November 26, 2016

Terror Infinity – Volume 3 / Chapter 4.2

 

Jeritan terdengar bersamaan dengan suara tembakan dari lantai atas dan lantai bawah. Pemula di lantai bawah segera berlari keluar ke jalan-jalan sambil berteriak. Enam pemula di lantai atas mematung di tempat. Kemudian Xuan berdiri.

“Saya sudah pernah menonton film ini. Banyaknya jumlah orang tidak mempengaruhi kesempatan untuk selamat. Bahkan jika kalian melarikan diri ke negara lain, bahkan jika ada puluhan orang yang berjaga, kalian masih akan tetap terbunuh…Aku akan meninggalkan tim ini, jika kita masih bertahan hidup dan bertemu lagi…Jie, masakan Nana sangat lezat.”

Xuan dan Arnold mengambil ransel mereka kemudian pergi ke bawah.

Zheng menyaksikan ia meninggalkan dalam keheningan. “Kalian dapat bertanya jika kalian memiliki pertanyaan. Lan, kamu sudah mendapatkan bonus 100 poin?”

Lan mengangguk, ia tiba-tiba teringat saat dia pertama kali melihat Zheng. Orang ini berubah begitu banyak dalam dua film terakhir, ia sudah memiliki karakteristik pemimpin.

“Kalau begitu kita akan meninggalkan tempat ini.” Zheng tersenyum pahit. “Tempat ini… tidak aman.”

Semua orang setuju dengan saran itu. Ketiga pemuda bergegas turun dengan panik. Wanita itu mengikuti mereka. Meskipun anak dan pria satunya menuruni tangga dengan tenang.

Jie dan Zero menyusul setelahnya. Mereka bisa melihat bahwa kedua orang itu mungkin memiliki beberapa bakat, atau setidaknya ada potensi. Setelah Xuan pergi, mereka sangat membutuhkan seseorang dengan kecerdasan tinggi. Meskipun Lan bisa mengisi posisi tersebut, ia tidak bisa menandingi Xuan.

Zheng memeriksa keadaan sekitar sambil memegang pistol. Kemudian ia melihat Lan menatapnya. “Apa yang kamu tunggu? Cepat, aku akan melindungimu.”

Lan tersipu sedikit. “Kau tidak perlu gugup. Biasanya ada pola dalam film jenis ini. Kita seharusnya aman dalam satu atau dua hari. Makhluk-makhluk itu biasanya menyerang saat kita lengah…Apakah kau menemukan sesuatu?”

“Jika kukatakan, saya bisa melihat…tidak, aku bisa merasakan makhluk-makhluk itu, akankah kau percaya? Aku merasakan udara kegelapan menempel di tubuh kita, termasuk saya. Ini mungkin adalah tanda Ju On…Makhluk itu akan menemukan kita menggunakan tanda ini!”

Lan segera mulai menepuk dirinya sambil berteriak. “Apakah sudah bersih? Apakah sudah bersih?” Yang membuat Jie berlari kembali ke belakang.

Ketika dia melihat Jie, ia berhenti, mendorong Jie pergi dan turun ke bawah.

“Perempuan menakutkan ya?”

“Ya, benar-benar.”

Mereka semua meninggalkan rumah sesegera mungkin. Zheng mendesah lega setelah berada di luar. Rumah itu membuatnya sangat stres ia hampir tidak bisa bernapas. Rasa bahaya ini jauh melampaui apa yang ia alami di Alien. Bagian terburuk adalah ia bahkan tidak melihat hantu tersebut.

Zheng menemukan enam pemula di luar, pria berwajah merah dan orang-orang yang mengikutinya telah hilang. Bahkan Xuan juga tidak ada.

“Sekarang jam 10 pagi, jadi pertama kita akan menemukan tempat untuk membahas bagaimana cara untuk bertahan hidup selama tujuh hari ini. Jika tidak ada masalah maka…”

Selagi Zheng memasukkan kembali pistol ke dalam ring, ia tiba-tiba melihat semua orang menatap rumah di belakangnya dengan syok. Dia bisa melihat ketakutan di mata mereka.

Zheng berbalik ke belakang dan ia melihat seorang wanita berbaju putih bersandar pada jendela di lantai dua menatapnya dengan sepasang mata hitam. Zheng tidak bisa menjelaskan bagaimana perasaannya, seolah dingin, kematian, horor, dan dendam yang tersembunyi di balik mata itu.

Ketika ia pulih dari syok, ia mengeluarkan pistol sekali lagi dan menembakan ke jendela. Namun, peluru hanya menghancurkan kaca, wanita itu tidak terlihat.

Jie dan Zero memegang dia dan berteriak. “Zheng! Tenang, kita sudah aman sekarang! Cepat pergi, kalau tidak polisi Jepang akan datang!”

Mereka menyeret Zheng pergi. Dia merasa lemah dan bahkan tidak bisa berdiri sendiri. Setelah pergi agak jauh, Zheng mengambil satu tatapan terakhir dan wanita itu ada di sana lagi…

“Kamu sudah tenang belum?”

Zero menyerahkan sekaleng coke dan Zheng memaksa sebuah senyuman. “Terima kasih untuk yang barusan…sepertinya aku telah menjadi sebuah bobot mati.”

Mereka duduk di sebuah taman kecil. Zero pergi ketika ia menyeret Zheng ke sini dan membawa kembali soda dan makanan kemasan. Meskipun rangsum yang mereka tukar tidak membutuhkan banyak poin, mereka ingin menghemat rangsum untuk keadaan darurat.

Zheng minum dan merasa jauh lebih baik. Lan berkata. “Apa kau baik baik saja? Aku sudah mengatakan kepada mereka bahwa kau dapat merasakan kutukan. Kau satu-satunya di antara kita yang bisa merasakan itu, jadi kami akan harus bergantung padamu.”

“Perasaan ini terlalu sensitif. Jika terus begini, aku mungkin jadi gila karena kengerian ini sebelum hantu-hantu menyerangku.”

Anak itu tiba-tiba berkata dengan suara dingin. “Kau tidak cukup tenang. Ketika kau menghadapi hal-hal yang tidak masuk akal, hal pertama adalah tidak panik tetapi cobalah untuk memahami mereka…Meskipun kau memiliki kekuatan seperti itu, kau hanyalah orang lemah.”

Dia mengatakan itu tanpa mengangkat kepalanya. Suaranya terdengar seperti seorang gadis, dan kulitnya bahkan lebih halus daripada Lan. Tapi dia telah membaca buku ini sepanjang waktu sehingga tidak ada satupun yang tahu dengan jelas wajahnya.

Zheng terkejut. “Ya, aku tidak cukup tenang…maka mari kita mengenal satu sama lain. Kamu sudah melihat makhluk itu tadi, jadi kau akan percaya kami sekarang, kan? Meskipun kedengarannya sulit dipercaya tapi kita berada di dunia lain…Aku akan mulai duluan. Nama saya Zheng Zha, pemimpin sementara tim ini.”

Ini adalah hasil kesepakatan mereka berempat. Mereka tidak setuju dengan Xuan selama sembilan hari itu, sehingga bahkan Zero bergabung dengan tim mereka. Meskipun Zheng hanya menganggap dirinya sebagai pemimpin sementara karena tidak ada yang tahu kapan mereka akan mati.

Jie mengambil sebuah tas berisi rokok dan menyerahkan satu untuk Zheng dan Zero. “Nama saya Zhang Jie, aku bisa diandalkan sebagai penembak.”

Lan tertawa. “Saya Zhan Lan, seorang pendukung, tidak baik dalam pertempuran tapi aku bisa membalut perban dan membantu menganalisis beberapa situasi.”

“Zero, sniper.”

Ketiga pemuda saling memandang. “Lu Renjia, aku masih seorang mahasiswa.”

“Xiao Binyi, pengangguran.”

“Qun Zhongding (Ding), mahasiswa senior.”

Wanita itu menguap. “Ming Yanwei, manajer SDM, tapi Jepang huh, saya selalu ingin melakukan perjalanan ke seluruh Jepang. Tidak menyangka bisa memenuhi keinginan ini sebelum aku mati.”

Tersisa dua orang lagi, orang yang memeriksa rumah tersebut berkata. “Qi Tengyi, aku seorang otaku…hanya bercanda, aku seorang appraiser (juru taksir)…untuk perampok makam. Saya ingin bergabung dengan tim kalian.”

Zheng tersenyum, appraiser akan menjadi seseorang yang mereka butuhkan. Dia bisa berguna dalam banyak film.

Anak itu menaruh bukunya dan ketika mereka melihat wajahnya, mereka menyadari bahwa ia adalah seorang gadis! Dia berusia sekitar lima belas tahun, dan memiliki sepasang mata yang mirip dengan Xuan.

“Zhao Yinkong, pembunuh…” Suaranya dingin. Dia kembali membaca bukunya. Zheng, Jie, dan Lan menatap ke Zero.

“Zheng, kamu seorang pemimpin jadi kamu harus menjelaskan rencana kita. Pembunuh itu baik, tim ini membutuhkan semua jenis bakat.”

Zheng mengangguk, ia khawatir jika ada konflik antara Zero dan Yinkong, tapi sepertinya mereka tidak mengenal satu sama lain. Bahkan pembunuh tidak perlu untuk saling mengenal.

“Aku pikir yang paling kita perlukan adalah Yen Jepang. Kita harus tinggal di sini selama tujuh hari, kecuali jika kalian semua ingin tinggal di jalanan.”

Zheng tertawa kemudian mengambil dua batang emas dari cincin. Dia menyerahkannya ke Zero dan berkata. “Untungnya aku menukar emas batangan ini dari Dewa. Zero, kau mungkin lebih akrab dengan dunia hitam daripada kami. Tukarkan emas batangan dengan Yen Jepang, ini seharusnya cukup untuk kita. Dan beli beberapa peta lokal. Termasuk lokasi hotel dan kuil-kuil yang ada di sini…Oh dan bisakah salah satu dari kalian berbicara bahasa Jepang?”

Yanwei dan Tengyi keduanya berkata. “Saya bisa sedikit.”

Selagi Zheng meneruskan, Yinkong juga mengatakan. “Aku bisa bahasa Jepang…mengapa kau ingin tahu lokasi kuil?”

Zheng tersenyum padanya. “Karena ada banyak kutukan di dunia ini, jadi mengapa tidak ada kuil yang bisa menghapus kutukan? Jika logika dari dunia nyata tidak berlaku di sini, maka kita akan berpikir menggunakan logika dari dunia ini.”

Dia meletakkan bukunya. “Kau cukup menarik, meskipun kamu lemah dalam kekuatan, tetapi kau tampak seperti seorang pemimpin…Ok, saya akan bergabung dengan tim.”

Selagi Zheng tersenyum padanya, Lan tiba-tiba berkata dengan suara rendah. ” Masih ada anak kecil di rumah…”

Zheng terbatuk. “Maka ini diputuskan. Zero, coba dapatkan beberapa senjata juga, kita memiliki banyak peluru magic. Cobalah untuk mempersenjatai semua orang dengan pistol.”

Zero memasukan emas batangan di sakunya dan berjalan pergi. Cuaca yang cerah, anak-anak bermain, dan orang-orang tua beristirahat di taman. Semuanya tampak begitu damai.

Tapi siapa yang bisa mengatakan dengan pasti? Ini adalah dunia film horor, terutama yang tidak dapat dijelaskan dengan ilmu pengetahuan, dunia dengan hantu dan kutukan!

Zheng mendongak ke langit, sinar matahari terasa dingin kepadanya, lalu ia teringat kembali wanita berpakaian putih itu…Siapa yang tahu berapa banyak dari mereka bisa kembali kali ini.

Translator / Creator: isshh