November 1, 2017

Terror Infinity – Volume 11 / Chapter 6.3

 

Mereka saling berpandangan sejenak, lalu semua orang melakukan hal yang sama. Mereka bergegas memasuki balon udara. Teriak O’Connell. “Izzy, mendarat! mendaratlah!”

Orang berkulit hitam itu menikmati sebotol brendi disaat ia mendengar teriakan itu. Dia menoleh ke tempat yagn ditunjuk oleh O’Connell. Botol itu turun ke geladak dan ia berteriak menjawab. “Aku tahu aku akan sangat sial jika mengikutimu. Aku tahu itu … ” Dia menghunuskan pedang dipinggangnya dan memotong tali yang mengikat balonnya.

Semua orang sudah sampai di geladak pada saat ini. Mereka menatap badai pasir yang semakin mendekat dan mendekat, serta melihat balon udara yang bergerak dengan sangat lambat.

“Sialan.” O’Connell panik. Dia memegang Izzy. “Mengapa kau berubah dari pilot pesawat terbang menjadi pilot balon udara?”

Izzy membalas berteriak kepadanya. “Heck, seperti aku mendengarkanmu dan menyetirkan pesawat kearah musuh lagi. Jika kau tak melepaskanku, kita semua akan terkena musibah. “

Disaat badai pasir itu semakin mendekat, pasir itu membentuk sesuatu.

Adegan itu terasa begitu akrab, terutama bagi O’Connell dan Evelyn. “Imhotep!”

Seperti yang diharapkan. Badai pasir itu membentuk kepala botak. Mulutnya terbuka seperti orang tertawa dan sedikit terbengkalai ditengah udara. Izzy tiba-tiba menarik rantai dengan cara mengendalikannya. Dua tiang api meledak dari arah belakang dan mendorong balon udara kedepan, menghindari gigitan dari kepala botak. Kepala itu mengikuti dengan kecepatan yang sama dengan balon udara.

Keduanya terbang cukup jauh sampai-sampai sebuah ngarai muncul didepan mereka. Dibagian bawah ngarai itu terdapat sungai. Teriak Zheng. “Izzy, dorong balon udara ini ke ngarai! Cepat! “

Izzy melakukannya tanpa ragu. Sejujurnya, dia bahkan belum sempat memikirkannya dan mengikuti apa yang orang lain katakan. Dia memusatkan perhatiannya pada jalan yang berkelok-kelok di ngarai.

Kepala botak juga masuk bersamaan dengan pasir tak berujung yang memenuhi langit. Itu tampak seperti gurun yang membanjiri ngarai. Kepala bergerak lebih cepat dan perlahan menutup celah antara ngarai itu dengan balon.

“Tidak. Balon udara ini tak bergerak lebih cepat lagi. Kita semakin melambat! “Evelyn langsung berteriak.

Teriak Izzy kembali dengan tak berdaya. “Apa menurutmu bahan bakarku ini tak ada habisnya? Kecepatan ini hanya bisa berlangsung sementara waktu. Berpeganglah pada sesuatu! ” Balon itu membelok dan hampir membuat semua orang terlempar keluar dari sana.

Kepala botak itu menyusut disaat pasir itu hampir saja mencapai balon udara, ukurannya sama tingginya dengan balon. Disaat yang lain melihat kearah belakang, kepala itu meleleh kesungai beserta pasirnya.

Mereka berhenti sejenak lalu bersorak. Tak ada yang lebih menarik selain melarikan diri dari kematian. Kegembiraan itu mengatasi kenyataan bahwa balon itu terbang miring. Izzy berteriak ketika balon itu bergerak turun.

“Uh. Semuanya berpeganglah pada sesuatu! “Akhirnya Izzy berteriak.

O’Connell menahan tangan Evelyn erat-erat dan membalas berteriak. “Sialan. Bisakah kau berkata sesuatu yang baru? “

Izzy berpikir sejenak serta menambahkan. “Balon udara ini akan menabrak!”

Untungnya, mereka telah terbang keluar dari ngarai dan menabrak hutan belantara. Balon udara itu menabrak sebuah pohon besar. Cabang yang begitu tebalh dan dedaunan menyangga dampak dari tabrakan itu. Namun, mereka masih terlihat begitu takut setelah terlempar ke tanah.

“Aku tahu itu. Aku tahu itu. Tak ada sesuatu yang baik datang darimu! “Izzy memijat-mijat kepalanya.

Yang lainnya juga memijat kepalanya ditempat mereka mengalami tabrakan. Evelyn satu-satunya orang yang utuh. O’Connell memeganginya sepanjang waktu dan mengambil dampak dari kejatuhannya. Dia bangkit dan melihat sekeliling.

“Seharusnya ini adalah Oasis Ahm Shere. Tuhan, Benar-benar terdapat sebuah hutan yang sangat besar di padang pasir. Itu luar biasa. Dikatakan bahwa tentara Anubis tinggal di hutan ini. Bahkan piramida Scorpion King dibangun di sekitar sini. “Evelyn tertawa ketika melihat sekeliling dengan matanya yang berkilau. Sepertinya ia tak bisa menunggu lebih lama lagi.

Zheng tersenyum pahit. Dia ingat Evelyn tak begitu terobsesi dengan piramida di film ini. Padahal, anaknya diculik disaat film kedua dan baru tersisa tujuh hari. Dia tak punya waktu untuk peduli dengan piramida.

Zheng bangkit dan bertanya pada yang lain. “Apakah itu tadi Imhotep? Bukankah dia sudah kita bunuh? Dan orang-orang Medjais pun juga telah menggali piramidanya. Bagaimana mungkin ia bisa hidup kembali? “

Wajah Ardeth terlihat menakutkan. Dia meniup peluit kemudian seekor elang kecil terbang mendekat dan mendarat dilengannya.

“Burung elang itu telah mengikuti kami kalau-kalau terjadi sesuatu sehingga aku bisa berhubungan dengan suku milikku. Biarkan aku menjelaskan apa yang terjadi di Hamunaptra. Kuharap itu bukanlah sesuatu yang besar. “Ardeth menulis di selembar kertas kecil lalu memasukkannya ke dalam botol yang terikat pada kaki elang itu. Dia mengangkat lengannya dan elang itu terbang menjauh.

Setelah elang itu tak terlihat, semua orang menatap Zheng. Ia bergumam “Aku tak takut melawan Imhotep. Namun ia tak bisa dibunuh. Jika itu memang benar-benar Imhotep, kita akan membutuhkan Book of Amun-Ra untuk membunuhnya. Tak ada cara untuk menghadapinya sampai kita menggali buku ini. Mari kita cari piramida dihutan ini terlebih dahulu. Imhotep seharusnya telah kehilangan kekuatannya didalam piramida. “

Mereka tak mengerti mengapa ia mengatakannya secara pasti. Semua orang mengatur senjata dan tas mereka. Kata Izzy. “Tuhan, balon udara ini sekarang tak dapat digunakan lagi. Lihat, kantong gasnya rusak. Ini bukanlah balon udara panas. Bagaimana kita bisa menemukan gas dihutan ini? “

O’Connell pura-pura tertawa. “Izzy, pria seharusnya tak pernah mengeluh. Kami percaya bahwa kau akan menemukan jalannya. Haha oh ya. Kau pasti akan menemukan cara untuk membuat balon udara ini terbang lagi.” Dia memegang Evelyn dan berlari kedepan.

Yang lainnya juga berlari dibelakang O’Connell, meninggalkan Izzy dengan balon udara. Orang yang malang itu harus mengurus balon udaranya yang setengah hancur ini sendirian.

Di padang gurun, Imhotep membuka matanya dan tertawa. “Aku tak dapat membunuh mereka padahal mereka berada tepat didepanku. Aku akan mencabut nyawa mereka ketika aku menemukannya kelak. Aku mendengar apa yang mereka katakan. Tak akan ada lagi Book of Amun-Ra untuk kalian… Haha.”

Imhotep berjalan kedepan. Seorang wanita cantik, seorang pria tua berjubah hitam, seorang pria kulit hitam berotot, dan sekelompok kavaleri mengikutinya menuju ngarai diluar kuil.

 

Translator / Creator: fatality