November 21, 2016

Terror Infinity – Volume 3 / Chapter 2.1

 

Zheng berbaring di tempat tidur dengan mata terpejam, merasakan sirkulasi Qi nya.

Sudah dua puluh sembilan hari sejak ia kembali ke dunia nyata. Hari-hari ini adalah hari-hari paling damai sejak ia memasuki dimensi Dewa.

Pada siang hari, dia biasanya jalan-jalan dengan orang tuanya, atau pergi berbelanja dengan Lori. Mengenai platinum, ia memotongnya menjadi potongan-potongan kecil dengan pisau dan menjual sebagian besar dari mereka. Uang ini akan cukup untuk dua keluarga untuk memulai hidup layak selama beberapa puluh tahun mendatang. Hari-hari ini juga hari paling santai dan nyaman. Jika kekhawatiran akan dimensi Dimensi tidak ada, hari-hari seperti ini adalah seperti hidup di surga.

Namun pedang Damocles terasa begitu dekat. Setelah tiga puluh hari kebahagiaan habis, ia harus melanjutkan ujian di dimensi Dewa. Dia harus menghadapi monster seperti alien, atau zombie di mana-mana seperti di Resident Evil, mungkin juga akan melawan setan atau hantu. Setelah ia kembali dimensi Dewa, ia akan menghadapi kematian!

Itulah sebabnya bahkan dalam tiga puluh hari ini ia masih berlatih Qi nya setiap hari. Setiap malam dia berlatih menggunakan pisau, ini adalah satu-satunya metode yang bisa dia pikirkan.

Memiliki Qi selain kekuatan dan kecepatan reaksi empat kali orang normal membuatnya mencapai ketinggian yang tak terbayangkan. Dia bisa mengalahkan lebih dari sepuluh orang kuat dalam satu menit, bahkan jika mereka adalah agen khusus, ia akan tetap menang. Dan ia tidak akan terlalu banyak terluka. Tentu saja ini dengan asumsi bahwa tidak ada pihak yang menggunakan senjata apapun.

Zheng tidak terampil dengan pistol. Dia bisa menjaga akurasinya dalam lima puluh meter tetapi sekali jarak meningkat atau kecepatan target terlalu cepat, akurasinya akan menurun. Kekuatan terbaiknya adalah pertempuran jarak dekat.

Apalagi sekarang ia memiliki pisau progresif. Meskipun pisau tersebut tampak biasa, benar-benar hitam, panjang sekitar tiga puluh sentimeter, dan dibuat menggunakan bahan yang sangat kuat, hanya ayunan ringan bisa mengiris sebuah logam layaknya udara.

Dia tidak merasakan gesekan apapun ketika ia mengiris platinum. Satu-satunya kelemahannya adalah jika target terlalu besar dan pisau terjebak di dalamnya. Pisau ini akan menghentikan getarannya dan menjadi seperti pisau normal.

Selain membiasakan diri menggunakan pisau, dia berlatih penerapan Qi. Selain menggunakannya untuk meningkatkan kekuatan dan kecepatan, ia fokus pada bagian tubuh dan meningkatkan pertahanan sementara atau jika ia fokus semuanya di tangannya, dia bisa melempar bar dengan kuat tanpa menggunakan tenaga. Meskipun setiap kali dia berlatih, dia akan ingat pesawat ruang angkasa itu...

Selain peningkatan ini, ia juga belajar menggabungkan Qi dan energi darah. Ia hanya berhasil menggunakan energi darah sekali ketika ia tidak dalam keadaan membuka batasan genetik.

"Masih tidak bisa melakukannya."

Zheng menggeleng, ia telah menguji selama beberapa hari, namun energi darah tidak pernah pindah dari kepalanya. Meskipun Qi-nya meningkat sedikit dari hasil latihan. Sama seperti dalam penjelasan, Qi juga bisa meningkat dari pelatihan. Jika dia punya cukup waktu ia bisa menjadi seperti karakter dalam novel Wuxia.

Sebuah ketukan pintu diikuti oleh suara seorang gadis kecil. "Mesum, kau masih belum bangun? Kau bilang kau akan membawaku untuk melihat sekolah."

Zheng turun dari tempat tidur dan membuka pintu. Seorang gadis bergegas masuk kemudian memeriksa seluruh ruangan. "Apa yang kamu lihat?"

"Wanita." Lori mengerutkan kening. "Ini sering terjadi dalam film. Ketika seorang pria telat membuka pintu, kemudian ada seorang wanita di kamarnya, atau nomor wanita di teleponnya."

"Di mana kau melihat film yang membosankan seperti itu? Itu hanya imajinasi sutradara. Pria di dunia nyata tidak akan begitu ceroboh."

"Dari cara berbicaramu, sepertinya kamu benar-benar sedang berbicara dengan seorang wanita di telepon, hanya saja saya tidak menyadarinya?"

Zheng memeluknya. "Bagaimana mungkin, aku bahkan tidak memiliki ponsel. Kau memeriksa barang-barangku setiap kali kau kemari...Ok, berhenti bertindak begitu cemburu. Kita akan pergi sarapan lalu aku akan membawamu  ke sekolah kita."

Dia tersenyum. "Aku hanya cemburu karena aku tahu kau tidak memiliki ponsel. Jika aku menemukan salah satu wanita dari masa lalumu di kamar, maka..."

Zheng tahu untuk tidak mencari alasan dengan wanita, terutama ketika mereka semuda ini. Mereka berjalan keluar dari ruangan. Dia tinggal di rumah orang tuanya hari ini. Empat orang tua mengobrol di ruang tamu dan tertawa ketika mereka melihat Zheng dan Lori keluar.

Lori tersipu kemudian meraih tangan Zheng dan berlari ke arah pintu. "Lori, sarapan dulu."

"Tidak, tante, kami akan makan di kantin sekolah. Kami akan sempat makan siang di sekolah. Ayah, ibu, kami akan kembali nanti malam."

Setelah di luar gedung, dia berkata. "Ini semua salahmu, mereka menertawakan aku. Mereka mungkin tahu apa yang terjadi di antara kita. Rasanya sangat memalukan. Bagaimana aku akan menatap mereka lagi?"

Zheng tersenyum dan hendak membalas, lalu jantungnya berdetak keras. Dia begitu akrab dengan perasaan ini, ia mengalaminya beberapa kali di film Alien. Ini adalah firasat bahaya.

Tanpa ragu-ragu, ia menarik Lori kemudian berlari ke samping dan memanggil taksi. Begitu taksi mulai bergerak dia merasa lega. Tapi punggungnya sudah bermandikan keringat.

Lori memegang tangannya dan berkata. "Apa yang barusan terjadi?"

Zheng menggeleng. "Aku tidak tahu. Untuk sesaat aku merasa ada sesuatu yang mengunci ke saya. Rasanya berbahaya, seperti...bidikan, ya, itu seperti sniper yang mengincar kita!"

Di atas gedung tinggi tidak jauh dari mereka, beberapa orang dengan senapan sniper menggelengkan kepala mereka. Salah satunya berbicara dengan perangkat komunikasinya. "Target masuk mobil, nomor plat...indranya tajam, saya menduga ia mungkin seorang agen khusus dari negara lain. Dia sadar saat kami hanya membidik dia. Dia juga sangat kuat, kami akan melanjutkan rencana dua."

Di kursi belakang taksi. Zheng sudah tenang. Dia mulai mengingat semua musuh yang mungkin, yang paling mungkin adalah mafia lokal karena ia menjual beberapa platinum senilai jutaan hari ini. Meskipun ia menggunakan perantara, itu masih memungkinkan mafia itu tahu tentang dia. Meskipun begitu ada satu kejanggalan, mengapa mafia itu memiliki senapan sniper? Ini adalah China, bukan US!

China sangat ketat mengontrol peredaran senjata api. Jadi hampir mustahil bagi mafia untuk memiliki senjata mutakhir, terutama jenis senjata api jarak jauh. Pemerintah tidak akan mengizinkannya.

Lalu siapa lagi yang bisa melakukannya? Sebuah partai milik pemerintah? Mengapa? Apakah karena platinum? Beberapa juta platinum membuat pemerintah kaget? Itu hanya akan terjadi jika populasi negara ini berada di bawah satu juta!

Zheng memukul kursi di depannya. Sopir taksi terkejut ketika ia melihat tinju itu.

Lori memegang tangannya dan berteriak. "Apa yang terjadi? Apa yang terjadi? Berhenti menyembunyikannya dari saya."

Zheng memaksa tersenyum. "Tidak apa-apa, Lori. Aku di sini. Hanya saja kita mungkin tidak bisa mengatakan selamat tinggal kepada orang tua kita. Saat pukul 12:00 malam, tiga puluh hari telah habis...Lori, apakah kau percaya padaku?"

Dia akan menangis tapi dia masih mengangguk.

"Maka apapun yang terjadi, kau harus percaya bahwa aku tidak akan meninggalkanmu sendiri. Tidak peduli apapun!"

Zheng bahkan tidak tahu siapa musuh itu, mengapa mereka menyerangnya. Apakah itu kesalahpahaman? Apakah mereka mengincar dia...atau Lori?

Hari ini adalah hari terakhir di dunia ini. Zheng mencoba yang terbaik untuk merencanakan tindakannya. Haruskah ia menemukan tempat untuk bersembunyi sampai pukul 12 kemudian langsung menuju ke kantor, atau haruskah ia bersembunyi tepat di bawah gedung kantor? Tidak peduli apapun, dia harus berada di sana dengan Lori tepat pukul 12 malam, jika tidak mereka akan mati.

Selagi Zheng sedang cemas merenung, taksi terjebak dalam kemacetan lalu lintas. Dia tidak terlalu memperhatikan pada awalnya, karena ini adalah daerah yang sibuk. Namun saat taksi merayap maju, ia melihat barikade di depan. Pada saat yang sama, beberapa petugas polisi menghampiri ke jendela mereka.

Translator / Creator: isshh