October 4, 2016

Terror Infinity – Volume 1 / Chapter 5.1

 

“Apakah aku sudah mati?”

Zheng berdiri di sana dengan mata tidak fokus. Dia ingat sebelumnya monster itu melompat ke arahnya. Cakar-cakar besar itu tepat di depan matanya. Itu hanya butuh sekejap, hanya sekejap untuk mencabik-cabiknya.

“Lalu...aku mati?”

Zheng berdiri di sana melihat sekitarnya dengan kebingungan. Dia berdiri di suatu tempat terbuka dengan bola cahaya besar di tengah. Menerangi seluruh tempat seperti matahari. Pada sudut-sudut tempat tersebut terlihat gelap. Seperti kegelapan di mana tidak sedikitpun  cahaya yang bisa dilihat. Hanya melihatnya selama beberapa detik sudah membuat kepalanya pusing.

"Kita selamat, shit, hampir saja! Kita akhirnya berhasil selamat."

Suara Jie menyadarkan Zheng kembali. Di sana ada dia, Jie, Lan, Xiaoyi dan orang kelima. Seorang gadis yang keluar dari salah satu kamar. Dia menangis sambil berlari ke arah Jie. Pria ini menunjukkan semacam kelembutan yang bukan karakternya. Dia berlari ke gadis itu, memeluknya dan mulai berciuman.

"Jika kalian memiliki pertanyaan, tanyalah ke Dewa. Komunikasilah dengannya melalui pikiran kalian."

"Selain menciptakan orang yang kalian inginkan, jangan tukarkan apa-apa. Tunggu sampai besok. Oh iya, pilih sebuah ruangan, bayangkan kamar seperti apa yang kamu inginkan."

Dia menggendong gadis itu dan berlari ke kamarnya sebelum yang lainnya bisa berkata apa-apa. Zheng dan yang lainnya berdiri di sana melihat satu sama lain, lalu mereka menjatuhkan diri ke lantai.

"Yah dia kuat. Dia masih bisa berlari dan memiliki energi untuk bermesraan," kata Lan sambil berbaring di lantai." Aku sangat takut, aku masih tidak bisa menggerakkan tangan dan kakiku. Dan dia bertingkah seperti tidak terjadi apa-apa."

Tidak ada yang menjawabnya, dia berbalik untuk melihat kedua pria itu, mata mereka tertutup di bawah bola cahaya dan tampak sebuah tenda terbentuk di selangkangan mereka. Mungkin sedang merancang wanita mereka.

"Dua orang aneh idiot. Laki-laki semua idiot! Kita berhasil bertahan dan mengalami begitu banyak teror, namun hal pertama yang mereka pikirkan adalah hal-hal mesum."

Lan berlari menuju sebuah ruangan penuh amarah dan menutup pintu dengan keras. Membangunkan dua laki-laki dari pikiran mereka. Mereka tertawa dengan malu kemudian menutup mata dan melanjutkannya.

Ini adalah perasaan yang luar biasa, selagi Zheng memejamkan mata di bawah bola cahaya, ia merasa seolah-olah menyatu ke dalam cahaya. Sebuah layar muncul di depannya, mirip dengan program komputer. Ada empat kategori item, dan enam statistic peningkatan kemampuan, juga menampilkan jumlah poin dan reward miliknya.

Statistik Zheng adalah: Intelligence (kecerdasan) 107, Mental Capacity (kapasitas mental) 122, Cell Vitality  (vitalitas sel) 97, Reaction Speed (kecepatan reaksi) 131, Muscle Density (kepadatan otot) 112, Immunization (kekebalan tubuh) 103. Sepertinya hanya kepadatan ototnya saja yang sedikit di atas rata-rata hasil dari fitnes, poin tambahan pada kapasitas mental dan kecepatan reaksi adalah reward dari film.

Dia memiliki 6502 poin, 1000 dari misi dasar, 5000 dari hidden quest, 2 poin dari membunuh dua puluh zombie, dan 500 dari sesuatu yang lain.

"Buat seorang wanita. Buat seorang wanita..."

Zheng belum berencana untuk menggunakan poin-poinnya. Dia menyadari pentingnya itu setelah mengalami situasi hidup dan mati. Meskipun ia memiliki cukup banyak poin, ia ingin berkonsultasi dengan Jie terlebih dahulu. Hanya ada satu hal dalam pikirannya.

“Lori, bisakah aku membuat dia?”

Dewa tampaknya mengetahui pikiran Zheng. Kategori hiburan terbuka, lalu sebuah suara kaku berkata. "Penciptaan manusia untuk pertama kali gratis. Biaya kreasi masing-masing 500 poin. Harap mensimulasikan jenis makhluk, jenis kelamin, wajah, tinggi badan, usia, warna kulit, ras...dalam pikiran Anda. "

Zheng tenggelam dalam kenangannya. Tahun itu ketika ia masih remaja, ketika ia memiliki perasaan rahasia untuknya. Baunya, senyumnya, suaranya, kenangannya terasa begitu nyata.

"Jadi ternyata kehidupan membosankanku adalah karena kehilangan dia. Bahwa aku jatuh ke dalam kegelapan karena tangannya tidak lagi memegangku.”

"Selama kau berada di sisiku, aku tidak akan pernah jatuh ke kegelapan..."

Air mata mulai menetes, kemudian menghilang ketika menyentuh lantai.

Ketika ia membuka matanya lagi, seorang gadis berusia 15 tahun berdiri di depannya. Gadis ini adalah gadis yang sama dalam kenangannya, Lori.

Mereka tumbuh bersama. Meskipun mereka sudah terbiasa satu sama lain hingga ke titik di mana mereka bahkan tidak menyadari kehadiran orang lain; namun akhirnya mereka menyadari pentingnya orang lain. Anak yang dibesarkan di kota besar kebanyakan kesepian. Pintu di apartemen biasanya selalu tertutup. Terkadang kamu bahkan tidak tahu siapa tetanggamu meskipun setelah tinggal di sana selama beberapa tahun.

Zheng selalu berpikir dia beruntung. Orangtuanya berani dan supel. Mereka akan mengundang tetangga untuk makan bersama dan kebetulan, tetangga mereka adalah tipe orang yang sama. Jenis orang yang langka di kota-kota. Dan hal yang paling beruntung adalah ia bertemu dengan seorang gadis yang satu tahun lebih muda dari dia.

Dia seperti diberkati oleh Tuhan. Sempurna seperti kristal murni. Dia pintar, baik hati, tangguh, suka tertawa terbahak-bahak, tidak takut dengan kesulitan apapun.

Dia berpikir selama dia ada di sisinya, hatinya tidak akan pernah merasa dingin.

Tapi mengapa kehidupan manusia begitu rapuh? Dia hanya lima belas tahun saat dia terbaring di ranjang putih itu. Proses kemoterapi yang berkepanjangan mengambil rambutnya yang panjang. Wajah pucat itu tidak lagi tampak hidup. Semua yang tersisa adalah senyumnya. Tapi ia tahu bahwa senyum itu hanya untuk menghibur orang-orang yang dekat dengannya.

Apa itu hidup? Mengapa senyum yang indah tiba-tiba berubah menjadi abu? Itu bukan apa yang ia inginkan, ia ingin melihat senyum lembut itu, dia ingin melihat dia berguling di atasnya, dan berbicara ke telinganya...

Mendayung melewati lautan manusia di dunia hitam dan putih. Dia terus jatuh, membusuk, satu per satu wanita, bar, ekstasi, es, dan mungkin cepat atau lambat, heroin.

"Selama kau berada di sini. Aku tidak akan jatuh..."

Ketika Zheng bangun, waktu sudah menunjukan jam sebelas lebih. Dia mengambil rokok di meja ketika ia menyentuh sesuatu yang lembut.

"Berhenti. Biarkan aku tidur sedikit lagi..."

Layar komputer, Resident Evil, kematian, dan Lori. Kenangan datang kembali kepadanya. Dia tiba-tiba di balik selimut dan ada dia. Seorang gadis lima belas tahun, dengan bekas air mata di wajahnya dan darah di seprai.

Zheng hanya bisa mengingat ketika ia menciptakan manusia, ia teringat segalanya tentang dia. Dan ketika melihat wajahnya ia tidak bisa lagi membendung perasaannya.

Dia sekarang menatap wajah yang familiar. Ada begitu banyak hal yang ingin ia katakan. Dan sebelum ia mengetahuinya, wajahnya basah oleh air mata.

Gadis itu merasa kedinginan, ia berusaha meraih selimut lagi tapi tidak bisa menggapainya. Dia membuka matanya dan melihat Zheng menatapnya. Dia merasa malu dan menyambar selimut dari tangan Zheng. Kemudian dia mulai menangis.

"Zheng bodoh, kau membuatku kesakitan tadi malam dan sekarang kau menggodaku. Dan aku membuatkan kau sarapan satu bulan ini. Kau bilang akan memberiku sebuah cincin ketika aku sudah delapan belas tahun dan menikah setelah dua puluh dua tahun. Idiot, aku bahkan belum enam belas belum."

Zheng bergetar saat mendengar kata-kata ini. Dia memegang tangannya dan bertanya, "Kau...Lori, kau punya ingatan? Kau ingat semuanya?"

Dia berhenti menangis dan bertanya penasaran, "Apa maksudmu jika aku masih memiliki ingatanku? Dan, Mr. Pervert, silahkan kenakan pakaian anda, lalu ke rumah saya dan bawakan saya gaun hijau itu. Anda merobek pakaian saya tadi malam. Terima kasih Tuhan, orang tua saya sedang bekerja."

Zheng terkejut. Perilaku gadis ini, nada, dan tindakannya persis sama dengan bagaimana dia mengingatnya. Lalu ia menyadari ruangan ini adalah kamar yang sama yang ia tempati ketika ia masih remaja. Bahkan detailnya pun sama persis.

"Astaga, orang tuamu mungkin mendengar suara kita tadi malam. Mereka mungkin akan berpikir bahwa aku tipe gadis seperti itu. Kau idiot, cabul…Aku tidak tahu bagaimana menghadapi ibumu lagi."

"Tunggu, mungkin aku sedang bermimpi selama ini? Segala sesuatu yang terjadi kemarin? Bahkan ketika kau sakit? Haha. Itu semua hanya mimpi!"

Zheng memegangnya dan tertawa keras. Kemudian setelah beberapa saat dia mulai menangis. Lori juga berhenti berusaha melepaskan diri dan memeluknya erat-erat.

“Terima kasih Tuhan itu semua mimpi. Aku tidak ingin masa depan seperti itu...”

Lalu ada ketukan di pintu. Lori masuk ke dalam selimut. "Orangtuamu kembali, cabul, bagaimana aku bisa keluar? Aku tidak punya pakaian."

Zheng tiba-tiba merasa dingin. Dia bisa merasakan seseorang memanggil namanya, suara itu adalah Jie. Dengan kata lain, dia tidak bermimpi, Lori dalam pelukannya hanyalah makhluk yang ia ciptakan.

Dia memaksakan sebuah senyuman. "Lori, aku akan keluar dan membawakan kau beberapa pakaian. Tunggu di sini dan jangan ke mana-mana."

Zheng mendesah, mengenakan pakaiannya, dan pergi ke lobi.

Dia membuka pintu dan melihat Jie dan yang lainnya. Dia menatap mereka dan bola cahaya masih berada di tengah-tengah.

"Beri aku waktu sebentar."

Dia berlari menuju Dewa. "Katakan padaku, Dewa. Bukankah dia adalah makhluk yang engkau buat? Mengapa dia memiliki ingatan? Mengapa dia persis sama dengan dia? Apakah dia tahu tentang tempat ini? Apa yang terjadi?"

Translator / Creator: isshh