November 2, 2016

Terror Infinity – Volume 2 / Chapter 5.3

 

Seiring dengan erangan, suara keras terdengar dari depan pintu. Hanya butuh satu tendangan untuk membengkokkan seluruh pintu. Zheng bisa melihat setengah tubuh alien ini terjebak di pintu. Dua dari batang baja mengenai alien. Satu menusuk dada kiri dan kanan, sedangkan yang lainnya mengenai bawah lehernya. Keduanya tepat mengenai bagian vital alien, meskipun tidak cukup untuk membunuhnya.

Ini adalah kedua kalinya Zheng melawan alien secara langsung. Meskipun situasi ini lebih baik daripada terakhir kali, ini tidak telalu optimis. Alien ini sepenuhnya telah dewasa, sekitar 30% lebih besar dari yang sebelumnya. Rangka luar hitamnya yang tebal dan keras seperti sepotong logam. Bahkan, hanya sepertiga bar baja yang menembus. Sebuah bagian besar dari bar baja bergelantung di luar tubuh alien.

Tubuh Zheng bergetar saat memandang penampilan menakutkan dari alien. Terutama ketika ekor yang ditikam ke pintu dan membuat lubang besar. Jika tusukan itu mengenai manusia...Tidak peduli berapa banyak Zheng meningkatkan kemampuannya, ia tidak yakin tubuhnya lebih keras dari baja.

(Tekanan ini, seolah-olah seluruh kesadaranku hilang. Semua yang tersisa hanya rasa takut dan naluri...)

Zheng merasakan sesuatu terbuka dalam tubuhnya lagi. Naluri yang tak terhitung jumlahnya muncul di benaknya. Naluri ini juga termasuk cara untuk menggunakan Qi dengan efisien.

Dia mengarahkan Qi untuk bangkit melalui tulang belakang, menyeberang melalui kepalanya dan masuk ke lengan kanannya. Proses ini hanya sekejap mata. Zheng membiarkan nalurinya mengambil kendali atas Qi dan hasilnya sangat menakjubkan.

Ketika Qi menyeberangi kepalanya, dia merasakan sesuatu datang dari otaknya kemudian ditambahkan ke dalam Qi. Dia memfokuskan campuran ini di tangan kanannya. Saat alien terlempar dari pintu, ia melemparkan sebuah bar baja dengan teriakan. Pada saat yang sama ekor alien mengenai perutnya.

Jie dan Lan berlari keluar. Zheng terlempar dari lantai dan terbang ke dinding dengan keras. Tombak yang ia lemparkan bahkan lebih kuat. Ini mudah menembus kepala alien dan dinding belakangnya. Sepertiga dari kepalanya hilang. Alien terhuyung sedikit kemudian jatuh ke lantai. Pada dinding di belakang alien terdapat lubang sebesar tinju tangan.

Lan mengambil beberapa pakaian untuk menutupi dadanya kemudian berlari ke arah Zheng terburu-buru. "Bagaimana, bagaimana? Zheng! Kau baik-baik saja?" Kecemasan membuatnya menangis saat ia melihat Jie berdiri di sana dalam keadaan linglung. Dia berlutut di samping Zheng. Tapi saat ia turun, ia melihat Zheng menggaruk kepalanya dengan ekspresi idiot. Dia tiba-tiba merasa marah dan memukul perutnya tanpa berpikir. "Kau menakuti kami! Kau menyerang tanpa berkata apa-apa, apa yang terjadi jika kau gagal? Kau akan...dan juga membuat kami berdua dalam kesulitan! Kau akan membuat kami terbunuh!"

Zheng mengerang kesakitan saat ia memukul perutnya. Lan melihat darah di tangannya lalu menjadi panik lagi. Katanya sambil menangis. "Maafkan aku. Maafkan aku. Aku tidak tahu kau terluka. Aku sangat menyesal…"

Zheng mengangkat tangannya dari perutnya dan melihat dengan hati-hati. Ada lubang selebar tiga jari. Untungnya itu hanya menembus kulit dan tidak merusak usus dan organ.

Jie pergi ke arah Zheng. Ia menemukan jejak yang dalam tertanam di lantai. Dia berdiri dan berkata dengan takjub. "Itu luar biasa. Kau melompat mundur saat ekor alien menghantam. Itulah mengapa hanya mengenai kulitmu. Jika aku yang berdiri di sana, mungkin akan menembus ususku."

Jie menjadi lebih semangat saat ia berbicara. Dia pergi ke Zheng dan menepuk bahunya. "Bung bagaimana kau melakukannya? Itu luar biasa. Jika aku tidak melihatnya dengan mataku sendiri, aku akan berpikir mungkin ahli bela diri yang membunuh alien itu. Oh Tuhan, bagaimana kau melakukannya, ajari aku!"

Zheng tersenyum pahit. "Kalian berdua, bantu balut lukaku dulu. Jika kalian terus seperti ini aku mungkin akan mati pendarahan. Dan seseorang harus memperbaiki pakaiannya..."

Lan kemudian melihat pakaiannya. Dia tersipu dan memelototi Zheng. Kemudian berlari ke kamar mandi. Zheng mengeluarkan semprotan hemostasis dan perban dari cincinnya. Dengan bantuan Jie ia membalut lubang di perutnya.

Pada saat Lan keluar, ia langsung berkata kepada mereka. "Tidak ada waktu untuk menjelaskan. Jie, gendong aku dan temui Xuan. Jangan berhenti tidak peduli apapun yang terjadi padaku. Lan, lengan kananku luka jadi bawakan bar bajanya. Ingatlah untuk terus dekat dengan kami. Ayo pergi."

Zheng sekarang tegas percaya hipotesisnya. Btasan genetik terbuka dalam keadaan bahaya dan teror tapi tubuh normal tidak akan tahan dengan kekuatan yang akan datang itu. Bahkan dengan kemampuan fisiknya yang sudah ditingkatkan, lengan kanannya mengalami patah tulang saat kekuatan penuhnya keluar. Dan rasa sakit yang tak tertahankan. Bagaimana jika ini terjadi pada orang normal?

Ini adalah seperti pedang bermata dua, dan itu harus dalam situasi yang mengancam hidup dan merasakan teror untuk membuka batasan genetik. Ini adalah perjuangan terakhir manusia melawan kematian.

"... Ha, satu-satunya keberuntungan adalah, aku menemukan cara untuk kemungkinan menggunakan energi darah, tidak yakin..."

Sebelum dia bisa menyelesaikan katanya, perasaan kematian menyebar dari organ internalnya ke seluruh tubuhnya. Dia mulai kejang di punggung Jie. Rasa sakit membuat dia tidak dapat membuka mulutnya. Otot-ototnya terasa seperti merobek. Luka di perutnya mulai berdarah melalui perban. Darah mengalir di sepanjang kakinya dan menetes ke lantai.

Translator / Creator: isshh