January 24, 2017

Terror Infinity – Volume 5 / Chapter 8.1

 

Ketika pria berotot memukul Zheng terbang dengan kekuatan yang sangat besar, Zheng secara naluriah menendang perut pria itu. Dia terbang dan menabrak tembus sebuah rumah, lalu daya pukulan itu melemparkannya sejauh hampir seratus meter sebelum ia berhenti.

Zheng segera melompat setelah ia mendarat. Dia merasakan rasa sakit dari bahu melanda. Setiap gerakan diikuti sakit luar biasa, tapi ia mengepalkan gigi dan berlari melewati rumah lain. Selanjutnya ia bergabung ke dalam kerumunan di jalan dan perlahan-lahan melesat pergi.

Setelah dia agak jauh dari lokasi pertempuran, Zheng akhirnya mendapat kesempatan untuk memeriksa cederanya. Dia merobek bajunya. Ada tanda tangan terlihat pada bahunya dan sendi daerah bawah terkilir. Untungnya setelah penambahan enhancement dia memliki daya tahan yang cukup tinggi, ditambah ia menangkis beberapa benturan ketika ia dipukul. Melalui ini juga menunjukkan kekuatan pria itu. Selama pukulannya mengenai seseorang, orang itu pasti akan kehilangan kemampuan untuk bertarung.

“Tapi dia tampaknya kurang bisa mengontrol kekuatannya…dia tidak memberikan rasa bahaya, kalau tidak aku pasti akan masuk ke modus membuka batasan genetik secara otomatis…” Zheng mengertakkan gigi kemudian mendorong bahunya ke atas. Rasa sakit yang hebat memancar dari bahu, sebagai gantinya sendi yang terkilir itu kembali ke tempatnya. Dia memutar lengannya. Selain sedikit rasa sakit, tidak ada masalah lagi.

“Kau baru menyebutkan…modus membuka batasan genetik?” Sebuah suara dingin datang dari samping. Zheng berbalik dan melihat seorang pria dengan jas laboratorium berdiri di bawah bayang-bayang bangunan.

‘Tidak merasakannya…Bahkan tidak bisa merasakan keberadaannya. Kapan dia sampai di sana?’

Zheng mengambil napas dalam-dalam dan mengeluarkan pisaunya. Pada saat yang sama ia mengambil senapan mesin ringan dengan tangan satunya. Bahkan kemudian ia masih merasakan tekanan yang datang dari pria pirang ini. Tekanan yang jauh lebih kuat dari pria berotot itu. Meskipun terdapat jarak di antara mereka, ia masih merasakan suasana dingin. Itu adalah perasaan kematian.

Pria pirang itu menatap Zheng dingin, lalu mengerutkan kening. “Jangan khawatir, saya tidak bermaksud untuk melawan anda sekarang. Aku hanya ingin memberitahukan anda…Hubungi tim anda dan suruh mereka melepaskan Muhammad Yusuf. Maka kita tidak akan saling menyerang. Juga beritahu pemimpin anda bahwa selama tidak ada satupun dari tim kami tewas, kesepakatan ini akan berlangsung hingga akhir film.” Kemudian ia berbaur ke dalam kegelapan dan menghilang di depan mata Zheng.

Telapak tangan Zheng berkeringat. Dia tidak tahu mengapa pria itu memberinya tekanan seaneh itu. Dia harus mencoba yang terbaik untuk fokus, sepertinya pria pirang itu akan menyerangnya di detik berikutnya. Tidak lama setelah orang ini menghilang, ia dapat mengambil beberapa napas dalam.

“Zero? Apakah Yinkong menangkap salah satu anggota mereka?” Zheng mengeluarkan perangkat komunikasi sambil berlari.

“Iya. Aku akan memberitahu rinciannya ketika kau kembali…”

Sebelum Zero selesai berbicara, suara Honglu terdengar. “Zheng? Kami tidak dapat mengungkapkan lokasi kami sekarang. Kau juga tidak akan menemukan kami dari perangkatmu. Datang ke alun-alun di pusat Kairo maka kami akan memberitahumu di mana kami berada.”

Zheng melihat ke alat komunikasinya dengan kebingungan kemudian mengatur jarak pencarian ke max, yang termasuk sekitar seperempat luas Kairo. Perangkat dari sisa anggota lainnya juga muncul dalam pencarian tetapi perangkat ini masing-masing di lokasi yang berbeda, membentuk lingkaran di sekitar pusat Kairo.

“Jadi begitu…strategi yang bagus!”

Zheng segera memahaminya. Itu mungkin rencana Honglu untuk menempatkan perangkat tambahan sekitar alun-alun dan hanya memegang satu untuk mereka sendiri. Jadi jika seseorang jauh dari tim terbunuh atau dikendalikan, musuh akan harus mencari titik-titik satu per satu. Juga karena semua lokasi perangkat berada dalam jangkauan pandangan, siapapun yang mencoba untuk mencari lokasi pasti akan mati…oleh senapan sniper Zero!

Zheng perlahan berjalan ke alun-alun. Dia memusatkan perhatiannya pada lingkungan sekitar dan bahkan melompat melalui beberapa rumah dan lembah. Beruntung tampaknya tidak ada siapapun yang mengikutinya. Lalu dia bergegas dan mencapai alun-alun dengan cepat. Begitu dia muncul di alun-alun, perangkat komunikasi berdering.

“Zheng, pergi ke pusat alun-alun dari posisimu sekarang, kemudian terus lurus sampai kau keluar dari alun-alun. Jangan melakukan apa-apa saat ini…Yinkong akan melihat apakah ada orang yang mengikutimu. Ayo jalan.”

Setelah mendengarkan kata-kata ini, Zheng mengambil napas dalam-dalam dan berjalan ke tengah. Dia merasa ada seseorang yang mengawasinya dari jauh. Meskipun itu membuatnya tidak nyaman, ia tidak merasa bahaya. Perangkat berdering lagi setelah ia keluar dari alun-alun.

“Kami berada di atas menara jam selatan alun-alun. Datang cepat, saya ingin menunjukkan sesuatu yang menarik. “Seiring dengan suara Honglu diikuti suara logam yang terkoyak.

Beberapa menit kemudian, Zheng mencapai puncak menara jam. Dia membuka pintu ke kamar dan melihat semua orang berdiri di sekitar meja. Mereka bahkan tidak bereaksi ketika ia memasuki ruangan. Zero dan Jie berbalik untuk melihat ke arahnya kemudian kembali ke menatap meja.

Zheng hendak mengeluh tentang bahaya yang dihadapinya, seperti hampir hampir tewas oleh pria berotot itu. Tapi reaksi yang lainnya memicu rasa ingin tahunya. Dia cepat berjalan ke meja kemudian hampir muntah…Seorang Arab berjenggot tergeletak di atas meja. Honglu telah membedah perutnya dan mengambil meriam mini dan rudal. Ada juga belati menyala di punggungnya.

 

Translator / Creator: isshh