February 25, 2017

Terror Infinity – Volume 6 / Chapter 7.1

 

Pada saat Shiva terlempar ke dinding, tubuh Arot telah membesar dan mulai berubah. Dia tiba-tiba menoleh ke sekitar. Seorang gadis memegang pisau api berdiri di terowongan gelap secara diam-diam. Kedipan api membuatnya tampak seperti ilusi.

Arot menatapnya dengan mata sedingin es, kemudian ia mulai tertawa menyeramkan. “Apakah kau tidak belajar dari sebelumnya? Kau tidak cukup kuat untuk menjadi lawan saya. Hanya satu tebasan dan kau akan menjadi potongan daging. Lalu aku akan minum darahmu dan bermain dengan tulang-tulangmu. Ha ha.”

Yinkong menjawab dengan tenang. “Kalau begitu kemarilah.” Dia mundur ke dalam bayangan.

Beberapa detik kemudian, Arot berubah menjadi manusia serigala dan mengikuti Yinkong ke dalam terowongan.

Dua anggota sisanya dari tim India terkejut pada kejadian mendadak itu. Mereka melihat ke dua arah, satunya ke pemimpin mereka dan yang satunya ke seorang pejuang yang kuat. Sebagai perbandingan, mereka adalah seorang petarung jarak jauh dan seorang support. Tak satupun dari mereka yang bisa bertarung, bahkan senjata api biasa bisa melukai mereka. Jadi mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan sekarang.

“Lamu, bisakah kau membidik dalam kegelapan ini?” Tanya Manavia.

Lamu menggelengkan kepalanya dan berkata. “Saya tidak bisa mengenai target di mana saya tidak bisa melihat dengan jelas, tidak peduli seberapa dekat itu, tapi jika saya bisa mengunci target, saya akan dapat mengenai mereka tidak peduli seberapa jauhnya itu. Ruangan itu terlalu gelap. Aku takut aku tidak akan bisa melihat.”

Manavia melihat ruang di balik dinding kemudian menggertakan giginya. “Kita akan pergi mencari Imhotep terlebih dahulu. Kita tidak akan mati selama kita bisa menemukan Imhotep. Kita sudah di skor negatif. Jika kita berdua mati, semua orang akan kehilangan terlalu banyak poin. Ayo kita pergi, cari Imhotep!”

Lamu melihat ruangan itu dengan khawatir. Teriakan dan suara benturan logam membuat dia menggigil. Kegelapan itu mengambil keberaniannya untuk masuk. Dia ragu-ragu untuk beberapa saat sebelum ia membuat keputusan yang sulit. “Ketua sangat kuat. Dia harusnya bisa menang. Ha ha. Ya, ia pasti menang. Kita akan pergi mencari Imhotep dulu.”

Setelah diskusi singkat ini, mereka memutuskan untuk mencari Imhotep. Mereka berjalan ke arah karung yang berlumuran darah dan memandang dengan keserakahan. Lamu melambaikan jarum dan berkata. “Apa yang harus kita lakukan? Bunuh dia? Ini menyedihkan baginya untuk hidup seperti ini. Lagipula dia tidak akan bisa kembali hidup. Kematian adalah yang terbaik untuknya.”

Manavia mengeluarkan pistol dari lengan bajunya dan tertawa. “Biarkan aku yang melakukannya. Saya ingat bahwa kau masih memiliki simpanan 3000 poin. Saya tidak punya begitu banyak. Biarkan aku yang membunuhnya.”

Lamu mengerutkan kening lalu mengangkat karung itu. “Ini masih terlalu dini untuk debat ini. Cari Imhotep terlebih dahulu. Jika kita dapat membunuh seluruh tim China, kami dapat membunuh anggota mereka yang dalam modus berserk.”

Manavia mendesah. Dia tidak punya pilihan selain mengikuti Lamu ke salah satu terowongan yang lebih luas.

Lagipula Zheng bukan seorang pembunuh. Dia memancarkan niat membunuh ketika ia diserang meskipun pukulannya mengenai Shiva tapi Shiva mampu menghindarkan bagian vitalnya. Pukulan itu hanya mementalkan Shiva, itu adalah saerangan Zheng yang mendorongnya ke ruang belakang dinding, sebuah ruangan yang penuh dengan emas.

Shiva juga telah mencapai tahap kedua modus berserk. Matanya terfokus saat ia memasuki ruangan. Dia melangkahi tinju Zheng dan berbalik mundur. Selain itu, ia memanggil ular di belakangnya dan mendarat di atas tubuh ular untuk mencegahnya mendarat di tempat yang tajam.

Tapi bagaimana mungkin Zheng membiarkan Shiva mengambil jarak darinya? Ular itu adalah senjata jarak menengah sedangkan ia adalah seorang petarung jarak dekat. Jika ia tidak bisa membunuh Shiva dan membiarkan jarak melebar, ia akan ditakdirkan untuk gagal. Jadi dia berlari ke Shiva tanpa berpikir. Dia mengaktifkan pisau progresif dengan tangan kanannya dan cincin Na di tangan kirinya. Dia melompat ke dalam kegelapan mengikuti instingnya.

Shiva juga cepat dalam merespon. Dia mengetahui lokasi masing-masing kemudian melambaikan tangannya. Kepala kedua ular itu muncul di atasnya lalu membuka mulutnya dan memuntahkan bola api. Api menerangi ruangan, memperlihatkan bahwa Zheng hanya satu meter darinya, tetapi ini juga memaksa Zheng untuk mundur.

Shiva dengan cepat memerintahkan kepala ular lainnya dengan menunjuk ke Zheng. Sebuah sambaran petir menembak dia tapi itu terlalu lambat. Petir hanya mengenai patung emas, membelahnya menjadi dua. Zheng sudah menghilang ke dalam bayangan.

“Ha ha. Skill saya memanggil Orochi sang legendaris itu. Itu dapat berevolusi berdasarkan orang yang dimakannya, sebuah skill rank A. Ha ha. Kau telah mencapai tahap kedua dan saya dapat melihat bahwa kau meningkatkan sesuatu yang lain. Setelah memakanmu, ini akan mengevolusikan kepala lainnya dan saya akan menjadi lebih kuat!”

Shiva berteriak. Ia memerintahkan ular itu untuk bergerak di sekitar dia dalam lingkaran. Tidak mungkin bagi siapapun untuk bisa mendekatinya. Setiap tiga puluh detik ia akan memerintahkan ular itu untuk memuntahkan api. Api akan menerangi ruangan dan jika Zheng tidak bisa sembunyi tepat waktu, kepala lainnya akan menembakan petir padanya. Untungnya ada jedah antara kedua serangan itu. Sehingga ia mampu menyembunyikan diri setiap saat.

Zheng mulai gugup seiring berjalannya waktu. Meskipun seluruh tim India tidak datang untuk membantu seperti yang ia duga tapi Yinkong dalam bahaya. Dia tidak yakin Yinkong bisa menandingi manusia serigala itu saat dia terluka. Jujur, ia sendiri tidak percaya diri jika berhadapan dengan serigala itu satu lawan satu. Jadi dia harus mengalahkan biarawan itu sesegera mungkin atau dia berisiko kehilangan anggota lainnya.

Begitu Zheng mengambil keputusan. Dia mengambil hiasan emas dari samping dan melemparkannya ke Shiva, kemudian berlari ke dinding.

Shiva merasakan tekanan udara yang datang padanya dan memerintahkan ular untuk menangkisnya kemudian memuntahkan api ke arah itu dengan kepala lainnya mempersiapkan serangan kilat. Namun yang mengejutkan, Zheng tidak terlihat di manapun.

“Ha ha. Apakah kau berniat untuk melarikan diri? Mengapa kau tidak keluar dan hadapi saya? Oh ya, kau ingin tahu apa yang terjadi pada dua pemula yang jatuh ke tangan kami? Satunya tertembak tepat di jantung oleh sniper anda. Haha, kalian saling membunuh. Bagaimana rasanya kehilangan poin? Apakah itu sungguh memuaskan? Ah. Saya minta maaf, saya lupa sniper anda telah tewas. Itu sangat disayangkan. Kami mungkin telah mati jika dia tidak mati duluan. Lalu kau ingin tahu apa yang terjadi dengan pemula satunya? Wanita asia yang cantik itu. Tim saya bermain dengan tubuhnya lalu saya memerintahkan dokter lami untuk memotong anggota badan dan lidahnya, mengukir matanya, dan aku bahkan menyuruh Arot mengulitinya inci demi inci kemudian menghentikan pendarahannya dengan hemostasis. Dia tampak seperti manusia yang terbuat dari darah. Ha ha.”

Shiva tertawa liar tetapi matanya tetap tenang. Kata-kata ini bertujuan untuk membuat Zheng marah tapi dia tidak merasakan niat membunuh, seolah-olah Zheng telah meninggalkan ruangan ini.

(Menjadi satu dengan kegelapan. Jangan berpikir tentang apapun. Singkirkan identitas sebagai manusia. Itu hanya kegelapan. Hanya kegelapan.)

Zheng merangkak di atas langit-langit perlahan, sekitar delapan meter dari tanah. Untuk menghindari membuat suara apapun, ia memfokuskan Qinya pada ujung jari dan bergerak dengan menggenggam bebatuan. Maju ke arah suara itu, dalam rangka membalas dendam!

Tiba-tiba, Zheng melepaskan jari-jarinya dan turun ke lokasi Shiva. Niat membunuh langsung memenuhi pikirannya. Shiva juga merasakan emosi yang kuat itu. Saat Shiva mengangkat kepalanya, dua kepala ular itu telah bergerak ke atas dan melilit Zheng tepat satu meter di atasnya.

“Tertangkap anda!” Shiva tertawa keras menyeramkan. Dia melambaikan tangannya untuk memerintahkan ular itu untuk melilit Zheng sekeras yang mereka bisa.

Namun Zheng juga berteriak dalam hiruk-pikuk. “Tertangkap anda!” Sebuah api bewarna merah darah terpancar darinya pada waktu yang sama. Red Flame benar-benar efektif terhadap makhluk spiritual!

Dua kepala ular itu menguap dalam sekejap. Zheng mengaktifkan getaran pisaunya dan menebaskan ke Shiva.

 

Translator / Creator: isshh