April 15, 2017

Terror Infinity – Volume 8 / Chapter 2.2

 

Preman ini lumayan pintar, ia mendapatkan sebuah limosin. Empat orang lainnya duduk di belakang saat ia menyetir. Dia bahkan menutup jendela kecil yang memisahkan bagian depan dengan bagian penumpang agar ia tidak mendengar percakapan mereka.

Xue menyentuh kuris kulit itu dan tertawa. “Ketua, sepertinya anda memiliki potensi untuk menjadi preman. Jika anda tidak perlu kembali ke dimensi dewa, anda pasti akan mencapai puncak dalam waktu singkat di sini.”

Zheng tertawa. “Panggil saja saya dengan nama. Pemimpin apa yang diburu oleh anggota timnya? Kita berada di perahu yang sama sekarang. Kalian membutuhkan saya untuk melindungi kalian, dan saya membutuhkan tenaga tambahan dari kalian, atau sebagai pengalih perhatian mereka. Aku tidak bisa menangkap mereka semua sendiri.”

WangXia bertanya. “Tidak bisa membunuh mereka? Itu terlalu tidak adil bagi kami. Kami lebih lemah dari mereka sejak awal. Jika kami harus khawatir dan menahan diri selama pertarungan, itu saja aja dengan kami menyerahkan diri.”

Zheng tahu apa yang dia katakan itu benar dan mendesah. “Ok, bertarung dengan semua yang kalian miliki. Jangan tahan-tahan tapi jangan membunuh mereka jika memungkinkan. Permintaan saya hanyalah jangan menyerang mereka jika mereka sudah tidak bisa melawan lagi.”

WangXia mengangguk tanpa melanjutkan topik. Mereka beristirahat dengan tenang di dalam mobil. Beberapa menit kemudian, Zheng dan WangXia satu-satunya yang masih terjaga. Dua lainnya sudah tertidur. Mobil melaju mulus sampai menjumpai kemacetan lalu lintas. Preman itu mengetuk jendela kecil, lalu membukanya dan berkata. “Boss, ada penghalang di depan. Mereka merobohkan sebuah bangunan. Pembongkaran akan segera dimulai. Kita harus menunggu sampai mereka selesai.”

Zheng mengangguk tanpa mengatakan apa-apa. Saat preman itu hendak menutup jendela, Zheng tiba-tiba berkata. “Kalungmu terlihat sangat istimewa. Bolehkan saya melihatnya?”

Preman itu segera melepasnya. Kalung ini memiliki dua dekorasi. Sebuah sosok tengkorak di depan dan sebuah limosin di bagian belakang. Saat ia menggerakan kalung itu, tengkorak itu menabrak limosin. Zheng bisa merasakan tengkorak itu tertawa.

Zheng berdetak kencang. Dia segera berteriak. “Cepat! Mundur!”

Pikiran preman itu kosong sejenak. Dia menutup mulutnya dan menyalakan mobil ketika ia melihat mata tajam Zheng itu. Saat itu, sebuah mobil sport melaju ke arah mereka dengan kecepatan tinggi. Keringat mulai membasahi dahi preman ini. Dia juga merasakan bahaya dan segera memutar kemudi ke samping. Namun, mobil lain menutupi jalan di samping. Limosin ini tidak bisa pergi ke mana-mana!

“Turun! Cepat!”

Zheng berteriak, langsung membangunkan dua orang yang sedang tidur. Sesaat setelahnya, semua pintu terkunci secara otomatis. Meskipun begitu preman itu sempat melompat keluar sebelum itu terjadi. Hanya Zheng dan tiga pemain lain yang terkunci di dalam.

Zheng merasakan bahaya mendekat. Dia mendorong WangXia dan yang lainnya ke samping kemudian menendang pintu itu. Ini membuat penyok besar tapi pintu masih menyatu dengan mobil. Jendela juga tidak pecah. WangXia memiliki beberapa pengalaman. Dia segera berteriak. “Ini adalah limosin berarmor baja! Sial, pintunya memiliki lapisan baja, cukup untuk bertahan dari ledakan normal!”

Zheng merasa lebih dan lebih cemas tapi pikirannya masih jernih. Dia mengambil pisau progresif. Dia mendengar suara ledakan saat ia mengaktifkan pisaunya. Pembongkaran telah dimulai.

Pekerja meninggalkan sebuah bangunan yang ditinggalkan yang tidak jauh dari limosin. Bahan peledak sudah ditanam, menunggu penekanan tombol. Sebuah derek sedang membersihkan pilar dengan bola perusak. Sebuah baut penghubung bola dan derek terlepas saat bola berayun. Bola itu menghancurkan dua pilar berturut-turut kemudian saat ayunan mencapai titik tertinggi, peledakan dimulai. Pecahan tembok dan lantai terbang ke segala arah. Salah satu beton besar menghantam bola penghancur pada saat berada di titik tertinggi. Ditambah dengan gelombang kejut dari ledakan, bola perusak itu terlepas dan langsung jatuh ke limosin.

Zheng mengiris pintu dengan satu ayunan berkat ketajaman pisau progresif itu. Dia kemudian menendang pintu itu dan langsung melompat keluar.

Setelah mendengar sebuah suara peluit, ia secara otomatis memasuki mode berserk saat dia masih di udara. Dia entah bagaimana merasakan bahwa kematian itu begitu tiba-tiba saat ia meninggalkan mobil. Secara naluriah ia memasuki mode berserk. Melalui sudut matanya, ia melihat dua panah terbang ke arahnya dari belakang limosin. Hanya dalam beberapa saat, panah kedua menghantam ekor yang pertama, memberikan ledakan kecepatan. Panah kemudian menusuk bahu kanan Zheng dan menancapkannya ke bagian belakang bus di depannya!

Zheng segera terbatuk dan mulutnya memuntahkan banyak darah. Panah itu mengenai paru-parunya dan tulang-tulang di bahu kanannya. Dia tak bisa mengelak saat berada di tengah udara, ditambah bahwa kecepatan panah itu melampaui apa yang bisa dilihat oleh matanya.

WangXia adalah orang kedua yang melompat keluar dari mobil. Dia terkejut melihat Zheng terjepit bus tapi dia cepat bereaksi. Dia berguling ke mobil di samping. Xue juga keluar dari mobil sekarang, meskipun ia lambat untuk bereaksi. Langit menggelap saat dia berbicara. Dia mengangkat kepalanya dan melihat sebuah bola baja besar jatuh ke bawah kemudian menghancurkan limosin itu, dan juga Xue yang tepat berada di luar pintu. Dia tergencet menjadi serpihan tepat di depan mata Zheng dan WangXia.

Meskipun begitu, Zheng tidak punya waktu untuk merasa jijik karena limosin itu meledak. Daya kejut mendorong bola itu ke arah Zheng. Dia akan menjadi Xue berikutnya jika bola itu berhasil mengenainya.

Zheng langsung memasuki tahap kedua. Dia mengeluarkan panah dengan tangan kiri, lalu melompat dari belakang bus saat ia mengaktifkan teknik gerakannya. Bola hanya berjarak satu meter darinya sekarang. Dia melompat langsung ke bola itu dan menggunakan bola itu sebagai pijakan untuk melompat lagi. Dia akhirnya bisa mendarat di atas bus pada saat yang sama bola itu menghancurkan bagian belakang bus itu. Itu semua terjadi dalam waktu kurang dari satu detik dari saat dia melompat dari bus.

Pada saat ini, pikiran“Jika saya Yinkong” muncul dalam benak Zheng. Dia mengaktifkan pisau tanpa berpikir dan mengayunkannya ke punggungnya.

Yinkong berbaring di atas bus. Dia menusukkan pisaunya ke arah jantung Zheng saat ia melompat. Tetapi yang membuatnya terkejut, Zheng mengayunkan pisau ke arahnya tanpa menoleh. Clank! Ini adalah pertama kalinya pisau progresif itu menabrak sebuah objek yang tidak bisa dipotong. Gerakan mereka saling mengikuti sama persis. Mereka melompat pada satu sama lain, sedikit ke sisi kiri, dan mengarahkan masing-masing pisaunya ke jantung satu sama lain.

Yinkong terkejut. Kecepatannya sudah bertambah dua kali lipat setelah peningkatan kemampuan Shining itu, tetapi Zheng mampu menyamai kecepatannya dengan mode berserk tahap kedua dan Vampire Countnya. Pisau Zheng tak terduga mencapai dada kirinya sepersekian detik lebih cepat daripada pisaunya. Untungnya, dia mundur tepat pada waktunya. Tapi pisau itu masih tetap membuat goresan besar besar dari dada sampai ke lengan kirinya.

Yinkong menggertakan giginya dan melompat ke sisi bus sebelum Zheng mulai menyerang lagi. Zheng mengikutinya dengan ketat, tapi saat ia melompat, perasaan bahaya menghampirinya lagi.

 

Translator / Creator: isshh