February 22, 2017

Terror Infinity – Volume 6 / Chapter 5.2

 

“Maka…ayo laksanakan rencana kita. Habisi tim mereka!” Honglu tersenyum dingin.

Semuanya mengikuti dengan senyuman. Meskipun itu tak terduga bahwa tim India tiba begitu awal tapi itu tidak mempengaruhi rencana mereka. Rencana ini akan mendorong tim India dalam keputusasaan.

Kedua Medjais yang datang bersama mereka, salah satunya pergi ke kelompok kavaleri besar dan yang satunya mengikuti dari belakang dengan kecepatan setengah dari mereka. Jika pikiran keduanya ini dikendalikan, mereka harus melawan tim India langsung tetapi jika tidak, maka rencana Honglu akan berhasil.

Medjai yang pergi ke kelompok besar membawa pesan rahasia dari Ardeth ke pemimpin kavaleri melalui perangkat komunikasi. Pesan yang meminta dia untuk mengirim seribu orang ke Hamunaptra, juga berputar dengan tiga kuda untuk sampai secepat mungkin. Dan begitu orang-orang ini mendengar tembakan pertama, mereka harus menuju ke Hamunaptra, membunuh setiap kelompok yang menuju ke sana!

Misi Zero adalah untuk menembak orang pertama dari tim India yang ia lihat, tidak peduli seberapa jauh orang itu atau jika dia adalah pengguna kekuatan mental atau tidak. Dia harus menembak bahkan jika ia tidak bisa membunuh orang itu karena suara tembakan menandai dimulainya rencana.

“Logika sederhana. Mereka akan diincar oleh kavaleri tidak peduli dari arah mana mereka berasal. Setelah mempelajari dari rencana kita, metode transportasi teraman adalah menggunakan pesawat. Jika mereka tidak melihat kavaleri di sekitar Hamunaptra, apa yang akan mereka lakukan? Tentu saja mereka akan mendarat…”

“Satu-satunya masalah adalah jika mereka juga mengangkut kuda atau unta bersama. Tapi pesawat di era ini…tidak memiliki kapasitas untuk melakukannya. Kemudian mereka harus lari setelah mereka mendarat. Tapi siapa yang akan berlari lebih cepat? Kuda atau manusia…Hoho, mati dalam kematian yang mulia!”

Jie dan Lan memapah Zheng keluar dari makam. Dia tampak dalam keadaan yang buruk. Beberapa scarab mencoba untuk masuk ke dalam tubuhnya, tetapi kepadatan ototnya mencegahnya. Mereka membunuh scarab dengan beberapa tembakan. Zheng juga pulih dari pingsannya.

Yinkong menatapnya kemudian melihat arlojinya. “Kita berada di satu poin positif. Zero baru saja membunuh salah satu dari mereka. Sekarang bergantung pada pasukan kavaleri itu. Berharap serangan mereka dapat menghasilkan sesuatu!”

Honglu menggigit sebuah apel dan berkata. “Tidak ada hal yang sesempurna rencana, bahkan aku tidak bisa membuatnya…kecuali orang yang membuatnya telah benar-benar menghilangkan semua keinginan dan inderanya. Hanya orang seperti itu yang dapat mengambil perspektif sebagai pengamat. Jika ia juga memiliki bakat yang luar biasa dan kemampuan deduktif, maka dia adalah dalang sempurna, dalang terkuat…Sayangnya tidak ada manusia yang sempurna seperti itu di dunia ini. Kesempurnaan hanya mengarah ke kehancuran diri sendiri.”

Saat ia selesai, mereka melihat kavaleri datang dari jauh. Meskipun mereka tahu itu hanya seribu orang tapi pemandangannya spektakuler. Para pemain semuanya berasal dari dunia yang damai dan tidak pernah memiliki kesempatan untuk melihat sesuatu yang begitu mengagumkan. Untuk sesaat, semua orang menahan napas mereka dan menonton. Kavaleri itu secara bertahap mulai terlihat dari dalam awan pasir dan debu yang diciptakan oleh gerakan kuda. Pasukan kavaleri ini masing-masing membawa sebuah senjata api dan sebuah pedang.

Zheng memandang seribu orang itu  dan berkata dengan nada dingin. “Mereka telah kehilangan kesempatan terbaik mereka untuk membunuh kita di Kairo…Sial, akhirnya kita bisa memimpin. Tengyi! Kami akan membalas kematianmu!”

Ketika mereka berbicara, semua orang mendengar ledakan keras lainnya. Zero menarik pelatuk lagi dan diikuti suara tembakan, nomor pada jam tangan mereka kembali ke nol, menandakan seseorang dalam tim telah tewas!

“Satu anggota tewas. Tim China berada pada poin nol. Poin negatif pada akhir film akan dihapus.”

“Zero!” Teriak Zheng. Dia segera ingat saat ia pertama kali bertemu Zero. Pria tenang yang selalu menyelesaikan tugas yang dia berikan padanya dan menyelamatkannya beberapa kali. Dia juga ingat senyum lembut itu ketika berenang dengan seorang gadis kecil…Ia adalah kawan sejati!

Zheng berlari menuju lokasi Zero sambil berteriak. Yinkong juga mengikutinya. Jie meskipun memijat pelipisnya seolah-olah ia memiliki sakit kepala parah. Dia berjongkok di tanah saat keringat menetes seperti hujan. Namun tidak ada yang menyadarinya karena semua perhatian mereka terfokus pada Zero dan Heng.

Zheng cemas dan berlari dengan kecepatan penuh. Dia akhirnya mencapai tempat persembunyian Zero dan Heng sepuluh detik kemudian, tetapi keduanya menatapnya bingung. Zero berkata dengan tenang. “Salah satu yang menggunakan baju India yang saya tembak mungkin Liang atau Zhuiyu. Ada dua wanita lagi dalam pakaian India itu, keduanya mengenakan kerudung. Aku tidak tahu apakah saya harus melanjutkannya atau tidak.”

Zheng menatapnya kemudian menampar bahunya. “Bagus, kau masih hidup! Sial, jangan sampai mati! Saya ingin terus berjuang bersamamu, bro!”

Zero terkejut kemudian menatap Zheng dan berkata. “Sampai mati…”

Pada saat yang sama, Shiva berada di puncak kemarahannya. Dia berteriak sambil bergerak maju di atas kepala ular. Di sampingnya adalah Arot dalam bentuk manusia serigala, yang tampak sepenuhnya telah sembuh. Dia berlari pada kecepatan yang sama dengan Shiva.

Shiva terus berteriak. “Shainaia, terus serang! Kau harus mendapatkan lokasi mereka! Orang itu sangat mungkin meruapakan seorang Guide. Guide tidak dapat menyerang anggota tim lainnya! Cari lokasinya lalu perintahkan Lamu untuk membunuhnya!”

Dua mayat berbaring di tanah di belakang mereka. Salah satu adalah pria kurus yang menggunakan dua bilah pedang melengkung. Yang satunya adalah Liang yang mengenakan pakaian wanita India. Matanya terbuka lebar dan wajahnya terlihat ketidak percayaan. Ada empat orang yang berjalan, tiga wanita dan seorang pria. Shainaia berkata, “Ini semakin lemah. Dia pasti seorang Guide. Dia menahan hukuman Tuhan…Hampir mendapatkan lokasinya, hampir…Lamu!”

Dia berteriak dan pria di sampingnya melemparkan jarum di tangannya…

“Sampai mati…” Sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, ia membidik dan menarik pelatuk lagi. Namun pada saat yang sama darah memercik dari dadanya. Semua orang di sekitarnya menyaksikan Zero jatuh ke tanah dengan senapannya. Sebuah jarum menusuk dadanya. Itu tidak mengenai paru-parunya saat ini tetapi langsung ke jantungnya…Darah yang memancar keluar menunjukkan ada sebuah lubang di jantungnya. Jarum itu perlahan keluar dengan sendirinya. Pendarahan bertambah parah saat jarum tersebut akan keluar dari jantung.

Wajah Zheng tampak terkejut. Dia segera menekan jarum di dada Zero, berusaha untuk mencegahnya keluar. Karena saat dia membiarkan dada Zero, maka itu adalah saat ia meninggal. Zheng tidak ingin kehilangan kawan yang dia akui, saudara yang bisa berjuang bersamanya sampai mati. Sekarat tepat di depannya…dia tidak ingin hal itu terjadi!

Namun kekuatan dari jarum itu begitu besar dan memancarkan sengatan listrik ketika ia menyentuhnya, membuat tangannya mati rasa. Dia menyaksikan saat jarum itu menarik dirinya sendiri keluar kemudian menghilang. Darah Zero menodai tangannya…

“…sampai mati. Saya tidak bisa terus bersama denganmu lagi, bro …”

Zero tersenyum kemudian menutup matanya. Senapan Gauss perlahan meluncur jatuh dari tangannya…

Zheng menatap darah di tangannya. Untuk sementara pikirannya benar-benar kosong sampai teriakan pasukan kavaleri dari jauh menyadarkannya. Dia juga mulai berteriak dengan marah dan keinginan untuk membunuh.

“Tim India! Saya ingin kalian semua mati! Ahh….”

 

 

Translator / Creator: isshh