February 21, 2017

Terror Infinity – Volume 6 / Chapter 5.1

 

Kelompok Zheng akhirnya mencapai pasar. Mereka dibagi menjadi dua kelompok sesuai rencana. Satu kelompok pergi mencari persediaan sementara yang lain pergi untuk membeli kuda.

“Ya, kami hanya ingin kuda, bukan unta. Jika anda tidak memiliki cukup kuda, kami akan mendapatkan sisanya dari pedagang lain.” Kata Jonathan kepada pedagang saat ia mencubit bongkahan emas dengan jari-jarinya.

Harus diakui bahwa sisi positif dari keserakahan adalah kemampuan untuk mengambil segala keuntungan yang memungkinkan dalam perundingan. Meskipun ada keengganan ketika ia harus menyerahkan bongkahan emas itu, ia benar-benar memiliki satu batang emas utuh dalam sakunya, uang yang diberikan Zheng untuk tugasnya.

Kedua kelompok menyelesaikan tugas mereka dalam waktu satu jam. Semua pedagang menunjukkan gairah besar di bawah pengaruh emas dan mempersiapkan segala sesuatu yang mereka butuhkan dalam waktu yang singkat. Tanpa banyak kata, mereka mengambil persediaan mereka dan berangkat ke sebuah gudang kecil dengan kuda mereka.

Ardeth memimpin mereka menuju gudang, sebuah gudang kosong. Dia menarik rantai dan membuka pintu masuk ke terowongan. Dan pada saat yang sama, dua senjata mengarah ke mereka dari pintu masuk.

Ardeth berteriak sesuatu lalu kedua orang berjubah hitam itu memanjat keluar. Mereka menunjukkan rasa hormat dan Ardeth mengangguk kepada mereka, lalu berkata kepada Zheng. “Ikuti saya. Senjata-senjata itu ada di bawah.”

Ruang bawah tanah itu tidak terlalu besar, tetapi berisikan senjata yang sangat banyak. Selain meriam, pada dasarnya gudang ini memiliki setiap senjata yang ada pada era ini, termasuk senapan mesin yang diambil dari sebuah jet tempur. Sama seperti dalam filmnya, Ardeth mengambil senapan mesin dan beberapa bahan peledak.

Setelah semua orang sudah siap, Honglu dengan cepat berkata, “Suruh mereka berdua ikut dengan kita. Setelah kita meninggalkan pasar, salah satunya akan membawa satu perangkat komunikasi menuju ke kelompok besar, lalu satunya akan membawa sisa perangkat dan pergi ke Hamunaptra dengan kecepatan setengah dari kami. Lalu kita, masing-masing akan berputar-putar dengan tiga kuda dan ke Hamunaptra secepat mungkin. Kita akan memberi mereka kejutan baik mereka tiba duluan atau tidak.”

Hanya seperti ini, kelompok itu meninggalkan pasar lagi. Untuk menghindari pengendali pikiran, semua orang termasuk Honglu, yang tidak bisa benar-benar bertarung, menuju Hamunaptra. “Ini ketiga kalinya kita melewati tempat ini. Saya berharap tidak akan ada yang keempat kalinya.” Kata Zheng saat ia duduk di pelana melihat dari atas gurun ini.

Evelyn tertawa. “Itu kurang tepat. Jika kita tidak dapat melihat ini untuk keempat kalinya, bukankah itu artinya kita mati di Hamunaptra? Jadi kita harus melihatnya untuk keempat kalinya.”

Zheng tertawa. Ini adalah sesuatu yang hanya dipahami oleh para pemain. Mereka akan kembali ke dimensi dewa jika mereka menyelesaikan misi, sehingga tidak ada kesempatan untuk melihat pemandangan ini lagi. Jika tidak, itu berarti mereka gagal dan mengejar mereka atau melarikan diri. Keduanya bisa berakhir dengan lenyapnya mereka. “Saya sudah lelah melarikan diri. Mungkin lebih baik mempertaruhkan semuanya dan menyelesaikan segala sesuatunya di Hamunaptra. Semua masalah bermula dari sana dan akan berakhir di sana!” Zheng melihat cincin Na. Ada beberapa granat yang tidak ada di situ sebelumnya. Tim itu memutuskan untuk mengubur Tengyi di sebuah bukit di luar pasar dan menemukan granat tersebut di tubuhnya. “Biarlah segalanya berakhir di sana!”

Kesulitan yang tak terbayangkan ketika bepergian tanpa henti dan berputar-putar dengan tiga kuda. Mereka merasa tubuh mereka seakan-akan runtuh. Untungnya buff stamina dari Lan membuat mereka tetap bertahan. Mereka mengurangi waktu perjalanan dari beberapa hari menjadi hanya satu hari dan satu malam.

Saat itu pukul 4:00 subuh, kurang satu jam lagi sebelum mereka mencapai Hamunaptra, tepat sebelum matahari terbit. Kemudian mereka merasa tanah bergetar dan secara bertahap terasa lebih kuat.

Semua orang menoleh ke belakang tapi itu gelap gulita. Mereka tidak bisa melihat apapun di luar seratus meter. Zero naik ke puncak sebuah bukit kecil dan melihat keluar. “Sebuah wilayah pasir yang besar bergulir ke arah kita. Tidak tampak seperti badai pasir, hanya setinggi satu atau dua meter. Itu mumi! Mereka sangat banyak dan datang begitu cepat!”

Mumi ini tidak memiliki stamina dan tidak bisa pula merasakan sakit atau kematian. Beberapa ribu mumi berlari tanpa henti dengan kecepatan yang bisa menyaingi kuda.

Tepat saat Zero menyelesaikan kata-katanya, gelombang pasir lainnya mulai terlihat bersama dengan suara hentakan kaki kuda. Sepuluh ribu pasukan kavaleri hitam mengarah ke mumi-mumi itu. Meskipun kedua belah pihak itu berada cukup jauh. Jika bukan karena Hawkeye, ia tidak akan bisa melihat mereka. Zero segera bergabung ke grup. “Benarkah? Semuanya bergerak lebih cepat. Kita akan memberi mereka kejutan!” Zheng berteriak dan memimpin jalan ke Hamunaptra.

Kelompok ini akhirnya mencapai Hamunaptra saat matahari terbit. Hamunaptra tampak megah di bawah sinar matahari keemasan, seolah-olah itu kembali ke masa kejayaan Mesir. Tapi tidak ada yang memiliki waktu untuk mengagumi pemandangan ini saat selusin pesawat terbang menuju ke Hamunaptra.

Semua orang bersembunyi di bayangan beberapa pilar batu saat pesawat lewat. Kemudian Zheng bertanya kepada Zero, “Bisakah kau menembak jatuh pesawat-pesawat itu?”

Zero mendesah. “Tidak akan bisa menjatuhkan mereka semua. Tidak masalah jika itu hanya beberapa. Senapan Gauss itu sangat kuat tapi membutuhkan waktu terlalu lama untuk reload. Saya hanya bisa menembak tiga kali sebelum pesawat mendarat. Saya pikir ini adalah alasan mereka membawa begitu banyak pesawat, untuk menghindari penembakan ini.”

Semua orang mendesah saat kesempatan ini terbuang. Zheng menghembuskan napas dan berkata, “Maka ikuti rencana awal kita. Zero bertanggung jawab untuk menembak wanita India itu dan Heng akan melindungmu. Jangan lupa untuk lari setelah satu tembakan apakah itu kena atau tidak. Sisanya ikut dengan saya ke makam. Lalu kita akan berpencar untuk mencari patung Ra. Siapapun yang menemukannya buat sinyal dengan suara tembakan.”

Zheng mengulangi rencana mereka kemudian berjalan ke pintu makam. Dia berbalik dan menatap Zero dan Heng lagi sebelum masuk. Zero sedang mencari tempat yang cocok sedangkan Heng sedang menyesuaikan busurnya. Saat Zheng berbalik ini, sebuah tangan meraih lehernya dari belakang dan mengangkatnya.

Pada pintu masuk ke makam, sebuah tangan dari pasir tiba-tiba muncul. Lebih banyak pasir berkumpul di sekitarnya dan membentuk sosok Imhotep. Dia melemparkan Zheng ke makam. Zheng membentur dinding tapi karena dinding itu agak rapuh, ia menembusnya dan menghantam suatu logam.

Ardeth dan Jie yang terdekat dengan pintu masuk. Mereka berdua melepaskan tembakan di Imhotep. Namun itu menunjukkan bahwa bahkan peluru magic tidak efektif melawan dia saat di Kairo, jadi peluru normal yang mereka gunakan sekarang bahkan lebih tidak efektif. Peluru menembusnya kemudian lubang tersebut langsung sembuh. O’Connell menembak dengan senapannya tetapi tidak berhasil. Imhotep berdiri di sana tanpa luka kemudian berubah menjadi badai pasir.

Yinkong segera bereaksi tetapi barusan ia menarik keluar pisaunya sebelum badai pasir itu masuk ke makam dan menghilang dari pandangan mereka.

Pada waktu bersamaan.

Bang!

Senapan Gauss Zero mengenai targetnya.

 

Translator / Creator: isshh