November 12, 2016

Terror Infinity – Volume 2 / Chapter 8.2

 

Zheng terlempar beberapa meter jauhnya, tapi ia tidak jatuh ke lantai. Sebaliknya ia menendang lantai dan segera melompat kembali ke arah ratu. Dia tidak berhenti sedikitpun walau seluruh lengan kanannya meneteskan banyak darah.

Sabetan ratu itu mengenai lengan kanannya dan cakar itu memotong lebih dari setengah lengan kanannya. Sakit luar biasa menyerangnya, orang normal akan pingsan dari rasa sakit, tapi saat Zheng merasa sakit, dengan instingnya dia memblokir sinyal rasa sakit. Namun, ia tahu ia tidak punya banyak sisa waktu.

Darah! Ya, darah!

Seorang manusia akan mengalami koma setelah kehilangan dua puluh persen darahnya. Dan selebihnya bisa berakibat fatal.

Zheng tidak tahu berapa banyak darah yang telah hilang. Dia mulai berdarah sejak pertemuan pertama dengan alien. Kemudian ketika perut dan ususnya terpotong, ia menderita perdarahan yang masif. Kehilangan lengan kanannya saat itu hanya berdarah sedikit. Jumlah darah dalam tubuhnya mungkin sudah mencapai batasnya. Tetapi kekurangan darah bukan satu-satunya bahaya yang dia hadapi. Bahaya lainnya adalah kerusakan genetik akibat terbukanya batasan genetik.

Setiap kali setelah membuka batasan genetik, selain dari rasa sakit, dia bisa merasakan bahwa seluruh tubuhnya beku. Itu hampir mustahil bagi organisme normal untuk membuka batasan genetik karena perubahan besar dalam genetika akan berakibat fatal. Dan kali ini ia menghadapi ratu, batasan genetik terbuka oleh sebuah keadaan yang dua kali lipat lebih kritis dari sebelumnya.

Dia tahu dia tidak punya banyak waktu lagi. Luka kritis, kehilangan darah, kerusakan genetik, salah satunya bisa menghapusnya dari dunia ini. Jika dia gagal, bahkan tidak perlu ratu yang membunuhnya. Dia sudah setengah jalan menuju kematian.

Harus menyelesaikan pertempuran dalam waktu tiga menit!

Zheng bergegas ke tempat ia menjatuhkan senjatanya. Bar baja lainnya ada di tangan Lan, jadi dibandingkan lokasi senapan, itu lebih dekat dan pilihan yang lebih baik. Ratu telah kehilangan cangkang di pinggangnya, bahkan senapan semi otomatis bisa melukainya. Satu-satunya hal yang harus diwaspadainya adalah serangan ratu. Kecepatan dan kekuatannya bukanlah sesuatu yang bisa dia tahan walau hanya satu pukulan.

Ratu berteriak, granat itu tidak terlalu kuat. Jika granat bukan meledak di dalam tubuh ratu tapi meledak di cangkang ratu, maka itu bahkan tidak bisa membuat retakan di cangkang. Saat ia melihat Zheng berjalan menujunya, dia geram kemudian mengangkat ekornya dan menyerang Zheng.

Selagi Zheng mengambil senapan, ia bisa mendengar suara cambukan mendekati kepalanya. Dia langsung berdiri tanpa berpikir. Tidak mungkin untuk menghindari hal itu, jadi daripada mengenai kepalanya, ia memilih menggunakan lengan kanan tersisanya...bukankah masih ada sebagian kecil dari lengan kanannya yang tersisa?

Dengan bunyi gedebuk, ia merasa seperti dada kanannya telah ditabrak truk. Darah menyembur keluar dari mulutnya dan informasi baru muncul di kepalanya, tulang rusuk kanan menderita patah tulang dan pecah, tulang menusuk ke dalam paru-paru kanannya, perdarahan internal dan tidak cukup oksigen. Dia akan mati dalam dua sampai tiga menit!

Zheng telah mengeluarkan segalanya. Saat ekor ratu memukulnya, ia menjepit ekor dengan tangan kanannya dengan putus asa. Meskipun itu tidak terlalu kuat, ia menghindari agar tidak terlempar lagi. Ia mengayunkan hampir satu lingkaran pada ekor ratu kemudian mendarat di sisi lain ratu, pada sisi di mana cangkangnya pecah!

Dia segera membidikan senapannya ke pinggang ratu. Dengan beberapa tembakan, darah kuning menyembur keluar dari pinggang. Darah itu mungkin menakutkan bagi orang normal, namun Zheng bisa menahan sedikit korosi. Darah terpercik ke tubuhnya dan membakar kulitnya menjadi hitam. Itu tidak menimbulkan korosi pada tubuhnya seperti yang terjadi pada lengan Jie.

Bahaya sesungguhnya adalah menindaklanjuti serangan ratu. Zheng mengertakkan gigi kemudian melompat ke ratu. Karena sudah terlanjur mempertaruhkan nyawanya, ia mungkin juga akan memberikan kejutan kecil kepada ratu.

"Mati!"

Zheng melompat ke bagian yang cedera di pinggang ratu. Dia menginjakan kakinya ke dalam dagingnya, menusuk senapan ke pinggangnya dan mulai menembak. Geraman ratu secara bertahap melemah.

Setelah sekitar sepuluh tembakan, ratu menyingkirkan Zheng dari pinggangnya. Dan sebelum ia jatuh ke lantai, cakarnya mencengkram Zheng. Cakar menembus dada kirinya, dan menyemburkan lebih banyak darah.

"Lan...Lan! Beri aku bar baja!"

Zheng kelelahan pada saat ini. Semua tindakannya telah memeras potensi terakhirnya. Qi-nya sudah hampir habis, energi darah sedang digunakan untuk menjaga tubuh tetap hidup, kesadarannya memudar. Hanya tekad hidup yang mendukungnya, tapi ini juga akan segera berakhir.

Lan memiliki cedera paling sedikit di antara mereka. Meskipun cedera di bahunya tampak menakutkan, itu tidak seberapa dibandingkan dengan yang lainnya. Dia segera tersadar setelah mendengar teriakan Zheng, kemudian berlari ke arah ratu tanpa melihat ke arahnya. Pada saat yang sama, tembakan berasal dari sisi ratu. Zero berbaring tengkurap dan muntah darah, tapi ia terus menembak pinggang ratu dengan senapan mesin ringan. Sebelum ia menyelesaikan tembakannya, ekor ratu melemparkannya lagi. Dia berada di ambang kematian.

Lan terus berlari ke arah ratu, tetapi ratu mungkin merasa bahwa Lan bukan ancaman. Dia melempar Zheng ke salah satu sudut kandang baja. Zheng bisa mendengar suara tulang punggungnya patah. Selain dari sakit yang luar biasa, dia menyadari bahwa dia tidak bisa merasakan tubuhnya dari perut ke bawah. Seluruh tubuhnya membungkuk pada sudut yang tajam.

(Tidak ingin mati, aku tidak ingin mati!)

Zheng mulai menderu. Perjuangan terakhirnya sebelum kematian memungkinkan dia untuk mengumpulkan sejumlah kecil Qi di tangan kirinya. Dia juga memaksa semua energi darah ke tangannya. Kemudian dia mencakar cangkang ratu. Inci demi inci, kemampuan korosif energi darah muncul untuk pertama kalinya. Jari-jarinya membuat lima lubang di cangkang ratu.

"Zheng! Tangkap!"

Kecepatan Lan agak terbatas. Ketika dia melihat tubuh Zheng tersentak, dia bergegas dan pada saat yang sama melemparkan bar baja ke arahnya. Tepat setelah dia melemparkan bar, ekor ratu menusuk ke dadanya dan membuka lubang besar di tengah dadanya. Sepertinya dia juga tidak akan hidup lebih lama lagi.

Zheng berusaha melepaskan cakar darinya sebelum bar baja tiba. Lalu ia menggigit cangkang ratu, sementara tangan kiri yang tersisa menangkap bar baja. Namun pada saat yang sama, cakar ratu satunya menampar dia dan benar-benar menghancurkan bagian bawah tubuhnya. Tamparan yang membelah tubuhnya menjadi dua bagian.

Translator / Creator: isshh