December 2, 2016

Terror Infinity – Volume 3 / Chapter 6.3

 

Setelah diskusi singkat, Zero dan Lan naik ke lantai atas. Zero bertanggung jawab untuk sniping sementara Lan menjaga punggungnya. Lan juga memiliki senapan mesin kecil. Adapun Tengyi, ia masih belum pulih dari gegar otak, sehingga ia harus tinggal di kamar. Zheng, Jie dan Yinkong menggunakan lift ke bawah.

“Ketemu. Di gerbang menuju ke jalan YL. Mereka menarik uang di ATM. Ding memegang kitab suci. Ke arah kiri dari tempat kalian berdiri, kalian harus mengejar mereka dalam waktu 30 detik. Aku akan menembak setelah 20 detik…Zheng, cepat, kita perlu mengambil kembali kitab suci sebelum polisi tiba.”

“…Baik!”

Mereka bertiga berlari ke kiri, Zheng bertanya ke Yinkong. “Apakah ada cara untuk mencegah mereka memberitahu lokasi kita kepada polisi?”

Dia sedikit terkejut. “Bunuh saja mereka.”

“Membunuh mengurangi poin. Cara lain? Kau seorang pembunuh pasti memiliki beberapa metode kan?”

“Itu sederhana, memotong anggota badan dan lidah mereka, mencungkil mata mereka. Jika kau ingin sesuatu yang lebih sederhana, tusuk sebuah jarum ke dalam tulang belakang mereka dan mereka akan masuk dalam keadaan vegetatif…Kau butuh bantuanku?”

“Tidak! Aku akan memikul tanggung jawabku sendiri…”

ATM sudah terlihat saat ini dan di samping itu Renjia dan dua lainnya. Renjia menarik uang sementara Ding menatapnya. Hanya Yanwei yang melihat Zheng datang ke arah mereka, kemudian dia tersenyum pada mereka.

Dengan ledakan keras, kaki kiri Ding menghilang. Ledakan besar itu benar-benar menghancurkan kakinya. Peluru itu bahkan menembus ke lantai beton dan membuat lubang seukuran mangkuk.

Suara tembakan membuat mereka sedikit terkejut kemudian Renjia segera berbalik dan meraih Yanwei sebagai tameng. Dia megarahkan pistol ke kepalanya. Ding berteriak di tanah.

Renjia melihat Zheng berjalan di atas dan berteriak. “Jangan kemari! Kalau tidak, aku akan membunuhnya…dan kitab suci itu, Ding! Jika mereka melangkah lagi, robek kitab suci itu!”

Zheng segera berhenti. Mereka kurang dari lima puluh meter dari Renjia sekarang. “Aku tidak ingin mengatakan apa-apa lagi. Letakkan kitab suci itu dan aku akan membiarkan kalian pergi.”

Ding berteriak sambil memegang kakinya yang hancur. “Pergi dari sini! Apakah kalian tahu seberapa mengerikannya makhluk itu? Sama saja bunuh diri jika kami tidak memiliki kitab suci ini. Sial, mengapa kalian harus mengejar kami? Mengapa kalian tidak membiarkan kami mengambil kitab suci ini? Kalian kuat mengapa kalian tidak memberikan ini kepada yang lebih lemah? Meninggalkannya di ruang tamu untuk membantu semua orang? Kalian veteran hanya ingin memonopoli kitab ini!”

Zheng penuh dengan kebencian. Ini adalah pertama kalinya ia melihat sifat orang sejelek ini. Meskipun ini sering terjadi dalam buku dan film, tetapi ketika itu terjadi tepat di depan matanya, syok ini tak terlukiskan.

(Apakah saya…benar-benar salah?)

Terdengar tembakan lainnya saat Ding berbicara. Lengan yang memegang kitab suci jatuh ke tanah. Zheng dan Yinkong segera berlari ke mereka.

Namun Ding sudah membulatkan pikirannya. Dia tahu Zero membidik dia dari jauh. Dia ingat saat perkenalan. Dan tanpa ragu-ragu ia meraih suci dan melemparkannya ke jalan. Tepat setelah ia melemparkan kitab itu, lengan satunya ditembak. Kitab suci mendarat di jalan dan mobil melaju di atasnya, menghancurkan kitab suci menjadi potongan-potongan kemudian tertiup pergi oleh angin.

“Tidak!”

Zheng benar-benar marah. Dia mengangkat pisau dan mengayunkannya ke Ding. Kepala Ding terlempar jauh dan hancur oleh mobil yang lewat.

“Membunuh anggota tim. Dipotong 1000 poin. “Suara Dewa berdering di dalam kepala Zheng tetapi dia tidak memperhatikan apa yang Dewa katakan. Dia berjalan ke Renjia dengan sepasang mata merah.

Renjia begitu takut ia bahkan tidak bisa bergerak. Cairan kuning bocor dari celananya. Ketika ia melihat Zheng menatap dirinya, tubuhnya gemetar. “Jangan, jangan bunuh aku, jangan bunuh aku, bukankah kau akan kehilangan 1000 poin jika membunuh? Jangan bunuh aku…”

Ledakan keras lainnya terdengar. Tangan Renjia juga bergemetaran dan pistol yang dipegangnya jatuh. Tembakan itu menghancurkan setengah dari kepala Yanwei. Semua orang menyaksikan dengan syok saat wanita ini jatuh ke tanah. Beberapa detik kemudian Renjia mulai tertawa gila.

Sebelum Zheng bisa berbuat apa-apa, Yinkong berlari ke arah Renjia dan dengan ayunan tangannya, lengan Renjia terjatuh, lalu disusul lengan lainnya dan kedua kakinya. Dia bahkan tidak berkedip saat darah menyembur ke seluruh tubuhnya. Dia melakukan segala sesuatu yang telah dia katakan pada Zheng sebelumnya.

Zheng menggunakan semprotan hemostasis pada Renjia lalu mengeluarkan perangkat komunikasi. “Zero, jika ada kamera keamanan, tembak mereka. Dan temukan juga tempat untuk kami bersembunyi. Kami akan kembali setelah polisi pergi.”

“Mengerti. Maju lurus lima ratus meter. Ada penutup lubang yang mengarah ke selokan. Kemudian belok kanan dalam gorong-gorong, di atas lubang kedua belas seharusnya sebuah taman. Kita akan kembali pada sore hari. Ingatlah untuk mengganti pakaian bernoda darah kalian.”

“Zero, terima kasih…Aku akan minta maaf ketika kami kembali bersama…”

(Apakah saya benar-benar salah?)

Mereka bertiga mencapai taman. Itu lewat tengah malam dan kawasan itu benar-benar gelap. Mereka harus berdiri bersama-sama dengan menempelkan punggung mereka satu sama lain sehingga mereka bisa menjaga setiap sisi. Di antara mereka ada beberapa jimat.

(Apakah saya benar-benar salah? Apakah in cara yang tepat menggunakan pemula sebagai umpan dan tidak mempercayai mereka dari awal?)

Selagi kepalanya berada dalam kekacauan itu, perangkat komunikasi bergetar.

“Zero? Ada apa?”

“Ini aku…”

Suara ini… adalah Xuan!

“Saya telah melihat apa yang terjadi dan mungkin bisa menebak perasaan anda. Lalu apakah anda ingin berbicara dengan saya?”

Zheng mengambil napas dalam-dalam. “Bagaimana kau tahu apa yang terjadi? Dan di mana kau bersembunyi selama ini?”

“Tidak penting di mana kau bersembunyi. Ju On tidak akan membiarkanmu lolos hanya karena jarak. Saya juga pergi ke kuil yang kau kunjungi. Sayangnya gerbang utama tidak memiliki kemampuan pada malam hari. Nyatanya, kitab suci yang kau miliki itu mungkin benda penting untuk bertahan hidup di film ini…”

“…Apakah karena kau dapat mendengar melalui perangkat komunikasi?”

“Benar. Saya memiliki perangkat utama sehingga saya bisa mendengarkan semua perangkat yang terhubung, bahkan jika anda tidak mengaktifkan mereka.”

Zheng melihat ke perangkat kemudian tertawa getir. “Apakah kau di sini untuk menertawakanku? Ya, aku akui saya gagal, saya salah mempercayai siapapun sebagai kawan kemudian dihianati oleh orang yang sama…Xuan, apakah kau memprediksi ini akan terjadi, jadi ini alasan kau meninggalkan tim yang tidak aman ini?”

“Tidak, aku hanya ingin mencari tempat yang tenang dan melihat bintang-bintang…”

Di atas atap tidak jauh dari Sunlight Hotel. Xuan memandang langit saat ia duduk di tepi. Ia melanjutnya dengan tenang. “Tidak ada benar atau salah yang mutlak. Anda berpikir terlalu banyak…Rekan memang sangat penting tetapi sebagai pemimpin, anda tidak dapat menempatkan diri anda pada posisi yang sama dengan mereka. Semakin besar kekuatan semakin besar pula tanggung jawab. Anda bertanggung jawab untuk keselamatan semua anggota tim. Anda masih tidak tahu kapan saatnya harus menyerah dan kapan harus tetap bertahan…”

“Satu-satunya kesalahan anda adalah memperlakukan semua orang sama…Dunia ini membutuhkan pilihan. Jalur yang kita ambil, pemula yang Dewa pilih, atau survivor yang film pilih. Anda harus tahu siapa yang dapat menjadi kawan. Itu bukan orang-orang yang tidak bisa beradaptasi dengan dunia ini. Jika anda memilih mereka, mereka akan menyeret anda bersama ketika dunia ini mengeliminasi mereka.”

“Hidup adalah jalan panjang, anda akan belajar dan tumbuh secara bertahap. Saya cemburu kepada kalian…Anda akan memperbaiki diri ketika anda tahu itu salah dan tidak memiliki semua pengetahuan dari awal. Zheng, anda akan tumbuh dan ingat untuk menempatkan diri pada posisi pemimpin, tidak mengeluh seperti anggota tim. Ini juga penting untuk memilih rekan anda. Mereka yang tanpa bakat, mereka yang mungkin mengkhianati, mereka dengan hati yang jelek, anda tidak dapat menyelamatkan orang-orang seperti itu. Ingat anda bukan penyelamat. Anda tidak hidup untuk menyelamatkan mereka. Anda perlu kekuatan mereka sehingga anda dapat hidup. Jangan mengacaukan urutan…”

Zheng diam mendengarkan setiap kata Xuan. Dia secara bertahap tenang. “Mengapa kau mengatakan ini padaku? Ini tidak sesuai dengan kepribadianmu, membantu seseorang tanpa keuntungan apapun…Xuan, kau dengar?”

“Ya, saya dengar.” Xuan tertawa. “Ini tidak ada hubungannya sama sekali, saya berutang budi padamu. Ingat data yang saya dapat dari anda saat kembali ke dunia nyata? Terima kasih…Ha, sebenarnya tidak sulit untuk berterima kasih kepada seseorang.”

Zheng terdiam sedikit. “Apakah anda benar-benar mencintai…”

“Cinta negara saya? Saya pikir kau keliru. Pada kenyataannya, setelah kita memasuki dunia ini, kita tidak lagi menjadi milik dunia lain. Patriotisme agak palsu di sini…Itu karena aku akhirnya bisa beristirahat, sangat lelah…”

Xuan diam sejenak, lalu tertawa lagi. “Sepertinya waktu saya telah datang…Jika kita bisa bertemu lagi, saya harap anda dapat tumbuh menjadi seorang pemimpin sejati. Ingat tidak ada yang benar atau salah yang mutlak. Apa yang anda inginkan hanyalah untuk terus hidup kan? Jadi hancurkan semua rintangan yang mencegah anda untuk terus hidup!”

“Saya akan memberikan petunjuk. Karena Dewa dapat dianggap sebagai sebuah program, maka selain kitab suci, mungkin angka tujuh juga petunjuk. Tujuh…”

Ini adalah kalimat terakhir yang didengar Zheng. Kemudian dia mendengar suara-suara menyeramkan dari alat komunikasi. (Suara kakaka seperti saat kemunculan hantu di film)

“…Tujuh hari, mungkin angka tujuh ini adalah petunjuk berapa kali anda harus membunuh tubuh utama Ju On ini…Ini sudah terputus?”

Xuan berbalik. Tidak jauh dari dia ada seorang wanita berpakaian putih menempel di dinding. Suara kakaka berasal dari mulutnya…

 

Translator / Creator: isshh