October 19, 2016

Terror Infinity – Volume 2 / Chapter 1.3

 

Zheng, Zero, dan Kampa adalah orang-orang pertama yang tersadar dari syok. Zero dan Kampa berdua melakukan hal yang sama, mereka memegang granat dengan sebuah jari di tengah cincin. Begitu alien muncul, mereka akan melemparkan granat itu. Zheng ingat bahwa dia mengatakan tidak akan meninggalkan rekan-rekannya. Dia jelas-jelas mendengar teriakan Xiaoyi meminta tolong.
Sekitar sudut ruang, tiga alien sedang mengoyak Xiaoyi. Dia masih belum mati. Seluruh tubuhnya berkedut. kekuatan alien yang begitu besar, lidah mereka menyentuhnya sedikit dan tubuhnya terkoyak seperti kertas. Zheng hanya bisa melihatnya untuk terakhir kalinya dengan tatapan putus asa sebelum kepala Xiaoyi hancur.

Alien lain berbalik untuk melihat Zheng. Lidahnya menjulur lebih panjang, air liur menetes di lantai. Kemudian mengeram ke arah Zheng.Erangan itu membangunkan dia dari syok. Dia memandang kea rah Xiaoyi lagi, tidak, potongan-potongan tubuhnya, sebelum ia berbalik dan berlari kembali.

"Lari! Sial! Ada tiga alien!" Dia berteriak sambil berlari.

Zero dan Kampa melemparkan granat mereka kemudian berlari kembali. Jie, Xuan, dan Shuai mengikuti di belakang.

Lan berlari di belakang dekat Zheng, tapi kecepatannya tidak cukup cepat, ledakan itu mungkin mempengaruhi dirinya. Zheng menariknya sambil berlari. Ketika gelombang ledakan dating, mereka berdua terlempar ke lantai.

Zheng memaksa tubuhnya berbalik tepat sebelum ia mencapai lantai, menahan benturan saat Lan mendarat di atas badannya. Dia menatapnya terkejut lalu tersenyum. "Kau orang yang baik."

Pikiran Zheng kosong sesaat kemudian berteriak. "Apa yang kau bicarakan, cepat lari!" Lalu ia mendorong Lan turun dari badannya untuk bangun.

Lan mencengkram kerah bajunya erat-erat. "Peningkatan statistikku rendah, kecepatan lariku pasti tidak bisa mengimbangi kalian. Gendong aku."

Pada saat itu, Jie dan empat lainnya sudah tidak terlihat. Zheng tidak punya waktu untuk mengatakan apa-apa lagi. Ledakan itu hanya bisa memperlambat alien beberapa saat. Jika mereka tidak mulai lari, mereka hanya akan mati di sini. Dia mengertakkan gigi, menggendong Lan dan mulai berlari.

Tubuh Zheng sangat kuat, ia hampir tidak bisa merasakan berat seseorang. Setelah berlari melewati beberapa ruang, ia menyadari bahwa ia tersesat. Dia hanya berlari secepat yang dia bisa tanpa berpikir, tapi setelah lari sejauh ini tanpa bertemu Jie dan yang lainnya, Zheng terpisah dari kelompok.

Dia mengertakkan gigi dan melanjutkan larinya. Setelah menempuh beberapa ratus meter, ia melihat sebuah pintu baja di sampingnya. Dia menggendong Lan ke dalam.

Semua pintu di pesawat luar angkasa ini memiliki sensor otomatis dan akan terbuka ketika seseorang mendekat. Mereka dengan mudah masuk ke ruangan. Kemudian Lan melompat turun dari tangannya. Dia menekan beberapa tombol di sebelah pintu kemudian tertutup. Lampu di atas pintu berubah merah.

Lan menghembuskan napas, kemudian menepuk-nepuk dadanya. "Itu menakutkan, aku bahkan tidak bisa menggerakkan tangan dan kakiku. Alien lebih menjijikkan dan menakutkan daripada di filmnya."

Zheng menatapnya, payudaranya ternyata besar. Dia tidak bisa merasakannya saat ia berlari, tapi sekarang dia berpikir tentang menggendongnya, dan payudaranya menekan ke dadanya. Dia segera berpaling ke arah lain.

Lan mengerti apa yang terjadi kemudian tersipu malu. "Aku tahu pintu ini bisa ditutup. Sebaliknya jika orang bisa masuk kamar tidurmu, maka tidak akan ada privasi."

Zheng batuk untuk menenangkan dirinya. Lalu ia terbayangkan tentang wajah Xiaoyi. Meskipun Xiaoyi tampak umum, dan sedikit lemah, ia adalah seorang anak yang baik hati. Dia banyak tertawa selama pelatihan, dan mengatakan mimpi terbesarnya adalah untuk bertambah kuat melalui enhancement, kemudian kembali ke sekolah dan memberi pelajaran ke tukang buli, tapi sekarang dia…

"F*ck! Aku bilang aku tidak akan meninggalkan rekan-rekanku! Namun aku takut dan lari!"

Zheng merasa sangat marah. Dia terus meninju benda-benda di sekitar. Bang! Sebuah bar baja setebal lengan melengkung. Dia dan Lan memandang baja itu dengan mata terbuka lebar.

Lan berlari tiba-tiba. Ruangan ini tidak besar, selain tempat tidur yang terbuat dari baja, ada beberapa mebel sederhana dan TV. Bar baja itu berasal dari tempat tidur.

"Wah. Kapan kau jadi begitu kuat?"

Lan menyentuh bar kemudian kepalan tinjunya. Itu bahkan tergores. Dia berkata dengan terkejut. "Apakah kepalan tanganmu terbuat dari baja? Itu kuat sekali."

Zheng juga terkejut. Dia kemudian mencoba memukul bar baja lain dengan kekuatan penuh kali ini. Seluruh bar pecah menjadi dua dan tempat tidur roboh ke lantai. Dia menatap tinjunya tidak percaya.

"Itu tidak mungkin, aku tidak pernah menang melawan Jie dalam pertempuran jarak dekat kecuali jika menggunakan Qi. Jika aku sekuat ini, aku bisa membuatnya pingsan dalam satu pukulan."

Lan menyentuh dahinya. "Mungkin kau menahannya secara tidak sadar, tetapi karena kau sekuat itu, kau secara sadar untuk menahannya. Dan itu tidak hanya kuat, bahkan tidak tergores. Kulitmu lebih tangguh dari baja."

Zheng mengencangkan tinjunya, kemudian terlintas sesuatu di pikirannya. "Kira-kira sekuat apa daya hancurnya jika aku melemparkan bar baja ini dengan kekuatan penuh sambil menggunakan Qi?"

Lan menatap bar yang rusak terbelah dan tersenyum. "Mengapa kau tidak mencobanya sekarang? Jika hasilnya baik...hehe, jika kau melakukannya maka aku tidak akan memberitahu Lori kalau kau mengintip dadaku."

Zheng tetap diam. Dia sudah hafal dengan ekspresi dan nada Lan. Selama sepuluh tahun masa lalunya, ia melihat beberapa wanita memberinya ekspresi itu. Dia tahu pilihan terbaik adalah untuk tetap diam.

Dia berbalik dan meraih bar yang rusak. Cukup yakin, kekuatannya sudah mencapai tingkatan ini. Dia tidak pernah memiliki kesempatan untuk mengujinya dalam ruangan Dewa. Ia menghancurkan bar tempat tidur hanya dengan tangan kosong. Suara melengking dari logam yang membengkok itu begitu keras namun pada saat yang sama memberi mereka rasa aman.

Zheng mengambil napas dalam-dalam, diarahkan Qi nya di seluruh tubuh, maka ia berteriak keras dan melemparkan bar. Dengan suara yang keras, bar menembus dinding baja. Bar ini sepanjang lebih dari setengah meter, hanya beberapa centimeter dari bar itu berada di luar dinding, sisanya masuk dalam dinding. Kekuatan lemparan ini sangat besar.

Zheng dan Lan terkejut pada hasilnya. Mereka saling menatap selama beberapa saat, kemudian berbalik secara bersamaan...ke arah sisa bar di tempat tidur.

"Karena kita lupa menukar senjata api berat, maka kita akan menggunakan senjata primitif ini untuk menghancurkan mereka!" Zheng bergumam. Lan tertawa di sampingnya, payudaranya bergoyang-goyang saat ia tertawa. Zheng tidak bisa berbuat apa-apa selain mengintipnya. Dia tampaknya sadar dan tersipu sedikit.

Mungkin ini adalah satu-satunya hal yang menyenangkan sekarang, Zheng berpikir sambil mengintip. Namun ketika ia ingat seramnya ketiga monster besar itu, ia merasa putus asa, dan sedikit keras kepala menyangkal takdirnya.

Hidup, tidak peduli sekecil apapun harapan yang ada...aku harus hidup!

Translator / Creator: isshh