March 9, 2017

Terror Infinity – Volume 6 / Chapter 9.2

 

Sekarang Yinkong sudah memiliki pisau di tangannya. Dia langsung menusuk ke dahi Imhotep. Api menyembur dari kepala Imhotep saat ia berteriak kesakitan, tapi dia tidak mengendurkan cengkeramannya sedikitpun. Dia mengerahkan sebuah kekuatan yang bahkan lebih besar dari Zheng. Imhotep mendorong Zheng dan mundur bersama dengan mumi Anck-su-Namun. Yinkong tidak punya pilihan selain untuk menarik keluar pisaunya, meskipun kepala Imhotep sudah berubah menjadi tengkorak.

Imhotep berteriak dalam bahasa Mesir kuno kemudian daging baru tumbuh dari tengkoraknya. Para mumi dan sphinx itu segera berpaling ke kelompok Zheng dan melompat ke mereka.

Zheng berteriak. “Jonathan! Baca kata-kata dalam kitab itu! Kau dapat mengontrol mumi-mumi ini!”

Jonathan berlari ke tengah semua orang dan berkata. “Begitu banyak sphinx mengejar dari belakang. Bagaimana aku bisa punya waktu untuk membaca.”

“SIal!” Zheng mengutuk. “Yinkong, lindungi yang lain dari belakang, saya akan menahan dari depan! Evelyn! Cepat baca kata-kata di kitab itu!”

Zheng menghantam mumi terdekat. Mumi itu berubah menjadi abu saat bersentuhan dengan tinjunya. Pada saat yang sama, Zheng mengeluarkan pisau progresif meskipun serangan fisik tidak efektif dan menebas ke mumi-mumi itu.

Mereka bisa mendengar suara erangan sphinx datang dari terowongan di belakang. Jonathan dengan cepat menyerahkan kitab itu kepada Evelyn. “O’Connell, kami benar-benar akan mati jika kau tidak datang!”

“Diam, Jonathan!”

Dengan serangkaian tembakan, O’Connell, Ardeth dan penjaga museum memasuki ruangan dari sisi lain. Mereka membrondong para mumi itu dengan senapan mereka. Meskipun itu hanya serangan fisik saja, mereka masih mampu menghancurkan mumi dengan begitu banyak tembakan.

Mereka bertiga hanya mengenakan pakaian dalam. Ardeth tampak yang paling brutal di antara mereka. Tidak hanya itu, ia menggunakan senapan mesin berat yang diambil dari pesawat dan juga terus melemparkan granat. Seluruh ruangan dipenuhi dengan bau mesiu dan ledakan.

Imhotep berubah menjadi badai pasir dan menyapu mereka bertiga. Meskipun senjata mereka kuat tapi itu tidak berguna melawan Imhotep dalam bentuk ini. Saat Imhotep hendak menjangkau mereka, Evelyn meneriakkan. “Dalam nama Ra, aku perintahkan!”

Para mumi yang menyerang kelompok Zheng tiba-tiba berhenti bergerak, tapi tubuh Zheng sudah penuh dengan luka. Meskipun ia bisa membunuh mumi dengan satu pukulan, tapi senjata mereka memiliki jangkauan lebih panjang daripada kepalan tangan Zheng. Ditambah, sangat sulit untuk menghindari semua serangan ketika ia dikelilingi oleh begitu banyak mumi. Untungnya Evelyn fasih berbahasa Mesir kuno tidak seperti saudaranya dan dapat dengan cepat membaca kata-kata di kitab itu.

Evelyn berteriak. “Hancurkan Imhotep dan pengikutnya!”

Para mumi itu segera berbalik dan mengarahkan pedang mereka ke Imhotep dan para sphinx, lalu berlari ke mereka.

Imhotep memutar kepalanya melihat sekitar dan berteriak. “Berikan Kitab Amun-Ra padaku!” Dia meninggalkan ketiga pria itu dan menyapu ke arah Evelyn. O’Connell dan dua orang lainnya saling memandang kemudian mulai menghancurkan monster di bawahnya. Tembakan tanpa henti dan granat membuat mereka tampak lebih gila dari Zheng.

Zheng mengambil napas dalam-dalam. Dia tahu plot sudah kembali normal. Meskipun masih ada perbedaan tapi ini adegan dalam film. Dia mengambil dua kunci dari cincin dan menyerahkannya ke Evelyn. “Biarkan dia beristirahat dalam damai.” Kemudian berlari ke badai pasir.

Dampaknya mementalkan Zheng dan Imhotep ke pinggir. Imhotep berbalik kembali ke bentuk manusia setelah tertabrak cincin Na. Api menyala di dadanya. Setelah api padam, ia melompat ke Zheng lagi.

Zheng menyeka darah di mulutnya. Dia keluar dari modus berserk. Dia merasakan perasaan campur aduk saat ia menghadapi Imhotep. Imhotep bukan orang baik di film tapi cintanya kepada Anck-su-Namun adalah murni dan nyata. Dia tidak pernah meninggalkan Anck-su-Namun sekalipun. Pada akhir film kedua, dia masih mencintai Anck-su-Namun sampai kematiannya setelah wanita itu mengkhianatinya. Imhotep hanya orang normal yang tragis. Buruk, tapi tidak ekstrim.

Zheng memukul Imhotep dan mementalkannya jauh. Pada saat yang sama Imhotep memukul wajahnya. Setelah ia mendarat, suara Evelyn akhirnya terdengar. “Kadeesh mal! Kadeesh mal! Pared oos! PARED OOS !!”

Imhotep menatapnya terhuyung-huyung. Sebuah kereta kuda turun dari altar dan ketika berlari melewati Imhotep, itu menarik jiwa Imhotep keluar dari tubuhnya.

Zheng mendesah. Dia mengaktifkan pisau progresif dan berjalan ke Imhotep kemudian bergumam. “Ada beberapa hal yang harus dilupakan. Meskipun aku tidak tahu apakah perpindahan jiwa benar-benar ada di Mesir. Jangan mencintai seseorang yang tidak seharusnya kau cintai dalam kehidupanmu yang selanjutnya.”

Pisau menebas Imhotep dan kepalanya jatuh.

Para sphinx dan mumi berbalik kembali ke pasir dan menghilang. Seluruh makam mulai bergetar keras layaknya gempa bumi sedang terjadi. Pada saat yang sama, para pemain menerima pemberitahuan dari dewa.

“Perubahan misi. Meloloskan diri dari runtuhan Hamunaptra. O’Connell, Evelyn, dan Jonathan tidak boleh mati. Setiap kematian akan mengurangi 5.000 poin.”

“Sial!”

Semua orang mengutuk ketika mereka mendengar hal itu. Zheng berteriak. “O’Connell! Lari kembali ke arah dari mana kamu datang . Kita akan bertemu di luar makam! Yinkong, apakah kau masih ingat jalan? Pimpin jalan. Lan, berikan buff kecepatan. Cepat!” Dia pergi ke altar dan meraih Kitab Orang Mati. Kemudian mengikuti dari belakang Evelyn ke dalam terowongan.

Tidak butuh waktu lama sebelum mereka mencapai tebing di mana mereka memperoleh Kitab Amun-Ra. Jonathan berkata, “Kami diserang oleh beberapa sphinx. Untungnya penjaga museum menemukan jalan untuk kabur dari sini. Ha ha. Sayang kami tidak bisa mendapatkan emas itu.”

Evelyn memandang patung Ra tapi sebelum dia bisa mengatakan apa-apa, tanah tempat ia berdiri runtuh dan dia meluncur dari tebing. Zheng berlari di belakangnya, ia langsung melompat dan menggenggamnya. Kakinya menahan pada sebuah batu di dinding tebing. Dengan satu tangan menyambar ke Evelyn, tangan kirinya meraih Kitab Amun-Ra yang jatuh.

“Meraih item quest. Bisa mempelajari mantra kebangkitan. Pengguna perlu memiliki Qi, kekuatan jiwa, mana, Nen, atau energi Xian. Dapat belajar melalui pengertian kata-kata atau melalui dewa. Biaya belajar 1000 poin. Memiliki buku saat berada dalam film memungkinkan untuk membangkitan anggota tim yang pernah dilihat oleh pengguna. Setiap anggota dapat dihidupkan kembali sekali dalam keadaan yang sama sebelum kematian. Pembangkitan membutuhkan poin dan rank reward dua kali lipat dari yang dimiliki anggota tersebut”

Zheng terkejut. Kemudian sebuah batu yang jatuh mengenai tangannya dan sebelum ia bisa pulih dari syok, kitab itu telah jatuh ke dasar tebing.

“Ah!”

Zheng berteriak sambil melemparkan Evelyn ke atas. Jonathan dan Lan menangkap Evelyn. Dia juga membalik dirinya dan berteriak dengan wajah pucat. “Lari! Tempat ini akan runtuh!”

Terowongan itu runtuh di belakang mereka saat mereka berlari tapi karena Yinkong tahu jalan, mereka akhirnya bisa meninggalkan makam sebelum terlambat. Kemudian mereka berlari ke arah luar kota.

Setelah semuanya berada di luar kota, mereka melihat debu memenuhi reruntuhan dan melihat tiga sosok berlari ke arah mereka. O’Connell, Ardeth dan penjaga museum juga berhasil keluar dengan selamat.

“Selamat tinggal semuanya. Kami sangat berterima kasih atas bantuan kalian dalam petualangan ini. Saya berterima kasih atas nama tim saya. Jonathan, inilah emas saya janjikan. Kita akan minum-minum jika kita bertemu lagi.”

Melihat mereka bertiga keluar dari kota, Zheng mengambil kunci dari Evelyn dan bergumam. Dia mengambil emas batangan yang tersisa dari cincin dan memejamkan matanya.

“Tunggu. Tunggu. Hanya ada lima batang emas di sini.”

Zheng sudah memasuki keadaan setengah sadar saat ia mendengar suara Jonathan.

Translator / Creator: isshh