lantai atas. Namun, Heng tidak membidik dirinya.

Dia menempatkan dirinya sebagai Heng. Perasaan mengetahui segala sesuatu yang sedang Heng pikirkan muncul lagi. Teknik yang akan menggunakan refleksi dari cermin ini dan membidik ke arah yang berbeda dari sasaran. Ricochet, teknik panah unik dari Heng. Arah final dari panah itu ditujukan ke Zheng.

Dia tidak punya kepercayaan diri untuk menangkis panah itu pada jarak sedekat itu. Mungkin panah itu sudah menusuk jantung atau kepalanya saat ia mulai menghindar.

Zheng menatap refleksi Heng di cermin. Untuk sesaat, dia samar-samar bisa melihat tangan Heng bergetar. Itu samar tapi jelas terlihat di matanya saat ini. Zheng telah memasuki mode berserk. Dia telah membulatkan keputusannya ketika ia melihat gemetar itu.

Semua ini terjadi dalam sekejap mata. Zheng melompati tangga ke lantai berikutnya dan Heng juga melepas anak panahnya. Yang mengejutkan Heng, Zheng tidak berakselerasi. Dia tiba-tiba membuang pisaunya ke tanah kemudian menjepit pisau dengan kakinya, menghentikan lompatannya. Panah meleset hampir menyentuh kulit kepalanya. Ini membuat Zheng berkeringat dingin.

Ketika ia melihat tangan yang bergetar itu, ia ingat bahwa pisau yang sedang bergetar itu adalah senjata tertajam. Namun, setelah getaran ini berhenti, ketajamannya bahkan sedikit lebih buruk dari pisau biasa. Dia bisa memanfaatkannya untuk bertahan dalam situasi ini. Dan ia memenangkan taruhan itu.

Heng sudah melarikan diri pada saat Zheng menendang pisau itu. Lagipula, dia hanya berjarak dua lantai lagi ke puncak gedung. Tidak peduli lagi ke mana Heng pergi. Jie tidak akan lolos!

Zheng terus berlari menaiki tangga. Ketika sampai pada tangga terakhir, ia melihat Heng dan Honglu berdiri di depan tangga. Heng telah menarik busurnya dengan dua panah di tangan.

Honglu menggigit apel dan berkata. “Zheng, kita terhipnotis kan? Meskipun kami ingin membunuhmu tapi aku masih memiliki ingatan saya. Rasanya mengerikan. Bagaimana kalau begini, kami akan menyerah jika kau bisa mengalahkan Heng.”

Zheng melihat senyuman anak ini dan ingin memukulnya. Jika dia tidak bisa mengalahkan Heng, maka bagaimana dia akan membuat mereka pingsan dan pergi menemui Jie? Dilihat dari ancang-ancang Heng, itu sudah terlambat untuk menghentikan tembakan ini.

Dia mengambil napas dalam-dalam. “Heng, Honglu, kemarilah. Saya tidak punya banyak waktu lagi. Aku berjanji pada Lan untuk mengalahkan Jie dalam sepuluh menit. Janji seorang pria tidak boleh diingkari! Cepat tembakan panah ini!”

Tangan Heng bergetar lagi. Dia tampak lebih gugup daripada Zheng dan Honglu. Kakinya bergetar seolah-olah dialah orang yang akan ditembak. Keringat mengalir di wajahnya seolah-olah ini adalah tembakan terakhirnya dan hampir mengaburkan pengelihatannya.

Keduanya terpisah lima puluh meter dan dalam koridor lurus ini. Zheng harus melewati mereka untuk menemui Jie. Beberapa menit telah berlalu. Yinkong sudah menyusul Lan sekarang.

Zheng mengertakkan gigi kemudian berlari ke Heng. Heng akhirnya melepas panahnya. Dua panah meluncur ke Zheng satu per satu. Dia sudah memperkirakan ini. Kakinya membesar saat ia berteriak dan meningkatkan kecepatannya sedikit. Dia berlari ke panah pertama sebelum panah kedua bisa menghantam ekornya kemudian membiarkan panah menembus dadanya. Panah kedua juga melewati luka yang sama. Panah hampir menyentuh jantungnya dan sudah pasti mengenai paru-parunya. Untungnya, kecepatan reaksinya memungkinkan dia untuk menghindari serangan vital ke jantungnya.

Zheng memuntahkan darah dari mulutnya. Sensasi udara bocor saat ia bernapas sangat menyakitkan. Namun, ia telah mencapai jarak sepuluh meter dari Heng. Dia bisa memukul Heng sebelum tembakan lainnya. Sepuluh meter hanya sekedip mata dengan teknik gerakan itu.

“Istirahatlah dengan tenang dan serahkan semuanya kepadaku.” Zheng terus bernapas dengan berat sambil berlari ke mereka.

Yang mengejutkan, Heng berbalik dan melompat pergi. Panah tiba-tiba muncul di tangannya. Dia langsung menarik busur, membentuk bulan purnama. Itu hanya satu panah saat ini tetapi ekspresi Heng kali ini berbeda. Ini adalah sebuah ekspresi yang meletakan semua harapan dalam satu tembakan ini. Kakinya berhenti gemetar, tangannya sekeras batu, dan matanya tidak terfokus. Teknik yang hanya memerlukan satu panah ini adalah yang ia peroleh melalui enhancement.

 

Translator / Creator: isshh