March 3, 2017

Terror Infinity – Volume 6 / Chapter 8.2

 

Jonathan pasti orang yang pintar. Dia menempel ke dinding dengan merangkak seperti kadal dan berkata. “Haha, Zheng! Aku tahu kau akan dating menyelamatkan saya. Kau orang baik. Aku akan mengurangi tujuh batang emas menjadi enam saja.”

Zheng pikir itu lucu. “Itu memang enam dari awal, kapan menjadi tujuh? Berhenti bergerak. O’Connell, cari sebuah tali.”

Suara O’Connell datang dari atas tebing. “Bagaimana saya dapat menemukan tali di sini. Perlukah saya kembali dan meminta kepada para kavaleri itu?”

Zheng berteriak merespon. “Buat saja dengan pakaianmu. Pastikan itu kuat. Aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi.”

Dia mendengar suara rebekan pakaian dari atas beberapa saat kemudian. Setelah itu, sebuah sambungan pakaian turun dari atas. Zheng menariknya dan berkata. “Ikat pada sesuatu. Kami akan memanjat sendiri. Kau tidak perlu menarik.”

O’Connell berteriak lagi setelah beberapa saat untuk memberitahukan padanya. Zheng menarik sambungan pakaian itu lagi untuk mengujinya dan itu memang terikat dengan sesuatu yang kuat.

Zheng mengangkat Jonathan dengan satu tangan dan membiarkannya memanjat duluan. Kemudian ia mengikuti sesudahnya. Setelah ia sampai di tebing, ia tertawa saat melihat penampakan tiga pria telanjang. Untungnya mereka masih memiliki pakaian dalam mereka.

O’Connell melihat tali baju itu tapi sudah ada beberapa air mata di atasnya. “Sial, aku hanya akan bertarung melawan mumi dengan telanjang. Meskipun setidaknya dia terbungkus oleh kain. Kami benar-benar tampak lebih buruk dari padanya.”

Zheng tertawa. “Kalian masih memiliki pakaian dalam. Bagaimana dengan Kitab Amun-Ra?”

Jonathan segera berkata. “Itu sudah pasti di bawah patung ini. Lihatlah, dasarnya terbuat dari emas. Bagaimana mungkin kitab itu tidak ada di sini. Saya tidak akan percaya apapun.”

“Apakah hanya ada emas di matamu?” Zheng menggeleng. Kemudian ia keluar dari modus berserk. Efek dari modus terkunci jauh kurang intens daripada ketika ia pertama kali memasukinya. Dia bisa menahan rasa sakit ini lebih lama sekarang. Setelah sakitnya mereda, ia terendam dalam keringat tapi yang lain tidak menyadari kelainan ini.

Penjaga museum itu berkata. “Kitab Amun-Ra memang di bawah patung itu tapi ada sedikit masalah. Tampaknya membutuhkan kata sandi untuk mengambilnya. Kau harus menariknya keluar dengan posisi yang benar. Kau mungkin akan menghancurkannya jika menggunakan kekuatan. Aku sudah mendapat dua pertiga darinya jadi berikan saya tiga menit.”

Zheng berpikir sejenak dan berkata kepada mereka. “Kalian teruskan ambil kitab itu. Aku akan pergi mengejar biarawan itu. Hati-hatilah. Saya pikir Imhotep tidak akan membiarkan kalian mendapatkan Kitab Amun-Ra begitu saja. Saya khawatir karena kita belum mendengar suara darinya begitu lama.”

Jonathan menjawab santai sambil menatap dasar emas. “Suara apa?”

Tiba-tiba mereka mendengar suara gemuruh datang dari dalam makam. Kedengarannya seperti suara singa atau harimau, bukan suara Imhotep. Zheng melihat kepada para karakter kemudian mengambil tali dan melompat ke sisi lain dari tebing.

Shiva tertawa keras saat ia masuk lebih dalam ke makam. Lalu matanya bertambah terang karena ia telah mencapai altar. Imhotep meletakan mayat mumi di antara Lan dan Evelyn dengan hati-hati, seperti layaknya ia menggendong kekasihnya.

Shiva menghela napas lega tapi sebelum ia bisa berbicara, hembusan angin menyapu melewatinya diikuti oleh kekuatan mengerikan menjatuhkannya ke tanah. Satu set gigi besar muncul di depan matanya.

Sphinx! Itu kepala manusia yang memiliki satu set gigi tajam dan tubuh singa sepanjang lebih dari lima meter. Air liur menetes dari mulutnya ke wajah Shiva.

Shiva bukan seseorang yang tidak memeiliki kekuatan. Dia menggerakan tangannya dan dua ular segera menggigit Sphinx itu, dengan mudah menghancurkannya. Kekuatan besar ular itu juga memercikan bagian tubuh Sphinx ke seluruh altar.

Shiva melompat dari tanah dan meludahkan beberapa pasir dengan nada dingin. “Imhotep! Kau berencana untuk menyerang sekutumu? Kekasihmu masih belum dihidupkan kembali.”

Imhotep melihat ular dengan penasaran dan menjawab dengan sinis. “Kau tidak terlihat baik-baik saja, sekutuku. Jangan khawatir, saya masih memerlukan kekuatanmu untuk menangani tim China. Apa pendapatmu tentang pengawalku?”

Shiva mendengar suara pasir bergerak dari belakangnya. Dia berbalik dan melihat bahwa Sphinx itu telah pulih seutuhnya. Lagipula itu terbuat dari pasir.

Lalu ia melihat ke sekeliling altar dengan terkejut. Ada tujuh atau delapan Sphinx itu, semuanya dengan tubuh sepanjang lima meter. Monster ini tidak muncul dalam film. Kekuatan mereka dan terutama kemampuan mereka untuk pulih secara otomatis membuatnya terkejut. Dia segera berkata. “Mereka sedang mengambil Kitab Amun-Ra. Kau harus pergi menghentikan mereka, jika tidak kitab itu akan mengambil kekuatanmu jika mereka mendapatkannya.”

Imhotep tertawa. “Jangan khawatir. Aku sudah mengirim pengawal memburu mereka. Saya hanya menunggu orang itu, Zheng Zha, datang kemari sehingga aku bisa mendapatkan Kitab Orang Mati untuk menghidupkan kembali kekasihku.” Dia menatap mayat mumi itu dengan lembut saat ia mengatakan hal ini.

Shiva berpikir untuk membujuk Imhotep untuk mengirim Sphinx ini ke sana. Tiba-tiba, seorang pria bermandikan darah memasuki ruangan. Itu adalah Lamu. “Selamatkan aku, ketua. Selamatkan saya, aku tidak bisa menahan lebih lama lagi. Ketua, kumohon gunakan Dharmacakra anda untuk menyelamatkan saya.”

Dharmacakra Shiva dapat digunakan baik sebagai pertahanan atau untuk menyembuhkan luka. Berbiaya rank B reward dan sejumlah poin tapi ada batas penggunaannya, jumlah energi yang terkandung terbatas. Meskipun energi ini akan terisi dengan sendirinya tetapi sekali benar-benar habis, itu tidak akan lagi memiliki kemampuan pertahanan.

Shiva hanya memiliki satu lengan kiri. Dia memegang Lamu dan berkata. “Kau tertembak? Apakah itu tim China? Sepertinya itu mengenai paru-parumu.”

Kata Lamu. “Ya, ketua. Saya tidak memiliki energy lagi. Saya mengandalkan stimulan untuk sampai ke sini. Tolong selamatkan saya.”

Namun ekspresi Shiva berubah mengerikan. “Dharmacakra saya tidak memiliki banyak energi yang tersisa! Saya masih harus melawan mereka lagi. Aku tidak bisa pergi tanpa perlindungannya. Kita tidak bisa membiarkan tim Cina mendapatkan poin lebih. Beristirahat dalam damai!” Dia meraih Lamu dan melemparkannya ke atas. Ular menangkap dan menghancurkan tubuhnya. Bahkan Imhotep mengerutkan kening saat melihat ini.

Shiva tertawa dalam kegilaan. “Tidak masalah. Itu hanya satu poin. Sekali aku membunuh pemimpin mereka dan mereka semua, saya akan mendapatkan banyak poin! Haha!” Lalu dia melihat kantong darah di tanah dan Lan yang sedang berbaring di altar dengan keserakahan dan niat membunuh.

“Bagaimana jika kau mati?”

Sebuah suara dingin datang dari arah Lamu datang. Yinkong berdiri di sana dengan pisau menyala dan wajah tanpa emosi, dengan tatapan mata tepat pada jantung Siwa.

Imhotep tampak waspada pada pisau itu. Dia berencana untuk memerintahkan Sphinx untuk menyerang Yinkong ketika suara lainnya terdengar. “Iya. Bagaimana jika orang yang mati itu kau? Pemimpin tim India.”

Zheng berkata dengan nada dingin saat memasuki ruangan. Dia lega melihat Yinkong tapi ia memberikan aura membunuh yang kuat ketika ia berpaling ke Shiva. Emosi itu membuat Shiva menggigil meskipun jarak Zheng dengannya lumayan jauh. Ketakutan muncul dari dalam dirinya saat ia ingat bagaimana Zheng mengejarnya.

Zheng dan Yinkong memasuki modus berserk kemudian melompat ke Sphinx terdekat dari mereka masing-masing. Tinju Zheng dan pisau Yinkong ini menembus Sphinx itu.

 

Translator / Creator: isshh