February 1, 2017

Terror Infinity – Volume 5 / Chapter 9.3

 

“Apa yang kalian tunggu! Cepat turun! “Zheng bergegas ke museum dan berteriak. Pada saat yang sama, dinding di lantai dua bergetar, retak muncul dan mulai meluas. Evelyn menjerit saat melihat itu. Untungnya dia cukup cerdas untuk segera berlari menuruni tangga.

O’Connell dan karakter lain mengeluarkan senjata mereka tapi sebelum mereka memiliki kesempatan untuk melakukan apa-apa, dinding di lantai kedua meledak. Seorang pria raksasa setinggi tiga meter datang dari lubang itu. Dia melihat Zheng dan segera berteriak, “Kamu lemah hanya tahu cara berlari! Kemari dan lawan saya!” Dia melompat turun dari lantai dua bahkan sebelum ia selesai berbicara.

Zheng sedikit terkejut saat melihat pria berotot it. Lengannya telah benar-benar sembuh. Selain dari warna kulit yang terlihat lebih putih, lengan berotot itu masih sama seperti sebelumnya. Pria itu melompat di antara Evelyn dan yang lainnya. Kakinya menginjak ke lantai beton menyebabkan dua jejak kaki penyok. Bisa dilihat berat badan dan kekuatannya dari lompatan itu.

Pria berotot itu bahkan tidak melihat ke Evelyn. Dia meraih rak buku dan melemparkannya ke arah Zheng. Meskipun lemparan itu cukup kuat, akurasinya sangat buruk. Rak itu terbang di atas kepala semua orang dan menghantam rak kaca di belakangnya.

Penjaga museum itu mengerang dan hendak berteriak ketika O’Connell, dua orang Amerika, dan pria jubah hitam menembaki pria berotot itu. Namun peluru mereka bahkan tidak bisa menembus kulitnya.

“Sial! Zheng, dari mana kau membawa monster ini! Apakah dia bawahan mumi itu?” O’Connell berteriak sambil terus menembak.

Zheng berteriak menjawab, “…Dalam arti tertentu, ya, dia ada di pihak mumi. Pokoknya kalian cepat pergi. Ini bukan pertempuran yang dapat kalian ikuti. Tengyi! Bawa mereka keluar dari museum!”

Evelyn berteriak, “O’Connell! Jika kau berani meninggalkanku, aku tidak akan memaafkanmu bahkan jika saya menjadi mumi!”

O’Connell mengangkat bahu sambil tersenyum pahit. Dia mengeluarkan pistol lainnya dan berteriak, “Sial, kenapa aku harus bertemu seorang wanita sepertimu! Cepat kemari!”

Zheng melihat pria berotot itu menuju Evelyn. Dia tidak punya pilihan selain mengeluarkan pisaunya dan melompat ke pria itu. Dia menebas kaki pria itu sebelum Evelyn diserang.

Pria itu segera melompat menjauh. Dia sudah beberapa meter dari tanah ketika pisau sampai kepadanya. Pada saat yang sama ia meninju ke bawah. Tekanan besar dari pukulan itu memaksa Zheng untuk memblokir dengan pisaunya. Dengan ledakan keras, tanah di sekitar mereka runtuh. Mereka berdua jatuh ke ruang bawah tanah.

Semua orang terkejut. O’Connell bertanya, “Ada ruang bawah tanah?”

Penjaga museum mengangguk. “Ya, ada ruang bawah untuk menyimpan dokumen, tablet rusak, dan mumi rusak…Apakah anda yakin mereka adalah manusia?”

O’Connell menatap lantai dua dan berkata, “Saya tidak tahu apakah mereka manusia atau tidak, tapi jika kita tidak lari sekarang…Saya tidak berpikir kita akan menjadi manusia lebih lama lagi.”

Pria kurus yang tertembak itu berdiri di tangga di lantai dua. Tidak ada jejak tembakan pada dirinya, seakan peluru tidak berguna melawan dia. Pisau melengkungnya itu sangat aneh, mereka dikelilingi oleh kabut dingin. Pria itu melompat turun tanpa kata-kata kemudian beralih ke Evelyn.

Tepat pada saat itu, dua gadis memasuki museum dari lokasi yang sama saat Zheng masuk. Tangan gadis berambut pendek melintas, sebuah pisau lempar bewarna perak terbang ke arah leher pria itu, memaksa dia untuk menarik pedangnya kembali untuk memblokir pisau. Dampak benturan itu melemparkannya mundur sejauh satu meter. Ketika ia mendarat di tanah, Evelyn sudah berjalan ke dalam pelukan O’Connell.

Dua gadis yang masuk adalah Yinkong dan Lan. Lan mengerutkan kening saat ia melihat lubang besar di tanah. “Kalian pergi duluan. Kita akan bicarakan nanti…Wind Spirit!”

Yinkong sudah berlari ke arah pria kurus itu sambil memegang pisaunya. Lan segera memberikan buff percepatan pada dirinya. Kecepatannya yang luar biasa menjadi lebih cepat. Pisau itu beradu kontak dengan pisau melengkung dalam sekejap. Saat darah menetes dari lengan kiri pria itu, salah satu pisaunya juga jatuh ke lantai.

“Kau, kau juga dari klan pembunuh!” Wajahnya tiba-tiba berubah. Dia bahkan tidak mencoba untuk mengambil pisaunya, melainkan mundur secepat yang dia bisa.

Mata Yinkong tampak haus darah. Dia bergerak menuju pria itu dengan santai langkah demi langkah, tapi kecepatannya jauh lebih cepat daripada pria itu. Saat ia hendak memasuki jangkauan serangan, ia segera membalik mundur. Beberapa pisau lempar muncul di posisi dia berdiri…Bukan, bukan pisau lempar melainkan pisau bedah. Sesosok putih keluar dari lantai dua. Seorang dokter pirang seperti orang Eropa berdiri di depan pria kurus.

Di sebelah jendela di lantai dua, seorang biarawan ditambah beberapa pria dan wanita yang berdiri di sana. Biarawan itu menatap semua orang di lantai pertama dengan tatapan menggoda…Sama seperti bagaimana kucing melihat tikus yang berusaha kabur, haus darah, kejam…

Translator / Creator: isshh