December 1, 2016

Terror Infinity – Volume 3 / Chapter 6.2

 

Kelompok pertama yang menjaga kitab suci adalah kelompok Zheng. Mereka duduk di sana dalam keheningan. Jie mengeluarkan sebungkus rokok dan berkata. “Merasa kesal? Mengapa kau begitu marah pada seorang gadis kecil?”

Zheng mengambil rokok dan memaksa tersenyum. “Tidak terlalu kesal, aku hanya tidak ingin melihat Xuan lainnya di tim ini. Jenis orang seperti ini yang dapat mengorbankan rekan setiap saat. Aku tidak ingin melihat orang seperti ini lagi.”

Setelah ia menyebutkan Xuan, mereka bertiga terdiam lagi, seolah-olah namanya tabu. Zero mengalihkan topik. “Bagaimana kau bisa terluka? Apakah dia memiliki pisau di tangannya?”

Jie juga tampak tertarik pada pertanyaan ini. Meskipun perkelahian itu hanya sebentar tapi arteri di pergelangan tangan Zheng terluka. Peningkatan tubuh dan kemampuan vampirnya dengan cepat menyembuhkan lukanya, tapi masih bisa terlihat bekasnya.

Zheng mengangkat pergelangan tangannya. “Bisakah kalian percaya? Dia memotong kulitku hanya dengan kukunya, bahkan baja saja tidak bisa memotong kulitku dengan mudah. Bagaimana kuku gadis berusia enam belas tahun bisa lebih keras dari baja?”

Ekspresi Zero berubah. Dia menatap luka dengan teliti lalu berkata. “Hanya dengan kuku? Mungkinkah dia berasal dari klan assassin?”

“Klan assassin?” Zheng dan Jie bertanya ingin tahu.

“Assassin ada sejak zaman kuno, entah itu di Asia atau Eropa. Pembunuh generasi paling tua memiliki keterampilan sangat tinggi dan hati sedingin es. Mereka bisa membunuh orang normal dengan mudah hanya dengan tangan kosong. Pembunuh ini juga menguasai teknik pelatihan yang kejam untuk merangsang potensi manusia…Tapi saat teknologi canggih dan senjata muncul, pembunuh jenis ini berkurang. Jenis pembunuh baru mahir dalam menggunakan senjata api. Tidak peduli seberapa hebat kemampuan kalian, satu peluru kecil dari jauh akan membunuh kalian. Jadi pembunuh yang benar-benar asli hampir punah.”

“Saya hanya mendengar desas-desus bahwa masih ada dua klan pembunuh di dunia ini. Satu di Asia dan satunya di Eropa. Mereka masih memiliki teknik pelatihan yang diwariskan dari masa lalu. Jika kuku gadis kecil ini benar-benar sangat kuat, saya pikir dia mungkin berasal dari salah satu klan itu, dan merupakan anggota inti.”

Zheng ingat saat ia membuka kendala genetiknya. Jika itu adalah teknik pelatihan yang kejam, maka takut dan kematian bisa membuatnya untuk membuka kendala genetik. Juga cara dia menghadapi rasa sakit sesudahnya tampak sepertinya dia sudah terbiasa dengan rasa sakit ini. Mungkin dia benar-benar berasal dari salah satu klan itu.

“Tidak heran dia begitu sombong. Jika dia bisa bergaul bersama kita dengan damai, dia akan menjadi kawan yang dapat kita andalkan.”

Pada saat yang sama di kamar para gadis. Lan dan Yanwei menatap Yinkong dengan syok. Darah di pakaian Yinkong telah kering tetapi karena hanya ada satu ranjang di kamar ini, Lan dan Yanwei merasa kesal sampai mereka memaksanya untuk melepaskan bajunya. Meskipun Yinkong keras kepada para pria, dia benar-benar lembut dan sopan ketika ia berinteraksi dengan dua wanita ini. Setelah ia melepas bajunya, memperlihatkan sepasang payudara dililit dengan sepotong kain yang sangat erat.

Dia bergegas ke ranjang dan menutupi dirinya dengan selimut sementara kedua gadis lainnya tertawa.

“Mengapa kau harus membungkus mereka? Ini akan membuat mereka rusak dan kau akan lebih rentan terhadap kanker payudara. Bagaimana kalau kami menemani kamu untuk membeli sepasang bra besok?”

Yinkong tersipu dan berkata. “Mereka akan merepotkan jika tidak dibungkus. Yang lain juga akan mengejek saya dan menyentuh mereka  dengan sengaja. Punyaku…terlalu besar. Jika saya tidak membungkusnya, mereka akan tumbuh lebih besar.”

Yanwei mendekati Yinkong dan berkata. “Hehe, aku beritahu kamu. Mereka akan semakin besar jika kau membungkus mereka. Memilih bra yang tepat dapat menghentikan pertumbuhan mereka.”

“Benarkah?”

Lan dan Yanwei mengangguk. Yanwei membelai rambutnya dan berkata. “Siapa mereka yang kau maksud? Kau begitu kuat, kenapa tidak kau…bunuh mereka semua? Pria tidak bisa dipercaya, semua pria adalah makhluk menjijikkan!”

Lan ingin mengatakan sesuatu tapi dia mendesah. “Yanwei, apakah ada sesuatu yang terjadi sebelum kau datang ke sini yang membuatmu putus asa? Bisa kau ceritakan?”

Dia berhenti sejenak lalu tertawa sedih. “Tidak ada yang istimewa. Pacarku dan aku pergi ke luar kota dan mobilnya mogok. Kemudian sekelompok preman mengelilingi kami. Dia lari seorang diri…Apakah semua pria seperti ini? Saat mereka dalam bahaya, mereka hanya akan memikirkan diri mereka sendiri dulu?”

Lan menghela napas lagi. Dia ingat pada film terakhir ketika Zheng berjuang seperti orang gila…Tidak semua pria seperti ini.

Ketika tiba waktunya giliran kelompok kedua, Zheng menyiapkan sekaleng kopi dingin untuk mereka masing-masing. Kedua mahasiswa duduk di sana sambil membahas sesuatu dengan suara rendah, sementara Tengyi mempelajari tulisan suci penuh semangat.

Pah!

Tengyi merasakan sakit di bagian belakang kepalanya kemudian jatuh ke depan. Dua tangan di sebelah kiri dan kanan memegang dia.

Ding meletakkan asbak bernoda darah dengan pelan-pelan. Dia dan Renjia mengambil kitab suci seperti orang gila juga dengan ekspresi lega.

“Orang-orang idiot ini. Mereka tidak pernah melihat bagaimana menakutkannya makhluk-makhluk itu. Mereka pikir aman hanya dengan menempatkan kitab suci di ruang tamu. Mereka semua bisa mati…” Ding dan Renjia tertawa dengan suara rendah.

“Bisakah aku ikut denganmu?”

Suara ini membuat dua pria ini ketakutan. Renjia mengarahkan pistolnya pada asal suara itu. Yanwei bersandar di dinding dengan lingerie seksi. Dia tertawa dan berjalan ke mereka perlahan-lahan.

“Saya tidak ingin mati, bisakah kalian membawa saya juga? Aku akan bergantung pada kalian mulai dari sekarang…”

Zheng sedang tidur nyenyak. Setelah dia memegang kitab suci itu, aura dingin dan stres itu tidak pernah kembali. Dia merasa lega ketika ia berbaring. Tapi entah kenapa ia merasa dingin dan lebih dingin lagi dalam mimpinya, seolah-olah ada sesuatu yang sedang mengarah ke kepalanya dari sisi tempat tidur. Saat makhluk itu hampir menyentuh kepalanya, suara ketukan pintu yang cepat membangunkan dia dan dua lainnya.

Zheng segera terbangun dengan terkejut. Dia melihat sekilas lengan putih menghilang dari samping tempat tidur. Dia segera melompat kemudian mendengar suara Lan dari luar ruangan. “Zheng! Keluar! Kedua mahasiswa itu mencuri kitab suci!”

Mereka bergegas ke ruang tamu dan melihat Tengyi duduk di lantai dengan wajah pucat. Dengan darah di kepalanya dan hilangnya Renjia, Ding, dan kitab suci, itu jelas apa yang telah terjadi.

Lan mengatakan buru-buru. “Setelah kami tertidur, Yanwei mengatakan bahwa dia ingin ke kamar mandi. Kemudian beberapa waktu setelah alarm di ponselnya berdering. Ada kata bahaya di ponselnya. Kami berlari keluar untuk melihat dan menemukan situasi ini.”

Zheng menyentuh kopi kalengan lalu berkata dengan wajah marah. “Tetap tenang, mereka belum pergi terlalu jauh. Mungkin baru saja keluar dari hotel. Kita harus bisa menangkap mereka…Zero, apakah senapan snipermu masih dalam ransel?”

Zero terkejut dengan pertanyaan itu. “Iya. Aku memasukkannya ke dalam ransel dengan keadaan terpisah, namun karena mahalnya peluru normal dan peluru magicnya, saya hanya menukar masing-masing lima buah…maksudmu?”

“Kurang dari satu menit untuk sampai ke atap, jauh lebih cepat daripada kita ke bawah. Naik ke sana dan temukan mereka kemudian hubungi kami…lalu tembak kaki mereka! Aku akan menangkap mereka sendiri!”

 

Translator / Creator: isshh