March 4, 2017

Terror Infinity – Volume 6 / Chapter 8.3

 

Kecepatan kedua Sphinx ini tidak secepat yang mereka bayangkan. Meskipun tubuh besar mereka tampak luar biasa untuk orang normal dan kecepatan maupun kekuatan mereka tidak bisa dihadapi manusia normal, tapi hanya itu. Baik statistik Zheng maupun Yinkong ini tiga kali lipat dari manusia normal, dengan Zheng sedikit lebih tinggi dari Yinkong sementara Yinkong membuat perbedaan dengan tekniknya. Keduanya memukul Sphinx pada waktu bersamaan.

Cincin Na dan Hellfire Fang itu sangat efektif terhadap makhluk spiritual yang bahkan Imhotep bisa terluka olehnya. Kedua senjata itu menembus Sphinx lalu tubuh mereka perlahan-lahan hancur menjadi debu. Debu ini bergerak perlahan-lahan mencoba untuk menyatu kembali bersama-sama tapi kecepatannya seratus kali lebih lambat dari sebelumnya. Zheng dan Yinkong kemudian beralih ke Imhotep dan Shiva.

Imhotep memberi sebuah raungan. Dua Sphinx lainnya yang hendak menyerang Zheng berhenti di tempat. “Saya tidak ingin menjadi musuh kalian. Berikan Kitab Orang Mati itu dan saya akan membiarkan kalian mengambil wanita Asia ini pergi. Saya hanya ingin Kitab Orang Mati dan wanita ini.” Imhotep menunjuk Evelyn.

Evelyn diikat dengan rantai dan menjerit saat dia melihat mumi itu. “Zheng! Jangan turuti kemauannya. Dia takut dengan senjatamu. Jangan tinggalkan aku di sini!”

Zheng tersenyum pahit. Kesepakatan ini sangat mustahil karena misi mereka adalah untuk melenyapkan Imhotep. Selain itu, jika ia sendiri tidak mati, tidak ada orang lain yang dapat menggunakan Kitab Orang Mati.

Imhotep memanggil badai pasir dengan ketidaksabaran kemudian dua mumi muncul di sebelah Evelyn dan Lan. Mereka mengarahkan pedang mereka kepada dua perempuan itu. Imhotep berkata dengan bijak. “Pilihlah. Mereka berdua akan mati lalu saya akan mengambil Kitab Orang Mati itu atau kau menyerahkannya sekarang dan saya hanya akan menggunakan salah satu dari mereka sebagai korban persembahan.”

Zheng mengambil napas dalam-dalam. Dia mengambil Kitab Orang Mati dari cincinnya lalu menggenggamnya di atas rawa-rawa di sampingnya. “Jika kau berani menyentuh mereka sedikitpun, saya akan menjatuhkan kitab ini dan tidak satupun dari kita bisa mendapatkannya. Kamu ingin mencobanya?”

Imhotep menatapnya galak. “Baik! Aku akan membiarkan mereka hidup! Bunuh mereka yang berusaha mengambil Kitab Amun-Ra!” Dia berteriak lalu Sphinx itu pergi ke terowongan dari arah Zheng datang.

Zheng merasa khawatir. Ia berlari ke Imhotep dan Shiva tapi sesaat setelah dia bergerak, kedua mumi itu juga menggerakan pedang mereka ke kedua perempuan itu. Saat Zheng berhenti, mereka mengangkat pedang mereka lagi.

Imhotep berkata. “Saya akan memberimu waktu untuk berpikir. Dalam beberapa menit lagi, mereka akan sampai ke ruangan ini. Kau tidak memiliki banyak waktu. Lebih baik memberi saya jawaban sebelum mereka mati.”

Shiva mengamati situasi itu sepanjang waktu. Dia tiba-tiba tertawa terbahak-bahak, mengambil tas dan berjalan ke Zheng. Zheng segera meletakkan kitab kembali ke dalam cincin untuk mencegah kemungkinan serangan tiba-tiba dari Shiva.

Shiva membuka tas itu, memperlihatkan Zhuiyu yang berlumuran darah. Dia perlahan membawanya keluar dan membuat Zheng marah pada saat penampakannya terlihat. Zheng hampir melompat ke arahnya pada saat itu.

Anggota badan Zhuiyu itu terpotong-potong. Itu bukan sebuah akhir, semua kulitnya dari bawah lehernya hilang, memperlihatkan otot-otot, pembuluh darah dan tendon. Pemandangan itu sangat menyedihkan sekalipun bagi ahli bedah yang berpengalaman. Kekejaman yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata.

Tindakan Siwa menyebabkan dia terbangun. Dia melihat Zheng dan berusaha. Dia ingin berteriak namun semua yang keluar adalah suara mendengkur. Air mata mengalir di pipinya dan dicampur dengan darah di wajahnya, membuatnya tampak seperti air mata darah.

Zheng menatap bibirnya pelan, seolah-olah dia bisa membaca kata-kata bunuh saya. Dia juga terus membenturkan kepalanya ke tanah seperti itu akan menghentikan rasa sakitnya.

“Saya akan membunuhmu! Aku tidak pernah begitu membenci orang dalam hidup saya. Aku tidak akan pernah memaafkanmu, tidak pernah!” Zheng mengertakkan gigi, hampir menghancurkan mereka. Darah menetes dari sisi bibirnya.

Shiva tertawa menyeramkan. “Aku tidak membutuhkan pengampunamu! Setelah aku membunuhmu aku akan memiliki banyak poin! Saya bisa membangun tim yang lebih kuat. Ha ha. Kalian semua pergi ke neraka! Kalian semua akan mati!” Dia melemparkan Zhuiyu ke udara. Ular mengoyaknya terpisah di depan mata Zheng.

Begitu ular itu memakannya, Zheng merasa sebuah pukulan di dadanya yang melemparkannya ke udara. Dua kepala ular sedang menuju ke dirinya.

“Zheng!”

Yinkong tiba-tiba menangis. Ketika perhatian semua orang terfokus pada Zheng, dia menyelinapkan dua pisau lempar dan menembakan pada dua mumi itu, melemparkan pedang yang mereka pegang. Kemudian pisau apinya terbang ke Imhotep, membuatnya terkejut dan menancapkannya di pilar. Api mulai membakar dadanya.

Zheng berteriak saat api melalap tubuhnya. Dia langsung menuju ke dalam mulut ular itu dan dengan mudah menguapkan kedua kepala ular itu kemudian dia melompat ke Shiva.

Shiva ketakutan. Dia ingin mundur tetapi Zheng telah menggapai dirinya. Tiba-tiba cahaya emas dan api itu berbenturan. Api itu padam, cahaya emas juga redup dan menghilang.

“Ah!”

Zheng berteriak sambil mengangkat kepalan dan memukul perut Shiva. Tanah di bawah Shiva retak dalam beberapa serangan, darah juga mengalir keluar dari mulutnya. Shiva memasuki tahap kedua dari modus berserk. Lengannya membesar tiga kali ukuran normal, memblokir serangan Zheng selanjutnya kemudian mendorongnya. Dia bangkit dan berlari ke arah terowongan.

Mata Zheng berdarah merah. Dia sangat membenci Shiva seolah-olah dia ingin memakannya hidup-hidup saat ini. Begitu Shiva membebaskan dirinya, Zheng melompat ke arahnya dan menggigit punggungnya. Ia merobek sejumlah besar otot, hampir seluruh sisi kiri punggung Shiva.

Namun Shiva tidak punya energi untuk khawatir tentang hal itu, atau sakit atau tubuhnya. Kegilaan dan aura membunuh Zheng membuatnya takut. Semua yang pikirkan hanya untuk tetap hidup. Dia berlari lebih keras ke arah terowongan.

Zheng menggigit otot menjadi dua bagian kemudian mengejar Shiva tanpa jedah sedikitpun. Dia memangkas jarak di antara mereka dan meraih Shiva dengan kedua lengannya. Tangan kanannya mencakar wajahnya. Shiva berteriak selagi Zheng hampir merobek wajahnya terpisah dan juga membutakan mata kanannya. Dia berjuang untuk membebaskan diri lagi dan terus berlari.

Tapi Zheng melompat ke arahnya dan mereka berdua meluncur ke terowongan. Dengan serangkaian suara tulang dan daging yang hancur, jeritan Shiva menjadi lemah dan lemah. Sepuluh detik kemudian, ia merangkak keluar dari terowongan dengan wajah penuh dengan darah, matanya hilang dan bekas gigitan yang lebar di wajahnya. Saat dia berteriak minta tolong, sepasang tangan berdarah menariknya kembali ke dalam terowongan. Lalu segalanya menjadi hening.

Semua orang yang berada di altar, termasuk Imhotep yang sedang mengeluarkan pisau keluar dari dadanya tampak syok.

 

Translator / Creator: isshh