October 25, 2017

Terror Infinity – Volume 11 / Chapter 6.1

 

“Inilah lokasi target ketiga kita, Kuil Osiris. Semoga saja pemandangan yang kulihat pertama kali adalah wanita-wanita cantik yang sedang menyambut kita. “Kata Jonathan.

Gelang itu terkadang memproyeksikan berbagai gambar ketika Zheng memakainya di pergelangan tangannya. Gambar-gambar ini adalah lokasi kuil yang tersisa di Mesir. Kelompok tersebut harus terus mengikuti petunjuk dan mencarinya satu per satu.

Tak banyak yang bisa dilakukan Zheng. Meskipun ia sudah pernah melihat filmnya, namun ia tak mengetahui dunia ini sepenuhnya. Seperti ketika seseorang di film tersebut menyebutkan sebuah lokasi, apakah kau dapat secara langsung menemukannya ketika kau berada didalam film itu? Kesimpulannya, kau harus terus bertanya kepada orang-orang agar kau bisa sampai ke sana.

Zheng tak punya pilihan lain kecuali mengikuti lokasi yang diproyeksikan oleh gelang. Untungnya, Evelyn mengenal Mesir dengan cukup baik sehingga ia bisa mengetahui kuil mana yang dimaksud oleh gambar itu. Balon udara itu juga bergerak cukup cepat. Sehingga mereka dapat mencapai lokasi target ketiga hanya dalam beberapa hari saja.

Dua gambar muncul secara langsung begitu Zheng turun dari balon udara. Namun, tak terdapat gambar setelah ia sampai di pintu masuk kuil tersebut. Apakah mereka menduga ini adalah kuil yang salah?

Semua orang berpaling kearah Evelyn. Evelyn mengangkat bahu dan berkata. “Jangan lihat aku. Aku yakin aku tak salah. Gambar yang muncul terakhir kali pastinya adalah Kuil Osiris. Aku tak tahu apakah yang salah. Mungkin kita masuk saja? “

Zheng tiba-tiba mengambil kapak dan senapan mesin ringan lalu berkata kepada mereka dengan suara rendah. “Hati-hati. Aku merasa ada sesuatu yang salah dengan candi ini. Apa kau tak merasakan sebuah tekanan? “

Yang lainnya menggelengkan kepala. Kemudian sebuah patung batu besar tiba-tiba menghalangi jalan mereka.

Patung itu memiliki tinggi tujuh meter. Tubuhnya lapuk dan terlihat seperti ribuan tahun lamanya. Inilah patung Osiris, dewa akhirat, dunia bawah tanah, dan orang-orang mati. Patung itu bergerak ke arah mereka disaat mereka masih dalam keadaan shock. Kemudian patung itu menghantam kearah Zheng ditempat ia berdiri.

Tekanan udara yang keluar dari hantaman itu sudah cukup untuk memberi tahu dirinya bahwa ia tak dapat menerima pukulan. Kekuatan itu sendiri memiliki berat lebih dari 900kg, cukup untuk mengubahnya menjadi sebuah pancake. Ia langsung berguling kearah belakang. Setelah ia mundur sejauh tiga meter, terdengar suara bang.

Seluruh tanah bergetar. Ia dapat mengetahui bahwa terdapat sebuah lubang yang besar tanpa harus melihatnya. Zheng segera berteriak. “Keluar dari kuil! Cepat dan lari! “

Semua orang kembali sadar dan berlari demi nyawa mereka. Meskipun mereka memiliki keberanian untuk melawan mumi, tentara Anubis, atau bahkan kalajengking besar sekalipun, namun patung setinggi tujuh meter ini begitu mengerikan.

Tindakan mereka semua sama yaitu berbalik dan berlari. Dan seperti biasa, Jonathan berlari didepan semua orang. Kemudian O’Connell mengikutinya dari belakang membawa Evelyn. Ardeth setelahnya, dan Zheng yang setengah merangkak terakhir kalinya.

Patung itu sangat kuat namun kecepatannya jauh lebih lambat dari pada kelompok orang itu. Ia hampir tak bisa sampai dipintu ketika mereka sudah berada diluar. Kemudian patung itu menghancurkan patung itu dengan pukulan dan berjalan kearah mereka.

“Sial, matilah aku. Zheng, apakah kau pernah menghina Tuhan, itulah sebabnya kau menjadi sangat tidak beruntung?”Jonathan berteriak disaat berlari.

Zheng tertawa pahit. Namun, ia menyadari bahwa patung itu hanya menyerang dirinya. Kapanpun ia melambat, patung itu bersiap meluncurkan serangan. Sehingga ia berteriak. “Kalian semua bantulah aku untuk menemukan sebuah area pasir apung. Lebih besar lebih baik. Cepat!” Kemudian ia berbelok dan berlari menuju padang pasir.

Kelompok itu berpencar untuk menemukan pasir apung di padang pasir. Pikir tugas itu tidak semudah itu. Setelah Zheng berlari berputar-putar tiga putaran, Jonathan berkata. “Hei, pasir didepan terasa lembut namun aku tak yakin apakah itu adalah pasir apung.”

Zheng tidak ragu. Dia harus mengambil kesempatan sekarang. Dia berbelok dan berlari kearah yang ditunjuk oleh Jonathan. Patung itu mengejarnya seolah-olah ia tak akan berhenti sampai Zheng mati. Ketika salah satu kaki Zheng tenggelam ke pasir secara tiba-tiba, ia mengaktifkan teknik gerakannya dan berlari diatas pasir.

Patung itu tak bernasib sama seperti Zheng. Patung itu bergerak lebih lambat dan lebih lambat lagi di pasir apung sampai kedua kakinya tenggelam masuk, kemudian tubuhnya secara perlahan tenggelam sampai ia hilang setelah sekitar satu menit.

Zheng pada akhirnya dapat berhenti. Dia langsung terjatuh dipadang pasir dan hanya berbaring disana. Pelariannya yang begitu intens tak membuatnya lelah. Tubuhnya masih bisa menopang satu atau dua jam dari itu. Namun ketegangan mentalnya itu yang membuatnya begitu berat.

Serangan patung itu terlalu kuat. Dia bisa saja terkena satu atau dua pukulan dari Aliens, creepers, ataupun monster lainnya, namun ia yakin bahwa satu pukulan dari patung itu sudah cukup untuk membuatnya menjadi sebuah pasta.

Semua orang mendekatinya. Situasinya begitu menakutkan bahkan bagi orang-orang yang melihatnya. Kemudian sebuah gambar diproyeksikan oleh gelang melalui udara. Evelyn segera berkata. “Aku mengetahui tempat ini. Ini adalah Kuil Abu Simbel, tak jauh dari tempat kita berada. Kita bisa sampai kesana besok. “

Zheng tersenyum terpaksa. “Wah, beruntung sekali. Dapatkah aku bertanya seberapa besarkah patung-patung ditempat itu? Jika terlalu besar, kita harus merencanakannya. “

Evelyn menggelengkan kepalanya. “Patung-patung itu hampir sebesar patung yang ada ditempat ini, itupun jika dalam posisi duduk, namun ketika berdiri tingginya kira-kira delapan meter. Kuil itu terdapat dipadang pasir, jadi kemungkinan kita bisa saja membuat patung-patung itu masuk kedalam pasir apung, namun … “

“Namun?”

Mereka semua bertanya secara bersamaan. Zheng dan Jonathan bersuara begitu hebat.

“Hanya saja, kuil itu memuja tiga patung.”

“Sial, satu patung saja sudah hampir merenggut nyawa kita. Jika ketiganya muncul disaat yang bersamaan, sebaiknya kita pulang saja.” Zheng tersenyum pahit. Kemudian sebuah ide muncul dibenaknya dan ia mengeluarkan Book of the Dead. Evelyn menatap buku itu begitu melihatnya.

Zheng membuka buku itu dengan kuncinya lalu menunjuk kearah hieroglif.” Evelyn, bisakah kau membantuku menerjemahkan mantra ini? Aku perlu mencari mantra yang bisa membuat pasir apung. Karena mantra ini semua berhubungan dengan gurun dan kematian, seharusnya buku ini memiliki mantra yang serupa. “

Evelyn mengangguk dan langsung meraih buku itu. Dia tersenyum seperti anak kecil disaat membacakan mantra. “Return of the dead, bukan. Mummy guardians, bukan. Sandstorm, bukan. Membangkitkan makhluk terakhir yang terbunuh oleh Kitab Amun-Ra, bukan … “

Evelyn membacakan setiap mantra secara keseluruhan. Namun, ada yang tidak beres dengan Zheng. Meskipun pada akhirnya Evelyn segera menemukan mantra untuk pasir apung yang mana membuat Zheng menjadi senang ketika mendengarnya, serta memintanya untuk mengajarinya.

Pada saat bersamaan, sekelompok orang yang mengendarai unta dari Hamunaptra muncul. Seorang wanita bertanya kepada orang tua. “Imam, dapatkah imam besar kembali? Kami tak dapat menemukan Book of the Dead. “

Orang tua itu bergumam. “Tuan akan bangkit kembali. Orang-orang Medjais membuat gerakan besar untuk menggali Hamunaptra dan kita masih memiliki kesempatan untuk menyelinap masuk dan mencuri tubuhnya. Orang idiot itu hanya peduli dengan emas di tingkat pertama dan kedua. Haha, kita hanya perlu mencuri Book of the Dead, lalu sang tuan akan turun ke dunia kita lagi! “

Tas yang berada diunta itu mulai bergerak. Sebuah tangan yang terlihat pucat muncul dari tutup tas itu.

Translator / Creator: fatality