February 13, 2017

Terror Infinity – Volume 6 / Chapter 2.3

 

Semenit kemudian, lantai tersebut berserakan  dengan daging hitam. Presisi Zheng luar biasa dalam mode berserk ini. Pemotongan ini bahkan tidak menyentuh daging yang tidak terinfeksi. Setelah semua daging hitam itu hilang, darah bewarna gelap merembes keluar selama beberapa lama sebelum akhirnya darah bewarna merah keluar.

“Peluru.” Yinkong mengulurkan tangannya.

Zheng sedikit bingung kemudian teringat apa yang dilakukan tentara dalam film-film. Dalam situasi tanpa disinfektan, mereka menggunakan mesiu untuk membakar luka untuk mencegah infeksi.

“Tapi bukankah ada alkohol? Semprotan hemostasis dapat membersihkan infeksi juga. Kau tidak perlu menggunakan metode kasar seperti itu.” Kata Zheng.

Tangan Yinkong tetap di situ dan menggeleng. “Cedera akibat gigitan  manusia serigala. Pasti ada virus yang tersisa. Alkohol normal tidak dapat sepenuhnya membersihkannya…Peluru.”

Zheng merasa bahwa ia tidak bisa berbuat apa-apa melawan kemauannya. Dia begitu tenang sepanjang waktu seolah-olah dia tidak peduli tentang rasa sakit atau kematian. Dia bahkan tidak berkedip ketika ia memotong daging hitamnya. Ketenangan ini telah mendapatkan rasa hormatnya.

Tanpa pilihan lain, Zheng mengeluarkan beberapa peluru dari cincin. Dia dengan lembut membalik selongsong peluru dan menuangkan bubuk mesiu pada luka. Kemudian mengarahkan Hellfire Fang ke mesiu itu.

Sebuah kobaran api muncul sekejap saat pisau itu menyentuh mesiu. Tapi api langsung padam seketika itu juga. Bahu yang berdarah menjadi hangus. Yinkong jatuh tak sadarkan diri akibat rasa sakit itu dan wajahnya dipenuhi keringat, yang membuat Zheng kasihan padanya.

Dia menghela napas kemudian menuangkan alkohol di bahunya. Sensasi dingin cairan itu membangunkannya. Dia memandang Zheng dengan tenang membiarkan Zheng melanjutkannya.

Pada saat Zheng membalut bahu Yinkong, dia telah tertidur nyenyak. Gadis kecil yang seorang pembunuh ini tampak begitu polos dan lugu saat tidur, seperti gadis tetangga.

Zheng membawanya kembali ke kamar dan melihat sebagian besar yang lainnya sedang tidur, selain Zero, Jie dan O’Connell yang tetap berjaga. Setelah pertarungan di museum dan pengejaran itu, normal bagi siapapun untuk merasa lelah. Istirahat adalah cara terbaik untuk memulihkannya.

“Jadi…ayo tidur dengan tenang, lalu kita akan berjuang demi hidup kita!”

Saat tengah malam, Zheng terbangun. Meskipun yang pertama bangun bukan dia. Heng mengutak-atik sebuah busur panjang dan kebisingan itu membangunkan Zheng.

Dia melihat Zheng dan meminta maaf sambil tersenyum. “Maaf membangunkanmu…kau ingin tidur lebih lama lagi?”

Zheng melihat sekeliling dan bertanya, “Di mana Zero dan Jie?”

“Di atas atap. Zero mengatakan ia ingin melihat penyebaran pengawal mumi. Jie pergi bersamanya untuk melindunginya…Kau benar-benar tidak membutuhkan tidur lebih lama?”

Zheng menggeleng dan melihat sekitar yang lainnya yang masih tidur. Kebanyakan dari mereka sebenarnya terjaga tetapi beristirahat dengan mata tertutup atau mungkin mereka tidak ingin bangun terlalu dini dan menghadapi kenyataan. Lagipula, mereka hanya memiliki sedikit waktu sebelum dikejar oleh monster atau Tim India itu. Hidup mereka tidak lagi berada di tangan mereka sendiri.

“Busur? Apakah kau membuatnya sendiri?” Zheng mulai tertarik dengan pemuda ini. Sebelumnya saat Honglu meminta pistol, ia juga menginginkan sebuah pistol untuk Heng, tapi tidak termasuk dua pemula lainnya. Ini sudah cukup untuk membuat Zheng menyadarinya.

Heng tersenyum malu-malu dan berkata. “Ini adalah busur dari kayu Inggris asli. Bagaimana saya bisa membuatnya dengan tangan kosong? Ketika saya pergi dengan O’Connell ke pasar gelap dan melihat seorang pedagang menjual karya seni ini, aku meminta O’Connell untuk membelinya. Pedagang itu juga memberi kami beberapa anak panah…ini sebenarnya pertama kalinya saya menggunakan jenis busur ini. Aku ingin tahu seberapa kuat dan presisinya…”

Zero dan Jie membuka pintu saat ia sedang berbicara. Zero sudah bisa berjalan sendiri sekarang tapi melihat dari keringat di dahinya, nyeri di dada pasti sangat menyakitkan. Mata Jie sangat merah. Dia terus memijat pelipisnya saat dia berjalan.

Zero mulai menjelaskan distribusi pengawal mumi di bawah, yang lain mulai membuka mata mereka dan datang.

“…Pada dasarnya itu saja. Alun-alun ini penuh dengan zombie. Mayoritas para pengawal mumi berada di pintu masuk Kairo dan pelabuhan. Sekitar beberapa ratus dari mereka berpatroli di pelabuhan. Kita harus melewati beberapa ratus pengawal mumi ini belum lagi zombie yang tidak terhitung jumlahnya, jika kita ingin ke pelabuhan…”

“Tunggu.” Tiba-tiba O’Connell berkata.

Dia menggambar sebuah lingkaran di lantai. “Di sini kita. Ke timur adalah pelabuhan dan di sini…seharusnya tidak ada penjaga di sebelah barat kan? Ada sebuah garasi di sini…Haha, kalian paham maksud saya? Kita akan mencuri beberapa mobil kemudian pergi ke pelabuhan. Para penjaga tidak bisa menghentikan mobil yang bergerak dengan kecepatan tinggi. Satu-satunya yang perlu dikhawatirkan adalah Imhotep, jika dia sekuat seperti yang kau katakan…”

Zheng bergumam, “Imhotep seharusnya baru mengisap dua orang sekarang. Maka…dia belum benar-benar bangkit. Lan…”

Lan menarik sebuah kandang. Di dalamnya ada seekor kucing hitam. Kucing kecil yang lucu itu tampaknya baru saja terbangun dan melihat semua orang dengan hati-hati ketika Lan membawanya keluar dari kandang.

“Ayo pergi! Misi melarikan diri dari Kairo!”

 

Translator / Creator: isshh