April 21, 2017

Terror Infinity – Volume 8 / Chapter 3.2

 

Semua orang menyaksikan dengan kebingungan saat Zheng berlari ke arah pintu. Hanya saja WangXia tiba-tiba teringat sesuatu. Wajahnya langsung berubah pucat. Namun, ada ledakan kecil yang datang dari wadah peluru dari salah satu sudut sebelum ia sempat melepaskan pistol yang dipegangnya. Ledakan itu semakin keras sampai seluruh kontainer meledak dengan sebuah kilatan. Peluru membombardir seperti senapan mesin. Beberapa orang kulit hitam terdekat langsung tertembak, kemudian pria gemuk dan preman itu juga tertembak oleh peluru liar. WangXia berada lebih jauh tapi dalam beberapa langkah ia dilahap oleh api dari ledakan.

Zheng mengertakkan gigi. Ia masuk mode berserk saat ia berlari. Otot-otot di kakinya membesar, ia berlari ke pintu sambil berteriak. Dia sudah begitu dekat dengan pintu hanya dalam sekejap mata. Namun, ledakan itu mendekat pada saat yang sama berserta peluru liar dan juga pecahan-pecahan benda. Punggungnya terkena sepuluh peluru hanya dalam sepuluh langkah. Untungnya, peluru tersebut ditembak oleh ledakan dan bukan melalui senapan. Dia hanya beberapa meter dari pintu sekarang.

“Ahh!” Zheng melompat sekitar setengah meter menggunakan teknik gerakannya. Ia melayang di udara seperti bulu. Tepat pada saat itu, ledakan itu mengirimnya terbang keluar. Karena masih menggunakan teknik gerakan dan tubuhnya lebih ringan dari biasanya, itu meminimalkan cedera dari ledakan itu. Tentu saja punggungnya terkena banyak peluru dan pecahan tajam pada saat yang sama.

Lan segera berbalik untuk melihat Zheng ketika mereka mendarat. Mulutnya penuh darah dan wajahnya pucat putih. Lan ingin menahannya tapi Zheng meraih tangannya dan terus berlari. Tak lama setelahnya, gudang itu akhirnya meledak. Tidak hanya peluru tetapi pecahan benda-benda dari gudang juga beterbangan oleh ledakan itu. Tempat mereka berdiri sekarang di bombardir oleh pecahan-pecahan benda ini. Lan merasa takut setelah melihat itu. Setelah berlari cukup jauh, Zheng menarik Lan ke sebuah gang.

Begitu mereka masuk, Zheng tidak bisa menahan cederanya lagi dan berlutut. Lan juga melihat luka di punggungnya. Tangannya gemetar tapi dia mengatupkan giginya kemudian perlahan-lahan melepas kemejanya. Tidak ada bagian yang benar-benar utuh di punggung Zheng. Untungnya tulang belakangnya tidak rusak. Kalau tidak, dia tidak akan mampu berlari sejauh ini.

Zheng mengambil napas. Dia menyerahkan pisau progresif ke Lan. “Jangan gemetar, jaga keseimbangannya. Lalu keluarkan peluru dan pecahan itu. Jangan khawatir, mereka tidak sekuat tembakan. Ditambah tubuh saya jauh lebih kuat daripada normal orang. Mereka hanya masuk ke permukaan otot saya. Cepat, keluarkan lalu gunakan semprotan hemostasis.”

Lan mengambil pisau dengan tangan gemetar. Dia tidak bisa menahan air matanya lagi tapi dia tahu ini sangat mendesak. Dia mengarahkan pisau ke punggung Zheng tanpa kata-kata. Namun, pisau itu bergetar bersama dengan tangannya. Ini langsung menggores luka di punggung Zheng.

Lan mengambil napas dalam-dalam. Bayangan-bayangan saat Zheng menyelamatkan dia di film Alien mengalir di benaknya, kelembutan itu, dan rasa aman. Waktu Zheng melompat dari gedung menggendongnya di film The Grudge, ketika lengannya membesar dan hampir pecah. Sosoknya ketika ia mengarahkan perintah dan melindungi mereka di film The Mummy. Dan bagaimana barusan ia menahan ledakan itu.

Mata Lan menjadi fokus saat ia sedang mengenang peristiwa sebelumnya. Tangannya berhenti gemetar. Dia memfokuskan pemindaian jiwanya hanya satu meter di depannya. Dia bisa “melihat” lokasi setiap peluru dan pecahan peluru. Dia membalikkan pisau dan mengeluarkan pecahan peluru itu. Lalu yang kedua, ketiga. Tanah itu perlahan-lahan tertutup oleh tumpukan peluru dan pecahan-pecahan benda. Setelah yang terakhir keluar, Zheng segera menyerahkan semprotan hemostasis. Zheng menarik napas lega karena ia merasakan sensasi dingin di punggungnya.

“Itu luar biasa, Lan. Tidak pernah tahu kalau kau memiliki potensi untuk menjadi seorang dokter. Lan?” Zheng mengeluarkan perban saat ia berbicara. Namun, Lan jatuh ke tanah sebelum ia dapat menyerahkan perban kepadanya.

Tubuhnya kejang-kejang seperti dia mengalami rasa sakit yang hebat. Air mata mengalir keluar dan darah keluar dari sudut mulutnya. Dua detik kemudian, ia membuka mulutnya dan berusaha bernapas. Namun, paru-parunya tidak mengembang. Udara tidak bisa memasuki paru-parunya.

Zheng seketika tahu apa yang baru saja terjadi. Lan membuka kendala genetiknya ketika dia memberinya perawatan medis. Pertama kali memasuki mode berserk adalah saat yang paling berbahaya. Rasa sakit yang terasa lebih buruk dari kematian itu sendiri. Zheng masih ingat pertama kali ia mengalami rasa sakit itu. Jika bukan karena bantuan Lan saat itu, ia mungkin telah tewas karena mati lemas. Dia tahu seberapa buruk rasa sakit ini karena saat itu statistik tubuhnya bahkan lebih rendah dari dari saat ini.

Zheng mengambil napas dalam-dalam kemudian menciumnya tanpa ragu-ragu. Kemudian ia mendorong udara ke dalam dirinya. Dia tidak bisa menggantikannya untuk menanggung rasa sakit ini sehingga ia hanya bisa memeluknya dengan lembut dan merasakan tubuhnya saat ia mengejang kesakitan.

Perangkat komunikasi Zheng berdering pada saat itu. Tapi tak satupun dari mereka memiliki energi untuk memperhatian itu.

Di sisi lain kota, Lilin dan ZhuWen terus menekan perangkat itu sambil menangis. Setelah beberapa waktu, Lilin melemparkannya ke tanah dan berkata. “Pembohong. Tetap menjaga kontak dengan perangkat ini, namun siapa yang punya waktu untuk ini saat benar-benar dalam keadaan kritis!”

ZhuWen tiba-tiba membuka matanya mengarah ke sisi kosong di dalam ruangan. Lalu ia menggenggam Lilin dalam ketakutan. “Mengerikan. Ada seperti tengkorak melayang di sekitar ruangan. Dia melihat saya membuka mataku kemudian tertawa mengerikan.”

Lilin memaksa tersenyum. “Bagaimana bisa ada tengkorak memelayang. Itu hanya angin.” Lalu dia terdiam. Dia akrab dengan film ini sehingga dia tahu bahwa angin melambangkan kematian. Hembusan angin yang datang entah dari mana biasanya berarti awal serangan kematian!

Mereka berdua kembali ke hotel mengikuti perintah Zheng. Tidak ada yang terjadi pada awalnya. Mereka juga sangat berhati-hati. Terutama karena Lilin sudah pernah menonton seri ini dan ZhuWen memiliki firasat khusus, mereka menghindari beberapa kecelakaan dalam waktu dekat ini. Namun, angin yang barusan berembus itu. Tiba-tiba orang-orang berteriak dari lantai pertama. Mereka mendengarkan dengan hati-hati dan mendengar teriakan kebakaran.

Lilin dengan cepat bereaksi. Dia segera pergi ke pintu tapi pintu tidak bisa dibuka, sepertinya kuncinya rusak. Pintu itu tidak bergerak sama sekali tidak peduli bagaimanapun dia menghantamnya dengan benda-benda atau menariknya. Demikian pula, jendela juga tidak bisa dibuka.

Perlahan-lahan, kedua wanita itu mulai mencium bau hangus dan lantai mulai terasa panas. Untungnya, lantainya dari  beton. Mereka tidak perlu cemas api itu akan membuat lubang.

Lilin mengertakkan gigi. Dia mengambil kursi kemudian menghancurkan jendela. Kaca akhirnya hancur setelah beberapa kali mencoba. Dia mengeluarkan kepalanya dan mulai menangis meminta bantuan.

Ada yang beberapa orang Amerika yang berbaik hati. Orang-orang di jalan berlari ke situ. Sekitar sepuluh orang berkumpul di bawah. Beberapa orang menyuruh mereka untuk melompat. Itu hanya lantai dua, mereka bisa menangkap kedua wanita itu.

Lilin membantu ZhuWen ke jendela dan berkata. “Jangan khawatir. Aku akan melompat setelah kamu. Ini tidak tinggi dan orang-orang di bawah bisa menangkapmu.”

ZhuWen menunjukkan ekspresi khawatir tapi dia mengangguk. Setelah Lilin melepaskan tangannya, ZhuWen mengatupkan giginya kemudian melompat dari jendela. Para pria berotot di bawah memang menangkapnya dengan mudah. Lilin menghela napas lega. Dia sangat khawatir tentang ZhuWen. Perasaan ini murni dan tulus seperti layaknya saudara.

Kemudian Lilin juga berdiri di jendela dan melihat ke bawah. Api di lantai pertama semakin kuat. Asap melambung ke atas. Dia hampir tidak bisa melihat orang-orang di bawah ini. Dia mengepalkan gigi dan akhirnya melompat.

Saat Lilin jatuh melewati lantai pertama dan hendak mencapai tanah, sebuah ledakan terjadi di sebuah ruangan lantai pertama. Sebuah tongkat kayu tajam meluncur keluar jendela. Kayu ini menusuk dia menembus jantungnya lalu menggantung dia di sana. Dia masih hidup saat itu tapi api membakar dirinya. Jeritan menyedihkan itu membuat wajah semua orang menjadi pucat. Mata mereka penuh dengan teror. ZhuWen hampir pingsan karena menangis.

Lilin berjuang, menangis, kemudian terbakar menjadi arang di depan mata semua orang.

Translator / Creator: isshh