June 21, 2017

Terror Infinity – Volume 9 / Chapter 9.1

 

Lima hari pertama dihabiskan untuk menguji enhancement dan kemampuan baru. Semua beristirahat tenang pada hari-hari yang tersisa. Film sebelumnya mungkin membuat stress terlalu banyak. Meskipun itu hanya satu jam, tapi mereka semua terus berlari demi hidup mereka sepanjang waktu. Waktunya singkat, namun stresnya lebih parah daripada film lain yang sudah mereka lalui sebelumnya.

Alasan lainnya adalah karena pertempuran tim di film berikutnya. Meskipun persiapan sudah dibuat tapi siapa yang bisa menjamin mereka akan tetap hidup? Beberapa hari latihan tidak akan membuat banyak perbedaan, jadi mereka lebih suka untuk menikmati hidup sejenak. Ini adalah hari-hari yang diinginkan semuanya.

50 poin bisa mengubah ruang bawah tanah menjadi dunia realistis dengan matahari, angin, dan hujan. Satu-satunya hal yang aneh adalah sebuah tangga yang keluar entah dari mana.

Pada hari keenam, mereka merencanakan wisata bersama di kamar Zheng. Dia dan Lori mempelajari sebuah film dokumenter Alpen untuk membuat pemandangan di ruang bawah tanah. Daerah itu membentang 100 kilometer. Selain pegunungan bersalju, ada juga padang rumput hijau dengan sungai kecil. Ini tampak seperti sebuah alam, resor yang belum tercemar. Ini pasti sudah dirusak oleh wisatawan di dunia nyata.

Semua orang berkumpul di kamar Zheng pada hari berikutnya. Empat pria dan lima wanita memasuki ruang bawah tanah, masing-masing membawa makanan dan minuman, arang dan piring. Bahan utama untuk barbekyu adalah ikan dari sungai. Zheng secara khusus menempatkan berbagai jenis ikan air tawar di dalamnya. Memancing juga merupakan bagian dari menghabiskan waktu bersantai mereka.

Semua orang berseru pada pemandangan saat mereka masuk. Pintu masuk itu berada di sebuah bukit kecil. Penampakan di depannya adalah sebuah dataran rumput hijau yang melambai oleh angin. Lebih jauh lagi terdapat pegunungan salju, lalu langit biru yang jernih, dan sinar matahari keemasan, membuat tempat ini tampak seperti surga.

Mereka berjalan menuruni bukit ke sebuah hutan dengan sebuah sungai tidak jauh dari sana.

“Sungguh indah!” Lan yang pertama kali memberi pujian, diikuti oleh Ran dan gadis ChengXiao ini. Mereka tertawa kemudian menarik Lori dan Yinkong saat mereka menuju ke arah sungai. Setiap gadis memiliki kecantikan yang unik yang melengkapi pemandangan itu.

Gadis-gadis yang bermain di sungai tampak begitu bahagia. Bahkan Yinkong tersenyum. Zheng dan pria lainnya sudah mulai menyiapkan panggangan, membersihkan lapangan, dan mengatur sebuah panci besar.

“Ok, gadis-gadis. Ayo petik beberapa jamur. Haha.” ChengXiao tertawa dengan mesum. Jawabannya adalah sebuah pukulan dari setiap gadis. Pukulan Yinkong adalah yang paling kuat dan menghancurkan semua mimpi-mimpinya sekaligus.

ChengXiao sangat tangguh. Dia dengan cepat membalik kembali dan tertawa. “Benar-benar gadis yang cantik. Mereka begitu lucu bahkan saat mereka memukul.”

“Sepertinya tidak…” Ketiga pria lainnya menyeka keringat di dahi mereka.

Setelah menyiapkan tempat, mereka masing-masing mengambil pancing menuju ke sungai. Zheng mengeluarkan kotak kecil dan berkata. “Haha, umpan super, 5 poin untuk satu kotak. Deskripsi mengatakan bahwa semua jenis ikan menyukai mereka.”

Mereka berbau aroma eksotis sesaat mereka membuka kotak itu. Umpan adalah pasta yang sangat padat. Meskipun kecil tapi itu lebih dari cukup.

Honglu menaruh sedikit pasta itu di kail dan melemparkannya ke sungai. “Apakah ada banyak ikan di sini? Jenis apa?”

Zheng juga melemparkan kail dan duduk di tepi sungai. “Jangan meremehkan sungai kecil ini. Lebarnya memang hanya enam meter tetapi kedalamannya juga beberapa meter. Jika kau tidak tahu cara berenang, kau harus duduk sedikit lebih jauh ke belakang. Ada ayu, belut, giant sword minnow, saury, roughskin sculpin, etc. Semuanya adalah spesies langka karena ikan tidak dikenakan biaya poin. Ikuti aliran sungai, kau akan menemukan sebuah danau. Ada buaya di danau. Aku dengar daging buaya rasanya lembut. Luangkan waktu untuk mencobanya.”

Honglu mendesah. “Sejujurnya, saya tidak suka makan ikan. Tulang-tulang kecil itu terlalu mudah nyangkut di tenggorokanmu. Sebaliknya, saya pikir serangga lebih enak. Cobalah mereka. Seperti lebah madu, atau kelabang goreng, atau laba-laba panggang. Serangga ini sangat lezat.”

Zheng dan Heng memijat perut mereka. ChengXiao menoleh ke Honglu sambil tertawa. “Pesta serangga? Saya sudah makan serangga sejak aku masih kecil. Ibuku suka memberiku serangga dan mengatakan semakin beracun mereka, semakin enak. Ha ha.”

Honglu mengangguk kemudian ia merasakan tarikan pada pancingnya. Tali pancing juga menarik menjauh. Heng segera meraih tongkatnya dan menariknya ke atas.

Zheng juga datang untuk membantu. “Tali ini terbuat dari fiber kaca, bahkan ikan paus pun tidak dapat memutuskannya. Ini dia!”

Seekor belut yang mirip ikan ditarik dari air. Zheng mempelajari ikan ini sehari sebelumnya dan berkata. “Ini adalah belut marmer. Belut ini lezat dan tidak memiliki tulang kecil.”

Saat itu, Heng menarik tongkatnya sendiri dan seekor  ikan pipih besar keluar dari air.

Umpan itu sesuai dengan reputasinya. Ember mereka dipenuhi dengan ikan hanya dalam sepuluh menit. Mereka harus melepaskan beberapa kembali ke sungai untuk mencegahnya meluap. Para gadis itu masih belum kembali sehingga para pria ini berbaring di rumput dan mengobrol sambil merokok.

“Jadi pemerintah tidak memilih orang-orang dari tentara tapi hanya dari pasukan khusus dan orang-orang dengan kemampuan khusus?” Tanya Zheng.

ChengXiao membalas. “Benar. Ini adalah perintah Kolonel Xuan. Jujur, saya terkejut saat baru masuk, karena dia sudah mati. Apakah kau tahu seberapa hebat dia? Dia kuat dalam pertempuran, selain teknik kuncian, saya tidak bisa menang melawan dia di bidang apapun. Kebijaksanaannya tak terbayangkan. Dia adalah panutanku.”

Zheng terdiam sejenak kemudian bergumam. “Apakah kau juga dari pangkalan militer yang sama? Bagaimana kau bisa tahu Xuan?”

“Pamanku adalah seorang peneliti di militer. Aku pergi bersama dengannya dan memasuki pangkalan ketika saya masih kecil dan bertemu Kolonel Xuan. Dia seperti representasi klasik dari ‘jangan mendekat’. Meskipun ia tidak mengatakan apa-apa yang kasar tapi ekspresi apatisnya menolak semua orang.”

Zheng mendesah dan tidak mengatakan apa-apa.

Bersamaan dengan nyanyian burung yang terdengar dari jauh, ini adalah waktu bersantai yang tidak pernah ia rasakan dalam waktu yang lama.

 

Translator / Creator: isshh