March 30, 2017

Terror Infinity – Volume 7 / Chapter 7.2

 

Pemilik bar tidak terlalu banyak omong saat melihat Zheng datang kembali. Orang-orang dengan uang adalah bosmu. Orang dengan uang dan kekuatan adalah tuanmu. Pemilik bar itu menuangkan segelas brendi untuk Zheng. Dan Zheng meminumnya semua dalam satu kali teguk. Rasa terbakar bergegas ke perutnya dan membuatnya merasa segar.

Zheng berpikir saat dia duduk di sana. “Apakah kau memiliki ruangan karyawan? Uh. Lebih baik jika itu tenang dan ada tempat untuk mandi.”

Pemilik bar segera menjawab. “Di belakang bar ada kamar untuk pelanggan. Tentu saja, lebih tenang di sana. Beberapa kamar juga memiliki kamar mandi dalam.”

Zheng melemparkan dia beberapa bongkah emas. “Jika polisi datang, kirim mereka ke tempat lain. Ada insiden di luar. Jika ada para geng motor datang mencari saya, bawa mereka ke saya. Dan juga, siapkan beberapa makanan dan minuman.”

Meskipun belum lama tetapi Zheng telah menjadi pemimpin tim China. Berbeda dengan pemimpin di dunia normal, pemimpin di sini perlu determinasi saat membunuh. Dia masih belum mencapai tingkat berdarah dingin tapi dia telah memiliki beberapa kualitas seorang pemimpin. Dia memberi perasaan bahwa perintahnya harus ditaati ketika ia mengucapkan kata-kata itu.

Pemilik bar itu mengangguk tanpa sadar. Kemudian ia memanggil seorang wanita berambut pirang untuk membawa Zheng ke belakang saat ia berbicara di telepon.

Zheng mengikuti wanita itu dan melewati sebuah gang. Di belakang bar ada sebuah love hotel. Seorang Kaukasia sudah menunggu di sana dan berkata kepada wanita pirang itu. “Luxury suite. Di ujung lantai dua.”

Zheng hanya mengikuti si pirang itu ke lantai dua tanpa mengucapkan sepatah katapun. Suite tersebut tidak buruk pada pandangan pertamanya. Itu sebanding dengan suite di sebuah hotel bintang tiga. Setelah ia masuk ke dalam kamar, si pirang berkata. “Apakah anda ingin dipijat? Gratis, cukup berikan saya sepotong benda emas itu.”

Zheng melemparkannya satu kemudian berkata dengan nada acuh tak acuh. “Keluar. Pergi beritahu atasanmu untuk membawa makanan dan minuman secepatnya. Selain preman berotor, saya tidak ingin diganggu.”

Meskipun si pirang ini tidak bisa mendengar kata-katanya lagi. Perhatiannya terfokus pada bongkahan emas itu. Beberapa detik kemudian, ia tersenyum pada Zheng kemudian meninggalkan ruangan.

Zheng menghela napas lega. Dia tidak menyalakan lampu dan hanya melepas pakaiannya kemudian berbaring di tempat tidur. Suara dengkuran terdengar dalam waktu sepuluh detik. Dia kelelahan.

Terlalu banyak hal yang terjadi dalam satu hari. Masalah dengan Jie, kehilangan rekan-rekannya, dan harus menghadapi film sendirian menempatkan pikirannya dalam keadaan tegang. Saat kematian menyerangnya, jika bukan karena statistiknya meningkat dan tingkat pemulihan dari garis keturunan vampir yang lebih tinggi, ia pasti masih tak sadarkan diri sampai sekarang. Jadi setelah ia menemukan kesempatan untuk bersantai, ia dengan cepat tertidur.

Pada saat yang sama, di dua tempat lain di kota itu. Para pemula yang memisahkan diri dengan dia tidak memiliki keberuntungan dan kekuatan sepertinya. Bahkan dengan emas batang itu, mereka mengalami kesulitan melakukan apapun di kota ini tanpa green card atau sejenisnya. Jadi mereka berdelapan masih belum makan apa-apa. Mereka lagi mencari tempat untuk menukarkan emas dengan uang.

Gadis bermata panda berkata ke pria berambut pirang di jalan. “Yangle, menurutmu kita bisa menemukan sebuah toko antik yang mau mengambil emas ini?”

Dia menjawab tanpa menoleh. “Kau mungkin tidak tahu tentang hal ini. Aku mendengar dari adiknya teman bibi saya bahwa ada banyak toko pegadaian di berbagai Chinatown. Bahkan jika tidak ada pegadaian, ada toko-toko antik. Mereka harusnya bersedia untuk mendapatkan untung karena kita semua sama-sama orang China. Lu Chichuan, kau bilang kau masih perawan? Saya tidak percaya. Kau hanya bercanda dengan saya.”

Dia tersipu. “Saya benar-benar perawan. Aku punya beberapa pacar sebelumnya, tapi aku hanya mengijinkan mereka menyentuh tubuh saya. Keperawananku tentu saja untuk suami saya. Kau tidak keberatan tentang hal itu kan?”

Yangle tertawa. “Kenapa tidak? Ini hanya kita berdua yang tersisa. Dan kita tidak tahu kapan kita akan mati. Apakah kau tidak mendengar apa yang dikatakan idiot itu? Apakah kau ingin mati perawan?”

Chichuan tertawa bersama saat mereka berdua berjalan bergandengan tangan. Di depan mereka ada sebuah bank dan di belakangnya ada sebuah jembatan yang melintasi sungai. Sepertinya tidak ada Chinatown di tempat ini. Keduanya saling memandang dan menghela napas. Mereka memutuskan untuk menyeberangi jembatan untuk melanjutkan pencarian mereka.

Pada saat yang sama, beberapa remaja yang datang dari depan mereka sambil merokok. Para remaja itu tampak bersemangat dengan cerutu di tangan mereka dan membawa pak cerutu lainnya yang masi tersegel. Mungkin mencuri pak-pak itu di suatu tempat.

Asap melayang ke arah Yangle dan Chichuan dan mengikuti angin ke bank. Entah bagaimana, itu mengaktifkan alarm kebakaran di pintu masuk. Air menyembur di atas mereka. Para remaja itu segera menutupi kepala mereka dan berlari ke depan sambil mengumpat. Yangle dan Chichuan bingung dengan semprotan tiba-tiba itu. Mereka juga menutupi kepala mereka dan berlari ke depan, lalu mereka bertabrakan dengan para remaja itu.

Jalanan itu basah. Chichuan meluncur ke samping setelah dia bertabrakan. Untungnya, dia mempertahankan keseimbangan dan berhenti sendiri di jalan. Saat ia mengomel, ia melihat Yangle menatapnya dengan teror. Semua yang bisa dia lihat saat dia menoleh sekitar adalah cahaya terang.

Di sekitar sudut jalan, seorang sopir jelas sedang mabuk…

Zheng tiba-tiba membuka matanya. Dia merasa seolah-olah dia mendengar jeritan tapi kemudian dia menyadari bahwa dia sedang tidur di kamar. Bagaimana bisa ada teriakan di sini? Itu mungkin hanya mimpi.

Beberapa suara ketukan di pintu. Zheng bangun untuk membukanya dan melihat wanita berambut pirang itu. Dia mendorong gerobak penuh makanan, sup, makanan penutup dan anggur. Itu makanan yang cukup mewah dan tidak ada yang harus dikomplain.

Zheng membiarkan dia masuk dengan tersenyum. Dia menempatkan semua makanan di atas meja dengan sopan kemudian hanya berdiri di sana dengan senyuman melihat ke Zheng.

Zheng tidak pelit sedikitpun, karena nilai emas itu tidak lebih dari sebuah batu. Dia melemparkan sekeping emas dan mengatakan. “Saya juga perlu sebuah telepon, seribu dolar tunai, dan beberapa pakaian kasual. Selain itu jangan ganggu saya. Mengerti?”Dia kemudian meletakkan satu batang emas di atas meja.

Dia tidak memperhatian saat wanita itu pergi. Saat ia mulai makan, ia terus merasa ada sesuatu yang tidak benar tanpa alasan.

Setelah ia menyadari perasaan ini, ia segera menoleh ke sekeliling ruangan. Tidak seorangpun yang bisa mengabaikan setiap detail kecil dalam film ini karena kematian bisa datang dalam segala macam cara yang aneh. Dia tidak ingin mati dalam sebuah perangkap karena dia ceroboh. Itu akan sangat memalukan. Dia lebih suka mati dalam pertarungan melawan monster.

(Tapi apa yang benar-benar terasa salah ini? Dimana itu?)

Zheng berjalan bolak-balik di kamarnya, namun ia tidak bisa menemukan sesuatu yang aneh. Sampai dia melihat ke bawah pada karpet secara tidak sengaja dan melihat dua jalur yang dalam bekas gerobak. Bagaimanapun, makanan dan minuman harusnya tidak seberat ini. Dan mengapa si pirang itu meninggalkan gerobak di dalam ruangan?

Zheng berdiri di sampingnya. Lalu ia merasakan sensasi dingin datang pada jantungnya. Teknik bersembunyi dan serangan ini…

Sebuah pisau menyala mengarah ke jantungnya.

 

Translator / Creator: isshh