February 24, 2017

Terror Infinity – Volume 6 / Chapter 6.2

 

Zheng merasa bahwa pilihannya terbatas. Dia memiliki dua pilihan, biarkan Heng melindungi Jie dan Honglu, tapi kemudian jika tim India menemukan mereka, tidak mungkin mereka akan bertahan hidup. Pilihan lain adalah memerintahkan Yinkong melindungi mereka sehingga mereka memiliki beberapa cara untuk melindungi diri terhadap tim India. Namun, ini hanya akan menjamin keamanan individu anggota dan tidak menguntungkan bagi tim. Apakah dia akan memilih individu atau tim?

“Heng, aku akan menyerahkan mereka padamu.” Zheng mengertakkan gigi dan memalingkan wajah. Lalu ia bergumam. “Jika kau terbunuh oleh tim India, saya akan merobek mereka! Aku janji!”

Berada di posisi yang lebih tinggi, sering kali keputusannya itu membebaninya. Zheng mulai memahami bagaimana perasaan Xuan. Dia harus menempatkan perspektif mengenai situasi keseluruhan. Dia bukanlah tuhan, sehingga ia hanya bisa mencoba yang terbaik untuk menyelamatkan semua orang.

Kelompok O’Connell menuju ke makam. Kemudian Heng menggendong Jie di punggungnya. Honglu membawa pistol. Mereka bertiga juga pergi ke makam. Zheng dan Yinkong adalah yang terakhir di sana.

Zheng terus merenungkan atas situasi mereka. Hanya ada tiga orang yang bisa bertarung dan Jie tiba-tiba pingsan. Satu-satunya kesempatan mereka adalah untuk mengambil keabadian Imhotep sebelum terjadi sesuatu lalu memikirkan cara untuk mengalahkan tim India.

“Werewolf itu bagianku.” Tiba-tiba Yinkong berkata.

Zheng berhenti sejenak lalu menatapnya. “Tapi bahumu…”

Yinkong menggeleng. “Saya seorang pembunuh, bukan beberapa gangster yang berjuang di jalan-jalan atau prajurit yang berjuang dengan hidupnya. Pembunuh hanya memiliki satu kesempatan menyerang dan jika gagal itu berarti kematian kami. Saya pikir dia juga menyadari hal ini. Jadi tidak ada istilah seperti cedera untuk seorang pembunuh. Dia telah menyimpang dari menjadi seorang pembunuh dan mencoba melawan dengan kekuatan fisik.”

Zheng melihat tekadnya dan mengangguk. “Ok. Kita tidak bisa mundur lagi. Setelah kita gagal, kita semua akan mati. Yinkong, saya tidak ingin kehilangan kawan lagi.”

Tim India telah muncul dari jauh. Mereka akhirnya memasuki Hamunaptra sebelum pasukan kavaleri bisa pulih kembali. Kota hancur ini dipenuhi dengan dinding rusak dan pilar yang bahkan jika pasukan kavaleri tiba di sini sekarang, mereka tidak akan takut.

Zheng menatap Shiva dengan kebencian. Dia begitu ingin mencabik-cabiknya. Ketika Yinkong memasuki makam, ia mengambil batu selagi matanya terfokus. Otot-otot lengan kanannya membesar kemudian ia melemparkan batu ke biarawan itu.

Kekuatan Zheng melampaui raksasa berotot Minima itu saat dalam tahap kedua dari modus berserk. Batu ditembakan ke Shiva seperti sebuah meriam. Meskipun itu cukup kuat tapi dia bukanlah Zero. Batu itu meleset beberapa sentimeter dan mengenai salah satu pilar di belakangnya.

Shiva menyentuh bekas yang disebabkan oleh tekanan udara dari lemparan itu dan mulai tertawa seperti orang gila. Dia melayang ke arah makam lebih cepat. Sepuluh detik setelah Zheng dan Yinkong memasuki makam, ular itu menembakan petir dari mulutnya ke pintu masuk dan menyebabkan ledakan.

Shiva mengambil napas dalam-dalam dan berkata. “Kita akan masuk bersama-sama, jangan sampai terpisah. Arot! Kendalikan dirimu sendiri. Jika Lamu dan Manavia mati karena kau, aku akan mengoyakmu! Jangan membuat saya melakukannya!”

“Ikuti rencana kita dan temukan Imhotep terlebih dahulu. Dia telah memulihkan kekuatannya jadi jika kita bertemu dengan dia, maka keputusannya akan ditentukan.”

Arot tiba-tiba bertanya. “Bagaimana dengan dia?” Dia membawa sebuah tas yang meneteskan darah.

Ekspresi Shiva berubah menyeramkan. “Jangan bunuh dia sekarang. Saya ingin mengumpulkan semua orang dari tim China dan karakter film bersama-sama kemudian mengiris mereka menjadi potongan-potongan kecil! Saya ingin mereka mengalami siksaan Avici! Saya ingin mereka hidup di neraka yang kekal!”

Arot menjilat pisau bedah di tangannya, membiarkan pisau itu mengiris lidahnya. Kemudian ia mulai menikmati menghisap darah yang keluar dari lidahnya.

Tim India hanya memiliki empat orang di sana. Tiga pemula di tim mereka tetap tinggal di Kairo. Karena sekarang Shainaia telah tewas, para pemula telah kembali sadar.

Shiva mengatakan saat memasuki makam. “Kita telah membunuh penembak jitu itu. Guide itu mungkin mendapatkan hukuman dari dewa, antara dia mati atau tidak mampu bertarung lagi. Mereka masih memiliki seorang support, pembunuh perempuan, dan pemimpin mereka. Pemimpin mereka telah mencapai tahap dua dari modus berserk. Jika kita mendapatkan kekuatan Imhotep, kita akan menang. Lamu, masih bisakah kau menggunakan jarummu?”

Pemuda itu tersenyum pahit dan berkata. “Ini terlalu menyakitkan. Aku tidak bisa berkonsentrasi. Bahkan jika aku bisa melemparkannya, saya hanya bisa membidik dalam jarak lima puluh meter.”

Shiva mengutuk. “Kita tidak akan menebus tewasnya Shainaia bahkan jika kita membunuh tim China sepuluh kali. Sebuah bakat yang dapat meningkatkan kapasitas mentalnya seperti itu sangat langka! Saya pasti akan membunuh mereka semua!”

Kemudian ia berpaling ke wanita lainnya. “Manavia, bagaimana denganmu? Dapatkah kau menggunakan medan gaya defensifmu?”

Dia mengangguk segera. “Ya, saya belum banyak menggunakannya dalam film ini. Jika saya berusaha maksimal, saya bisa mempertahankannya selama sepuluh menit.”

“Baik, saya akan meninggalkan Lamu bersamamu. Pastikan ia tidak mati.”

Setelah Zheng dan Yinkong memasuki makam, mereka mendengar ledakan yang datang dari belakang. Zheng berlari untuk beberapa langkah lagi sebelum ia bertanya. “Yinkong, kenapa saya tidak bisa merasakan keberadaanmu? Ini seperti kau tiba-tiba menghilang setiap kali kau melangkah ke dalam bayangan. Apakah itu salah satu teknik pembunuhmu?”

Yinkong menjawab dengan tenang. “Itu sederhana. Cukup hipnotis diri sendiri dan membayangkan dirimu sebagai bagian dari kegelapan. Singkirkan semua emosimu. Ini adalah dasar-dasar bagi seorang pembunuh. Jika kau tidak dapat melakukan hal ini, orang-orang dengan indra keenam yang kuat akan tahu keberadaanmu.”

Zheng berhenti sejenak lalu berkata. “Saya piker tim India tidak akan mengejar kita. Mereka mungkin akan masuk lebih dalam ke makam dengan keseluruhan timnya. Jika itu saya, saya akan mencari Imhotep terlebih dahulu dan tetap bersamanya. Kita akan kalah jika itu terjadi. Ingin mengambil risiko?”

Yinkong terkejut. “Risiko apa?”

“Bet bahwa tim mereka tidak bersatu!” Kata Zheng dengan pasti.

“Meskipun ini hanya sebuah perasaan tapi saya merasa bahwa Arot tidak mengikuti perintah Shiva dan seluruh tim itu hanya mengikuti perintahnya karena mereka takut padanya. Kita akan bersembunyi di bayang-bayang dan menyergap mereka ketika mereka datang. Aku akan menyeret Shiva ke dalam ruangan tempat Imhotep melemparkan saya beberapa waktu yang lalu. Kau pergi urus Arot. Aku yakin bahwa anggota tim lainnya akan meninggalkan mereka untuk mencari Imhotep. Saya hanya bisa menghadapinya satu lawan satu jadi jika mereka memutuskan untuk membantunya, maka saya tamat! Tapi jika tidak, maka saya memiliki kesempatan untuk membunuhnya!”

“Ingin mengambil risiko ini?”

Zheng memasuki tahap kedua dari modus berserk dan membuat pikirannya kosong, menahan diri dari memikirkan apa-apa. Dia bersembunyi di bayang-bayang. Yinkong terkejut bahwa Zheng belajar teknik itu di bawah satu menit. Salah satu teknik yang paling penting untuk dipelajari bagi seorang pembunuh.

Mereka berdua menyaksikan tim India memasuki makam. Mendengarkan percakapan mereka saat mereka bergerak selangkah demi langkah lebih dekat.

Shiva mengangguk. “Baik, saya akan meninggalkan Lamu bersamamu. Pastikan ia tidak mati.”

Zheng tiba-tiba melompat keluar. Dia telah berada satu meter dari Shiva sebelum anggota dari tim India bisa bereaksi. Penyergapan ini terlalu cepat dan tiba-tiba sehingga tidak ada seorangpun tahu sosoknya. Sayangnya ia harus menukarkan pisaunya dengan kecepatan. Ia meninju wajah Shiva yang syok dan mementalkan dia ke dinding belakang.

Translator / Creator: isshh