October 11, 2017

Terror Infinity – Volume 11 / Chapter 4.2

 

Zheng tak tahu harus berbuat apa. Memukul dinding akan melepaskan kalajengking- kalajengking tersebut. Dan ia pun tak dapat menghalangi mereka sekaligus. Selain itu, dengan ukuran mereka, tak hanya sekedar masalah racun saja. Sengatannya itu dapat membuat sebuah lubang pada tubuh.

Disaat yang bersamaan, langkah kaki yang melewati terowongan itu memberi isyarat kepada tentara Anubis. Sepertinya semua prajurit didalam makam mendekati mereka. Setiap penundaan dan mereka mungkin terjebak dalam lautan monster. Tentu saja, itu bahkan tidak membutuhkan monster saat sisa empat menitnya habis.

“Sial! Ayo kita taruhan dulu.” Teriak Zheng. Dia mengeluarkan sebuah granat dan menarik cincinnya.

“Taruhan? Taruhan apa?” Jonathan terkejut melihat kalajengking itu.

“Untuk melihat apakah makam itu cukup kokoh!”

Zheng melempar granatnya kedalam lubang lalu menyuruh semua orang berbaring ke tanah dan melindungi mereka. Terdengar ledakan keras setelah itu. Terdapaat banyak batu yang menabrak punggungnya dan makamnya itu bergetar.

Semua orang menahan napas mereka seolah napas berat mereka adalah sebuah jerami terakhir yang meruntuhkan makam itu. Untungnya, getaran itu segera berakhir. Hanya sedikit batu yang terjatuh dari langit-langit. Kemudian mereka melihat granat lain muncul ditangan Zheng.

“Tidak, tidak, tidak. Kau tak bisa melakukan hal ini! Kami tak punya rencana untuk menghancurkan tempat ini. Santailah, kita akan mendapatkan gelang itu dalam sepuluh menit. “Jonathan paling peka terhadap bahaya. Dia mencengkeram Zheng dan berteriak.

Zheng tak tahu apakah ia harus tertawa atau menangis. “Santai. terdapat jalan keluar dibagian dalam. Kita hanya perlu menghalangi monster dibelakang kita. Aku tak ingin melihat mereka melihatku mengambil gelang itu. Karena kita sudah taruhan, kurasa makam ini tak akan runtuh jika kuambil gelang ini. “

Jonathan tak punya pilihan selain masuk ke dalam jalan pintas yang baru saja mereka bomkan sebelumnya. Ruangan itu menjadi hitam dan berantakan. Kalajengking lenyap kecuali beberapa exoskeleton yang terbakar. Tak ada waktu bagi mereka untuk berpikir. Mereka berada didekat dinding dan memejamkan mata.

Makam itu mulai bergetar lagi dengan ledakan keras lainnya. Tak lama kemudian, getaranitu melemah dan akhirnya makam itu menjadi tenang. Mereka membuka mata sambil mendesah lega. Evelyn melihat keluar melalui lubang tempat mereka masuk dan melihat terowongan itu roboh.

Jonathan berpaling kearah Zheng. “Tolong, sebaiknya kau tak berbohong. Aku masih punya banyak emas di bank. Aku perlu membawa selusin gadis ke pantai sebelum sesuatu terjadi kepada diriku. “

Zheng tertawa. “Oh, kau mau air? Kau bisa mendapatkan sedikit air. “

Jonathan menggigil dan meminta O’Connell dalam kebingungan. “Apa maksudnya? Kenapa ia bilang air ketika aku menyebutkan pantai? “

O’Connell mengangkat bahu. “Siapa tahu. Namun pantai seharusnya berada didekat air. “

Zheng berjalan ke dinding. Evelyn menunjuknya dan berkata. “Benar, seharusnya ada tombol atau semacamnya. Tekanlah dan dinding ini akan naik keatas. Namun ledakan tadi mungkin saja telah menghancurkan tombol itu. “

Zheng panik. Dia mengangkat kapak dan membongkar dinding. Clank! Dindingnya itu terbuat dari granit. Kapak hanya meninggalkan bekas cahaya diatasnya. Teriak Evelyn. “Hanya tinggal satu menit lagi, Zheng!”

Zheng balas berteriak. “Aku tahu! Semuanya menjauh! ” Dia menyalurkan energi qi dan darah kedalam kapaknya. Dia tak punya waktu lagi untuk merasa khawatir apakah kapaknya bisa menyerap begitu banyak energi disaat yang bersamaan. Lalu dia mengayunkan kapaknya kearah dinding.

Ayunan kapaknya itu menghancurkan sepotong besar granit. Energi emas dari perpaduan qi dan energi darah juga merusak granit dengan cepat. Sepuluh ayunan kemudian, ia membuka lubang lewat dinding tebal ini dan Zheng pun bernafas berat. Dia melihat kebelakang untuk melihat semua orang menatapnya.

“Tunggu apa lagi kalian? Apakah kalian ingin aku menggendong kalian? Cepat! Berapa banyak waktu lagi yang tersisa? “

Evelyn melihat jam tangannya dan wajahnya menjadi pucat. “Kurang dari satu menit, terlalu singkat untuk mengatakan berapa detik.”

Zheng berlari dengan kecepatan penuh. Tak lama kemudian, dia sampai disebuah gerbang yang tersegel dengan kunci Mesir kuno. Evelyn kaget begitu masuk ketempat itu. Lalu ia melihat sekeliling.

Teriak Zheng. “Evelyn, cepatlah dan katakan padaku bagaimana cara mengubahnya. Tidak, kau saja yang mengubahnya. Kita tak punya banyak waktu lagi! “

Namun, Evelyn tak mendengarkannya dan mulai menari sambil memegang obor. O’Connell menggelengkan badan dan berkata. “Apa-apaan ini? Evelyn, apa kau baik-baik saja? “

Zheng semakin cemas. Dia tak punya waktu lagi untuk menunggu Evelyn bangun dan membukakan kunci. Dia mengeluarkan Tombak Osiris tanpa berpikir.

Zheng mengertakkan gigi sambil menyalurkan energinya ke dalam tombak. Rasa cemas berkembang setiap detiknya. Ketika sinar berwarna keemasan muncul ditombak itu, matanya kehilangan fokus. Dia melemparkan tombak  itu ke pintu gerbang.

Sebuah lampu emas menyala dan dengan mudah menembus gerbang. Tak ada getaran maupun ledakan. Tombak itu membuat lubang dipintu gerbang lalu tertancap ditanah.

Zheng langsung masuk kedalam lubang itu. Dia mengambil tombak itu dengan satu tangan dan beberapa peti diatas meja bersamaan dengan benda yang lainnya. Dia membuka peti itu dan terdapat gelang emas. Begitu ia tangannya itu menyentuh gelang, suara Dewa muncul.

“Menyelesaikan plot bonus lebih awal. Memperoleh Gelang Anubis. Memungkinkan pengguna untuk memanggil tentara Anubis setelah membunuh Raja Scorpion. Jumlah prajurit adalah lima puluh kali dari jumlah mumi yang bisa dipanggil oleh pengguna. Jika Raja Scorpion tak terbunuh dalam waktu enam puluh hari, pemegang barang ini akan terhapus. Memperoleh 4000 poin dan dua Rank C reward. “

Zheng keluar dari lubang dengan gelang itu dan berkata dengan getir. “Misinya selesai. Kita aman untuk saat ini. “

“Aman untuk saat ini?” Jonathan terengah-engah. Dia berlari lebih cepat dari yang lainnya sehingga menjadi sangat lelah. Ia hampir saja pingsan disaat mendengar kata ‘aman’.

Zheng memasukkan gelang itu kedalam cincinnya lalu melemparkan peti itu kearah Evelyn. “Lihat dan bacalah.”

Evelyn membacakan tulisan hieroglif yang berada di peti itu. “Barang siapa yang membuka peti itu akan minum dari sungai Nil.”

Zheng mengangguk kepada mereka dengan senyuman pahit. “Ini jebakan. Begitu kau mengambil gelang itu, sebuah gerbang dari sisi lain akan terbuka. Sepertinya gerbang yang dimaksud itu adalah sungai Nil. “

Semua orang tercengang. Teriak Jonathan. “Aku membencimu, Zheng!”

“Jangan membenciku, bencilah kepada Dewa.” Zheng melihat arus air turun dari terowongan.

Translator / Creator: fatality