October 30, 2017

Terror Infinity – Volume 11 / Chapter 6.2

 

“Dengarkan. Kita akan menghadapi tiga patung saat ini. Entah mereka bisa bergerak ataupun tidak, untuk berjaga-jaga, kita harus melakukan persiapan terlebih dahulu. “

Zheng dan yang lainnya berdiri beberapa ratus meter di luar Kuil Abu Simbel. Dia menusuk lubang ketanah dengan tombaknya  lalu melemparkan beberapa granat. Granat-granat itu membuka beberapa lubang yang memiliki kedalaman setidaknya tiga belas meter dan lebar dua puluh meter. Tak memungkinkan bagi patung-patung itu untuk bisa naik kembali begitu sudah terjatuh.

“Itulah yang kukhawatirkan. Misi ini seharusnya tak sesederhana itu. Mereka mungkin bisa memanjat. Patung setinggi delapan meter dilubang sedalam tiga belas meter. Ia hanya perlu mengangkat tangannya untuk memanjat. Sama seperti bagaimana kau sedang terjebak dalam lubang sepanjang dua meter,” kata Zheng.

Jonathan sedang meminum sebotol anggurnya. “Kurasa patung-patung itu tak bisa melompat. Berat badan mereka hanya akan membuat mereka semakin tenggelam jika mereka mencoba untuk melompat. “

Zheng tertawa. “Hal itu belumlah pasti. Karena itu, aku harus menggunakan mantra quicksand. Begitu mereka terjatuh kedalam lubang, berikan aku waktu tiga detik. Jangan biarkan mereka melakukan sesuatu pada saat itu. Aku akan melakukan yang terbaik untuk melepaskan mantra dan kalian semua lempar bahan peledak kearah mereka. Ingatlah untuk mulai melempar bahan peledak begitu mereka sudah berada dibawah sana. “

Zheng membawa TNT sepanjang sepuluh meter kubik dikarenakan tas dimensi itu memiliki ruang. Dia telah menjual sekitar tujuh meter kubik emas untuk membuka ruang itu. Dia menempatkan selusin disisi tiap orang, jadi jika salah satu bom saja terpicu tanpa sengaja, mereka semua bisa saja tewas.

Wajah Evelyn tampak pucat. “Zheng, bisakah kau memasukkan beberapa dari bom itu kembali? Tidakkah bom itu terlalu banyak? “

Zheng melihat sekeliling. Memang bom itu terlihat terlalu banyak. Bahkan Ardeth dan O’Connell pun terlihat tampak pucat. Mereka bergerak secara perlahan seperti sedang berada diarea yang beranjau.

Zheng harus mengembalikan sebagian besar dari bom itu dan membiarkan tiga bom di sisi masing-masing orang. Mantranya hanya memakan waktu tiga detik, jadi satu bom tiap detik seharusnya sudah cukup. Dia benar-benar merasa cemas karena harus melawan tiga patung.

Kelompok itu berdiri disalah satu sisi lubang. Zheng menarik napas panjang dan berjalan menuju kuil. Candi ini tampak hancur. Pintunya hampir lenyap. Tiga patung itu berada didekat tepi tebing dibagian belakang kuil. Mereka memberi nuansa lapuk dan kuno. Zheng mengukurnya dan mereka hampir memiliki ketinggian sepuluh meter. Evelyn meremehkan mereka.

Zheng merasa pahit. Dia melihat patung sebelumnya hanya bisa menggerakkan kakinya dengan kecepatan tinggi. Jadi patung tujuh meter itu sedikit lebih lambat dari dia. Namun, jika itu adalah patung setinggi sepuluh meter, kecepatannya akan naik sekitar 30% karena kakinya lebih panjang.

Meskipun demikian, Zheng tak punya pilihan selain berjalan menuju kuil. Berada dijarak lima puluh meter jauhnya sedangkan patung-patung itu masih belum bergerak. Ketika mereka mendekati jarak sepuluh meter, patung-patung itu bergetar dan berdiri. Mereka berjalan sepanjang beberapa meter dengan satu langkah dan patung yang berada didepan menepuk tinjunya kearah Zheng.

Tinju ini lebih besar dari tubuhnya. Zheng mengaktifkan teknik gerakan dan berlari menuju lubang. Suara benturan dan gelombang ledakan kuat dari punggungnya membuatnya tahu patung itu menancapkan lubang ke tanah.

Zheng berlari dengan kecepatan penuh, namun patung-patung itu berjalan jauh lebih cepat daripada patung sebelumnya dan apa yang mereka perkirakan. Mereka berlari menuju lubang besar dengan kecepatan yang sama.

Ratusan meter hanyalah kedipan mata untuk patung-patung itu. Ketika Zheng mendekati lubang itu, ia tiba-tiba berguling ke samping. Patung-patung itu sampai di tempat ia berada dan momentum membawa mereka masuk kedalam lubang. Kejatuhan mereka terdengar seperti meteor yang menabrak tanah. Disaat yang bersamaan, O’Connell, Jonathan, dan Evelyn menyalakan TNT dan melemparkannya kedalam lubang.

Debu secara langsung mengisi lubang dengan ledakan, diikuti dengan suara benda yang menabrak tanah. Patung-patung ini berusaha melompat mundur seperti yang telah diperkirakan oleh Zheng sebelumnya. Hanya saja, ledakan tersebut membuat patung-patung itu terjatuh.

Dia segera mengeluarkan Book of the Dead dan mulai meneriakkan mantra quicksand. Energi darahnya habis dengan cepat. Pasir didepannya menjadi lembut dan menyebar hingga membentuk sebuah lubang. Patung yang baru saja terjatuh dari lompatannya langsung tenggelam karena pasir apung itu. Bobotnya yang sangat berat membuatnya tenggelam dengan sangat cepat sama seperti sebelumnya. Segera setelah itu, ketiga patung itu menjadi lenyap.

O’Connell, Jonathan, dan Evelyn terbaring ke tanah. Waktu tiga detik itu terasa seperti setahun. Patung-patung itu begitu mengerikan setiap kali mereka melompat dan wajah-wajah besar mereka mendekati ketiganya. Sebenarnya, melemparkan TNT tersebut menjadi naluri untuk bertahan hidup. Jika patung-patung itu keluar, mereka akan hancur karena berat badan mereka.

Zheng menghampiri mereka sambil tertawa. Jonathan berkata “Apakah kau benar-benar yakin ada berlian besar di piramida? Seukuran …”

Zheng memotongnya perkataannya. “Percayalah kepadaku. Terdapat berlian seukuran sepak bola. “

O’Connell dan Evelyn tertawa cekikikan. Mereka akhirnya duduk-duduk, namun butuh beberapa saat sebelum mereka bisa bergerak. Gelang di pergelangan tangan Zheng bergerak dan memproyeksikan sebuah gambar. Gambar itu bukanlah tujuan selanjutnya. Gambar itu adalah Kuil Abu Simbel ini. Lalu proyeksi itu bergerak melalui ngarai dengan sungai. Di ujung ngarai itu terdapat hutan. Kemudian proyeksi itu bergerak ke tengah hutan dengan sebuah piramida emas.

“The Scorpion King’s treasure.” Semua orang bergumam. Mereka saling menatap satu sama lain kemudian tertawa. Usaha mereka tidaklah sia-sia. Jalan menuju piramid Scorpion King telah ditunjukkan. Semua yang perlu dilakukan adalah terbang dengan balon udara menuju ke ngarai itu, serta berjalan lurus kearah piramida.

Zheng menatap langit dan terlihat matahari sedang terbenam. Cakrawala itu berwarna merah. Mereka tak bisa pergi ketika mereka sedang kelelahan dimalam hari. Jadi Zheng tertawa dan berkata. “Mari kita pergi beristirahat disini pada malam ini. Besok kita akan masuk ke piramida. Haha. Mari kita melawan Raja Scorpion dan merebut tentaranya! “

Semua orang tertawa. Beberapa perjuangan hidup dan mati telah menciptakan ikatan di luar persahabatan. Jadi mereka senang ketika Zheng mengucapkan kata-kata ini dengan penuh semangat. Jonathan mengambil minuman dari botol anggurnya, memegang bahu Zheng dan berjalan menuju balon udara.

Namun, sebelum mereka mencapai balon udara, sebuah badai pasir muncul dari jauh dan dengan cepat bergerak kearah mereka. Sebuah fenomena alam yang paling mematikan di padang pasir!

Translator / Creator: fatality