March 2, 2017

Terror Infinity – Volume 6 / Chapter 8.1

 

Lamu terkejut. Dia hanya memiliki satu lengan. Tidak hanya itu, ia memegang obor tapi dia juga memiliki tas besar di bawah lengannya. Dia telah kehilangan semua keberanian saat Manavia terbunuh. Dia berteriak sambil lari ke dalam terowongan. Tapi tembakan datang dari belakangnya pada waktu yang sama. Beberapa peluru mengenai punggungnya dan hampir membuatnya terjatuh. Karena ia pasti melakukan beberapa peningkatan kemampuan tubuh dan terus berjalan meskipun tertembak. Dia menghilang dari pandangan mereka dalam beberapa detik.

Honglu mendesah sambil meletakkan pistol. “Senjata dari era ini terlalu lemah, dengan akurasi di bawah standar dan recoil yang terlalu kuat. Seluruh tangan saya terasa mati rasa. Suara tembakan yang masih terngiang di telinga saya. Heng, katakan sesuatu!”

Heng muntah di tanah. Dia berdiri dengan lemah setelah beberapa saat. “Tunggu. Tunggu aku. Saya akan pergi mencari obor.”

Honglu mendesah lagi dan berteriak. “Orang itu pasti mati jika kau menembakan panah lagi. Apa yang kau takutkan? Saya tidak benar-benar memahami masalah-masalah psikologis. Jika psikiatermu cukup cerdas, ia seharusnya membantu meng-hipnoterapmu. Maka kau tidak akan membiarkan orang itu lolos.”

Heng pergi untuk mengambil obor tanpa membalas. Dia menghidupkan kembali obor di tanah. Saat itulah Honglu melihat tubuhnya gemetar dan wajahnya pucat putih, seolah-olah ia barusan melihat sesuatu yang menakutkan.

“Apa yang benar-benar kau takuti?” Tanya Honglu dengan rasa ingin tahu.

Heng menempatkan Jie di punggungnya dan tertawa getir. “Aku bahkan tidak tahu apa yang saya takuti, tapi setiap kali saya masuk ke konflik dengan orang lain atau memulai perkelahian, aku akan merasa takut. Saya takut dipukul. Jika saya tidak memiliki panah saat aku melihatnya, aku mungkin akan lari.”

Honglu tersenyum dingin. “Sama seperti ketika kau lari meninggalkan pacarmu?”

Wajah Heng berubah merah, tapi dia tidak mengatakan apa-apa untuk beberapa waktu. “Jika ada kesempatan, saya ingin mati di depannya. Sekarang setelah saya membalaskan dendamku, saya bisa mati di depannya untuk menebus dosa saya. Aku tahu aku tidak pernah bisa menebus penderitaan yang terjadi padanya. Meskipun faktanya mungkin saya tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk melakukannya. Tapi aku masih ingin melihatnya sekali lagi, bahkan jika itu untuk terakhir kalinya.”

Honglu mengambil sebuah apel dari sakunya dan menggigitnya. “Jika dugaan saya benar maka ada benda dalam makam ini yang seberharga hidup kita. Meskipun saya tidak yakin tapi melihat dari semua informasi yang ada, analisis saya ada kemungkinan. Jadi kau masih memiliki kesempatan.”

Heng bertanya dalam kebingungan. “Kesempatan apa?”

Suara seorang gadis juga bertanya. “Kesempatan apa?”

Heng dan Honglu terkejut mendengar suara itu. Heng menarik busurnya segera dan Honglu bersembunyi di belakangnya. Dia akhirnya memperlihatkan sisi anak-anaknya dari dirinya. Gadis itu perlahan-lahan berjalan keluar dari kegelapan dan dia adalah Yinkong.

Honglu keluar dari belakang Heng dan berjalan di sekelilingnya. “Apakah kau mengalahkan dia dengan mudah? Saya tidak mencium bau darah darimu. Apakah kau benar-benar? Atau apakah kau hanya melarikan diri kembali?”

Yinkong tersenyum. Dia mengulurkan tangan dan menepuk kepala Honglu, yang mengejutkan anak itu. “Saya tidak punya kebiasaan meninggalkan rekan saya. Jika aku kembali, itu berarti saya telah menyelesaikan misi saya. Jika saya tidak kembali, maka itu berarti saya telah tewas.” Dia berbalik dan berjalan lebih jauh ke dalam makam.

Honglu menyentuh rambutnya kemudian bergumam. “Saya mendengar bahwa kau tidak akan tumbuh lebih tinggi ketika seseorang menyentuh kepalamu. Jika aku bisa pergi ke dimensi dewa hidup-hidup, maka saya akan membuat rambut saya berubah keras.”

Heng menertawakannya kemudian melihat kembali ke Yinkong dengan iri. Dia mempererat cengkeraman pada busurnya.

Pada saat yang sama, di sisi lain makam. Zheng mengejar Shiva dengan pisaunya. Wajahnya tampak seperti orang gila penuh nafsu dan rakus darah, dengan darah di sekitar mulutnya. Itu tampak seperti dia akan mencabik Shiva secepatnya setelah dia bisa menangkapnya. Meskipun adegan kejar mengejar mereka tampak begitu mirip dengan gangster biasa. Kecuali satu ditutupi api sedangkan yang lain dalam cahaya keemasan.

“Sial. Berhenti lari! Apakah kau tidak ingin melawan saya? Saya di sini! Bukankah kalian sangat kuat sehingga kalian terus memburu kami? Bukankah kalian mampu membunuh Zero dan Tengyi? Apa yang terjadi pada pemula itu? Jangan lari!”

Meskipun keduanya berada di tahap kedua modus berserk, Zheng telah mencapai tingkat yang lebih dalam dari Shiva. Peningkatan otot pada kakinya lebih kuat daripada Shiva. Dia menghancurkan semua batu ia injak dan terbang layaknya angin. Dia akhirnya berhasil mendekat dan menebas punggung Shiva. Clank! Shiva jatuh dan nyaris meraih tangan kiri Zheng. Itu membuatnya takut tapi dia mampu menjauh sedikit.

“Sial! Keluar!”

Shiva baru ingat bahwa ia masih bisa memanggil ular. Ketakutan membuatnya lupa segala sesuatu selain lari. Ini adalah pertama kalinya ia tertekan pada situasi yang mengerikan dan juga pengalaman yang paling memalukan. Dia tidak pernah berpikir ia akan pernah mengalami ini, melarikan diri dari kejaran orang lain. Rasa malu menyalakan kemarahan di hatinya, namun begitu ia berpikir tentang pembunuh itu ada di belakangnya, ia tidak bisa memunculkan keberanian untuk melawan. Jadi dia tidak punya pilihan selain untuk tetap berlari.

Ular muncul di sampingnya saat ia berteriak. Shiva menginjak salah satu kepala ular itu dan membiarkannya membawanya sedangkan kepala lainnya menggigit Zheng. Kepala ular itu mendorongnya ke dinding tapi api itu dengan mudah menguapkan kepala. Dia meningkatkan kecepatan larinya lagi menuju Shiva.

Pengejaran terus berlangsung sampai mereka mencapai tebing. Di atas tebing berdiri O’Connell dan karakter lainnya. Mereka mengelilingi patung dan tampaknya membahas sesuatu. Mereka terkejut dengan penampilan Zheng dan Shiva.

Shiva memerintahkan ularnya untuk menaiki tebing. Zheng cemas dan ingin berteriak untuk memperingati mereka tetapi ular itu menembakan petir ke lokasi  karakter-karakter itu berdiri. Jonathan hendak melambai ke Zheng ketika batu itu runtuh dan ia jatuh dari tebing. Untungnya dia berhasil meraih sebuah  batu tapi dia terlalu jauh terjatuh sehingga ketiga orang lainnya yang masih di atas tidak bisa menggapainya.

Itu membuat Zheng sangat membenci Shiva seakan dia bisa memakannya hidup-hidup namun Zheng tidak punya pilihan selain untuk berhenti mengejarnya. Shiva berteriak sambil berlari menjauh. “Sialan kalian tim China! Saya tantang kau datang padaku! Aku aka bergabung dengan Imhotep! Kau akan menyesal jika kau tidak membunuhku sekarang! Haha, bodoh munafik! Aku akan menguliti kalian satu per satu!” Suaranya terdengar semakin menjauh.

Zheng mengambil napas dalam-dalam sambil menatap kembali Shiva. Dia tiba-tiba mengambil batu dan melemparkan padanya. Dia bisa mendengar teriakan samar datang dari jauh.

Jonathan masih tergantung di tebing dengan wajah putih pucat. Dia bahkan tidak bisa berteriak minta tolong lagi. Jari-jarinya mencengkeram erat ke batu yang menonjol itu tapi ia meluncur sedikit demi sedikit. Akhirnya dia tidak bisa tahan lagi dan berteriak. “Tidak! Alas patung itu terbuat dari emas!” Lalu jatuh.

Zheng berada sekitar beberapa meter dari posisi Jonathan jatuh. Dia hanya membutuhkan sedikit akselerasi untuk melompat ke tebing tetapi ia harus tepat waktu sehingga ia dapat menangkap Jonathan saat melompat.

Zheng mengambil napas dalam-dalam. Ketika Jonathan hanya tiga meter di atasnya, ia melompat dan menangkap Jonathan di detik-detik terakhir. Mereka berdua berhasil mencapai dinding tebing. Kemudian Zheng menyangkutkan lengan kirinya ke dinding bebatuan itu. Tangan kirinya mulai berdarah sekaligus juga menahan mereka di dinding tebing itu.

 

Translator / Creator: isshh