December 5, 2016

Terror Infinity – Volume 4 / Chapter 1.1

 

Zheng dan kedua lainnya menunggu sampai daerah itu ramai kemudian keluar dari bawah pohon. Karena pakaian Yinkong bernoda darah, Zheng memberinya jaket sambil merangkul bahunya seperti kakak memegang adiknya.

Jie dan Yinkong menatapnya heran. Zheng tersenyum tenang. “Ini terlihat lebih alami dengan cara ini. Setelah kita sampai di dalam hotel, mengobrol saja tentang hal-hal random. Lebih baik jika dapat tetap tersenyum. Kitai tidak akan menarik perhatian dengan cara ini…Hoho, tidak apa-apa kan tetap merangkulmu untuk sementara, Yinkong?”

Dia memalingkan wajahnya dan menjawab dingin. “Tidak apa-apa.”

Zheng dan Jie menyadari sosoknya begitu berbeda saat ia menanggalkan jaketnya. Dada gadis kecil itu begitu besar itu langsung menarik perhatian mereka.

Meskipun Yinkong tidak peduli dengan tatapan mereka, ekspresinya berubah sedikit ketika Zheng menaruh jaketnya ke dirinya. Jadi itu sebabnya dia tidak kesal ketika Zheng melingkarkan lengannya di pundaknya.

“…Jie, Yinkong, aku kira pemikiran kita salah. Mungkin itu terlalu percaya diri atau mungkin aku kurang fokus setelah kembali dari dunia nyata, sehingga aku lupa tujuan awal kita…untuk bertahan hidup.”

“Kita semua hanya ingin bertahan hidup.”

Selagi mereka berdua tampak bingung, Zheng tersenyum pahit. “Jie, apakah kamu masih ingat apa yang aku katakan kepadamu dalam film terakhir? Aku bilang aku akan melakukan yang terbaik untuk melindungi rekanku, untuk percaya dan mendukung mereka, maka kita akan bertahan dengan kekuatan tim…pemikiranku salah. Masalahnya adalah siapa yang bisa menjadi temanku?”

“Seperti orang-orang normal itu, mereka bermental lemah dan dapat menyeret kita dalam bahaya, dan mereka yang dapat mengkhianati kita pada saat-saat kritis tidak memenuhi syarat untuk menjadi rekan kita. Namun aku menerima semua pemula ini. Ini adalah kesalahan fatal.”

“Aku akan melanjutkan ideologiku. Kekuatan rekan sangat penting. Kita harus saling percaya dan saling mendukung. Aku tidak akan memperlakukan setiap orang layaknya sebuah angka seperti yang Xuan lakukan! Tapi aku akan mengubah kesalahanku. Hanya orang-orang yang mendapatkan kepercayaan dari semua orang dalam tim kita, memiliki bakat, dan lulus test yang bisa menjadi rekan kita. Bagi orang-orang normal itu…”

Zheng terdiam ketika ia sampai pada kata-kata ini. Jie dan Yinkong menatapnya diam.

“Bagi orang-orang normal itu…Aku dapat menawarkan mereka bantuan, seperti senjata dan peringatan, tetapi nyawa mereka tidak akan menjadi alasan untuk menempatkan tim ini dalam bahaya. Jika diperlukan, aku akan meninggalkan orang-orang normal itu demi tim. Xuan benar tentang ini. Ini adalah dunia yang kejam, semua orang hanya berjuang untuk tetap hidup. Kita sama…”

Tidak butuh waktu lama, bus mereka sampai di Sunlight Hotel. Beruntung mereka sebagai turis, mereka dengan mudah berbaur ke dalam kerumunan dan menaiki tangga. Mereka tidak ingin menggunakan lift karena bau darah. Sampai mereka naik lebih dari selusin lantai dan membuka pintu kamar, mereka menghela napas lega.

Zero, Lan dan Tengyi sedang sarapan di meja. Selain dari perban di kepala Tengyi, mereka tampak seperti dalam kondisi yang baik. Setidaknya mereka tidak panik ketika pintu terbuka.

Zero bertanya. “Baik-baik saja?”

Zheng menjawab dengan senyum. “Ya, tinggal dalam kegelapan untuk semalam. Untungnya kami belum dibunuh oleh hantu…”

Suasana menjadi santai. Zheng dan dua lainnya juga duduk untuk sarapan. Setelah makan, Zheng mengumpulkan mereka duduk di sofa kemudian berdiri di antar mereka.

“Maafkan aku.” Zheng membungkuk pada mereka lalu berkata. “Ini adalah kesalahanku. Aku lupa bahwa hal yang paling penting sebagai pemimpin…adalah untuk bertanggung jawab atas keselamatan tim, dan bukan semua orang seperti penyelamat. Mereka ingin hidup. Kita juga ingin hidup. Maaf…mulai sekarang, aku hanya akan bertanggung jawab untuk tim kita. Aku dapat membantu pemula tapi tidak akan mengambil risiko tim kita untuk membantu mereka. Pada saat yang sama, setiap pemula yang ingin bergabung dengan tim kita harus memiliki bakat, menjadi seseorang yang bisa kita percaya dan lebih dari setengah anggota tim harus setuju…Maaf! Mari kita melakukan yang terbaik untuk bertahan hidup!”

Lima orang lainnya menatapnya kaget. Jie adalah orang pertama yang melompat. “Zheng, kau tidak perlu menyalahkan diri sendiri. Kami semua terlalu ceroboh. Kami juga bertanggung jawab atas hilangnya kitab suci…”

“Tidak, saya pikir dia benar.” Yinkong membenarkan posisi jaket dan berkata dengan tenang. “Sebagai seorang pemimpin, mungkin anda tidak perlu memiliki kekuatan luar biasa, atau kecerdasan yang tak tertandingi. Yang anda butuhkan adalah untuk dapat mengidentifikasi dan memanfaatkan kekuatan setiap anggota. Anda benar-benar memiliki potensi untuk menyatukan orang-orang di sekitar anda. Dan siapa saja yang bukan anggota tim…anda harus melihat mereka sebagai musuh sebelum mereka menjadi anggota tim.”

Zheng tersenyum padanya kemudian dia berpaling ke Lan, yang telah menatapnya dengan bingung. “Ok, cukup sekian untuk menyalahkan diri sendiri. Lan, selain Xuan, kau yang terbaik dalam analisis. Aku ingin tanya pendapatmu mengapa Dewa menempatkan kita ke berbagai film horor.”

Lan tersipu dan memaksa dirinya untuk tenang. “Mungkin biar kita merasakan pengalaman horor? Atau menghadapi kematian? Tidak…Jika kita mengikuti analisis Xuan, saya pikir Dewa ingin kita untuk berkembang, untuk menerobos keterbatasan tubuh kita di ambang kematian. Kemudian berkembang dan membuka batasan genetik. Jika Xuan benar, saya pikir ini adalah satu-satunya jawaban.”

Zheng mengangguk. “Benar, saya pikir begitu juga. Dewa mungkin tidak ingin hanya menempatkan kita dalam film horror untuk mati. Sebenarnya ada metode untuk memecahkan atau mengalahkan musuh di setiap film. Dengan kata lain, Dewa tidak akan menempatkan kita dalam situasi tanpa harapan.”

Jie akhirnya mengerti. “Maksudmu kitab suci itu petunjuk yang diberikan Dewa pada kita? Sialan, dua bajingan itu…”

“Tidak, maksudku…eh, bagaimana aku harus mengatakannya. Kitab Suci mungkin salah satu metode yang dapat melawan Ju On, tapi mengapa kita harus begitu takut kepada Ju On?”

Orang-orang lain bingung dengan apa yang dia katakan. Kemudian mata Lan berbinar saat ia memikirkan kemungkinan-kemungkinan. Zheng melanjutkan dengan senyum. “Ya, mengapa kita harus takut? Alasan utama adalah karena kita tidak bisa memahaminya. Kita telah menempatkan diri sebagai karakter film! Tapi kita lupa bahwa kita bukan benar-benar orang dari dunia ini. Kita tahu bahwa kita berjuang melawan hantu, meskipun kita tidak tahu bagaimana mereka menyerang tapi ini cukup…”

“Kita tidak benar-benar perlu takut Ju On. Anggap saja itu sebagai Alien yang tembus pandang! Mungkin mereka akan menyelinap dan menyerang saat kita lengah, tapi itu bukan sesuatu yang tidak bisa dikalahkan, selama kita memiliki keberanian untuk melawannya! Ini tidak mustahil bisa membunuh Ju On karena kita memiliki peluru magic!”

Kata-kata Zheng mempengaruhi semua orang. Mereka tidak pernah bertatap muka langsung dengan Ju On sejak mereka tiba dalam film ini. Alasan Zheng begitu takut sejak awal karena dia menempatkan diri sebagai karakter dalam film. Semua korban tewas di film. Sebaliknya jika itu adalah seseorang yang belum pernah menonton film ini dan dia punya pistol dan peluru ajaib, ia mungkin akan memiliki keberanian untuk melawan Ju On. Karena ia hanya akan menganggap hantu sebagai monster, dan bukan kutukan tak terkalahkan dan tidak dapat dihindari!

Ya, hanya menganggap Ju On sebagai monster, sebuah monster yang bisa dipukul dan dibunuh!

“Nah, kita baru saja memverifikasi satu hal. Yaitu peluru magic dapat membunuh hantu Ju On!”

Setelah Zheng selesai berbicara dan hendak membagikan tugas mereka, perangkat komunikasi yang dibawanya mulai bergetar. Dia dengan cepat menyalakannya dan ada terdengar suara yang familiar.

“Ini Xuan…”

 

Translator / Creator: isshh