November 5, 2016

Terror Infinity – Volume 2 / Chapter 6.3

 

Jie tidak mundur bahkan ketika lidah alien menusuk bahunya. Dia berdiri di depan Zheng dan mendorong bar baja lebih dalam ke kepala alien. Dia tidak mundur ketika darah menetes ke tangannya. Itu tidak lama sebelum semua yang tersisa dari tangannya hanya tulang.

"Ah!!!"

Jie bergerak maju. Dia terus mendorong bar ke kepala alien. Darah mengkorosi lebih dan lebih di lengannya. Sampai lengannya terisa tulang. Untungnya, Zheng segera bereaksi. Dia menarik Jie mundur. Ketika bar baja ditarik keluar dari alien, sebagian besar sudah berkarat. Hanya sebagian pendek yang tersisa.

Zheng meneriakkan nama Lan, pada saat yang sama ia mengambil air segar dari cincin dan menuangkannya di lengan Jie. Lan tersadar dari syok, ia menggunakan semprotan hemostasis di lengan Jie.

Ketika mereka meyembuhan luka Jie, alien itu akhirnya terhuyung-huyung lalu jatuh ke lantai. Darah kuning mengalir keluar dari tubuh. Kabut putih berbau tajam mulai keluar.

Zheng menyeret Jie keluar dari kabut ke belakang ruangan. Dia akhirnya melihat bahwa korosi di lengan Jie telah berhenti. Pada saat ini, kedua lengan bawahnya telah hilang, bahkan tidak ada tulang yang tersisa.

Jie sudah pingsan karena rasa sakit. Dia tidak bangun sampai Zheng menuangkan air di lengannya lagi. Lalu dia tertawa. "Dewa yang baik, seekor alien bernilai 500 poin. Kau sudah menyimpan ini dari kami, ya? Hehe. Sebuah desert eagle kecil tidak berarti apa-apa, aku bisa langsung menukar AK dengan amunisi tak terbatas."

Zheng menatap tangannya dengan hening. Jie melanjutkan. "Tidak masalah. Selama aku bisa kembali ke dimensi Dewa hidup-hidup, tidak perlu banyak poin untuk memperbaiki tubuh. Hanya saja untuk sisa seterusnya ini, aku akan menjadi bebamu... Hoho, saat aku berpikir tentang hal itu, lebih baik bersama denganmu daripada Xuan. Dia mungkin akan membuangku pada saat ini."

Zheng menghembuskan napas. "Yakinlah, aku tidak akan menyerah pada setiap rekan...Kalian tunggu di sini. Jangan datang sampai aku memanggil kalian. Jika tidak...kembali ke ruang kontrol segera. Kemudian ikuti rencana Lan dan biarkan takdir memutuskan masa depan kalian!" Dia mengambil bar baja dan pergi ke gudang senjata.

Karena darah alien membuat lubang besar di tengah, Zheng harus berjalan di tepi dinding dengan hati-hati. Di pertengahan jalan, seseorang berjalan keluar dari kabut putih. Itu Zero memegang senapan. Dada kirinya dibalut dengan baju. Darah mengalir melalui kain membuatnya tampak mengerikan.

Zheng dan Zero saling tersenyum pahit. Mereka berdua tampak terluka kritis. Zero melihat mayat alien dan berkata. "Yang lain sudah mati? Kau kuat. Kau dapat membunuh mereka bahkan tanpa senjata?"

"Kalian tidak buruk juga. Bukankah kamu yang membunuh yang lainnya?"

Zero mendesah. "Ayo masuk gudang senjata, mereka berdua di sana."

Zheng berteriak Jie dan Lan. Zero tampak terkejut saat mereka datang. Dia mengambil napas dalam-dalam. "Ayo masuk dulu...sepertinya semprotan hemostasis dan perbanmu masih efektif? Kampa...mungkin tidak bisa bertahan."

Mereka bertiga mengikuti Zero ke gudang senjata. Zheng melihat bahwa pintu ini lebih tebal daripada pintu lain, itu hampir setebal dinding. Di tengah-tengah pintu ini ada lubang sekitar satu meter. Jelas terkorosi oleh darah alien. Alien lainnya terbaring di sisi kiri masih utuh.

"Itu hanya keberuntungan. Alien ini mencoba untuk masuk sebelum lubang itu cukup besar. Kemudian terjebak di pintu. Kami menembak selama beberapa menit sebelum dia mati. Tapi kita tidak bisa menghadapi yang kedua. Jika kau terlambat hanya setengah menit, maka kami bertiga akan mati di sini."

Zero menjelaskan sambil berjalan di depan.

Zheng segera melihat Kampa dan Xuan dalam gudang senjata. Ada lubang besar di dada Kampa. Dengan bentuk seperti itu, jelas bekas tikaman ekor alien, tapi karena tidak menembus tubuhnya maka ia tidak langsung meninggal.

Di antara mereka bertiga, Xuan tampak hampir tanpa lula. Selain beberapa noda darah, pakaiannya masih tampak seperti ketika ia pertama kali tiba ke dunia ini. Tapi bisa terlihat kelelahan di matanya.

"Saya tidak mengira alien bisa sekuat ini."

Xuan berbicara sebelum mereka bertiga mendapat kesempatan. Dia memandang mereka diam-diam. "Ini kesalahan perhitunganku. Alien tidak pernah benar-benar melawan manusia dengan senjata secara langsung dalam empat film pertama. Jadi saya meremehkan kekuatan mereka. Jika bahkan alien normal sudah sekuat ini, maka saya tidak tahu seberapa kuat ratunya. Mungkin kita benar-benar..."

Zheng mengabaikannya dan membalut Kampa. Setelah beberapa saat, pendarahan Kampa akhirnya berhenti. Tapi dia tampak begitu lemah seakan-akan setiap pergerakan bisa membuatnya mati.

"Kalau begitu mari kita bersekutu. Kalian satu tim, dan kami satu tim. Tak satu pun dari kita yang bisa mengkhianati yang lain, juga tidak ada cara untuk mengkhianati. Tentu saja, kau boleh menolak, tapi aku tidak akan dikendalikan olehmu dan menjadi rekanmu. Kecerdasan dan perencanaanmu sangat penting dan aku membutuhkannya. Tapi kau juga perlu kemampuan dan pengetahuan tentang dunia ini dari kami. Kita mempunyai keunggulan satu sama lain. Sehingga kau dapat memilih."

Xuan menggigit jarinya, dia memandang Zheng dan berkata. "Ok, saya setuju dengan proposal anda. Tapi ada satu poin yang anda harus tahu...jika anda tidak dapat menyaingi langkahku, maka saya akan mengorbankanmu demi mayoritas!"

"Tapi aku akan menyelamati kamu!" Zheng tersenyum dingin. "Aku akan menyelamatkan kau demi kecerdasanmu!"

Translator / Creator: isshh