December 15, 2016

Terror Infinity – Volume 4 / Chapter 4.2

 

Zheng kehabisan tenaga. Kalau bukan memakai buff kecepatan pada dirinya, ia hanya akan berlari pada kecepatan jogging. Saat itulah ia menyadari betapa pentingnya buff itu. Buff ini meningkatkan kecepatannya dengan tingkat konstan, bukan persentase. Itu tidak terlalu jelas terlihat ketika ia berlari pada kecepatan normal, tapi sekarang ia lemah, itu menunjukkan pentingnya buff itu.

Zheng akhirnya mencapai menara jam sebelum hantu sampai kepadanya. Dia menghancurkan pintu dan kemudian berlari ke dalam menara.

Hantu besar telah benar-benar pulih sekarang. Dia berdiri dari tanah dan mulai bergerak ke arah menara perlahan. Zheng terengah-engah berat dan menyadari udara di sekelilingnya semakin dingin. Dunia melalui matanya berdarah merah karena energi darah bersirkulasi dalam tubuhnya. Dia juga bisa melihat beberapa bayangan hijau dan putih di bagian atas menara. Indranya mengatakan kepadanya bahwa hantu kecil itu menunggu di sana.

Karena ia tidak memiliki Qi untuk mengaktifkan medan gaya cincin itu lagi, ia meletakkan pisau kembali ke dalam cincin dan mengambil senapan mesin ringannya. Namun, dia tidak punya waktu untuk mengganti magazine senjata itu saat ini. Dia hanya memiliki sebuah magazine berisis setengah peluru untuk membantu dia mencapai puncak…Energi darah adalah harapan terakhirnya. Dia tidak ingin menyia-nyiakannya kecuali jika terpaksa.

“Ah!”

Zheng menangis putus asa sambil menarik pemicu pada hantu yang merangkak turun dari atas…

Pada bangunan lain jauh dari atas, Zero berbaring di atap dalam kelelahan. Senapan gauss tepat di depannya, namun tidak ada orang yang bisa menggunakannya. Yinkong berdiri di samping Zero melawan hantu yang merangkak ke arah mereka.

Dia tidak terampil dengan senjata api tapi bisa membuka kendala genetik dan pelatihan sebagai seorang pembunuh memungkinkannya untuk bertarung dalam jarak dekat sebaik Zheng. Dia mengeluarkan bubuk mesiu dari peluru kemudian mengenakan cangkang peluru di jari-jarinya. Hal ini memungkinkan dia untuk membunuh hantu dengan tangannya.

Mereka berdua terkepung saat banyak hantu merangkak di dari semua sisi. Jika bukan karena serangan Yinkong dalam modus membuka kendala genetik, mereka akan tenggelam dalam lautan hantu.

“Bagaimana? Sudah baikan? Cukup untuk membidik?” Dia bertanya mendesak tanpa menoleh.

Zero berjuang untuk duduk dari lantai dan bergumam. “Tidak, pengelihatan saya masih kabur. Saya sangat mengantuk. Saya tidak bisa menembak dalam kondisi seperti ini…Beri aku satu atau dua menit…”

Yinkong berhenti sejenak tapi saat dia mulai menggerakan tangannya lagi, gerakannya tidak sehalus sebelumnya…

Jie dan Tengyi tidak lebih baik daripada dua grup lainnya. Mereka adalah orang-orang pertama yang menghadapi hantu karena mereka berada di tepi taman. Untungnya Jie bereaksi tepat waktu dan segera menembaki mereka. Kemudian Tengyi juga mulai menembak sambil berguling dengan pistolnya.

“Apakah kita akan mati? Jie, kita akan mati?” Tengyi bertanya panik saat ia menembak.

Jie tiba-tiba berbalik dan memukulnya, menjatuhkannya ke tanah. Dia berteriak. “F*ck you! Bukankah kita masih hidup? Jika kau ingin mati, ya lari saja ke mereka! Jangan bicara di sampingku!” Lalu ia berpaling kepada hantu-hantu itu lagi.

Tengyi terdiam sejenak dan kemudian juga mulai menembak lagi. Dia mengatakan kepada Jie yang berada di punggungnya. “Jie, jika saya bisa selamat hidup-hidup, saya akan membayarmu kembali pukulan ini. Sial…gigi-gigi saya lepas.”

Jie tertawa lalu berkata. “Jika kita bisa hidup…jika kita semua bisa hidup, aku tidak peduli sama pukulanmu…”

“Zheng…hidup kita semua ada di tanganmu. Jangan gagal!”

Zheng tidak tahu berapa banyak lagi tangga di depannya, atau berapa banyak hantu yang ada di atas. Dia tidak bisa kembali lagi. Tangga di belakangnya juga dipenuhi dengan hantu. Ia hanya bisa terus naik sampai ia memisahkan diri dari mimpi buruk ini…Jika dia tidak mau mati, maka dia harus mencapai puncak!

Zheng terus berlari menaiki tangga sambil menembaki hantu. Kakinya tidak bisa dibuat untuk berlari lagi, kalau bukan sedikit kekuatan tekad yang mendorongnya, dia mungkin tidak akan mampu mengangkat kakinya. Itu sudah lama sejak ia masuk ke modus membuka batasan genetik. Ini adalah durasi terpanjang sejak ia mendapat kemampuan ini. Sama seperti di film Alien, genetikanya berada di ujung kerusakan…Dia tidak punya cara untuk kembali sekarang!

Dia akhirnya mencapai puncak sebelum senapannya kehabisan amunisi. Dia menendang pintu metal yang mengarah ke atap saat ia mengosongkan peluru yang tersisa. Hantu besar itu menatap langsung ke arahnya dari balik pintu dan tangannya telah mencapainya.

“Ah! Pergi ke neraka!”

Zheng mengaktifkan semua energi darahnya dan berlari keluar atap dan ke dada hantu itu…di mana tubuh utama Kayako berada…

Di dada hantu besar itu ada seorang wanita paruh baya (bukan Kayako) dengan wajah dan tubuh yang terpelintir. Dia berdecit saat Zheng menyentuhnya kemudian menguap ke dalam udara yang tipis.

Setelah hantu pertama hilang, yang lain mulai mengkerumuni dirinya. Meskipun energi darah cukup kuat untuk membunuh mereka hanya dengan sentuhan, jumlah energi berkurang drastic sangat cepat. Sudah tersisa 60 persen hanya beberapa detik.

Jie dan yang lainnya melihat bahwa hantu itu memancarkan sebuah cahaya hijau ketika Zheng menyentuh mereka. Ini adalah cahaya saat mereka menguap hilang tapi intensitas cahaya ini perlahan-lahan mulai memudar. Yang menandakan jumlah energi darah masih ada tersisa. Pada saat yang sama, ia telah mengkorosi sebuah lubang di dada hantu itu.

“…Zheng! Itu kamu yang ada di dada hantu itu?”

Zheng berkonsentrasi dengan intens kemudian tiba-tiba ia mendengar suara Yinkong melalui perangkat radio. Dia berteriak membalas. “Ini aku…Jika aku mati, maka lari sejauh yang kalian bisa. Waktu hampir habis. Ok, jangan bicara dengan saya. Saya tidak memiliki waktu luang!”

 

“…Kenapa kau melompat ke sana? Apakah kamu…sudah tahu titik lemah Ju On itu?” Kata Yinkong tenang.

“Aku…sial, ya! Saya menemukan titik lemahnya! Tubuh utama Kayako mungkin di tengah dada! Jangan bicara padaku, aku tidak bisa fokus!” Urat-urat bermunculan ke permukaan dahinya saat ia berteriak.

“Zheng…Saya Zero. Saya tidak tahu apakah saya bisa mengunci target, tapi layak dicoba. Saya hanya memiliki cukup stamina untuk membuat satu tembakan…terlalu terang di sekitarmu, saat cahaya sedikit meredup, berikan aku sinyal!”

Zheng terdiam. Dia tidak tahu bagaimana meresponnya karena dengan adanya cahaya itu berarti ia masih memiliki energi untuk membuat korosi pada hantu. Setelah cahaya ini menghilang, ia akan kewalahan oleh banyak hantu itu.

“Zero…kau hanya memiliki satu kesempatan. Saat cahaya menghilang, tembak melewati bahu kiri saya. Di situlah tubuh utamanya berada!”

“…Baik!”

Setelah diputuskan, Zheng tidak mencoba untuk mengaktifkan energinya lagi. Ia bergerak maju sebaik mungkin yang ia bisa dan mengkorosi semua hantu di jalan. Dalam beberapa detik ia mendekati tubuh utama Ju On ini.

“Chu…Chu Xuan!”

Tiba-tiba, ia berhenti saat melihat salah satu hantu. Tidak seperti yang lain, hantu ini tidak memiliki wajah dan tubuh terpelintir. Dia hanya tampak seperti orang normal. Kalau bukan kulit berwarna hijau pucat, ia akan tampak identik dengan orang yang normal.

Zheng tidak mengkorosi Xuan segera. Dia menaruh rasa hormat pada pria ini. Dan anehnya, Xuan tidak melompat ke arahnya seperti hantu lainnya. Sebaliknya, ia berjalan di sekitar Zheng dan memblokir beberapa hantu di belakangnya. Dia bahkan merasa seolah-olah Xuan mengangguk saat dia melewati Zheng…

“Apakah itu ilusi? Atau…Xuan! Saya akan membalaskan dendammu!”

Itu adalah hantu terakhir di depannya. Satu-satunya yang tersisa adalah Kayako berukuran manusia normal. Zheng mengerahkan seluruh energi ke tangan kirinya dan memukulnya. Saat energi darah menguasai tubuhnya, dia menunjukkan ekspresi rasa sakit untuk pertama kalinya. Hantu itu memutar tubuhnya mencoba untuk menghindari tinjuannya tetapi Zheng mengabaikan hantu-hantu yang mendatanginya dari belakang dan hanya terus menyalurkan energi ke Kayako. Dia perlahan-lahan menjadi lebih kecil dan lebih kecil saat energi mengkorosinya dari dalam…

Ketika hantu itu mencapai Zheng dari belakang, dia sudah menghabiskan semua energy terakhirnya. Hantu mulai menyerap kekuatan hidupnya tetapi ukuran Kayako juga telah berkurang sebesar seperlima. Hanya satu serangan terakhir…untuk membunuhnya!

“Zero! Sekarang!”

Dengan ledakan keras, Zheng merasa sebuah kekuatan masuk dari bahu kirinya dan mulai bergerak menuju tangannya. Kemudian peluru keluar dari telapak tangannya dan mengenai Kayako, membunuhnya. Kekuatan besar itu menghancurkan seluruh lengannya dan juga membuat sebuah lubang besar di dada hantu besar ini.

Zheng kemudian mendengar seorang wanita menangis samar-samar dan tak lama setelah itu muncul ratapan dari banyak pria dan wanita. Hantu yang membuat wanita besar itu secara bertahap menghilang dan Zheng mulai jatuh dari udara. Sepasang lengan yang kuat menangkapnya sebelum ia mencapai tanah.

“…Kita berhasil…Zheng, kita…eh? Aku juga menerima sebuah reward…”

Zheng merasa bahwa ia mendengar suara rekan-rekannya. Pada saat ini…dia merasa berdiri sama tingginya dengan Xuan…Mungkin rekan-rekannya terkadang akan menjadi beban, atau pemimpin dingin yang dapat menyelamatkan sebagian besar tim. Tapi saling mendukung dan bergantung pada satu sama lain, mempercayakan hidupnya ke tangan rekan-rekannya…itu adalah tim yang ia harapkan!

Pada saat ia terbangun, dia berada di dalam beam cahaya. Seluruh tubuhnya gatal dan sakit. Tapi ia juga merasakan kesegaran bersamaan dengan rasa sakit itu.

Dia menoleh untuk melihat ke bawah. Seorang gadis kecil menatapnya. Matanya penuh dengan air mata, tetapi di bawah air mata itu adalah sebuah senyuman.

Translator / Creator: isshh