February 11, 2017

Terror Infinity – Volume 6 / Chapter 2.2

 

Adegan ini juga terjadi dalam film. Ketika Imhotep telah memulihkan sebagian kekuatannya, ia akan membangkitkan orang mati menjadi mayat hidup. Bahkan beberapa manusia bisa dikendalikan oleh kekuatannya. Ketika plot dalam film mencapai titik ini, karakter utama dipaksa dalam sebuah kematian sementara penjaga museum terbunuh oleh zombie.

Heng dan Liang memasuki ruangan juga. Heng mengatakan, “Ini bukan satu-satunya masalah. Film ini…ehem, saya juga sudah menontonnya. Bukankah hanya bisa membangkitkan orang mati? Peluru magic harusnya mampu membunuh mereka tapi beberapa mayat, dagingnya terlepas lalu pasir dan tanah membentuk armor dan senjata untuk mereka. Mereka terlihat seperti…”

O’Connell meneruskan kalimatnya, “Ya, skeleton itu tampak seperti pengawal mumi yang anda panggil. Tiga atau empat dari sepuluh mayat menjadi seperti itu. Kami hampir saja ketahuan saat perjalanan kembali. Mereka tampaknya sedang mencari sesuatu. Saya berharap mereka belum menemukan tempat persembunyian kita…”

Zheng mendesah. “Plot berubah. Kita berada dalam situasi yang mengerikan…”

Honglu kemudian merenung. “Saya penasaran. Apa misi Tim India? Untuk menghidupkan kembali Anck-su-Namun. Dan apa misi kita? Untuk membunuh Imhotep…ini tampaknya tidak masuk akal. Mereka dapat dianggap barada pada posisi sebagai sekutu Imhotep tapi kita diletakkan dalam posisi yang kurang beruntung seperti ini. Ini sangat tidak masuk akal…Mungkinkah kita melupakan sesuatu.”

Tiba-tiba mereka mendengar kicauan seekor burung di jendela. Itu seekor elang putih kecil hinggap di jendela. Pria berjubah hitam melambaikan tangannya, elang itu mendarat di pergelangan tangannya.

Dia melepas secarik kertas dari cakarnya. Setelah membacanya, ia mengambil secarik kertas dari sakunya dan mengikatkannya di cakar. Kemudian elang itu terbang keluar jendela.

“Orang asing yang kuat. Suku kami dan saya adalah keturunan dari pengawal Firaun. Kami telah menjaga Hamunaptra selama beberapa ribu tahun untuk mencegah kebangkitan Imhotep. Kami bersedia untuk mengorbankan apa saja untuk mengalahkan dia. Kami telah mengumpulkan pasukan kami dalam perjalanan ke Hamunaptra. Apakah itu pasukan mayat hidup Imhotep atau orang asing yang mencoba untuk menghidupkan kembali Anck-su-Namun, suku kami…bersumpah dengan pedang dan kemuliaan kami untuk menghentikan dan menghancurkan mereka!” Orang itu memberikan sumpah setianya.

“Film kedua!” Kata Zheng dan yang lainnya.

Dalam film kedua, Medjai mengirim semua prajurit mereka, lebih dari sepuluh ribu kavaleri untuk melawan pasukan mayat hidup di padang gurun. Kemampuan mereka sangat luar biasa dan benar-benar mampu mengalahkan pasukan mayat hidup gelombang pertama. Jadi bahkan jika mereka melawan zombie dan pengawal mumi yang jumlahnya tak terhitung, mereka masih mampu melakukan perlawanan.

“Iya! Mereka memiliki Imhotep dan pengawal mumi. Kita memiliki bantuan sekutu…kita tidak akan kalah!”

Meskipun kekuatan baru ini bukan individual yang kuat, tetapi jumlah mereka yang besar ini mampu mempengaruhi akhir film ini. Honglu kemudian membuat penyesuaian rencananya dengan sekutu baru.

Zero ditugaskan ke lokasi yang tidak jauh dari kavaleri. Ketika kavaleri menahan Tim India dalam perjalanan ke Hamunaptra, ia akan menembak dalam kekacauan itu. Kemungkinan mereka menemukan lokasi Zero dalam kekacauan tersebut akan sangat kecil. Pada saat yang sama, seluruh tim akan memiliki cukup waktu untuk masuk ke makam dan mendapatkan Kitab Amun-Ra. Setelah mereka mengambil keabadian Imhotep, mereka akan berada dalam posisi yang menguntungkan.

Karena rencana telah ditetapkan, semua orang memutuskan untuk tidur siang sebentar setelah makan. Kemudian mereka akan pergi ke pelabuhan dan merebut kapal. Mereka pasti bisa mencapai Hamunaptra sebelum Tim India. Tentu saja cara paling aman adalah mencegat mereka dengan kavaleri. Dan lebih baik jika kavaleri bisa membunuh mereka.

Saat jam makan, Yinkong mengambil kotak pertolongan pertama dan sebotol alkohol keluar pintu. Zheng melihatnya dan mendesah kemudian mengikutinya keluar diam-diam. Yinkong menaiki beberapa anak tangga menaiki tangga menara jam kemudian membuka kotak pertolongan pertama dan mengambil pisau bedah.

“Yang mengawasi di sana…kemari dan bantu,” kata Yinkong dengan tenang.

Zheng menggaruk kepalanya dan langsung berjalan agak malu saat melihat Yinkong memotong bajunya dan memperlihatkan kulit putih di bawah lehernya dan cedera di bahunya yang mengerikan itu.

“Gigi werewolf ini mengandung beberapa jenis virus. Daerah yang terluka di bahu saya telah mati rasa. Dalam legenda, orang yang digigit oleh manusia serigala akan terinfeksi dan juga menjadi manusia serigala. Meskipun virus yang dia punya tidak terlalu kuat, setengah tubuh saya hampir lumpuh…Lihat luka ini? Daging yang menjadi hitam terinfeksi virus. Bantu aku hentikan itu…” Yinkong masih tenang saat ia mengatakan ini. Dia menyalakan kompor alkohol dan memanaskan pisau bedah atas api. Ketika Zheng mendekatinya, dia menyerahkan pisau bedah tanpa kata-kata.

Zheng dengan tenang kemudian melihat cedera mengerikan itu. Sebuah area besar kulit dan dagingnya telah berubah ungu kehitaman, itu tampak mengerikan. Tangan yang memegang pisau bedah mulai gemetar. Yinkong berkata dengan pelan. “…Orang terakhir yang membantu saya melakukan operasi…adalah sahabat saya. Kami berada di tim yang sama selama pelatihan dan misi. Tapi dia tewas di tangan saya sendiri…Sebagai seorang pembunuh, banyak orang secara perlahan akan menjadi gila karena pembunuhan dan kekejaman pelatihan. Sama seperti manusia serigala Arot itu. Ketika seorang pembunuh tidak bisa menangani cobaan mereka dan mereka berubah…saat itulah mereka akan dilenyapkan. Arot seharusnya berakhir seperti itu…”

Zheng mengambil napas dalam-dalam dan ketika ia menghela napas, matanya terfokus. Dia mulai memotong daging hitam sedikit demi sedikit dengan kecepatan dan ketepatan. Pisau bedah menari-nari di atas bahu Yinkong…

Translator / Creator: isshh