December 13, 2017

Terror Infinity – Volume 11 / Chapter 11.3

 

Pelabuhan Kairo, merupakan pelabuhan terbesar di kota. Disinilah tim China kabur ketika mereka bertemu dengan tim India untuk pertama kalinya. Zheng menghela napas disaat kembali ke pelabuhan.

“Kami mulai berlari ke tempat ini. Kami beruntung bisa mencapai pelabuhan berkat Imhotep dan tim India. Kau tak akan tahu betapa menakutkannya disaat kota dipenuhi oleh zombie yang tak terhitung jumlahnya. Kami menyita sebuah bus kemudian terus melaju kedepan. Kami kehabisan amunisi dan pada akhirnya kami semua bergantung pada YinKong dan aku sedang bertarung dalam jarak dekat pada saat itu.

Kau lihat batu yang berada disana? Ha, ternyata batu itu masih berada ditempat yang sama. Bus yang kami pakai pada saat itu melompat kearah batu karang ini dan meluncur kearah kapal yang berada disungai. “

Zheng terus berbicara tentang banyak hal. Dia tak setuju dengan bagaimana Xuan melihat kehidupan manusia namun setelah mengetahui masa lalunya, Zheng merasakan simpati terhadap Xuan. Mungkin simpati itu merupakan penghinaan terhadap seseorang yang begitu kompeten.

Hidup tanpa adanya keinginan, serta mengesampingkan hal tentang keinginan dan perasaan. Dia memaksa dirinya untuk melakukan sesuatu hal dan belajar. Kemungkinan untuk mendapatkan pengetahuan baru serta membuka tahapan keempat telah menjadi keinginannya.

“Bodoh.” Kata Xuan. “Mengapa kau membuat semuanya begitu sulit. Dilihat dari misimu, sepertinya kau tak pernah berkonflik dengan Imhotep sebelum ia mengetahui bahwa dirimu ingin membunuhnya. Yang mana berarti ia tak akan menyerangmu meskipun ia melihatmu.

Satu-satunya targetnya adalah orang-orang Amerika, jadi kenapa kau tak berlari berlawanan arah dengan orang-orang Amerika? Lalu memasang bom dimobil mereka. Imhotep masih lemah sehingga kau dapat meledakkan orang Amerika dan dirinya disaat yang bersamaan. Dia membutuhkan cukup banyak waktu untuk pulih dan lebih waktu lebih banyak untuk menyerap tubuh-tubuh yang rusak. Kau punya banyak waktu untuk berlari. “

Nada suaranya begitu tenang seolah-olah ia tak sadar bahwa meledakkan banyak orang adalah perbuatan yang sangat kejam.

(Ini adalah gayanya. Semuanya dapat dilakukan dengan tingkat keberhasilan yang sangat tinggi.)

Zheng tersenyum pahit lalu mengeluarkan sebungkus rokok. Dia menyalakan satu rokok dan berkata. “Pertanyaanmu masuk akal namun bagaimana bisa kau dengan mudahnya meninggalkan orang-orang pada situasi seperti itu? Mereka juga bagian dari plot. Ditambah lagi kita perlu bergantung pada karakter utama untuk dapat menemukan Book of Amun-Ra. Jika mereka bersikap hati-hati terhadap kita atau tidak setuju dengan kita, apa yang akan kita lakukan untuk membunuh Imhotep? “

Xuan menjawab tanpa berpikir. “Kau harus membuat mereka pingsan dan mengurus orang Amerika disaat-saat yang tepat.”

Zheng menyeka keringat didahinya dan menyela Xuan. “Tunggu. Kita disini untuk memancing sekarang, bukan untuk membahas bagaimana cara membunuh orang. Ambilah alat pancingmu.” Zheng berlari ke arah sekoci seolah-olah ia tampak ingin melarikan diri. Xuan berdiri disana dengan alat pancingnya tanpa suara.

Zheng bisa menyewa kapal pesiar dalam waktu singkat dengan setumpuk perak sterling. Pemiliknya adalah orang setengah baya Kaukasia. Dia terkejut bahwa orang Asia akan datang memancing ke sini, akan tetapi sterling itu begitu nyata sehingga ia tak keberatan.

“Air disini sudah tercemar. Ada beberapa pabrik tekstil dan pabrik lainnya dihilir. Mereka menuangkan semuanya kedalam sungai. Sungai itu tak seperti sepuluh tahun yang lalu. Pergilah ke hulu. kau masih bisa sesekali menangkap ikan bass besar. Haha.” kata orang Kaukasia.

Zheng sedang berbicara santai dengan juru mudi dan Xuan memusatkan perhatiannya untuk memeriksa pancingnya. Setelah berlayar selama setengah jam, mereka berdua memasang umpan. Zheng melemparkan kail ke sungai. “Kau tak pernah memancing sebelumnya? Haha, dulu aku sering memancing dengan rekan kerjaku. Keterampilanku berada ditingkat profesional. “

Xuan melepaskan kail dan membalasnya. “Aku tak pernah melakukannya. Aku membaca sebuah buku yang memiliki metode untuk menangkap ikan dengan mudah, walaupun aku sendiri tak pernah mengujinya. “

Zheng tertawa. “Sayang sekali. Aku akan menunjukkanmu mengapa orang-orang memanggilku sebagai pangeran memancing … “

Sebelum Zheng menyelesaikan kalimatnya, Xuan menjentikkan lengannya dan menarik ikan berwarna biru ke geladak. Ikan itu masih melompat-lompat di geladak. Juru kemudi menangkapnya sekaligus melemparkannya ke dalam ember. “Oh Tuhan. Seekor ikan mas dari Afrika begitu besar. Makananmu nanti pastilah lezat. “

Xuan dengan tenang mengambil kait dan memasukkan umpan lagi. Bibir Zheng sedikit tersentak lalu dia tertawa. “Hanya melihat. Saya tidak berbicara besar. Mereka memanggil saya pangeran memancing karena saya bukan orang pertama yang menangkap ikan atau menangkap ikan tapi pada akhirnya … “

Bahkan tak lama setelah Xuan melepaskan kailnya lagi. Dia menarik tongkatnya serta menarik ikan yang lainnya masuk kedalam geladak.

“Haha. Bung, ini ikan heren dari Sungai Nil. Kami jarang melihat ikan yang sebesar ini akhir-akhir ini.” Kata juru kemudi lagi.

Zheng melanjutkan kalimatnya dengan suara sedikit lebih rendah. “Pada akhirnya, biasanya aku menangkap yang paling besar.”

Xuan menarik tongkatnya lagi dan muncullah seekor ikan yang memiliki ukuran tinggi setengah manusia. Juru kemudi secara cepat menangkapnya dengan jaring dan menariknya kedalam geladak.

“Gila, ikan bertengger besar ini. Lihatlah giginya. Ini akan menjadi ikan kelas tertinggi dimeja makan. “

Xuan menatap Zheng dan berkata. “Barusan kau berkata apa? Aku tak seberapa memperhatikan tadi.”

“Tak ada. Mari kita memancing saja.”

Meski ia tak mau mengakui kekalahan namun ia benar-benar gagal sepenuhnya. Zheng hanya menangkap beberapa ekor ikan bass kecil sepanjang hari sementara Xuan tak dapat menemukan ember lagi untuk ikan-ikannya. Selain itu, ia menangkap spesies ikan yang lebih besar dan lebih besar sehingga Zheng dan juru mudi harus membujuknya bahwa hal itu sudah terlambat. Xuan akhirnya berhenti memancing karena omelan mereka.

“Sesungguhnya, aku takut kalau sampai ia menangkap ikan hiu jika ia terus melanjutkannya.” Juru mudi itu berkata kepada Zheng dengan suara pelan.

“Ikan hiu? Aku malahan berpikir tentang ikan paus.” Zheng menjawab dengan nada suara pelan yang sama.

Zheng membuat kesepakatan dengan juru mudi untuk menyewa kapal pesiar lagi keesokan harinya. Tentu saja, dia membuat persyaratan tambahan untuk mencari tempat tanpa adanya spesies yang besar.

Dia berbalik untuk melihat Xuan mengemasi peralatannya. “Kau terlihat seperti begitu menikmatinya. Bagaimana rasanya? Memancing cukup menyenangkan bukan? Haha. Jika kau merasa lelah, pergilah memancing sebentar. “

“Aku tak tahu.” Jawab Xuan.

“Apa maksudmu?” Zheng berkata dengan bingung.

“Aku tak tahu kenapa ikan itu mau mengambil umpannya. Aku tak tahu ikan apa yang akan tertangkap. Aku tak tahu mengapa begitu mudah. Ketidakpastian ini membuatku ingin melanjutkan. Memancing tidaklah buruk.” Jawab Xuan.

Zheng merokok lalu menepuk bahunya. “Betul. Ada banyak hal yang patut dilakukan di dunia ini. Meskipun kau tak dapat merasakannya sekarang, namun bukan berarti itu tak ada. Kau akan merasakan semua ini setelah kau membuka tahapan yang keempat. Dan jangan menyerah hanya karena kau tak dapat merasakannya. Teruslah mencari hal-hal seperti ini. Haha, ayo kita datang lagi besok! “

Xuan terdiam beberapa saat dengan kepala tertunduk. “Aku butuh waktu sekitar tujuh hari untuk menganalisa Sky Stick. Oke kalau begitu besok saja. “

P.S. Pembaruan mungkin tak konsisten untuk sementara waktu.

Translator / Creator: fatality