October 4, 2017

Terror Infinity – Volume 11 / Chapter 3.3

 

Para tetua tercengang, bahkan kelompok Ardeth dan O’Connell pun juga demikian. Tombak itu tak bereaksi terhadap semua orang Medjais yang mencoba melemparkannya sesudahnya. Disaat itulah mereka akhirnya menyadari tak ada satupun dari pihak mereka yang bisa mengaktifkan kekuatan tombak itu. Mereka sepakat untuk menyerahkan tombak itu kembali ke Zheng setelah berdiskusi sebentar, serta mengirimkan orang untuk masuk kedalam makam bersama dengan Zheng.

“Apa yang terjadi? Mengapa mereka tiba-tiba setuju? “Tanya Jonathan.

Ardeth berkata sambil tersenyum pahit. “Terdapat sebuah legenda disuku kami bahwa seorang pejuang akan membunuh Raja Scorpion untuk selama-lamanya dengan Spear of Osiris. Mereka percaya bahwa kau adalah pejuangnya. Tak ada yang pernah mendengar ataupun melihatmu melempar tombak seperti itu. Lebih baik kau membunuh Raja Scorpion disaat kau sedang berada disini. Harta karun itu bukan milik kami. “

Zheng tertawa. “Tak masalah. Itu adalah saran untukku mencari harta Raja Scorpion. Kedua, kau adalah orang-orang yang bekerja dalam proses penggalian ini. Aku akan sibuk siang dan malam jika tak ada yang melakukan pengaturan pertemuan untukku. Aku harus berterima kasih untuk ini. “

Ardeth berkata. “Zheng, dapatkah aku bergabung dengan tim petualangan? Aku bosan dengan tempat ini. Aku lebih suka melakukan beberapa tindakan bersama-sama dengan kalian. Maukah kalian menerimaku? “

Zheng lebih kuat dibandingkan semua orang yang ada disini, namun hanya dalam kekuatan tempur saja. Kekuatan murninya tak cukup untuk membuatnya bertahan dalam film horor. Sama seperti bagaimana ia membutuhkan kecerdasan dari HongLu ataupun Xuan, penganalisa jiwa milik Lan, sniper milik Zero ataupun Heng, serta keterampilan medis dari ChengXiao. Sehingga hal pertama yang ia lakukan ketika kembali ke dunia ini adalah meminta bantuan O’Connell dan Medja.

“Tentu saja boleh. Silahkan, kawan.” Zheng mengulurkan tangannya.

O’Connell menyuruh Zheng menerbangkannya dirinya kembali ke Kairo setelah berdiskusi sebentar. Ia ingin bertemu dengan temannya yang memiliki pesawat dan mampu membawa mereka terbang kedalam makam. Orang-orang yang lainnya akan tinggal disini dan menunggu.

Saat berada di Sky Stick, Zheng melihat O’Connell terlihat iri. Ia tertawa. “Ayo, cobalah alat ini. Kelihatannya kau sangat ingin menggunakannya. Hati-hati dengan keseimbangan tubuhmu. Kau harus mencobanya ditempat yang rendah terlebih dahulu. “

O’Connell tak ragu, sama seperti kebanyakan orang barat. Dia menginjak Sky Stick. Namun, ia terus terjatuh selama beberapa kali. “Ini terlalu sulit. Kau benar-benar monster. Bagaimana bisa kau menjaga keseimbanganmu itu? “

Zheng mengira Goblin itu seperti manusia setengah super, memiliki kekuatan dan reaksi yang luar biasa. Jadi ia dapat mengendarai Sky Stick ini. Belum lagi statistik Zheng sendiri. Setelah O’Connell masuk ke keranjang, Zheng berangkat dengan menggunakan Sky Stick miliknya.

Hari sudah menjelang malam ketika Zheng kembali ke Hamunaptra dengan balon udara O’Connell dan temannya yang hitam. Reruntuhan itu cukup terang. Para pekerja terbagi menjadi tiga shift sepanjang hari. Proses penggalian bergerak cepat karena Zheng menawarkan bonus besar untuk menyelesaikan pekerjaan lebih awal dari perkiraan.

Evelyn menghampiri dan menunjukkan peta kepada mereka dengan penuh semangat ketika mereka sedang keluar dari balon udara. Evelyn menandai lokasi makam dipeta itu setelah mendapatkan petunjuk geografi dari para tetua. Begitu mereka kembali dari balon udara, Evelyn dapat memimpin mereka.

“Jangan pernah berharap, aku serius kali ini. “O’Connell berseru didalam tenda. Namun, suaranya semakin rendah dan rendah. Lalu tenda itu mulai gemetar.

Zheng dan O’Connell menggeleng-gelengkan kepala mereka. Mereka hampir yakin akan ekspresi O’Connell yang tak berdaya pada keesokan harinya, dan Evelyn akan datang bersama-sama dengan mereka kedalam makam. Terkadang, tak mudah untuk menjadi seorang pria.

Mereka berdua bersulang. Jonathan menyesap brendi dan berkata. “Jadi mereka semua mati karena tim lain? Sama seperti bagaimana kejadian tim India sebelumnya?”

Zheng juga menyesap brendi dan bergumam. “Ya, mereka semua mati karena tim lain, sama seperti tim India. Namun tim yang kita hadapi ini jauh lebih kuat, jauh lebih banyak daripada tim India dan lebih banyak daripada kita. Aku perlu menghidupkan kembali semua orang-orang. Kami akan menghadapi tim ini sekali lagi dan kami akan mengalahkan mereka!”

“Kami orang-orang yang beruntung. Mabuk disaat ada alkohol. Berkencan dengan wanita cantik disaat kami melihatnya. Hoho, hari-hari ini terlihat biasa namun itulah hari yang paling membahagiakan.”

Zheng menatap langit. “Mungkin hari-hari seperti inilah yang paling membahagiakan.”

Hari kedua, semua orang berkumpul mengelilingi balon udara. Empat pemandu Medjai, Zheng, O’Connell, Jonathan, Evelyn, Ardeth, dan si supir berkulit hitam, Izzy memasuki balon udara. Untungnya, balon itu mampu membawa mereka semua. Izzy mulai mengemudikannya menuju makam.

“Makam ini dibangun dengan menggunakan teknik konstruksi yang sama seperti Hamunaptra. Jadi, terdapat banyak jebakan ditempat ini. Jangan berjalan sendiri-sendiri ketika kalian masuk. Dengarkan perintah. Dan jangan menyentuh benda istimewa apapun yang terlihat. Mungkin saja itu dapat merobohkan tempat ini seperti Hamunaptra. Mengerti?”

Balon udara itu mendarat didepan sebuah gua kecil. Tak terdapat konstruksi lain dipermukaan tersebut. Makam ini adalah makam rahasia yang bertolak belakang dengan makam Hamunaptra yang mana masih terlihat megah setelah beberapa ribu tahun. Tak ada yang menyangka bahwa gua ini adalah sebuah makam.

Evelyn sedang menceramahi semua orang didepan gua. O’Connell mencubit hidungnya dan berkata. “Berhenti dengan ceramah yang tidak berguna. Siapa disini yang tak tahu aturan dasarnya, eh? Izzy, kamu bisa tinggal diluar dan melihat balon. Semua orang masuk.”

Jonathan segera berkata. “Sebenarnya, aku tak keberatan menjaga balon udara. Agak melelahkan namun jikalau itu untuk semua orang … ” Ardeth dan Zheng mengangkatnya keatas balon udara itu, kemudian mereka masuk kedalam makam.

Evelyn memijat hidungnya kemudian berlari dibelakang mereka. Keempat pemandu Medjai masuk terakhir.

Makam ini tak sebanding dengan Hamunaptra. Lobi utama makam ini terlihat agak besar namun terowongan beserta kamarnya terlihat sempit dan kecil. Dan tempat itu juga sedikit lembab sehingga banyak serangga yang berdiam disini. Mereka melihat kalajengking dan laba-laba dijalan.

“Raja Scorpion dikabarkan merupakan seorang prajurit dari Afrika. Dia berusaha menaklukkan dunia dengan tentaranya. Negara pertama yang diserbu adalah Mesir kuno. Namun, ia mendapat perlawanan di Thebes. Pertempuran berlangsung selama tujuh tahun. Raja Scorpion akhirnya kalah dan lolos ke gurun suci bersama-sama dengan tentara-tentaranya yang tersisa. “

“Disana, tentaranya meninggal satu per satu, hingga ia adalah satu-satunya orang yang tersisa. Disaat-saat terakhir sebelum kematiannya, ia membuat sebuah keinginan kepada Anubis untuk menyelamatkan nyawanya dan membiarkan ia menaklukkan musuhnya. Sebagai gantinya, ia akan menawarkan jiwanya … ” Evelyn menceritakan legenda Raja Scorpion.

Zheng tiba-tiba memotongnya. “Tunggu, tunggu sebentar!”

“Mendengarkan plot film terlebih dahulu. Tingkat kesulitan meningkat menjadi yang tersulit. Penyelesaian misi akan mendapatkan 2x poin dan rewards. Dapatkan gelang Raja Scorpion dalam waktu sepuluh menit. Penghargaan 4000 poin, dan 2x Rank C Reward. Kegagalan misi ini akan menyebabkan makam tersebut runtuh dan dikurangi 5000 poin. “

Suara Dewa tanpa emosi mengirim hembusan angin dingin kedalam hati Zheng.

Translator / Creator: fatality