October 10, 2016

Terror Infinity – Volume 1 / Chapter 7.2

 

 “Orang baik pasti diberkati. Tapi apakah aku masih orang yang baik?"

Zheng tahu dia bukan orang yang baik. kematian Lori memberinya syok terlalu besar, ia menjadi rusak. Hidup di dunia hitam dan putih, games, bar, perempuan, obat-obatan...

Dia tidak bisa membayangkan bagaimana ia akan bereaksi ketika mengetahuinya. Dia begitu murni, tanpa cacat seperti kristal. Itu akan mementalkan keburukannya.

Zheng telah siap untuk yang terburuk. Dia duduk di sofa dan menyalakan sebatang rokok, maka bersiaplah untuk menceritakan. Lori berdiri. "Itu dia. Berhenti. Lihatlah wajamu, aku bisa menebak apa yang telah kau lalui.. Aku tidak ingin mendengarnya. Itu hanya akan membuatku marah."

Lalu ia meletakkan kepalanya dekat dengannya. "Mesum. Dengar baik-baik. Aku kembali sehingga kau akan melupakan semua kekacauan itu dari sekarang. Wanita-wanita atau gadis-gadis lain. Lupakan semua ini. Hanya ada Lori, satu-satunya. Paham?"

Dia mulai menangis sambil berkata. "Maafkan aku. Aku sangat menyesal. Aku tidak menepati janji kita. Untuk bersama sampai rambut kita berubah putih. Untuk memikirkan tentang kenangan masa kecil kita seperti di lagu-lagu. Saya bisa melupakanmu dan kenanganku, tapi tidak bisa melupakan janji ini. Kau mungkin sangat sedih selama ini. Aku egois meninggalkanmu sendirian. Maafkan aku."

Zheng memeluknya tanpa kata. Semua yang tersisa di ruangan itu hanya tangisannya. Tapi mereka tahu setelah semua kesedihan keluar, apa yang mereka miliki hanyalah harapan. Masa lalu telah berlalu dan masa depan mereka memiliki harapan dan kemungkinan yang tidak terbatas.

Waktu berlalu begitu cepat ketika kau sedang bahagia. Zheng menghabiskan hari dengan latihan, kemudian melihat-lihat item-item yang dimiliki Dewa dan pada malamnya menonton film horor dengan Lori. Ya, film horor. Dia tahu dia bisa menukar film dari Dewa. Sebagai seseorang yang harus bertahan hidup melalui film horor, itu lebih penting daripada apa pun untuk terbiasa dengan plot film.

Ini berlangsung selama sembilan hari. Hari ini adalah hari terakhir mereka di tempat ini. Mereka memutuskan untuk beristirahat dan menunggu sampai malam ketika mereka akan ditransfer ke film berikutnya. Tapi sebelum itu, mereka memiliki satu kesempatan terakhir untuk melakukan persiapan.

Sebelas malam. Zheng masih di tempat tidur mengobrol dengan Lori.

"Lalu kau akan pergi hari ini?"

Zheng merasakan beban berat. Dia tidak tahu apa yang akan dihadapi selanjutnya. Mungkin virus, atau monster, atau alien. Begitu dia di sana, keselamatan tidak dijamin. Jadi dia tidak menjawabnya. Hanya memegangnya erat-erat.

"Janji kita...untuk bersama sampai rambut kita putih, untuk mengenang masa kecil kita, kau harus membacakanku cerita, kita harus melakukan perjalanan di dunia nyata, untuk menonton aurora, untuk melihat patung-patung di Easter Island...begitu banyak janji. Katakan kau akan kembali dan menepati janji-janji kita."

Lori mengangkat kepalanya dan menatap mata Zheng sampai ia mengangguk.

"Cinta itu seperti istana pasir. Kau membangunnya bersama-sama sedikit demi sedikit, dan harus mencegahnya tersapu ombak. Ini sulit dan melelahkan tetapi ketika kau selesai, kau akan melihat betapa indahnya itu. Itu setimpal dengan tenaga yang dihabiskan untuk melindunginya."

Ia tidak pernah mendengar ini selama sepuluh tahun. Dia selalu suka mengatakan ini dan kemudian menatapnya dengan harapan. Dia tidak pernah terlalu memperhatikannya saat itu, tapi ketika ia mendengar lagi setelah sepuluh tahun, ia merasa terharu.

"Lalu...mohon selesaikan istana itu. Kali ini kita akan menjaga janji kita bersama-sama."

Zheng menutup matanya dan ketika ia membukanya lagi, ia bertekad. Dia akan hidup tidak peduli apapun.

"Pada dasarnya itu. Tiga granat setiap orang, satu penyemprot hemostatik, satu antidote mulut, satu perban, dan jimat. Terima kasih Zheng. Semua ini seharga 100 poin. Kami tidak memiliki poin untuk menukarnya."

Zheng melihat poinnya dengan senyuman pahit, ia hanya memiliki 276 poin tersisa, turun dari 6502. Tapi kemudian ia melihat semua item pendukung di dalam cincinnya dan merasa lebih baik.

Jie mengemas barang-barangnya kemudian menempatkan mereka di saku. "Meskipun itu hanya beberapa hari tapi kalian telah berlatih segala sesuatu yang kalian perlukan. Ingat satu hal: Semuanya bisa terjadi di film, sehingga kalian harus berhati-hati. Dan mencoba untuk membantu orang lain jika memungkinkan, tetapi jika mereka mempengaruhi keselamatan kalian, bunuh mereka."

Lan dan Xiaoyi ragu-ragu, tapi Zheng mengangguk. "Bagaimana cara kita ke film berikutnya? Apakah kita hilang begitu saja secara tiba-tiba?"

Jie menggeleng. "Tidak. Ketika saatnya, akan ada dua puluh beam (sorot cahaya bervolume). Kalian hanya perlu berdiri dalam salah satunya."

Mereka duduk di lantai saat mereka berbicara. Lori dan dua wanita lainnya tidak keluar untuk melihat kepergian mereka. Mungkin semua perempuan sama ketika harus melihat kekasih mereka pergi.

Setelah dua puluh menit, Dewa bertambah terang dan semakin terang. Kemudian menembakkan dua puluh beam ke lantai. Sebuah suara terdengar di dalam kepala mereka.

"Masuk ke beam dalam tiga puluh detik. Target terkunci. Transportasi ke Alien mulai. "[1]

  1. Alien (1979) adalah film tentang makhluk luar angkasa yang sangat agresif yang membunuh awak pesawat tambang luar angkasa.

 

Translator / Creator: isshh