February 8, 2017

Terror Infinity – Volume 6 / Chapter 1.2

 

Ada terlalu banyak kejutan saat ini, tidak ada yang berusaha untuk mengajukan pertanyaan sekarang. O’Connell berlari lebih dalam ke lembah begitu ia mendengar Zheng. Evelyn, Jonathan dan penjaga museum juga mengikuti. Mereka menyaksikan Zheng saat mengambil beberapa potongan mumi dan pasir dari sakunya, kemudian mengangkat Kitab Orang Mati dan meneriakkan mantra yang diajari Tengyi sebelum kematiannya.

Selagi energi darah disalurkan ke dalam kitab, campuran itu tumbuh membesar dan akhirnya menjadi beberapa penjaga mumi. Zheng melambaikan tangannya kemudian para pengawal itu berlari ke lembah.

Lan bertanya, “Ada bahaya apa di belakang kita…mereka berhasil mengejar kita?”

Zheng mengangguk. “Saya tidak bisa memastikan tapi aku merasakan bahaya dari belakang. Semoga para pengawal mumi ini dapat menunda mereka sedikit lebih lama. Ya…”

Ketika mereka mendengar kata-katanya, orang-orang berlari di belakang O’Connell, menyeberangi rumah dan lembah. Setelah mereka melompati dua rumah warga sipil, Evelyn bertanya, “O’Connell! Apakah ini yang anda maksud dengan jalan pintas? Melewati rumah-rumah penduduk? Apakah anda benar-benar orang Inggris? Apakah anda tidak tahu ini adalah perilaku buruk?”

“Saya British…” Dia menjawab sambil berlari. “Tapi bukan seorang gentleman. Setidaknya tidak seperti seorang gentleman, saya tidak akan hanya menciummu. Ha ha.”

Wajah Evelyn memerah. Dia mengutuknya pelan tapi masih mengikuti tepat di belakangnya. Orang lain tertawa karena mereka melihat mereka saling mengejek. Ini adalah satu-satunya peristiwa ringan selama pelarian mereka. Kemudian sebuah rumah tidak jauh dari mereka runtuh.

“Mereka di sini…” Zheng bergumam sambil menatap di atasnya. Dia memegang pisau begitu kuat sehingga jari-jarinya tampak pucat.

Ular tersebut telah pulih kepalanya, membuat pegawal mumi tidak dapat menahannya. Ular itu menggigit dua dua pengawal kemudian melempar mereka ke dinding, langsung menghancurkan seluruh rumah. Tapi dua pengawal yang tersisa masih melompat kea rah biarawan itu tanpa rasa takut.

Namun ular bergerak terlalu cepat, menangkap kedua pengawal itu ketika mereka melompat ke biarawan itu, lalu menghancurkan mereka dengan sebuah gigitan.

“Shainaia…Lokasi mereka!” Kata biarawan itu ke udara.

Begitu ia mengucapkan kata-kata ini, peta daerah ini muncul di benaknya. Kelompok Zheng berjalan di peta ini. Mereka semakin menjauh dari biarawan itu tapi sepertinya mereka melambat.

“Mereka mencapai markas mereka? Baik, kita dapat melenyapkan mereka semua sekaligus!” Biarawan itu tertawa dingin. Ular itu menurunkan salah satu kepalanya dan biarawan itu melompat ke atasnya. Kemudian ular itu menghilang, sehingga terlihat seperti biarawan itu mengambang di udara. Dia mengambang menuju Zheng dalam garis lurus, menghancurkan semua rumah yang dilaluinya.

Kelompok Zheng telah benar-benar berhenti di satu tempat dalam pikirannya. Mereka sedang menunggu di area kosong tanpa bangunan. Mungkin mereka berencana untuk mengerahkan semua kekuatan untuk melawan Tim India.

“Berencana untuk mengerahkan semuanya? Baik, akan saya tunjukkan kekuatan tersembunyi dari ular ini…”

Tanpa berhenti sedikitpun, biarawan itu berlari ke daerah kosong itu. Kemudian sebuah petir menyambar dari bawah, di tempat Zheng berdiri, meledak batu besar di tempat itu. Tapi tidak ada siapapun di sini, ini tampak seperti hanya tempat kosong normal!

Namun, peta di pikirannya masih menunjukkan bahwa Zheng benar di bawah dia. Mereka hanya berdiri di sini tanpa bergerak. Dia tidak bisa menemukan jejak mereka bahkan setelah ia turun dari ular…Mereka telah menghilang.

“Shainaia! Apa yang salah? Di mana mereka?” Teriak biarawan itu.

Setelah sedikit keterlambatan, suara masuk ke pikirannya. “Ketua, seseorang menyusup ke pikiran saya. Aku tidak bisa merasakan lokasi mereka…”

Dia dengan tenang dan berkata, “Bagaimana dengan Lamu? Dan sniper itu?”

“…Dia berhasil kabur. Satu hal lagi, ketua…Minima berhenti bernapas. Arot juga kembali ke bentuk manusia. Kembalilah cepat, saya takut bahwa ia mungkin juga tidak selamat.”

Biarawan itu mengambil napas dalam-dalam dan meraung. Wajahnya tampak terdistorsi, seperti Asura dari neraka. Semua yang tersisa di matanya hiruk-pikuk dan kemarahan…

Kelompok Zheng sebenarnya tidak berlari dengan sangat cepat. Untungnya mereka memiliki buff percepatan dan stamina dari Lan. Jika tidak seorang gadis normal seperti Evelyn tidak akan mampu berlari seperti ini. O’Connell tahu kota ini luar dalam. Mereka semakin dekat dan dekat dengan pusat kota. Pada saat yang sama, Zheng menghela napas lega.

Lan bertanya cemas, “Apa yang salah? Mereka semakin dekat?”

Zheng tersenyum. “Tidak, bahaya sudah berlalu. Aku tidak tahu kenapa, tapi rasa bahaya hilang. Sepertinya mereka tidak mengikuti kita lagi. Huu ~. Kita akhirnya bisa bernapas lega sekarang.”

Menara jam masuk penglihatan mereka dan di depan mereka, Jie menggendong Zero dengan berlari menuju ke arah menara…

Sebuah darah merendam satu titik di dadanya…

 

Translator / Creator: isshh