January 6, 2017

Terror Infinity – Volume 5 / Chapter 3.2

 

Jonathan sedang bermain poker dengan orang-orang Amerika tersebut. Seseorang bisa tahu peruntungannya dengan melihat ekspresinya. Ada sebongkah emas di sebelah orang Amerika yang duduk di depannya. Dia jelas telah kehilangan emas yang diberikan oleh Zheng.

“Hi guys, ingin bermain beberapa putaran juga?” Kata Jonathan saat ia melihat Zheng dan O’Connell. Meskipun Zheng memegang pisau progresif, itu terlihat biasa saja dan tidak ada yang menduga seberapa tajamnya itu

O’Connell itu sedikit bingung, ia bertanya Zheng. “Apa yang terjadi? Anda bertingkah aneh…”

Sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, suara tembakan datang dari seluruh kapal dan belakang kapal mulai mengeluarkan asap. Sementara semua orang shock, salah satu pelayan jatuh ke lantai saat darah mengucur dari dadanya.

Orang-orang Amerika lah yang pertama kali merespon. Mereka segera mengeluarkan senjata mereka dan mulai menembak. O’Connell tidak lambat juga, ia dengan cepat menyapu bongkahan emas dan uang tunai di atas meja kemudian berlari ke arah Zheng.

Zheng memegang pisau dan mengambil senapan mesin ringan nya. “O’Connell, lindungi Jonathan dan temui yang lainnya di dalam kabin.”

O’Connell mengeluarkan dua pistol dan bergumam. “Orang-orang berpakaian hitam ini…Bagaimana mereka tahu kita akan ke Hamunaptra? Dan mereka begitu banyak…”

“Ya, ini terlalu banyak…”

Zheng ingat di film aslinya, hanya ada sekitar sepuluh pembunuh yang menyerang kapal. Selain kebakaran, tidak cukup bagi mereka untuk membunuh semua orang. Namun mungkin keterlibatan kelompok Zheng membuat pembunuh merasa terancam, ada beberapa lusin dari mereka dan bahkan lebih sedang menaiki kapal.

Kekuatan senapan mesinnya bisa menyaingi senapan mesin berat dari era ini. Zheng memberondong ke sisi kapal, menghancurkannya dan menyebabkan sepuluh orang pembunuh itu jatuh. Semua orang menatapnya kaget sejenak.

Karena peluru yang normal tidak mahal, Zheng menembak secara bebas dan menembak banyak orang-orang jatuh dari kapal.

“Masih bagus…” Zheng telah melindungi O’Connell dan Jonathan. “Untungnya masalah ini dapat diselesaikan dengan senjata. Aku rindu menyelesaikan masalah dengan cara ini…”

Jonathan berbalik dan bertanya. “Apa yang tidak dapat diselesaikan dengan senjata?”

“Seperti roh dan…”

Zheng tiba-tiba merasakan bahaya dan melangkah di depan Jonathan dengan pisaunya, menghalangi dua peluru nyasar.

“…Dan keberuntungan.”

Jonathan juga terkejut. Dia menepuk Zheng di bahu dan berkata. “Bro Nice. Bagus…pistol.”

Seolah-olah mencuri adalah naluri, Jonathan menarik pistol dari saku Zheng tanpa berpikir dan mulai menembak. Zheng dan O’Connell tertawa sambil menggelengkan kepala mereka.

Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk berkumpul dengan yang lainnya. Evelyn, Zero, dan Jie telah membawa kembali kotak puzzle dan peta. Kapal itu berasap di semua sisinya saat ini.

Di samping mereka terdapat sepuluh orang berpakaian hitam di terbaring di lantai, dengan lubang seukuran jari di dada mereka. Yinkong membersihkan kukunya dengan serbet. Tidak ada yang akan menduga gadis kecil ini baru saja membunuh sepuluh orang dengan tangan kosong dengan ekspresi wajahnya yang tidak berubah.

Zheng memasukkan kembali pisau dan pistolnya kemudian tersenyum. “Apakah kalian sudah siap?”

O’Connell segera menjawab dengan tertawa. “Tentu saja, aku ingat pantai itu lewat arah ini…”

Jonathan sedang dalam keadaan linglung. “Apakah sudah siap? Hei, O’Connell, apa yang dia maksud dengan siap?”

Zheng tidak menjelaskan apa-apa. Dia melemparkan Jonathan ke sungai dan mengambil kembali senjatanya pada waktu yang sama. Evelyn menjerit dan menggenggam O’Connell ketika Zheng meraihnya. Zheng tetap berkeras menarik kembali tangannya saat Lan tiba-tiba berlari ke dalam pelukannya. Zero dan Yinkong sudah terjun ke sungai.

“Lalu…ayo pergi.”

Ia juga melompat sambil tertawa. Meskipun ini adalah sebuah film tapi ia sudah berinteraksi dengan karakter. Selanjutnya film ini tidak sebahaya seperti yang sebelumnya, setidaknya untuk saat ini. Jadi ia sedikit bersemangat dengan petualangan ini.

Sungai tidak mengalir terlalu deras. Kelompok ini tidak bisa dihanyutkan oleh sungai. Mereka mengikuti O’Connell ke pantai. Kapal di belakang mereka sudah dilalap api. Mereka samar-samar bisa melihat kelompok lain juga melompat dari kapal.

Meskipun tidak satupun dari mereka yang akrab dengan air, mereka berhasil berenang ke pantai dengan membantu satu sama lain. Setelah mereka sampai, Evelyn menjerit. “Astaga! Peralatan saya, pakaian saya, dan semua tulisan-tulisan saya hilang. Oh Tuhan!”

Lan telah memikirkan segala hal. Dia menggenggam Zheng selama berenang sambil memegang seekor kucing hitam dengan tangan lainnya. Ketika mereka tiba di pantai, kucing itu masih diam di lengannya tanpa banyak bergerak.

Tiba-tiba, seorang pria berteriak dari seberang sungai. “O’Connell! Hei, O’Connell! Haha, sepertinya kau sedang sial. Semua kuda ada di sisi ini. Ha ha!”

“Hei, Beni. Sepertinya kau berada di sisi sungai yang salah. Ha ha…”

 

Translator / Creator: isshh