November 23, 2016

Terror Infinity – Volume 3 / Chapter 3.1

 

Ketajaman pisau progresif itu tak tertandingi, dengan mudah memotong pintu. Zheng menendang, membuat pintu dan dua orang di luar terlempar. Pada saat yang sama ia mengeluarkan rompi anti peluru dan senapan mesin ringan.

Rompi anti peluru ini juga berteknologi tinggi, bisa menyesuaikan ukuran tubuh seseorang. Zheng mengenakan rompi ke dirinya dan Lori, terikat di punggungnya. Dia memiliki pisau di tangan kanannya dan senapan mesin ringan di sebelah kirinya. Kemudian berlari menuju pintu keluar.

Sisi lain dari ruang interogasi itu dalam kekacauan. Mereka semua melihat Zheng mengambil barang-barang dari udara tipis. Jika hanya pisau, ia bisa menyembunyikannya di suatu tempat, tapi bagaimana dengan rompi dan senapan mesin ringan? Orang-orang dari militer tidaklah bodoh, bagaimana bisa mereka tidak menemukan barang-barang yang ada pada dirinya?

Zheng sedang memeriksa pisau hati-hati sambil berlari. Dia menemukan sebuah titik di bagian bawah pisau berkedip. Itu berukuran sebiji beras ketika ia meraih itu. Dia melemparkannya ke lantai dan sangat membenci Xuan karenanya.

Saat melangkah ke lorong, jejak orang-orang berlarian dari ujung lorong lainnya. Dia membrondong ke arah mereka dengan senapan tanpa ragu. Kemudian berlari ke arah tangga menuju ke lantai tiga. Mereka terpaksa berhenti mengejar akibat brondongan senapan mesin.

Zheng berlari cepat, udara telah menjadi tebal dan padat. Dia mencapai tangga dan melompat turun. Lori langsung berteriak tapi mulutnya segera ditutup.

Dia mendarat di lantai dengan stabil kemudian melompat ke atas tangga berikutnya. Tembakan berdatangan tepat saat ia melompat dan mendarat di mana ia berdiri.

Jumlah orang meningkat di lantai dua, namun Zheng tidak berhenti sedikitpun. Dia melompat dari satu lantai ke yang berikutnya. Kecepatannya begitu jauh lebih cepat daripada orang yang mengejar mereka. Beberapa menit kemudian ia keluar dari kantor polisi. Saat ia melangkah ke luar, sebuah peluru menggores kaki kirinya dan meninggalkan jejak yang mendalam di atasnya.

"Sniper?"

Firasat bahaya tersebut sudah pada puncaknya. Zheng menggunakan kekuatan dan Qi nya dengan maksimal. Peluru terus melewati di sisi-sisinya namun tidak satupun yang benar-benar mengenainya.

Dia tidak berani berhenti bahkan untuk sedetikpun dan terus berlari melalui jalan utama dalam garis yang melengkung. Bangunan kantornya lurus di depan jalan ini. Kantor itu satu-satunya harapannya!

Kantor polisi dalam keadaan kacau sekarang. Banyak polisi berlari ke arah garasi, orang-orang berteriak di perangkat komunikasi mereka. Kemudian seseorang tiba-tiba melihat sebuah kedipan di tanah. Jika persimpangan itu tidak segelap itu, ia tidak akan menyadarinya.

Dia berlari dan mengambil benda yang berukuran sebesar beras itu. Beberapa berkumpul di sekelilingnya dengan terkejut. "Cepat, cepat panggil orang-orang dari departemen teknologi kemari! Kolonel Chu Xuan meninggalkan perangkat posisinya! Seharusnya ada pesan yang ditinggalkan oleh dia ..."

Zheng tidak menyadari apa yang terjadi di kantor polisi. Saat ia berlari sejauh seribu meter, tembakan berhenti. Namun, ia masih berlari dalam garis melengkung untuk beberapa ratus meter. Lalu ia menghentikan sebuah mobil.

"Apakah kamu cari mati..." Seorang remaja berambut kuning mengemudi, dengan gadis cantik di kursi penumpang.

Zheng menembakan senapannya ke jalan kemudian mengarahkannya pada remaja itu. "Turun!"

Remaja itu meraih gadisnya dan melompat dari mobil tanpa kata. Saat Zheng berada di kursi pengemudi dan Lori di kursi penumpang, sebuah peluru menembus kaca bagian belakang dan jendela depan mobil.

Dia menginjak pedal gas kemudian meninju jendela depan. Suara sirene polisi datang dari belakang. Ketika ia melihat ke belakang, setidaknya ada sepuluh mobil polisi mengejarnya. Serta orang-orang menembakinya.

Remaja berambut kuning dan gadis itu syok. Sampai mobil polisi telah berlalu , gadis remaja itu berteriak. "Oh Tuhan, itu sebuah baku tembak, pertempuran pistol asli, itu sangat keren..." Remaja itu berseru ketika tiga helikopter terbang di atas mereka.

Pikiran Zheng sedang berkonsentrasi dengan intensif. Semua yang tersisa dalam pikirannya hanya jalanan di depannya. Mobil itu berjalan lebih cepat dan lebih cepat, melewati mobil lain di jalan. Namun mobil polisi mengikuti dengan ketat, tidak memberinya kesempatan apapun. Jumlah mobil yang mengejar meningkat selama pengejaran berlangsung, ia juga melihat tiga helikopter di langit.

"Sial, apa Xuan segitu bernilainya? Begitu banyak orang…"

Zheng bergumam pahit, tetapi sebelum dia bisa menyelesaikan kalimatnya, sebuah peluru mengenai tangan kirinya. Peluru itu berasal dari salah satu helikopter. Untuk sementara ia kehilangan kendali dan hampir menabrak pagar pembatas.

Zheng mengertakkan gigi dan berpegangan erat-erat dengan tangan kirinya. Meskipun tulang pergelangan tangannya remuk, dia masih bisa melakukan tindakan sederhana seperti memegang kemudi. Tangan satunya berpegangan dengan Lori.

Sniper menembakkan beberapa tembakan lebih tetapi mereka semua meleset karena kecepatan mobil. Mereka tidak mengincar ban. Jika mobil itu oleng pada kecepatan seperti itu, orang-orang di dalamnya pasti akan mati.

Mobil itu mendekati gedung perusahaan, kurang satu belokan lagi. Tapi sebelum Zheng merasa senang, puluhan mobil polisi memblokir jalan depan.

"Lori..." Kata Zheng dengan tenang.

"Eh?" Lori meletakan kepalanya di dada Zheng sepanjang waktu, dia tidak bisa melihat apa yang terjadi.

"Lori...kita tidak akan mati! Kita tidak akan! Apakah di dunia nyata atau di film...kita akan hidup!"

"Ah!!!"

Zheng menunduk dan menginjak pedal gas. Mobil itu berjalan pada kecepatan maksimalnya. Terus berjalan meskipun peluru mengenai badan mobil. Dengan ledakan keras, mobil menabrak melewati tiga mobil polisi dan menerobos barikade. Karena kecepatan sudah melambat. Penembak jitu di helikopter segera menarik pelatuk dan menembak ban. Mobil meluncur beberapa ribu meter kemudian menabrak pagar pembatas.

Kepala Zheng juga membentur roda kemudi. Roda itu hancur berkeping-keping, dan membuat luka besar di kepalanya. Dia pulih dari gegar otak hanya dalam sedetik kemudian memotong pintu dengan pisau. Zheng menendang pintu dan segera dihujani tembakan.

Tanpa pikir panjang, ia menggendong Lori di punggungnya, meraih senapan mesin ringan dan berlari keluar dari mobil. Setelah beberapa tembakan dari polisi, ia berlari ke arah gedung perusahaan. Bangunan itu terlihat, sekitar seribu meter.

Pada saat yang sama, sekelompok peneliti di kantor polisi. "Ini terkunci, passwordnya adalah password pribadi Kolonel Chu Xuan!"

Xuan berbicara di monitor, dan printer yang terhubung ke komputer ini mencetak cetakan biru tanpa henti. Namun tidak ada satupun yang melihat cetakan biru itu. Mereka semua menatap Xuan dengan terkejut. Setelah file berakhir, beberapa peneliti berlari ke cetakan biru dan mulai melihat setiap halamannya.

"Nyata, itu nyata, semua nyata! Ha ha…"

"Ya, itu semua nyata! Ini adalah Gauss canon jarak jauh! Hal yang tidak bisa diselesaikan Wang semasa hidupnya..."

"Ini adalah daftar komposisi baterai dengan efisien tinggi. Itu benar-benar ada! Li, kamu meninggal terlalu cepat..."

Selagi para peneliti tertawa dan menangis pada saat yang sama, seseorang berteriak. "Sial, dapatkan kontak dengan lini depan, perintahkan semua orang kembali! Jangan menembak lagi...dan buat alasan untuk mengirim empat orang tua itu kembali, dan..."

Pada saat ini Zheng telah berlari sekitar seratus meter dari mobil. Saat ia menyeberangi pagar pembatas, sebuah peluru mengenai kaki kirinya dan membuatnya berguling di jalan. Kemudian peluru lain mengenai kaki kanannya.

(Tidak boleh mati...Tidak boleh mati! Aku tidak boleh mati!)

Zheng menjerit dan merasakan sesuatu dalam dirinya muncul. Dia segera mematikan rasa sakit di kakinya dan mulai berjalan merangkak seperti binatang. Kecepatannya bahkan jauh lebih cepat daripada orang yang berjalan biasa. Tidak hanya itu, ia juga menjadi lebih sensitif terhadap bahaya. Dia akan mulai menghindari sebelum tembakan dilepaskan. Kecepatan itu dan cara dia berjalan membuat penembak jitu terkejut.

Dia semakin dekat dengan bangunan, namun karena pintu tertutup rapat saat ini, ia harus menghancurkan pintu itu. Ini mengharuskan dia untuk berhenti sejenak. Satu detik sudah cukup bagi penembak jitu untuk menembak kepalanya. Dia tidak yakin jika mereka sedang berusaha untuk menangkapnya hidup-hidup, tapi ia tidak bisa mengambil risiko.

"Ah!!!"

Mata Zheng memerah. Dia tidak punya waktu untuk khawatir lagi. Saat ia sampai di pintu, ia melompat setinggi empat meter lebih dan memotong pintu itu. Pada saat yang sama Zheng merasakan sebuah benturan.

Orang-orang di helikopter tidak hanya terkejut, mereka ketakutan. Jika kamu tiba-tiba melihat seseorang melompat tinggi empat meter, kamu akan terkejut dan merasa ngeri. Mereka menyaksikan Zheng bergelinding ke gedung. Hanya satu orang yang melepaskan tembakan dan mengenai Zheng di bagian punggung.

Zheng segera bangkit dari lantai dan berlari ke arah pintu keluar darurat.

"Kita berhasil, Lori, kita berhasil...Kita pasti bisa bertahan, kita tidak akan...Lori?"

Zheng tiba-tiba menyadari sesuatu yang salah dengan Lori. Dia membalikan Lori dari punggungnya ke depan. Pinggang Lori basah kuyup oleh darah. Itu merupakan area yang tidak terlindungi oleh rompi anti peluru. Peluru mengenainya dari punggug. Ketika ia menggendongnya ke depan, peluru tersebut jatuh.

Translator / Creator: isshh