February 23, 2017

Terror Infinity – Volume 6 / Chapter 6.1

 

Zheng berteriak kegilaan. Dua orang di sampingnya juga dalam kesedihan. Yinkong telah berjuang bersama Zero begitu lama. Meskipun mereka berdua tidak pernah banyak berbicara satu sama lain tapi mereka menghormati kemampuan masing-masing sebagai pembunuh.

Heng baru datang ke dunia ini pada awal film ini. Dia masih dalam keadaan naif dari dunia nyata. Meskipun kelompok Zheng tidak pernah mengakui dia sebagai anggota dari tim tapi seseorang yang berjuang bersama-sama dengan dia beberapa saat yang lalu telah meninggal.

Saat mereka bertiga memandangi tubuh Zero, mereka tiba-tiba mendengar jeritan datang dari pintu masuk makam. Zheng dan Yinkong berteriak. “Imhotep!”

Perhatian semua orang terfokus pada Zero sejak ia membuat tembakan pertama. Imhotep yang belum sempurna tidak banyak mengancam ketika Zheng dan Yinkong berada di sana karena kedua senjata mereka dapat melawan dia. Tapi sekarang mereka berdua mendatangi Zero, sisa kelompok di pintu masuk tidak punya cara untuk mempertahankan diri dari Imhotep.

Dengan kesimpulan ini, Zheng dan Yinkong segera berlari menuju pintu masuk. Meskipun kecepatan mereka sudah begitu cepat, mereka masih terlambat. Sebuah mayat kering berbaring di bawah Imhotep pada saat mereka sampai di sana. Dilihat dari pakaian mayat itu, ia adalah karakter Amerika yang tersisa. Tubuh Imhotep mengejang dan bagian-bagian yang busuk dari tubuhnya berubah menjadi daging normal. Tidak lama kemudian, ssesosok pendeta sempurna berdiri di depan mereka.

Imhotep tersenyum pada mereka, senyum yang membuat mereka menggigil sampai ke tulang belakang mereka. Dia mengangkat tangannya saat semua orang masih syok. Pasir di luar Hamunaptra membentuk gelombang tinggi dan mengarah ke kavaleri. Pasukan kavaleri itu hanya berjarak seribu meter dari tim India ketika gelombang pasir mengubur mereka. Pada saat yang sama, tim India berlari secepat yang mereka bisa. Pasukan kavaleri itu tidak berhasil kabur sebelum tim India mencapai Hamunaptra.

Zheng dan Yinkong melompat ke Imhotep. Zheng menyalurkan Qi nya ke dalam kepalan tinju kirinya sementara Yinkong mengeluarkan pisau. Kedua senjata itu memiliki kemampuan untuk melukai Imhotep tapi Imhotep telah belajar dari pengalaman sebelumnya. Dia berubah menjadi badai pasir dan menyapu Evelyn dan Lan sebelum Zheng mencapainya, kemudian menangkap dua perempuan sebagai sandera dan masuk ke makam.

Wajah Zheng berubah putih pucat. Dia menarik Jonathan dan berkata. “Apa yang dia katakan?”

Ardeth langsung menjawab. “Dia mengatakan…serahkan Kitab Orang Mati atau dia akan mengubah dua perempuan itu menjadi mumi…Dia memberi waktu sekitar satu jam…”

Jantung Zheng berdetak keras. Seuatu yang seharusnya merupakan prospek bagus tiba-tiba menghilang ke dalam kehampaan. Kematian Zero, pemulihan Imhotep, dan sekarang Evelyn dan Lan diculik…Apakah mereka ditakdirkan untuk mati di sini?

“O’Connell dan Jonathan! Kalian berdua pergi cari Kitab Amun-Ra!” Zheng menekan perasaan putus asa dan memerintahkan mereka dengan ketegasan. Lalu ia berpaling ke Ardeth dan berkata. “Pergilah dengan mereka dan lindungi mereka.”

Penjaga museum juga berkata. “Biarkan aku pergi dengan mereka juga, saya bisa membaca hieroglif.”

Zheng ingat akan inkompetensi Jonathan dalam bahasa dan mengangguk. “Jie, lindungi Heng dan Honglu dan masuk ke dalam makam sebelum tim India. Kau tidak perlu khawatir tentang jarak jangkauan serangan mereka saat di dalam makam…Tapi wanita pengendali pikiran itu masih menjadi ancaman. Jie?”

Zheng sekarang melihat ekspresi menyakitkan Jie. Apa yang memberinya perasaan yang lebih buruk adalah kilatan cahaya yang tiba-tiba di mata Jie. Cahaya ini datang dan pergi dalam sekejap tapi Jie langsung jatuh pingsan. Kulitnya mulai robek dan pembuluh darah meledak, melapisi seluruh tubuhnya dengan darah.

Pada saat yang sama, tim India sangat gembira. Mereka tahu bahwa Imhotep telah memulihkan kekuatannya saat badai pasir menghantam pasukan kavaleri. Badai pasir yang menyelamatkan seluruh tim mereka, jika tidak ribuan kavaleri bersenjata itu cukup untuk memusnahkan mereka. Tidak hanya ini, tetapi mereka juga telah membunuh penembak jitu. Mereka tidak lagi harus khawatir mendapatkan tembakan jarak jauh.

“Lamu! Apakah kamu baik-baik saja? “Biarawan itu berteriak tanpa berbalik.

Lengan kiri pemuda itu telah patah dan dia batuk darah. Dia mengandalkan dukungan dari dua wanita di sampingnya untuk terus berjalan. “Jarum saya mengenainya terlebih dahulu, kalau tidak, ia pasti sudah menembak jantungku…Kekuatan yang menakutkan. Ini hanya menyerempet lengan saya tapi tetap saja masih menghancukan tangan saya…”

Shainaia bergumam. “Tidak ada yang perlu dikagumi. Kita telah belajar dari memori mereka bahwa senapan Gaus ini dapat menembus kendaraan tempur dengan satu tembakan. Kau tidak…Ah!”

Dia tiba-tiba menjerit kesakitan dan berguling di tanah dengan tangan di kepalanya. Semua orang berhenti bergerak dengan syok. Shiva dan Arot segera berlari mendekatinya. Meskipun kemampuan tempurnya bukan yang terbaik tapi dia inti dari tim ini. Dia bisa dianggap sebagai pemimpin tanpa anugrah kekuatan.

Suaranya menjadi serak karena menjerit. “Ketua…Guide itu menyerang saya. Dia seharusnya tidak bisa menyerang saya. Saya sedang mencari lokasi mereka kemudian ia tiba-tiba menyerang ke dalam pikiran saya…menjadi bumerang…”

Suaranya menjadi lebih rendah dan lebih rendah. Pada saat dia mengatakan beberapa kata terakhir, darah keluar melalui setiap bagian dari kepala dan seluruh tubuhnya bergejolak.

Arot telah kembali ke bentuk manusia ketika ia sampai di sisinya. Dia memegang kepalanya kemudian menyentuh dadanya. Beberapa detik kemudian ia melepaskannya. “Jantungnya masih berdetak tapi gelombang otak nya tidak normal…kesadarannya dihapus secara paksa. Tubuhnya akan mati dalam beberapa menit.”

Shiva mengambil napas dalam-dalam dan bergumam. “Ada cara untuk menyelamatkannya? Bahkan jika kita harus memberikan energi kehidupan kita padanya?”

Arot menggeleng. “Nggak. Domain mental yang merupakan bidang yang paling misterius. Dia masih memiliki sejumlah besar energi kehidupan. Orang itu adalah master di bidang ini. Dia menginvasi jaringan mentalnya dan menghapus semuanya. Energi kehidupan tidak bisa mendapatkan pikirannya kembali…”

Wajah Siwa berubah menakutkan. Dia mengangkat tangannya kemudian ular itu muncul. Ular ini menggigit wanita itu dan memakannya di hadapan mereka. Dia mengatakan dengan kebencian. “Bahkan jika dia mati, dia akan mati di tangan kita sendiri! Aku tidak akan memberikan tim China poin! Mereka pada satu poin negatif kan? Aku tidak akan membiarkan mereka mendapatkan poin lagi…Tim China! Saya ingin kalian semua mati bersama dia!”

Saat ia berbicara, seorang wanita dalam pakaian India yang bertindak seperti boneka tiba-tiba berteriak. Dia melihat orang-orang di sekelilingnya dengan bingung. Ini adalah Zhuiyu yang pikirannya telah dikendalikan selama ini. Ketika Shainaia meninggal, dia mendapatkan kesadarannya kembali tapi itu hanya sebuah kemalangan. Semua orang dari tim India menatapnya dengan kebencian. Sebaliknya, Liang, yang meninggal secara tidak sadar itu jauh lebih baik daripada dia.

“Tim China…Hahaha, tim China! Kalian semua akan mati dalam kesengsaraan! Ha ha ha…”

Zheng bingung dengan Jie yang tiba-tiba pingsan. Satu-satunya yang masih bisa bertarung hanya dia dan Yinkong. Selain itu, salah satu lengan Yinkong tidak dalam kondisi baik. Namun jika dia tidak melindungi Honglu sekarang, itu akan sangat sulit untuk mendapatkan orang lain yang seberbakat dirinya.

“Jika kalian tidak keberatan, biarkan saya yang melindungi Honglu dan Jie.” Heng tiba-tiba berkata.

 

Translator / Creator: isshh