February 14, 2017

Terror Infinity – Volume 6 / Chapter 3.1

 

Zheng sangat bersyukur ia telah menukar cincin tersebut. Bukan hanya sebagai senjata yang ampuh melawan makhluk spiritual tapi juga bisa menyimpan banyak benda di dalamnya, seperti…peluru magic!

Peluru magic yang normal sangat murah. Satu-satunya masalah adalah sulit untuk membawa mereka dalam jumlah besar. Tapi cincin Na menyingkirkan kelemahan ini. Dia dengan mudah menyimpan sangat banyak peluru magic dan tidak persedian amunisi untuk Jie, Lan dan anggota kelompok lainnya tetapi juga menukar amunisi O’Connell dan  karakter lainnya dengan peluru magic. Meskipun senjata mereka tidak kuat tapi lumayan membantu dalam situasi ini. Dia tidak perlu menghemat peluru.

Saat mereka berjalan menuruni tangga dari menara jam, mereka merasakan kecemasan semakin besar saat mereka semakin dekat ke tanah. Itu tidak terbatas pada orang-orang normal seperti karakter film dan para pemula, Zheng dan para veteran lainnya juga mulai gugup.

Sebuah pintu kayu yang tebal menghalangi jalan mereka di lantai dasar. Lan segera memberi buff percepatan dan stamina kepada setiap orang. Zheng mengambil fragmen mumi, pasir dan Kitab Orang Mati kemudian meneriakkan mantra untuk membuat empat mumi pengawal.

Para memula melihatnya dengan syok, sampai Zheng menendang pintu terbuka, membuat mereka tersadar dengan suara ledakan keras. Dia berlari keluar dan memberondong dengan pistolnya, melempar setidaknya sepuluh zombie di dekatnya ke tanah. Peluru magic memang efektif. Mayat-mayat itu menyala dan beberapa detik kemudian menjadi tumpukan abu.

Zheng berbalik dan berkata dengan buru-buru, “O’Connell! Pimpin jalan!”

O’Connell mengangguk. Dia memandang Evelyn dan tanpa kata mengeluarkan dua pistol dan berjalan di depan kelompok.

Semua orang mengikuti dari belakang tanpa berbicara. Tapi yang mengejutkan mereka adalah tidak ada satupun zombie di jalan. Tidak lama sampai mereka berbelok melalui sebuah  lembah itu mereka melihat dinding orang-orang yang menghalangi jalan. Itu adalah jalan yang lebar, setidaknya ada beberapa ribu zombie memenuhi seluruh area dan sepuluh pengawal mumi berdiri di sisi dinding.

“Keluarkan senjata kalian! Jika kalian tidak ingin mati maka kerahkan semua yang kalian miliki!” Zheng memegang senapan mesin ringan dengan tangan kiri dan pisau progresif di tangan kanan. Dia berteriak sambil menembaki mumi.

Semua orang mengikuti dan menembaki zombie dan mumi. Namun zombie ini tampak seperti manusia normal. Bahkan ada beberapa anak-anak, berusia sebelas atau dua belas tahun. O’Connell dan beberapa yang lain ragu-ragu sampai Jie berteriak ke mereka untuk menyingkir saat ia mengeluarkan sebuah senapan mesin berat. Senjata yang sama yang ia digunakan dalam film terakhir. Begitu yang lain bergerak ke samping, ia melepaskan tembakan.

Suara senapan mesin berat terasa jauh lebih kuat daripada senjata Zheng dan tentu saja kekuatannya sangat menakutkan. Mayat-mayat itu jatuh seperti lalat, mumi tidak bisa mendekati mereka juga. Jie menampakan perasaan bahwa ia sedang bersemangat. Dia memegang senapan mesin dengan satu tangan dan peluru dengan tangan satunya. Dia terus berteriak sambil berlari ke depan.

“Dia merasa sedih…Orang yang membawa peluru untuknya terakhir kali telah meninggal.” Zheng mendesah kemudian melihat pria jubah hitam yang membawa tubuh Tengyi ini. Semua orang tahu hal rasional yang harus dilakukan adalah meninggalkan tubuhnya di menara jam tetapi mereka tidak tega meninggalkannya di sana. Sehingga semua orang memutuskan untuk mencari tempat untuk menguburnya. Menurut pria jubah hitam, hal ini juga adalah cara agar prajurit bisa mendapatkan kedamaian.

Untungnya, sepertinya kutukan Imhotep tidak berpengaruh pada Tengyi. Tubuhnya tetap dalam tidur abadi…Namun Zheng tidak bisa melupakan adegan kematiannya dan kata-kata terakhir darinya…

Tidak butuh waktu lama bagi senapan mesin untuk mengkonsumsi semua peluru, tetapi itu sudah cukup untuk membunuh semua pengawal mumi. Hanya sekitar seribu mayat yang masih berjalan ke arah mereka. Semua orang menembakkan senjata mereka tanpa ragu. Untuk sementara, suara tembakan memenuhi udara. Mereka membersihkan jalan melewati zombie dan bergerak melewati jalan menuju ke garasi.

Jonathan mulai berlari ke mobil sport segera setelah mereka memasuki garasi tetapi Zheng dan O’Connell mengulurkan tangan mereka secara bersamaan dan menariknya ke sebuah minibus. Dia berteriak dalam perlawanan, “Hei, mobil sport! Mobil sport bergerak lebih cepat dan juga lebih mahal!”

Zheng menjawab, “Saya akan memberikan lima batang emas setelah kita bertahan hidup. Cukup untuk membeli satu!”

Jonathan berhenti sejenak kemudian segera berkata, “Lima…enam, enam adalah angka keberuntungan.”

Zheng dan O’Connell saling memandang kemudian melemparkan Jonathan ke dalam bus. O’Connell mulai mencari kunci setelah mereka semua naik tapi Zheng meninju lubang kunci, kemudian menarik keluar kabel dan memutar-mutar mereka bersama-sama. Mesin bus seketika menyala.

O’Connell tertawa keras, “Kau terlalu kasar.”

Zheng mengangkat bahu. “Kau akan lebih kasar saat kau berkendara…Ayo, teman-teman kita di sini.”

Pintu masuk garasi penuh dengan zombie seperti katanya. Selain itu, beberapa lusin pengawal mumi bergegas langsung menuju mereka dari dinding di belakang mereka. O’Connell menabrakan bus tepat ke arah mayat-mayat, darah bertumpahan dan daging tersebar di mana-mana…

 

Translator / Creator: isshh