March 1, 2017

Terror Infinity – Volume 6 / Chapter 7.3

 

“Jika kau harus bertarung, maka kau harus berjanji untuk tidak menyerang biarawan dan werewolf itu, kau tidak boleh mencari tim India dengan senagaja dan kau hanya bisa menyerang mereka dengan cara menyelinap.”

“Ketiga kondisi itu tidak sulit untuk dipahami. Berdasarkan informasi saya, kedua orang itu tidak takut senjata api. Mungkin panahmu bisa sekuat senjata api dalam jarak dekat tetapi mereka tidak akan peduli dengan hanya sebuah panah normal. Satu-satunya kondisi kau boleh menyerang mereka adalah ketika situasi mendesak.”

“Pada kondisi kedua. Misi kita adalah untuk tidak membunuh mereka melainkan untuk tetap hidup. Meskipun tim kita tidak dapat menang tetapi jika kita berdua meninggal sebelum akhir, maka kemenangan akan menjadi tidak berarti.”

“Kondisi ketiga bukanlah benar-benar sebuah kondisi. Tapi jika kau bertemu dengan dua anggota lainnya dari tim India maka lebih baik kau bersembunyi dalam bayang-bayang dan menyelinap menyerang mereka. Menunggu mangsamu seperti seorang pemburu dan tidak terseret ke dalam pertarungan yang sulit. Ini adalah saran saya. Teknikmu menakjubkan. Mampu mengubah arah panah dapat membuah musuhmu lengah. Hal ini lebih baik daripada senjata api.”

“Biar kubantu menganalisis musuhmu juga. Selain biarawan dan werewolf itu, ada pria kurus yang menggunakan dua pedang melengkung. Dia tidak lemah dalam pertempuran jarak dekat tetapi kau seharusnya bisa membunuhnya dengan satu tembakan. Dia tidak terlalu kuat. Orang yang menyerang dengan jarum tampaknya mampu mengendalikan jarum dengan pikirannya dan bahkan ketika ia tidak bisa melihat dengan matanya. Tapi dari analisis sederhana bisa memberitahumu bahwa dia tidak sekuat seperti yang terlihat. Bahkan, kekuatannya bergantung pada wanita India yang dapat mengunci target dengan pikirannya. Serangannya hanya terbatas pada kemampuan melihatnya tanpa pengunci target bantuan. Yang sebenarnya lebih lemah dari pistol karena dia tidak bisa menembakan jarum dalam kegelapan.”

“Wanita terakhir itu dapat menggunakan skill defensif atau medan magnet, atau sesuatu yang lain. Skill ini dapat menahan tembakan dan dalam hal ini, ia bisa menangkal seranganmu.”

Heng bertanya dengan rasa ingin tahu. “Kamu lupa sisa satunya. Bagaimana dengan wanita pengendalian pikiran? Dia seharusnya dapat menemukan lokasiku ketika bersembunyi di kegelapan. ”

Honglu tertawa. “Bukankah Zero berhasil menembak sebelum ia meninggal? Mungkin tembakan itu tidak membunuh siapapun, karena kita tidak menerima poin. Tapi pasti mengenai seseorang. Mungkin mengenai wanita itu. Dan itu adalah cedera yang tidak bisa disembuhkan. Jadi dia dibunuh oleh timnya sendiri agar tidak memberikan poin! Kalau tidak, kita seharusnya berada di bawah kendalinya atau dia telah menemukan lokasi kita sekarang. Kita tidak bisa lepas dari takdir kematian jika dia masih ada di sana. Namun kita masih hidup dan ini cukup jelas.”

Mereka berdua melangkah kembali ke pintu masuk. Heng berjalan di depan sambil memapah Jie. Makam ini sangat kompleks dan gelap. Mereka pasti akan tersesat kalau bukan karena obor di dinding. Honglu juga sangat penting karena ia hafal jalan yang telah mereka lalui.

Heng berkata. “Apakah ini berarti bahwa siapapun yang memasuki dunia ini membenci dunia nyata, atau putus asa? Apakah kalian juga seperti itu?”

Honglu tertawa. “Itulah yang Lan katakan tapi saya memang telah kehilangan semua harapan di dunia nyata atau mungkin aku bosan tinggal di kandang itu. Daripada tinggal di kandang itu, saya mungkin juga akan melarikan diri tidak peduli sekecil apapun peluang itu. Dunia ini tidak mengecewakan saya setidaknya untuk saat ini, hanya sedikit menyebalkan.”

Heng tertawa bersamanya. “Ini mengejutkan, kadang-kadang saya lupa tentang usiamu saat kita berbincang. Sepertinya kau berada pada usia yang sama seperti saya dan telah kehilangan harapan dengan dunia nyata. Waktu itu, aku lari karena orang di depanku menganggapku sebagai seorang penjahat yang sedang dicari. Ketika dia melihat saya, saya tidak bisa berbuat apa-apa selain berlari dan meninggalkannya di belakang sendirian.”

“Hoho, tahu mengapa aku harus berjuang? Karena saya ingin membuktikan bahwa saya tidak takut mati. Saya selalu takut darah sejak aku masih kecil. Tidak, bukan hanya darah melainkan takut pada perkelahian dan apapun yang dapat menyebabkan cedera atau perdarahan. Saya gemetaran dan lari setiap kali saya memikirkan situasi seperti itu. Bahkan ketika hati saya tidak mau tapi tubuh saya masih akan lari.”

Tubuh Heng mulai bergetar tapi dia melanjutkanya. “Aku pernah ke psikiater. Dan penyebabnya setelah diagnosis adalah karena kekerasan fisik oleh ayah tiri saya saat masih anak-anak. Dia akan memukul saya untuk setiap masalah kecil. Sejak aku berumur enam tahun, itu sudah menjadi naluri bagi saya untuk menghindari segala kemungkinan bahaya. Tapi! Aku melarikan diri saat itu! Meskipun saya memaksakan diri untuk kembali setelah satu menit tetapi para gangster dan kriminal itu membawa Ming Yanwei ke dalam mobil dan pergi! Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri karena telah meninggalkan dia!”

“Lalu ia menghilang. Dia mungkin telah menyerah untuk hidup dengan kepribadiannya itu. Saya tidak bisa menemui dia lagi. Aku takut melihat mata apatisnya. Takut dia tidak akan berkata apapun bahkan sekedar menyalahkannya. Saya adalah seorang pengecut! Saya benar-benar takut!”

“Jadi saya membunuh mereka, menggunakan busur komposit yang saya gunakan untuk latihan. Aku membunuh gangster itu satu per satu. Aku harus menutup mata saya setengah setiap kali aku menembak. Lalu aku akan muntah dan merasakan nyeri sesudahnya. Ketika aku akhirnya membunuh para kriminal itu, saya juga tertembak di perut. Saya pikir saya seharus mati seperti ini juga. Jadi aku kembali ke rumah, menyalakan komputer dan melihat fotonya untuk terakhir kalinya. Kemudian…”

Lalu ia memasuki dunia ini. Honglu paham kalimat yang belum selesai itu. Meskipun ia baru berusia sekitar sepuluh tahun, tetapi ia tahu emosi orang-orang dewasa ini. Jadi dia tidak mengatakan apa-apa dan hanya berjalan di belakang Heng diam-diam.

“Tunggu! Dengarkan baik-baik.” Honglu tiba-tiba berhenti dan berkata dengan suara rendah.

Heng berhenti sejenak kemudian mendengarkan dengan seksama. Ada suara langkah kaki yang sangat samar ke arah mereka. Heng dan Honglu saling memandang kemudian mematikan obor ke tanah di sisi dinding. Heng menyerahkan Jie ke Honglu dan berkata. “Pergilah berdiri di sudut itu. Jangan bergerak. Bahkan gerakan sekecil apapun. Jadi jika saya gagal, mereka tidak akan dapat menemukan kalian. Jangan khawatir.”

Honglu tiba-tiba berkata. “Berdiri di sisi berlawanan dari saya! Dengarkan perintah saya. Saat cahaya muncul, jika saya berteriak ‘Go’ maka bertindak seolah-olah kau akan menembak wanita itu tapi tembaklah pria itu sebagai gantinya. Jika saya berteriak ‘Come’ maka sebaliknya. Jika saya tidak mengatakan apa-apa maka tembak salah satu dari mereka dan melarikan diri lebih dalam ke makam untuk menarik perhatian mereka serta lindungi Jie dan saya. Bisakah kamu melakukannya?”

Heng mengangguk lalu berdiri di sudut di sisi berlawanan. Api di obor telah padam. Kemudian mereka bersembunyi di kegelapan.

Itu tidak lama sebelum dua langkah kaki dan suara seorang pria dan wanita terdengar dari kegelapan. Pria itu mengatakan. “Dia hampir mati. Meskipun kita memiliki semprotan hemostasis tetapi kita terus menyeretnya di tanah ketika kita bergerak. Darahnya hampir kering.”

Wanita itu mengatakan. “Kalau begitu biarkan aku membunuhnya. Saya tidak tahu berapa banyak poin kita yang akan berkurang dalam film ini. Kau tidak bisa membiarkan saya tewas begitu saja.”

Pria itu berkata dengan ketidakpuasan. “Siapa yang tahu berapa banyak poin yang kau sembunyikan dari kami. Dia akan…Tunggu, ada sesuatu yang tidak benar di depan kita.”

Wanita itu membuka lengannya segera dan sebuah medan pertahanan transparan muncul di sekelilingnya. Pria itu segera berkata. “Perintah ketua kepadamu adalah untuk melindungi saya! Bukan hanya diri sendiri!”

Wanita itu mengatakan. “Aku akan melindungi saat kita harus bertarung. Aku hanya bisa membuat medan pertahanan yang cukup untuk menutupi satu orang sekarang. Ini sangat gelap di depan. Mengapa kita tidak kembali dan mencaari jalan lain?”

Pria itu memandang dengan hati-hati. “Aku tidak akan kembali. Pertarungan antara ketua dan tim China mungkin telah berakhir. Saya hanya berharap kita dapat menemukan Imhotep sesegera mungkin. Mungkinkah scarab-scarab itu yang menjatuhkan obor itu?”

Wanita itu mengambil obor dari dinding dan menyerahkannya kepada pria itu. “Pergi periksa dan teriak jika ada bahaya. Jangan khawatir, saya akan menempatkan sedikit medan pertahanan padamu. Ok?”

Dia menggertakkan giginya kemudian melihat tas di tangannya. Dia berpikir untuk menyerahkan tas kepada wanita itu tapi ia khawatir. Jadi satu-satunya cara adalah membawa tas di bawah lengannya dan memegang obor dengan tangannya. Keserakahan tidak akan membiarkan dia menyerah pada poin itu.

Pria itu berkata sambil berjalan hati-hati. “Tidak ada. Bagaimana bisa ada musuh di sini. Ini…”

Ia melihat seorang pemuda yang membidikan panah padanya sebelum ia menyelesaikan kalimat itu.

“Come!”

Honglu berteriak. Dua anak panah meluncur dan menembak pria itu. Wanita itu langsung menciptakan medan pertahanan pada pria itu. Kemudian mereka menatap saat panah mendekat pada dirinya. Sebelum panah mengenai medan pertahanan, salah satu panah mengenai ekor panah satunya dan berubah arah. Panah terbang melewati pria itu. Ketika ia menoleh ke belakang, panah itu telah mengenai wanita itu di dahinya, dengan kepala panah yang menembus jauh ke dalam otaknya!

 

Translator / Creator: isshh