March 27, 2017

Terror Infinity – Volume 7 / Chapter 6.2

 

Wave Bar terdengar seperti nama yang genit. Tidak diragukan lagi itu adalah sebuah klub striptis. Lebih lanjut, puluhan sepeda motor dan preman berpakaian aneh ramai di luar bar. Jadi, ketika seorang Asia dengan pakaian kasual muncul di tempat ini, Zheng terlihat beda sendiri.

Namun, dia tidak terlalu peduli tentang hal-hal seperti itu. Hatinya sudah sekeras besi dari semua cobaan kematian, pertempuran dan film yang jauh lebih mengerikan. Itu seperti siang dan malam dibandingkan dengan dirinya yang sebelumnya. Dia yang sebelumnya tidak akan menodongkan pistol dan mengancam para pemula. Tapi setelah melihat begitu banyak nyawa meninggal sebelum dia, ia jadi lebih menghargai hidupnya, dan rekan-rekannya. Namun ia tidak yakin apakah ini merupakan sebuah perkembangan atau dia telah menjadi rusak.

Dia tidak peduli tentang preman tersebut. Jika mereka mengganggunya, maka ia hanya akan menyerang mereka. Jika mereka menyerang atau mencoba merampoknya, maka dia akan membunuh mereka. Batas moralnya adalah untuk menghindari membunuh orang yang tidak bersalah tetapi ketika orang-orang ini mengancam dia dan rekan-rekannya, maka mereka harus lenyap.

Zheng merasakan konflik tapi ini adalah apa yang harus dilakukan untuk tetap hidup. Jadi dia hanya bisa terus menyusuri jalan itu.

Sesuai dengan namanya, beberapa gadis telanjang menari di sekitar tiang di dinding dan sama halnya dengan panggung yang di tengah. Pria-pria yang duduk juga memiliki seorang gadis telanjang di samping mereka. Beberapa bahkan mulai bermain secara seksual. Namun, tak ada yang peduli tentang orang lain.

Zheng mengabaikan semua orang dan berjalan langsung ke bar. Ketika pemilik datang, ia melemparkan bongkahan emas.

Pemilik bar itu menangkapnya dengan ekspresi yang tak terduga kemudian melihat Zheng bingung. “Anda mau minum apa?”

Zheng menatapnya dengan dingin dan berkata. “Saya tidak tahu kode anda jadi jangan gunakan itu untuk menguji saya. Biarkan saya perjelas, buatkan saya ID sampai besok siang. Maka emas batang ini milikmu, tidak termasuk pembayaran untuk ID. Aku akan membayar dua batang untuk pembuatnya. Ok?”

Pemilik bar menatap batang emasnya lalu menggeleng. “Saya dapat mengerjakannya tapi ini terlalu mepet. Aku takut aku tidak akan bisa menyelesaikannya besok.”

Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Zheng bertindak seperti sedang mengambil sesuatu dari sakunya tapi sesungguhnya hanya mengambil emas batang lainnya dari cincin. Dia membanting emas ke atas meja dan berkata. “Saya tidak punya waktu untuk bermain game negosiasi. Saya akan menggandakan bayarannya. Dua untuk anda dan empat untuk pembuatnya. Beri aku sebuah kata. Tapi aku akan memberitahu tahumu jika kau menerima pekerjaan ini dan tidak bisa menyelesaikannya besok, maka kau akan mati. Saya tidak peduli siapa yang ada di belakangmu atau berapa banyak pengaruh yang mereka miliki di tempat ini. Kau akan mati.”

Ekspresi pemilik bar berubah, tapi dia tidak mengatakan apa-apa. Matanya tertuju pada dua batang emas di atas meja. Tidak hanya dia tapi juga preman di sampingnya. Dia kemudian dengan cepat menyambar emas itu dan menempatkan mereka di bawah meja. “Ok. Anda akan memilikinya besok siang. Aku butuh foto.”

Itu yang membuat Zheng terdiam. Meskipun ia membawa banyak benda tetapi mereka semua adalah senjata dan perlengkapan. Siapa yang akan membawa foto ke dalam film? Dia mengangkat bahu dan berkata. “Saya tidak memiliki foto. Apakah ada tempat untuk mengambil foto di sini?”

Pemilik mengambil kamera dari bawah meja. “Di sini kalau begitu. Meskipun tidak terlalu bagus tapi pembuatnya akan melakukan beberapa penyesuaian. “Sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, kamera memancarkan cahaya terang.

Zheng menutup matanya tanpa sadar tetapi pada saat yang sama, ia merasa jantungnya berdetak kencang. Dia segera mengayunkan tangannya ke belakang dan meraih sebuah benda dingin dan tajam. Lalu ia membalikan tubuhnya diikuti dengan sebuah tendangan.

Ketika flash kamera hidup, salah satu preman di belakangnya menusuk punggungnya dengan pisau. Beberapa orang datang dan mengelilinginya juga. Namun, tak ada yang menyangka Zheng bereaksi begitu cepat dan mampu meraih pisau dan menendang orang di belakangnya. Tendangannya juga luar biasa kuat. Ini mengirim preman itu terbang beberapa meter dan menjatuhkan empat pria lainnya. Musik masih bermain tetapi orang-orang di dekatnya terdiam.

“Fotonyanya sudah?” Zheng mengabaikan para preman itu kemudian berbalik kembali ke pemilik bar.

Pemilik itu masih shock. Tapi dia dengan cepat kembali sadar dan berkata. “Iya. foto sudah diambil. Kembalilah besok siang. Sesuai aturan, jika kami tidak bisa menyelesaikan pekerjaan ini, kami akan memberikan kompensasi kepada anda senilai dua kali bayaran. Jangan khawatir.”

Zheng menggeleng. “Bukan kompensasi. Saya tidak punya waktu untuk bermain game uang denganmu. Ingat, jika kau tidak dapat menyelesaikan pekerjaan ini, kau akan mati! Jadi berusahalah yang terbaik. “Dia meletakan pisau di atas meja lalu berjalan keluar.

Tangan pemilik bar itu berada di bawah meja sepanjang waktu. Dia memegang senapan tapi terlihat tangannya gemetar, dan gemetar itu lebih intens saat ia melihat pisau yang Zheng letakkan.

Para preman semua datang. Salah satu dari mereka mengambil pisau dan berteriak. “Kungfu China! Ini adalah kungfu China! ”

Ternyata Zheng meninggalkan beberapa bekas jari di pisau, cukup dalam bahkan sidik jarinya terukir di pisau. Semua orang melihat itu kaget. Wajah pemilik berubah ungu kemudian putih kemudian ungu. Dia dengan cepat mengambil telepon dan mulai berbicara.

Itu malam hari ketika Zheng keluar dari bar, sekitar pukul 9. Karena ia tidak bisa tinggal di hotel, ia memutuskan untuk menemukan sebuah taman besar dan tidur di bangku untuk semalam.

Jalanan masih basah. Hujan deras sebelum ia memasuki bar tapi hujan datang dan pergi dengan cepat. Ada genangan air di tanah tetapi para hipster yang mengendarai motor tidak memperhatikannya. Mereka berteriak saat mereka melewati jalan itu.

Tepat di luar bar berdiri gadis dengan pakaian seksi dan parfum menyengat. Sangat mudah mengetahui profesi mereka hanya dengan sekali lihat. Mereka bermain mata dengan Zheng ketika ia berjalan tapi berhenti ketika Zheng benar-benar mengabaikan mereka.

Salah satu gadis itu tampak kesal dan meludah ke tanah. Saat itu sebuah motor yang melaju melewati gadis-gadis itu menginjak ludah itu. Mungkin itu karena hujan atau mungkin karena ludah. Motor itu kehilangan keseimbangan dan meluncur lurus ke arah Zheng dengan kecepatan meningkat.

Preman itu menjerit kemudian terlempar dari motor. Ketika Zheng berbalik, motor itu sudah dua meter darinya. Tidak ada waktu untuk menghindar sehingga ia hanya bisa berlari mundur. Dalam beberapa langkah, ia menemukan kesempatan untuk menggunakan teknik gerakan melompat. Motor itu kemudian melaju lewat di bawahnya.

Zheng mengambil napas dalam-dalam saat ia mendarat. Ia mulai merenungkan apakah ini kebetulan atau tidak. Apakah dia target saat ini? Seharusnya belum dengan sedikitnya waktu yang telah berlalu. Ibu dan anak itu belum meninggal sekarang di plot aslinya.

Di saat ia sedang berpikir, motor itu menabrak tiang kabel kemudian meledak. Ledakan itu begitu kuat membuat batu-batu di tanah beterbangan. Salah satu batu memotong kawat listrik. Kebetulan, kawat itu jatuhkan tepat di genangan air tepat pada posisi Zheng berdiri. Sizzz. Zheng merasa sakit di sekujur tubuhnya.

Meskipun tubuhnya beberapa kali lebih kuat dari orang normal, itu tidak cukup untuk menahan sengatan listrik bertegangan tinggi tersebut. Tubuhnya menjadi mati rasa dan memberikan bau bakar. Saat ia hendak terpanggang, matanya fokus. Zheng berjuang untuk mengambil meriam udara keluar dari cincin. Dia hanya mampu menarik pelatuk sebelum ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Meriam mulai mengisi.

“Dua!”

“Satu!”

Kedua detik terasa begitu lambat, tampaknya hampir seperti sebuah keabadian. Dia berusaha keras untuk mengarahkan meriam ke bawah. Ledakan kuat membuat beton di jalan hancur menjadi pasir dan pada saat yang sama recoil meriam itu mendorongnya. Zheng tidak sadarkan diri saat ia meninggalkan genangan air. Kawat listrik itu masih berada di tanah tapi panjangnya terbatas. Zheng sudah beberapa meter jauhnya.

 

Translator / Creator: isshh