December 8, 2016

Terror Infinity – Volume 4 / Chapter 2.2

 

"Zero, Yinkong, menunggu di lokasi sniping di atap. Kita akan berkomunikasi melalui perangkat radio. Jangan tembak sampai aku perintahkan. Gelombang berikutnya, hantu akan menyerang orang yang menyerangnya...Jie dan Tengyi, kalian tunggu di sini. Jika hantu mengikutiku, silahkan tembak..."

Zheng mematikan perangkat radio dan berkata kepada mereka buru-buru. Lalu ia berlari keluar taman.

Jie berteriak padanya. "Zheng! Ke mana kamu pergi?"

"Untuk menepati janjiku! Dan...untuk menyelamatkan tim kita!"

Sebuah tim ada karena memiliki kemampuan untuk menyatukan orang-orang dengan kepentingan yang sama. Kepentingan bersama mereka saat itu untuk bertahan hidup dengan bantuan satu sama lain. Ini adalah salah satu kepentingan yang paling kuat, tapi janjinya untuk tidak pernah meninggalkan siapa pun yang menyatukan mereka bersama. Bahkan tanpa janji ini...dia akan tetap pergi. Jika tidak tim ini akan lenyap dan...ia akan hidup di bawah bayang-bayang Xuan!

Jalan ke Sunlight Hotel dari taman itu tidak jauh. Meskipun masih akan memakan waktu beberapa menit jika ia berlari ke sana. Pikiran Zheng menjadi lebih jelas saat situasi genting. Dia tidak melihat satupun taksi di jalan sehingga ia menghadang sebuah mobil yang lewat. Saat mobil akan menabraknya, ia melompat langsung ke kursi pengemudi.

Pemilik mobil terkejut seseorang tiba-tiba berlari keluar dari samping jalan. Dia segera menginjak rem tapi mobil masih melaju. Kemudian jendela depan hancur dan pemilik pingsan karena benturan.

Dia hanya merasa sedikit pusing akibat benturan. Setelah beberapa napas dalam, dia menyegarkan dirinya. Dia mendorong pemilik dari mobil dan meminta maaf. Kemudian langsung menuju ke hotel.

"Lan, bagaimana situasinya? Jangan menangis, ceritakan situasi saat ini!" Zheng menginjak pedal gas dan berteriak ke perangkat komunikasi.

Lan perlahan berhenti menangis dan bergumam. "Saya belum melihat hantu. Jimat terbakar lambat tapi jika saya mendekati pintu, itu terbakar sangat cepat. Saya hanya punya empat pesona lagi, aku tidak bisa mendekati pintu lagi...Zheng, suara apa itu, kamu menyetir?"

"Yakinlah, aku akan berada di hotel dalam waktu dua menit! Tetap tunggu aku tidak peduli apapun!"

"Tidak! Kamu tidak boleh datang ke sini! Jangan datang, Ju On akan membunuhmu...Kumohon, tidak ada yang akan mengingatmu. Jika kamu meninggal, orang-orang yang mencintaimu akan sedih...Lori akan sangat sedih." Lan tiba-tiba sangat emosional, suaranya hampir berteriak.

Zheng diam sesaat lalu berkata. "Ini adalah janjiku padamu...Aku juga berjanji Lori. Aku tidak akan mati tidak peduli apapun, saya akan bertahan...Aku akan menepati janjku, jadi aku pasti akan hidup!"

Dengan berdecit, mobil meluncur di jalan selama lebih dari sepuluh meter kemudian berhenti. Zheng menendang pintu dan berlari menuju hotel. Dia berada di dalam hotel sebelum resepsionis bisa bereaksi.

Zheng berlari melalui tangga. Kecepatannya sudah sangat cepat tapi ia masih mendengar teriakan Lan melalui perangkat. "Tidak ada lagi jimat!" Diikuti oleh tembakan dari atas.

(Kecepatan! Kecepatan!)

Zheng menjerit diam-diam dalam pikirannya. Dia dengan putus asa berusaha mengingat perasaan saat membuka batasan genetik. Setelah beberapa waktu, dia merasakan sesuatu dalam dirinya telah terbuka. Ini adalah pertama kalinya ia mencoba untuk membuka batasan genetic ketika tidak ada bahaya yang muncul mendadak...dan dia berhasil!

Namun itu harus dibayar mahal. Zheng meludahkan beberapa tegukan darah. Dia merasa lebih buruk dari mati, otot-ototnya mengejang dan kram, ia merasa seolah-olah sebuah tangan sedang mengaduk dalam perutnya, dan tulang-tulangnya berderak. Jika bukan karena jimatnya masih utuh, dia akan berpikir hantu yang telah menyerangnya.

Seiring dengan rasa sakit ada sensasi kekuatan yang lebih besar daripada saat sebelumnya ia membuka kendala genetik. Naluri yang tak terhitung jumlahnya berjuang, kemampuan untuk merasakan bahaya, dan teknik untuk menggunakan kekuatannya membuatnya merasa begitu kuat.

Jika seseorang melihat gerakan Zheng sekarang, mereka akan takut. Karena ia berjalan merangkak di dinding. Kecepatannya sangat cepat sehingga membuatnya tetap di dinding tanpa jatuh...seperti binatang.

"Ah!"

Zheng menjerit saat ia sampai di lantai di mana Lan berada. Pada saat yang sama, jimat di sakunya mulai terbakar. Itu terbakar lebih cepat dan lebih cepat saat ia bergerak lebih dekat ke Lan. Lalu ia melihat kamar dengan pintu terbuka.

Situasi di dalam membuatnya marah. Lan berdiri di sana gemetar. Sebuah tangan putih pucat mengulur dari belakang dan meraih lehernya. Kemudian kepala seorang wanita muncul di samping bahunya.

Zheng berlari ke Lan dan menempatkan jimat di wajahnya. Wanita pucat itu mundur sementara membuat suara ‘kakaka’, terdengar seolah-olah dia baru saja terbakar. Setelah dia berhasil lolos, Zheng mengeluarkan senjata semi otomatis dan membrondongnya ke wanita itu. Wanita itu tertawa menyeramkan saat peluru magic mengenainya.

Lan jatuh ke lantai setelah hantu menjauh darinya. Kemudian tubuhnya mulai gemetar. Jimat di wajahnya terbakar lebih cepat. Hanya butuh beberapa saat untuk seluruh jimat habis terbakar. Tapi pucat di wajahnya berangsur-angsur mereda dan darah mulai mengalir kembali.

"Yang kedua..." Lan mencoba membuka mulutnya. Tapi dia sangat lemah sekarang yang suaranya nyaris tak terdengar.

Untungnya Zheng dalam keadaan membuka batasan genetik dan bisa mendengar suaranya. Dia memegangnya sambil mengambil jimat terakhirnya dan meletakkannya di wajahnya. Dia bertanya terburu-buru. "Kedua apa?"

"Yang kedua...itu gelombang kedua..."

Gelombang kedua, maka gelombang ketiga juga akan menyerang dari belakang?

Mata Zheng menjadi tajam. Dia meletakkan Lan dan berlari ke dinding terdekat. Dia berlari ke dinding saat perasaan bahaya menyapu dirinya. Kemudian tangan pucat muncul dari balik lehernya tapi sebelum tangan bisa mencapai dia, dia berputar di udara dan menghantamnya...menggunakan tangan yang mengenakan cincin Na. Dia menyalurkan Qi nya ke cincin dan pukulan langsung mengenai wanita itu. Aura yang tak terlihat di sekitar cincin itu seperti asam. Wanita itu segera menghilang setelah aura itu menyentuhnya.

"Ini adalah gelombang ketiga. Kemudian gelombang keempat...diserang oleh banyak hantu?"

Zheng segera berlari ke Lan setelah ia mendarat di lantai. Bersamaan saat ia menggendongnya ke dalam pelukannya, suara kakaka datang dari segala arah, seperti beberapa ratus hantu yang sedang membuat suara menyeramkan ini terdengar tanpa henti. Perasaan bahaya mencapai tingkat ekstrim. Itu perasaan teror seperti kematian mendekat.

Telapak tangan pucat pertama mencapai pintu. Seorang wanita pucat dengan tubuh bengkok merangkak di dinding. Lalu ada kedua, dan ketiga...

Zheng mulai menembak dengan pistolnya. Meskipun pistol itu tidak terlalu kuat, tapi cepat dan bisa membawa cukup banyak peluru bersamaan. Setelah membunuh sepuluh perempuan, rasa bahaya datang dari belakang. Dia berbalik dan melihat lebih banyak tangan yang merangkak naik dari jendela. Dia berlari ke jendela setelah menembak mereka jatuh kemudian ia tiba-tiba tenang ketika ia memandang ke luar jendela.

Jalan-jalan di luar hotel dipenuhi dengan wanita-wanita pucat itu. Ada hampir seribu dari apa yang dia lihat dan siapa yang tahu berapa banyak lagi di luar jalan. Kematian hanya masalah waktu...

"Lan, kau percaya padaku? Bahkan jika itu terlihat seperti kematian..."

Tenaga Lan telah pulih sedikit. Dia mengangguk ringan dan berkata. "Iya. Bahkan jika kau ingin aku mati...Aku akan tetap percaya kamu." "Ok!"

Zheng membungkus Lan dalam rompi anti pelurunya...Sama seperti saat dia membawa Lori. Mereka saling berpegangan Dengan erat.

"Pegangan! Percayalah...kita akan selamat!"

Kemudian Zheng menjerit kesakitan. Lan terkejut, lengan kanannya mulai memperbesar dengan cepat. Itu tampak tiga kali lebih tebal lengan orang normal. Otot menggembung seperti organisme yang bermutasi.

"Jadi ini adalah tahap kedua dari mode membuka batasan...Pegang aku! Lan!"

Zheng memegang Lan dengan tangan kirinya, dan pisau progresif dengan tangan kanannya yang bermutasi. Dia menghancurkan jendela dengan tendangan kemudian melompat menuruni hotel. Itu lantai dua belas dari Sunlight Hotel...

"Ah!"

Tepat saat Zheng melompat keluar, ia menikam pisau ke dinding. Keduanya mulai jatuh sangat cepat seiring dengan irisan di dinding yang disebabkan oleh pisau.

Translator / Creator: isshh