November 15, 2017

Terror Infinity – Volume 11 / Chapter 8.2

 

Zheng terhenti kaget selama beberapa saat. Suara para pigmi itu semakin dekat. Sebuah peluru menusuk punggungnya dan mendorongnya mundur pada saat ini. Dia menarik napas panjang lalu mengeluarkan sebuah granat dari ring. Saat ia menarik cincinnya, sebuah garis merah turun dari kepalanya dan bertemu dengan aliran udara didalam hatinya. Granat itu menyentuh tanah disaat yang bersamaan.

Waktu terasa berjalan lambat. Zheng bergerak cepat kearah kelompok itu. Batu yang ia injak itu hancur berantakan. Masing-masing langkah meninggalkan jejak kaki yang dalam ke tanah dan juga membawanya pergi sepanjang sepuluh meter ke depan. Sepertinya ia mengambang setengah meter diatas tanah.

“Sembilan!”

Zheng melewati 200 meter ditepi ngarai. Lalu ia melompat lurus setinggi sepuluh meter. Dia menginjak sebuah batu dan melompat lagi. Batu itu meledak. Disaat yang sama ia sudah sampai dipuncak. Rasa takut akhirnya berpindah kepada orang-orang yang berada dibelakang Imhotep. Namun, tak ada waktu bagi mereka untuk bereaksi. Mereka semua bergerak lambat ditatapan Zheng.

“Delapan!”

Zheng berlari kearah orang berkulit hitam yang menahan Evelyn sebagai sandera. Tampaknya ia adalah pemimpin dari semua orang yang memakai jubah hitam. Jarinya bergerak menuju pelatuk pistol. Zheng mencengkeram lengannya dan memutarnya tanpa adanya perlawanan. Ekspresi pria itu bahkan tak bereaksi dalam kecepatan ini. Zheng menarik lengannya dan membuangnya lalu menendang punggungnya. Pria itu melayang dengan tubuhnya berbentuk seperti Z.

“Tujuh!”

Target Zheng berikutnya adalah dua orang yang memegang O’Connell dan Jonathan. Kedua pria ini berdiri paling dekat dengan pemimpin dan mereka menarik pemicu disaat yang hampir bersamaan. Zheng hampir tiba waktunya untuk mengangkat tangan mereka sebelum senjata mereka menembak. Melihat betapa kejamnya mereka, dia menggunakan cara yang sama seperti sebelumnya. Dia meninju kepala dan menghancurkannya.

“Enam!”

Disaat kedua orang yang sudah tak berkepala itu terbaring ke tanah, sebuah ledakan besar terjadi didalam ngarai. Sebuah gelombang meledakkan pasir dan debu. Setiap orang secara naluriah melihat awan berbentuk jamur kecil ditengah-tengah. Ledakan itu masih terjadi diseluruh ngarai dan mengisinya dalam kebakaran.

Ardeth menangani pria yang menahannya. Dia siap disaat Zheng menghilang dari ngarai. Ketika orang pertama tertendang, dia merebahkan dirinya lalu berdiri dan memukul wajah pria dibelakangnya dengan kepala. Dengan cepat ia berbalik dan menendang leher pria itu untuk menjatuhkannya.

“Lima!”

Zheng masih berada dalam kondisi “Explosion”. Dia sudah bisa merasakan luka didadanya yang robek terbuka. Ia segera mengeluarkan kapak sekaligus menyalurkan sedikit qi ke dalam cincin Na dengan susah payah. Lalu dia melompat kearah Imhotep.

Reaksi Imhotep begitu jelek. Dia adalah seorang pastor sebelum dia meninggal. Meskipun dia mendapatkan sihir dan tubuh yang tak dapat terbunuh, namun ia tak memiliki kualitas layaknya seorang prajurit. Butuh beberapa detik untuk kembali sadar. Namun, Zheng sudah memukulnya dengan cincin Na miliknya ketika Imhotep ingin b mengubah dirinya menjadi badai pasir. Medan kekuatan tak kasat mata menyingkirkannya. Tetapi Zheng lebih cepat. Dia menerjang kearah samping Imhotep sementara Imhotep masih berada dipertengahan udara dan membelahnya menjadi dua dengan kapak.

“Empat!”

Pria berjubah hitam sisanya pada akhirnya mengangkat senjata mereka dan berencana untuk menembak. Zheng meraih rantai kapaknya dan melemparkannya ke atas. Kapak dengan mudah memotong semua orang yang melewatinya menjadi dua bagian dan bahkan rantai itu bisa menembus siapapun karena jumlah kekuatan yang digunakan oleh Zheng. Kapak itu bergerak melingkar dan kemudian kembali. Satu-satunya orang yang tersisa sedang berdiri adalah seorang wanita berdiri paling jauh dan beberapa pria berjubah hitam didekatnya. Mata mereka tampak ketakutan.

“Tiga!”

Zheng mengeluarkan Sky Stick dan berlari kearah kelompok O’Connell. Dia melemparkannya ke Sky Stick dan meraihnya dibawah lengannya dan memegang kedua lainnya. Dia mengulurkan Gatling Cannon dengan lengan satunya dan mengarahkan ke Imhotep yang sedang memulihkan tubuhnya.

“Dua!”

Zheng menarik pelatuknya. Sejumlah besar peluru meriam menusuk tubuh Imhotep dan merobeknya menjadi beberapa bagian. Sky Stick terbang keluar dari hutan, hampir di atas puncak pepohonan. Kecepatannya 700 kilometernya secepat Zheng dalam mode Explosion. Mereka terbang menjauh dari Imhotep hanya dalam sekejap mata.

Zheng akhirnya keluar dari mode Explosion kemudian darah menyembur keluar dari mulutnya. Dia hampir terjatuh dari Sky Stick namun ia tetap bertahan dan terus mengendalikannya. Dia tak tahu berapa banyak waktu yang telah berlalu sampai mereka sampai diujung hutan. Izzy masih mengurus balon udaranya. Zheng jatuh pingsan begitu melihatnya.

Zheng perlahan terbangun. Dia merasakan sensasi yang menyakitkan dan membakar disekujur tubuhnya, seperti ada sesuatu yang terlepas, terutama pada jantungnya. Dia ingin menjerit namun tenggorokannya juga kering dan sakit. Dia tak bisa menggerakan bagian tubuhnya terkecuali kelopak matanya.

Begitu ia membuka matanya, O’Connell dan yang lainnya segera membawanya sebuah air. Setelah meminum air, akhirnya ia bisa melihat bahwa ia sedang terbaring di dek balon udara. Seluruh tubuhnya terbungkus perban bagaikan mumi. Dan hal yang paling mengejutkan adalah balon udara itu sudah bisa terbang kembali.

“Sky Stickmu memang sangat berguna. Kami baru saja meletakkannya dibawah balon udara serta menahannya ditempat dengan sepotong kayu. Masih ada sedikit gas tersisa, cukup untuk membuat kita pergi. Dan kecepatan ini luar biasa. Haha. “Izzy tertawa.

Balon udara itu terbang lebih cepat jika dibandingkan dengan menggunakan acceleration sebelumnya. Kecepatan ini seharusnya membawa mereka ke Hamunaptra sebelum malam tiba. Zheng mulai memeriksa kondisi tubuhnya.

Menggunakan teknik Explosion dibawah kondisi cedera membawa dampak yang sangat besar ditubuhnya. Beberapa pembuluh darah utama rusak. Tulang-tulangnya hampir hancur. Otot didadanya robek dan banyak darah masuk ke paru-parunya serta mencekiknya. Untungnya, dia bertahan dengan bantuan garis keturunan vampir.

“Perdarahan yang berlebihan. Perlu istirahat selama dua hari. Mari kembali ke Hamunaptra dan dapatkan Book of Amun-Ra terlebih dahulu. “

Zheng merasa puas. Untungnya semua orang hidup. Explosion itu memang teknik yang sangat ampuh. Dia perlu menguasainya sehingga ia bisa memiliki kesempatan melawan kloningnya.

Mereka tiba di Hamunaptra menjelang malam tiba dan Zheng akhirnya dirawat oleh dokter yang sebenarnya. Setelah beberapa jahitan di dadanya dan mengoleskan lapisan krim obat menutupi tubuhnya, dia dibalut lagi. Zheng sehingga pada akhirnya ia tertidur. Ia tertidur selama lebih dari tiga puluh jam.

Tingkat pemulihan darah garis keturunan vampir sangat luar biasa. Dia bisa bergerak seperti orang normal setelah terbangun. Tak ada yang menduga dia hampir mati dua hari yang lalu. Sebuah kejutan juga menunggunya. Evelyn memegangi Book of Amun-Ra dan para pekerja bersorak sorai.

“Orang–orang akan melakukan sesuatu dengan imbalan yang cukup.”

Ardeth berseru. Semua pekerja menerima sepuluh kali lipat gaji normal mereka segera setelah mereka menggali Book of Amun-Ra. Jadi mereka bersorak dan bersyukur kepada  Tuhan. Zheng menerima buku itu dan langsung berlari ke altar. Dia harus memastikan apakah kloningnya itu benar atau tidak. Jika tidak, maka semua yang telah ia lakukan selama ini adalah pemborosan.

“Bangkitlah para anggota tim China yang tampil sebelumnya. Biaya 7000 poin dan Rank B reward dengan tubuh. Biaya 8000 poin dan Rank B reward tanpa tubuh. Dewa akan mengkloning tubuh sama persis disaat dalam keadaan mati. “

“Apakah kau ingin menghidupkan kembali anggota tim?”

 

Translator / Creator: fatality