January 10, 2017

Terror Infinity – Volume 5 / Chapter 4.2

 

Tiga orang Amerika itu berjalan ke Zheng dengan botol kaca. Seorang profesor tua mengambil buku hitam ke dalam tendanya kemudian mencoba untuk membuka buku.

“Hai, O’Connell. Menurutmu seberapa mahal benda-benda ini? Haha, saya mendengar kau menemukan mumi yang masih basah. Itu sangat lucu. Mungkin kau bisa mengeringkannya di bawah sinar matahari dan menggunakannya untuk membuat api…” Salah satu orang Amerika tertawa terbahak-bahak.

Zheng tahu bahwa plot itu berjalan normal saat ia melihat tiga orang Amerika di sini. Evelyn mengambil beberapa cangkang kumbang dari tasnya dengan senyum licik. “Lihatlah apa ini. Sisa-sisa scarab. Mereka adalah serangga pemakan daging. Kami menemukan mereka di dalam peti mumi. Scarab ini dapat hidup selama beberapa tahun ketika mereka memiliki tubuh untuk dikonsumsi…Teman mumi kita itu dimakan oleh scarab ini. Oh dan dia masih hidup ketika ia sedang dimakan.”

Para Amerika menelan ludah dan merasa merinding di seluruh tubuh mereka. Tapi karena mereka adalah orang-orang yang datang untuk memulai percakapan, itu tidak mudah bagi mereka untuk pergi. Jadi mereka hanya bisa terus mendengarkan Evelyn.

O’Connell memahami maksudnya dan berkata. “Seseorang melemparkan scarab ke peti mati dan membiarkannya mati perlahan-lahan?”

“Sangat, sangat lambat. Dia bisa merasakan scarab merangkak dalam tubuhnya sebelum ia meninggal…Dari apa yang saya tahu, hukuman ini disebut kutukan Hom Dai, kutukan paling ganas di Mesir. Ini digunakan pada orang-orang dengan dosa terburuk. Saya tidak pernah mendengar itu digunakan pada siapapun dalam sejarah Mesir…”

Salah satu orang Amerika bertanya penasaran. “Itu sangat mengerikan. Mengapa mereka tidak menggunakan hukuman ini? Apakah kau tidak berpikir itu terlalu…kejam?”

Evelyn memutar matanya. “Alasan mereka tidak melaksanakannya adalah karena konsekuensi dari hukuman. Orang-orang Mesir percaya bahwa jika korban bangkit dari kematian, maka mereka akan mendatangkan sepuluh wabah Mesir. Orang berdosa yang dihidupkan kembali akan memiliki kekuatan yang tak tertandingi dan membawa kehancuran pada Mesir.”

Para Amerika merasakan kengerian itu dan memutuskan untuk kembali ke tenda mereka. Tentu saja, Evelyn memperhatiakan buku yang ada di tangan profesor sepanjang waktu. Dia berbaring dan berpura-pura tidur. Yang lainnya juga segera pergi tidur setelahnya. Grup Zheng saling memandang, mereka semua tahu apa yang akan terjadi. Evelyn akan mencuri Kitab Orang Mati dan tidak sengaja membacanya, menghidupkan kembali Imhotep.

Semua orang merasa bertentangan. Di satu sisi misi mereka adalah untuk melenyapkan Imhotep sehingga pertama mereka harus menghidupkannya kembali, tapi setelah ia bangkit, mereka harus menghadapi mumi dan tim lainnya. Perasaan yang mengetahui bahwa mereka menempatkan diri mereka dalam bahaya namun mereka tidak punya pilihan lain ini sangat mengerikan.

Saat tengah malam. Evelyn menyelinap ke tenda profesor, mengambil buku dari tangannya kemudian menyelinap kembali.

“Apakah anda tahu ini disebut mencuri?” O’Connell bergumam dengan mata tertutup.

“Tapi…kau dan kakak saya menyebut ini meminjam.” Evelyn tertawa. Dia mengambil kotak puzzle dari tasnya dan meletakkannya ke atas buku.

O’Connell bangun dan bertanya ingin tahu. “Saya kira Kitab Amun-Ra berwarna emas…Tidak pernah menyangka warnanya hitam.”

Evelyn menggeleng. “Kitab Amun-Ra berwarna emas tapi ini bukan…ini adalah kitab lainnya, saya pikir itu adalah Kitab Orang Mati…”

O’Connell menjadi serius. “Kitab Orang Mati? Lalu kenapa kau bermain-main dengan itu?”

Evelyn tertawa. “Ini hanya sebuah kitab. Tidak ada salahnya membaca buku…”

Zheng tiba-tiba berkata dari dekat. “Maka anda pasti tahu cara membaca hieroglif. Tengyi, kau juga tahu bagaimana membacanya kan?”

Evelyn dan O’Connell terkejut. Mereka segera memberi tanda pada Zheng untuk menurunkan suaranya kemudian mereka mendengar Tengyi kata. “Jika itu membaca karakter dan memahami maknanya, maka saya bisa… asalkan karakternya  tidak terlalu tidak umum.”

Evelyn memutar matanya. Dia membuka buku. Ketika dia melakukannya, sebuah angin dingin menyapu melewati mereka, berkedip-kedip api unggun tersebut.

Evelyn tidak terlalu memperhatikan itu. Dia membaca dengan suara rendah. “……….”

Tepat saat ia selesai, Zheng, Zero, dan Yinkong segera bangkit. Mereka tidak bisa tenang karena rasa bahaya. Sensasi begitu kuat itu membuat mereka cemas. Salah satu bagian dari bahaya datang dari bawah dan bagian lain dari bukit-bukit di barat.

Profesor tua juga terbangun dan berteriak. “Tidak, anda tidak boleh membacanya!”

Zheng adalah yang pertama bereaksi, dia mengeluarkan pisau dan dengan cepat memanjat tiang di dekatnya. Dia memandang ke barat dan samar-samar terlihat sekelompok orang yang berdiri di atas bukit. Namun karena keterbatasan penglihatan pada malam hari, ia tidak bisa melihat berapa banyak orang berada di sana.

Pah!

Zheng secara naluriah memindahkan pisau ke depan wajahnya dan batu menghantam pisau tersebut. Tenaga yang berasal dari batu itu membuat tangannya sedikit mati rasa dan ia jatuh dari pilar.

Untungnya dia bereaksi tepat waktu dan menendang pilar ketika ia masih di udara. Dia berguling di tanah ketika mendarat, menghindari cedera.

Kamp lainnya juga terbangun tapi sebelum mereka bisa bertanya apa yang terjadi, mereka mendengar suara sayap serangga mengepakkan dari jauh. Beberapa detik kemudian, mereka akhirnya melihat apa yang membuat kebisingan. Ini adalah kelompok belalang yang tak terhitung jumlahnya terbang ke arah mereka. Hanya dengan melihat itu cukup untuk membuat mereka merinding.

O’Connell menarik Evelyn dan mengikuti yang lainnya ke dalam makam. Zheng menatap ke arah barat, sensasi bahaya itu mencegah dia untuk menoleh ke arah lain. Untungnya Jie dan Zero melihat dan membawanya ke makam.

Afar dari Hamunaptra, sensasi itu perlahan menjauh…

 

Translator / Creator: isshh