December 6, 2016

Terror Infinity – Volume 4 / Chapter 1.2

 

Zheng langsung menjawab. “Ini Xuan? Di mana kau? Apa itu suara menyeramkan dari tadi malam? Halo?”

“…Jika anda mendengar pesan ini, itu berarti saya sudah mati. Pesan ini akan dikirim dua belas jam setelah saya meninggal. Sebagai pesan terakhir saya…bisa bertemu kalian semua…terima kasih.”

“Kalau begitu, aku memverifikasi dugaan terakhir saya…”

“Kebal terhadap serangan fisik? Ilusi? Atau mungkin…Arnold, serang!”

“Seperti yang diharapkan…tidak ada reward. Dan dibutuhkan banyak peluru magic untuk membunuh hantu itu…”

Suara Xuan terdengar melalui perangkat tersebut dan bersamaan dengan itu, suara tembakan. Zheng meletakkan perangkat di meja kopi.

“Arnold, hati-hati belakangmu, hantu itu kemungkinan akan menyerang orang yang melukainya.”

“…Kontak fisik menyebabkan kehilangan kontrol tubuh?”

“Harus menyerang setiap bagian dari tubuh…”

Beberapa tembakan dan suara benda besar jatuh ke tanah.

“Masih tidak ada reward, apakah petunjuk angka tujuh pada…”

“Hantu itu menjadi lebih kuat setelah setiap gelombang…Aku telah membunuh tiga kali jadi ini adalah gelombang keempat?”

“Gelombang keempat!”

“Tidak! Masih tidak ada reward,  tidak ada pemberitahuan. Ini akan terus…”

Setelah beberapa saat diam, mereka mendengar pertengkaran antara seorang pria dan seorang wanita. Kemudian wanita itu menjerit dan tak lama setelah itu diikuti oleh suara pisau menebas daging.

“Ilusi? Atau…”

“Bagian yang terkena serangan menghilang kemudian masuk ke dalam usus saya. Bagaimana dia melakukannya? Bukan serangan fisik dan juga bukan serangan mental…Serangan jenis ini tidak bisa dijelaskan oleh ilmu pengetahuan.”

“Ini tidak mungkin tidak ada. Dengan kata lain, serangan normal tidak efektif. Hanya saat dia menyerang…”

“…Terasa begitu kembung. Saya masih lebih suka makanan lezat…”

“Gelombang kelima adalah…lebih!”

Kemudian datang suara kakaka menyeramkan, seakan hantu yang membuat suara itu tepat di dalam perangkat komunikasi.

“Tak terlihat? Atau itu…di dalam tubuh saya?”

“Jadi ini adalah gelombang keenam? Menyerang organ dari dalam…”

Setelah beberapa tembakan, terdengar suara benda lain yang jatuh ke tanah.

“Zheng, ini adalah petunjuk terakhir saya…Terima kasih…”

Itu adalah akhir dari pesan.

“Xuan…”

Zheng mendesah. Dia mengambil napas dalam-dalam lalu berkata kepada Lan. “Lan, kau bisa menyimpulkan apa yang terjadi? Aku bisa ingat setiap kata, bisakah kau mencoba untuk menganalisis itu?”

Lan menatapnya aneh, lalu mengangguk ringan. “Ini dimulai saat Xuan bertemu dengan Ju On, mungkin cukup jauh darinya. Itu sebabnya ia masih bisa berbicara sambil menembak. Dia menggunakan peluru biasa pada awalnya, karena itulah ia mengatakan hantu kebal terhadap serangan fisik. Kemudian ia menyuruh Arnold menyerang hantu itu, kali ini dengan peluru magic…”

“Lalu?” Zheng duduk dan berpikir sejenak. “Apakah Arnold membunuh hantu itu? Tidak, jika iya lalu apa yang menyerangnya setelah itu? Hantu lainnya?”

Lan juga berpikir sedikit. “Mungkin itu menghilang sementara. Kemudian kembali bahkan lebih kuat. Mungkin itu yang dia maksud…Dia memperingatkan Arnold untuk mewaspadai belakangnya. Mungkin karena hantu sudah mencapai Arnold. Jadi dia mengatakan jangan bersentuhan dengan hantu itu. Kemudian…”

“Kemudian Xuan membunuh Arnold bersama dengan hantu itu.” Zheng mendesah.

Lan mengangguk. “Xuan tidak mengatakan apa-apa setelah itu. Hanya ada suara tembakan dan suara menyeramkan. Dia menembak tanpa henti selama beberapa saat. Saya pikir dia mungkin menghadapi banyak hantu, jadi dia tidak punya kesempatan untuk berbicara. Ini adalah serangan gelombang keempat.”

“Kemudian gelombang kelima, pertengkaran antara seorang pria dan wanita. Adegan ini juga ada dalam film. Ini menggambarkan proses pembentukan Ju On. Suami mencurigai istrinya telah mengkhianati dia. Jadi dia membunuhnya dan menyembunyikan tubuhnya di loteng. Saya pikir Xuan melihat ilusi adegan ini kemudian diserang oleh Kayako atau suaminya.”

“Dia menembak tapi menyadari bahwa peluru magic itu tidak efektif. Jadi dia menunggu hantu untuk mendekatinya. Setelah ia diserang ia menemukan bagian dari dirinya yang diserang menghilang kemudian masuk ke dalam ususnya…Eh, metode tersebut menjijikkan. Tapi karena hantu itu dapat menyerang kita, kita juga seharusnya bisa menyerang saat hantu itu menyerang. Itu mungkin bagaimana cara Xuan membunuh hantu itu sekali lagi…”

Zheng bergumam. “Kemudian gelombang keenam hantu memasuki organ internalnya? Lalu…dia…”

Lan menyentuh dahinya. “Ya, Xuan mungkin sudah…”

Zheng mendesah dalam-dalam. Tiba-tiba ia merasa sedikit kosong, seperti kehilangan seorang teman. Xuan yang tenang dan cerdas itu…

(Selamat tinggal, Xuan…aku yang seharusnya berterima kasih.)

Sepuluh detik kemudian, pikiran Zheng kembali sadar. “Ayo kita atur informasi ini. Xuan terus menyebutkan angka tujuh. Dia mengatakan Dewa tidak akan memberikan kita angka secara acak. Angka tujuh ini mungkin jumlah kita harus mengalahkan Ju On. Aku memiliki beberapa pemikiran tentang hal ini. Lan, kau tahu apa yang kupikirkan?”

Lan mengangguk dan tersenyum. “Itu kamu yang berpikir tentang apa yang saya pikirkan…Ahem, bagaimanapun, tampaknya seperti pesan Xuan, hantu Ju On ini datang kembali lebih kuat setiap kali setelah dikalahkan. Terutama yang keenam kalinya. Ini kematian yang hampir tidak dapat dihindari…Jadi, petunjuk angka tujuh itu adalah jumlah berapa kali hantu itu akan kembali. Tujuh kali…”

Zheng meneruskan. “Ketika hantu muncul untuk ketujuh kalinya, mungkin akan muncul tubuh utamanya. Kita hanya harus membunuh hantu terakhir maka kita dapat mengalahkan Ju On!”

Tidak peduli apapun tujuan Xuan, pesan ini sama berharganya dengan kitab suci. Ini membuktikan bahwa hantu bisa dikalahkan dan juga memberi mereka harapan…Ju On bukanlah sesuatu yang harus terus mereka hindari. Kadang-kadang horor itu tidak menakutkan, apa yang lebih buruk adalah ketika kalian bahkan tidak memiliki keberanian untuk melawan. Mungkin ketika kalian mengangkat senjata untuk melawan, itu hanya sedikit lebih kuat daripada monster. Kalian juga bisa mengalahkannya!

Sisa sore itu dihabiskan membahas cara mengalahkan Ju On. Mereka bisa menebak bahwa gelombang pertama akan mulai dari jauh kemudian perlahan-lahan mendekati kalian. Pada titik ini kalian hanya harus menyerang dengan peluru magic. Hantu ini mungkin menakutkan bagi orang normal, tapi bagi mereka, selama mereka bisa menyerang hantu, sisanya akan mudah.

Gelombang kedua dan ketiga mungkin muncul dari belakang. Mereka harus menyerang keduanya baik hantu atau orang.

“Rompi anti peluru, kita perlu lima rompi anti peluru. Kita juga perlu enam helm untuk berjaga-jaga dari peluru nyasar. Zero, bisa kau dapatkan dari yakuza?” Tanya Zheng.

Yinkong tiba-tiba berkata. “Jika hanya rompi anti peluru dan helm, saya pikir saya bisa mendapatkan mereka dari polisi. Tapi kita harus menunggu sampai besok siang…”

Zero juga mengatakan. “Aku juga bisa mendapatkan itu kira-kira besok siang.”

Zheng mengangguk. “Baik, kalau begitu aku akan menyerahkannya kepada kalian berdua. Dapatkan mereka besok siang. Untuk gelombang keempat, jika kita akan diserang oleh banyak hantu, aku pikir kita perlu area terbuka yang luas. Berada di kamar atau lorong akan merugikan kita. Aku sarankan mulai malam ini, kita akan berkemah di taman. Akan lebih baik taman itu mempunyai lebar lebih dari seratus meter. Ada pendapat lain?”

Selain Lan, yang lainnya mengangguk. Jie tiba-tiba bertanya. “Bagaimana dengan gelombang kelima? Bagaimana seharusnya kita menghadapi hantu? Kita hanya bisa melakukan serangan balik saat hantu itu mulai menyerang. Dan bagian yang terkena serangan akan masuk ke usus kalian…”

“Jadi.” Zheng tersenyum. “Jadi selama gelombang kelima, aku akan jadi umpan! Aku sangat sensitif terhadap bahaya saat dalam keadaan membuka batasan genetik. Aku akan menghindari serangan dan jangan lupa aku memiliki senjata yang bisa melawan hantu, cincin Na. Ini adalah kesempatan yang baik untuk menggunakan cincin Na untuk menyerang ketika hantu mendekat.”

“Jadi biarkan aku menjadi umpan untuk gelombang kelima. Itu adalah rencana terbaik untuk keselamatan seluruh tim!”

 

Translator / Creator: isshh