March 6, 2017

Terror Infinity – Volume 6 / Chapter 9.1

 

Zheng berjalan keluar dari terowongan bermandikan darah, tidak hanya darah tetapi juga potongan daging dan organ. Dia lebih terlihat seperti iblis daripada hantu pada saat ini, terutama potongan-potongan kecil daging di sudut mulutnya.

Kedua wanita yang diikat tidak bisa melihat dia karena sudut pandang mereka tertutup. Dua lainnya adalah seorang pembunuh dan raksasa, sehingga mereka tetap tenang setelah melihat dia. Meskipun wajah Imhotep sedikit berkedut.

Zheng memandang Imhotep. Imhotep berubah menjadi badai pasir dan menyapu tiga wanita itu. Zheng sekitar seratus meter dari mereka sehingga dia tidak bisa berbuat apa-apa. Badai pasir melilit leher ketiga wanita itu dan Imhotep berteriak. “Jangan memaksa saya! Saya hanya ingin menghidupkan kembali Anck-su-Namun! Beri aku Kitab Orang Mati dan saya akan membiarkan mereka pergi. Saya akan pergi mencari korban persembahan lainnya! Bagaimana kalau kita akhiri ini dengan damai?”

Namun para pemain tahu tidak ada cara untuk membuat perdamaian. Misi mereka adalah untuk melenyapkan Imhotep, belum lagi Zheng tidak bisa menyerahkan kitab itu begitu saja.

Zheng mengambil napas dalam-dalam dan menekan niat membunuhnya. Dia mengambil kitab itu dan berkata. “Imhotep, saya akan meletakan kitab di sini. Bebaskan mereka dan biarkan mereka berjalan ke arahku. Kau bisa datang mengambil kitab ini. Bebaskan mereka dari rantai jika kau setuju dengan saya. ”

Imhotep senang melihat kitab itu. Dia cepat-cepat menarik rantai sampai putus kemudian berbalik kembali ke bentuk manusia.

Evelyn dan Lan segera memijat tangan dan kaki yang mati rasa dari ikatan itu. Mereka hampir jatuh ke tanah setelah mereka meninggalkan altar. Untungnya Yinkong ada di sana untuk membantu mereka. Kemudian mereka berjalan menuju Zheng.

Zheng menatap Imhotep dingin. Imhotep juga menatap wanita itu dengan hati-hati. Dia meletakan pisau itu di atas altar, di samping mumi Anck-su-Namun itu. Setelah para wanita itu berjalan sepuluh meter dari dia, dia memanggil badai pasir yang menyapu kitab itu dan meraihnya. Kitab itu sudah ada di tangannya sebelum Zheng bisa bereaksi.

Ketiga wanita itu juga sudah sampai di tempat Zheng. Yinkong berkata kepadanya dengan suara rendah. “Saya tidak bisa melukainya tanpa pisau itu. Kau penya rencana?”

Zheng tersenyum pahit dan menjawab dengan suara rendah. “Tidak ada yang bagus. Aku telah kehabisan energi darah saya dari pertarungan sebelumnya. Adapun cincin Na, saya tidak berpikir itu cukup bisa diandalkan. Kita perlu mendapatkan Kitab Amun-Ra. Para Sphinx itu telah pergi ke sana, saya khawatir dengan O’Connell dan yang lainnya.”

Evelyn terkejut dan berteriak. “Bagaimana dengan O’Connell? Apa yang terjadi pada mereka? Apakah anda tidak melindungi mereka?”

Imhotep memandang mereka dengan dingin dari jauh dan mencibir. “Tidak hanya mereka, kalian juga akan mati! Keluar, penjaga makam. Hancurkan mereka yang tidak menghormati orang mati!”

Suara kaki tentara terdengar dari sebuah terowongan. Sekelompok mumi berjalan keluar. Mereka semua membawa perisai logam dan senjata. Kualitas senjata-senjata ini lebih tinggi daripada yang mereka lihat dari mumi di Kairo.

Zheng berlari ke Imhotep tanpa berpikir tapi sebuah kekuatan menyapu dari atas. Sebuah Sphinx jatuh dari langit-langit, tepat di antara dia dan Imhotep.

Imhotep mencibir sambil menyentuh kitab itu. “Ini sangat menyusahkan untuk menemukan korban persembahan. Bukankah sudah ada tiga di sini? Tiga perawan. Darah perawan adalah persembahan terbaik untuk dewa kematian. Kalian semua mati di sini! Bangkitlah, pelayanku!”

Pasir berkumpul dalam tumpukan sekitar sudut ruangan selagi Imhotep melafalkan mantra. Tumpukan pasir itu tumbuh lebih besar dan lebih besar kemudian berubah menjadi beberapa Sphinx setinggi beberapa meter di depan mata mereka. Sphinx ini berteriak pada Zheng segera setelah mereka berbentuk utuh.

Evelyn berkata dengan suara rendah. “Pikirkan sesuatu, Zheng! Segera!”

Zheng juga cemas. Dia adalah satu-satunya yang bisa menghadapinya. Meskipun Yinkong bisa melawan tapi tanpa senjata, itu sangat tidak menguntungkan baginya. Bagian terburuk adalah dua perempuan lainnya yang tidak bisa apa-apa.

“Tiarap!”

Zheng tiba-tiba mengambil beberapa granat. Dia menarik cincin tanpa ragu-ragu dan melemparkan mereka ke para Sphinx itu. Lalu ia berlari ke Sphinx yang berdiri di antara dia dan Imhotep.

Seolah-olah seluruh makam bergetar di bawah ledakan. Butiran pasir jatuh dari celah-celah, tapi para Sphinx itu juga berubah menjadi pasir dan tidak bisa pulih untuk sementara waktu.

Getaran itu juga berdampak pada Imhotep. Dia kehilangan Zheng ketika ia pulih. Sphinx di depannya itu masih utuh. Saat ia sedang mencari di sekitar, sebuah angin menyapu dari atas. Imhotep langsung berubah menjadi badai pasir dan mengelak ke samping.

Zheng menggunakan cakar Sphinx sebagai pendukung dan melompat selama ledakan. Dia meloncati Imhotep dan pergi langsung ke altar di belakangnya. Naluri Imhotep membuatnya menghindar ke samping, sehingga Zheng bisa mencapai altar, tempat mumi Anck-su-Namun itu berada!

Zheng mengambil pisau itu dengan tangan kanannya segera setelah ia mendarat. Lalu ia mengarahkan tinju tangan kirinya ke Anck-su-Namun dan berteriak. “Buat mereka berhenti! Atau aku akan menghancurkan dia! Saya menggunakan serangan spiritual!”

Para mumi itu hanya beberapa meter dari Yinkong dan para Sphinx baru saja pulih, lagipula granat hanyalah serangan normal. Kematian tiga perempuan itu sangat dekat jika Zheng tidak bertindak.

Imhotep segera berteriak ke para mumi dan sphinx untuk berhenti. Para monster ini mengelilingi ketiga wanita itu.

Zheng mengambil napas dalam-dalam dan berkata dingin. “Biarkan mereka meninggalkan makam. Kita berdua yang akan menyelesaikan pertarungan ini. Jangan libatkan wanita ke dalam ini. Meskipun saya tidak jauh lebih baik tapi setidaknya lebih baik daripada kau yang mengepung tiga wanita.”

Imhotep menjawab. “Baik, aku akan membiarkan mereka pergi. Lepaskan Anck-su-Namun sekarang! Aku berjanji akan membiarkan mereka meninggalkan makam.”

Zheng mencibir. “Mempercayaimu? Apa yang barusan kau katakan bahwa korban persembahan sudah ada di sini? Aku akan mengurusnya sehingga kau tidak perlu persembahan apapun! Dengarkan perintah saya! Yinkong, kalian bertiga kemari!”

Wajah Imhotep berkedut. Para mumi itu tampak siap untuk menyerang tapi Imhotep menatap dingin saat ketiga wanita itu berjalan melewati para monster itu. Dia menghela napas ketika Yinkong mengambil pisau dari Zheng. “Apa itu cukup? Bisakah kau melepaskan Anck-su-Namun sekarang?”

Kata Zheng. “Aku tidak akan mempercayaimu. Biarkan kami meninggalkan makam seperti ini. Aku berjanji akan melepaskan mumi ini setelah kami meninggalkan makam. Aku tidak akan berbohong seperti yang kau lakukan!”

Imhotep diam. Dia menatap saat Zheng mengangkat mumi itu dan berjalan ke terowongan sambil melihat ke arahnya.

Mereka berempat membelakangi terowongan. Tapi karena tinju Zheng mengarah pada mumi itu, mereka tidak khawatir kalau Imhotep akan melakukan sesuatu. Saat mereka hendak kembali ke dalam terowongan, sebuah sosok berlari ke mereka. Mereka tersandung dan mumi itu menjauh dari tinju Zheng.

Itu adalah O’Connell yang memegang sebuah buku bersinar dalam cahaya keemasan. “Ah, semuanya, ini adalah Kitab Amun-Ra!”

Imhotep sudah ada di depan Zheng. Tangannya menggenggam tangan kiri Zheng dengan erat. Kedua tangan itu mengeluarkan asap tapi juga tetap mempertahankan Anck-su-Namun.

 

Translator / Creator: isshh