October 9, 2017

Terror Infinity – Volume 11 / Chapter 4.1

 

Zheng tercengang mendengar suara ini. Butuh beberapa saat baginya untuk kembali sadar. Dia langsung berteriak. “Sial, ayo cepat! Semua orang lari ke bagian terdalam makam! “

Evelyn melihat sekeliling dan berkata. “Kesabaran adalah suatu kebajikan. Ini adalah makam. Terdapat perangkap dimana-mana. Kita dapat terbunuh jika kita pergi terlalu cepat. “

Zheng mulai berlari ke depan disaat ia berteriak. “Aku baru saja menerima pemberitahuan misi. Makam ini akan runtuh dalam sepuluh menit jika aku tidak mendapatkan gelang itu. Sial, mengapa aku bisa mendapatkan misi ketika aku menggunakan poinku sendiri untuk dapat sampai ke sini? Ini benar-benar tak masuk akal. Sialan.”

Yang lain tercengang ketika mereka melihat Zheng berlarian. Kmeudian mereka bergegas menyusul dibelakangnya. Selain itu Jonathan juga berkat. “Tiba-tiba aku sakit perut. Biarkan aku pergi membuang kotoran terlebih dahulu. Aku akan kembali dalam waktu sepuluh menit.” O’Connell dan Ardeth mencengkeram kedua sisi tangannya lalu menyeretnya kedalam makam.

Makam itu memiliki suasana yang mengerikan dan lembap. Kalajengking dan laba-laba membuat mereka merasa tak nyaman. Meskipun Zheng tak dapat merasakan apapun, karena ia berlari melawan waktu. Setelah sepuluh menit berlalu, ia akan mati sebelum makam itu runtuh.

Dia tak bisa menerima pengurangan sebanyak 5000 poin. Selain itu, ini adalah sebuah keberuntungan baginya karena ia dapat menjumpai misi bonus. Kapan lagi ia dapat menjumpai misi bonus seperti ini lagi? Jadi, ia tak mau meninggalkan makam begitu saja.

Perasaan berbahaya tiba-tiba menimpanya. Ia berguling ke depan tanpa berpikir. Sebuah pedang besar menabrak ditempat ia berada. Tangan yang memegangnya bukanlah tangan manusia.

Sebuah makhluk bertubuh manusia dengan kepala anjing berjalan keluar dari jalanan yang sempit. Tingginya tiga meter, dengan tubuh hitam, dan memegang pedang besar. Makhluk Itu terlihat seperti salah satu tentara Anubis di film ini.

Monster itu bergerak lebih cepat daripada mumi di film pertama. Pedang itu menyabet kearah Zheng secara horisontal dengan ujungnya menggores dinding, menyebabkan percikan apik bermunculan dititik kontak.

Zheng berbalik ketika ia mendarat sambil mengeluarkan kapaknya. Dia melompat langsung kearah monster itu. Kapak dan pedang saling bertemu. Sebuah halilintar menyelimuti kapaknya, serta membuatnya tampak seperti palu milik Thor. Dengan mudahnya menghancurkan pedang dan monster itu menjadi debu.

“Semua orang berhati-hatilah! Terdapat monster didalam makam! “

Zheng berteriak ke orang-orang yang berada dibelakangnya sebelum ia dapat menarik napasnya. Kemudian ia melihat mereka berlari kearahnya dua kali lebih cepat daripada sebelumnya. Jonathan berteriak. “Kau tak perlu mengingatkan kami. Terdapat banyak monster dibelakang kami! “

Zheng melihat beberapa prajurit Anubis sedang mengejar diarah belakang mereka. Mereka bergerak ke makan begitu cepat dengan pedang besar mereka.

Zheng menghela napas. Ia bisa saja menangani prajurit Anubis tanpa harus berada didalam mode unlocked, hanya saja sang Dewa memberinya waktu sepuluh menit. Para prajurit sengaja ditempatkan disini untuk menghambat dirinya.

 (Jika rekan-rekanku yang meninggal berada disini, aku bisa saja mempercayakan kepada mereka situasi seperti ini.)

Ia mengeluarkan senapan mesin ringan dan berlari dihadapan semua orang. “Aku akan membersihkan jalannya, kalian semua, jagalah diri kalian masing-masing!” Prajurit Anubis berlari mendekatinya dari depan.

Zheng memasuki mode unlocked disaat ia selesai berteriak. Pergerakan prajurit menjadi begitu jelas dimatanya. Terdapat banyak informasi mengalir dikepalanya. Dia menyemprotkan tembakannya kearah betis prajurit serta mematahkan kakinya. Prajurit itu jatuh dihadapannya serta terpukul oleh sebuah kapak.

Jonathan berlari dan berada beberapa meter dibelakang Zheng. Ia berkata sambil terburu-buru. “Lumayan, serasa seperti seorang pria jika menggunakan kapak sebagai senjata. “

Zheng tiba-tiba teringat apa yang ia katakan terhadap pemilik asli dari kapak ini, ia tersenyum pahit. Ia tak menjawab dan terus berlari kedepan. Hanya terdapat tiga prajurit Anubis didepannya. Ia membunuh mereka semua sebelum mereka bisa mendekat kearahnya, dikarenakan peluru ajaib yang digunakannya sangat efektif untuk melawan mereka.

“Berapa lama lagi? Siapa yang tahu berapa banyak waktu yang tersisa!?” teriak Zheng, bahkan ia pun tak sempat melihat ke belakang.

Evelyn menjawab. “Enam menit lagi. Hanya tersisa enam menit lagi! “

Zheng semakin cemas. “Bagaimana dengan panduan? Bukankah mereka adalah para ahli? Pintu atau dinding mana yang harus dilewati? Berkatalah!”

Jonathan mendesah dibelakangnya. “Kemungkinan mereka belum pernah mengalami skenario seperti ini sebelumnya, sehingga mereka menghilang setelah berlari beberapa saat. Kupikir mereka lari kearah yang salah dan mungkin tak akan hidup lagi. “

“Mengapa aku tak melihatmu berlari kearah yang salah?” Zheng dengan santai meresponsnya lalu sebuah pedang muncul tepat diwajahnya. Prajurit-prajurit Anubis ini telah belajar melemparkan senjata mereka. Karakter film berada dibelakangnya sehingga ia tak dapat mengelak dari senjata itu. Dia bisa menerima satu atau dua pukulan, namun itu bisa saja mengurangi setengah nyawa dari semua orang dibelakangnya.

“Sial!” Zheng tak punya pilihan terkecuali memblokirnya dengan kapaknya. Lemparan itu begitu kuat seiring dengan bobotnya yang sangat berat. Lemparan itu mendorongnya mundur sepenjang satu meter dan ia pun bertabrakan dengan Jonathan yang berada dibelakangnya, serta menyeret semua orang ketanah.

“Semuanya menunduk!”

Zheng berteriak. Sebaiknya ia bersiap-siap sekarang. Ia mengeluarkan Gatling Cannon-nya dan mulai menembakkannya kearah depan dan belakang terowongan. Kecepatan tembakannya beberapa ribu putaran per menitnya, ditambah dengan kekuatan meriam yang menghancurkan sepuluh prajurit hanya dalam dua putaran. Semuanya melihat senjata yang luar biasa ini dengan mulut terbuka. Menggunakan gatling cannon hanya dengan satu orang saja begitu luar biasa.

“Tunggu apa lagi kalian? Ayo lari!”

Zheng melemparkan senjatanya kembali kedalam tas dimensinya dan menatap orang-orang yang berada ditanah. Mereka mengikuti Zheng dan berlari disepanjang terowongan. Ia membunuh sepuluh prajurit lagi ditengah-tengah perjalanan mereka, dan untungnya tak terdapat ancaman yang begitu sulit. Ketika hanya tersisa empat menit, Evelyn menunjuk kearah dinding. “Disitu! Firasatku berkata benda itu terdapat dibalik tembok ini! “

Dalam cerita aslinya, Evelyn dapat mengingat kembali didalam kehidupannya sebelumnya, yang mana membawa mereka kedalam makam rahasia. Jadi, Zheng memukulkan kapaknya kearah dinding itu tanpa berpikir. Sehingga ia dapat menciptakan sebuah lubang didinding. Ia dapat melihat sebuah ruangan didalamnya.

Namun, sebelum kapaknya menabrak dinding lagi, ia melihat kalajengking sepanjang tiga meter, atau kemungkinan, itu adalah nenek moyang kalajengking. Jumlahnya tak hanya satu. Ketika ia melihatnya dari dekat lubangnya, setidaknya terdapat tujuh diantaranya.

“Oh Dewa, aku membencimu!”

Translator / Creator: fatality